Magical Me

magical blog of a magical girl in a magical world


Sebuah BMW silver melejit melintasi jalanan Seoul yang lengang sore itu. Pemiliknya, merasa nyaman dengan kehangatan di dalam mobil, berdendang pelan mengikuti lagu yang mengalun dari seteronya. Ia melirik jam di dashboard, terkesiap, dan tanpa sadar menekan gas lebih dalam. Ia sudah terlambat.
"Oh, playboy itu pasti sudah hampir mati kebosanan," gumamnya ketika melihat mobil yang ia kenal baik terparkir di pelataran Cofioca, cafe langganannya yang merupakan salah satu cafe terkenal di Apgujeong. Beberapa kali Yoona melihat artis-artis Korea mengunjungi tempat itu. Bahkan, koleksi tanda tangan dan foto artis yang pernah mengunjungi tempat itu sudah mulai memenuhi salah satu dinding cafe.
Setelah memastikan mantel Burberry berwarna beige itu melekat di tubuhnya dengan sempurna, ia meraih tas di kursi penumpang dan keluar dari mobil. Langkahnya ringan, tidak terganggu oleh lapisan salju tipis yang mulai menyelimuti jalan.
Hembusan udara hangat menyambutnya begitu ia membuka pintu cafe. Lonceng yang berdentang pelan membuat seseorang di meja paling ujung menoleh, kemudian mendengus kesal. Dengan tidak sabar ia melambaikan tangan ke arah Yoona, wanita yang baru saja memasuki cafe. Menyeringai kecil, Yoona menghampiri Donghae, sahabatnya.
"Yah! Kau tidak tahu berapa lama aku menunggumu?" sentak Donghae begitu Yoona duduk di hadapannya. Beberapa helai rambut yang menutupi keningnya bergoyang pelan.
"Lee Donghae," Yoona berkata serius, menepuk punggung tangan Donghae seakan menggurui. "Kau tahu betapa sibuknya seorang designer. Si artis itu baru saja membuat heboh studio dengan permintaannya yang macam-macam." Wanita berkulit pucat itu tidak tahan untuk tidak memutar bola matanya.
Donghae mengerti siapa yang Yoona maksud. Tiffany Hwang, penyanyi sukses yang sekarang resmi bersedia menggunakan baju-baju karangan Yoona di segala acara. Yoona tidak suka dengan artis cantik bermata indah itu. Tidak pernah bisa praktis, katanya.
"Kau tahu," Donghae menyesap espressonya yang tinggal separuh, "jadilah sekretarisku dan aku tidak perlu kesulitan menemuimu. Plus, kau bisa menghabiskan sebagian besar waktumu dengan pria tampan sepertiku. It's an honour."
Yoona mengeluarkan suara seperti orang jijik. "Aku tidak mau repot-repot membantumu mencegah gadis-gadis itu masuk ke ruanganmu," ledeknya.
Donghae meringis. "Speaking of which, I met a girl."
Yoona mendesah, putus asa sekaligus memohon. "Tolong jangan katakan kau mengencani gadis SMA lagi," keluhnya, memijit pangkal hidungnya. Masih terekam jelas di kepala ketika rombongan anak SMA yang berisik itu tiba-tiba menyerang butiknya. Dan, Donghae belum membayar kekaucauan yang satu itu.
"Ah, kau masih kesal rupanya," kata Donghae sambil mengulum senyum.
Lalu ia merogoh kantung celananya, dan mengeluarkan kotak kecil berwarna biru dengan pita merah jambu dan menaruhnya di atas meja. "Untuk itulah aku mengajakmu bertemu. Maafkan aku, oke?" Perlahan, Donghae mendorong kotak itu mendekat ke arah Yoona.
Yoona tersenyum kecil. Ia membuka kotak tersebut. Ternyata isinya memang seperti yang sudah ia duga, charm untuk gelangnya. Sejak mereka kuliah sampai sekarang dan ditambah charm barusan, Yoona sudah memiliki 7 charm. Tangannya mulai mengeluarkan bunyi heboh ketika digerakkan.
"Lain kali kau harus memberiku sesuatu yang lain, Hae," ujar Yoona sembari memasang charm yang baru ke gelangnya.
"Jadi, siapa wanita ini?" lanjutnya.
Donghae tidak tahan untuk tidak tersenyum. Teringat kembali olehnya kepala pirang yang seksi itu. "Jessica. Aku bertemu dengannya ketika bermain golf kemarin." 
Tanpa sadar, Yoona mengerjapkan matanya. "Aku tidak pernah tahu kalau kau tertarik dengan gadis penyuka olahraga," katanya.
Donghae tertawa kecil melihat kepolosan sahabatnya itu. Di balik tubuh langsingnya yang terbentuk sempurna, Yoona tetaplah Yoona. Yoona yang ia kenal bukanlah Yoona si perancang busana, atau Yoona yang cantiknya membutakan teman-teman lelakinya. Yoona yang ia kenal adalah Yoona yang ceria, polos, dan tidak menyadari dampak yang bisa ditimbulkan senyumnya terhadap orang lain.
"Jessica tidak menyukai olahraga. Ia hanya menemani ayahnya. Kau tau Mr. Jung?"
Ketika Yoona menggeleng, Donghae melanjutkan ceritanya.
"Mr. Jung adalah pemilik perusahaan real estate Royal, yang merupakan partner baru Lee Group. Ketika mengadakan meeting kecil-kecilan sambil bermain golf, Mr. Jung mengajak putrinya yang cantik," Donghae menyempatkan diri untuk tersenyum, "Setelah mengobrol sebentar-"
"Kau berhasil mendapatkan nomornya dan mengajaknya keluar," Yoona menyelesaikan cerita Donghae.
Donghae tersenyum, tidak merasa tersinggung. Mungkin Yoona hanya terlalu hafal dengan tabiatnya. Tidak heran, Yoona adalah orang terdekatnya setelah ayah, ibu, dan adik perempuannya.
Setelah terdiam cukup lama untuk menikmati kehangatan minuman masing-masing, Yoona kembali angkat bicara.
"Kemarin Amber meneleponku. Sebenarnya aku tidak pernah mengharapkan pesanan gaun dari gadis tomboy sepertinya," Yoona bercerita.
Kening Donghae berkerut mendengar nama adik perempuannya. Amber memesan gaun? Pada Yoona? Yang benar saja! Gadis itu bahkan tidak pernah menyentuh rok sejak lahir.
"Kau mungkin heran," kata Yoona setelah melihat kerutan di kening Donghae. "Tapi percayalah, dia memang memesan gaun."
Donghae menggelengkan kepala. "Mungkin aku terlalu banyak menghabiskan waktu di kantor. Aku tertinggal banyak sekali berita tentang Amber."
Yoona menyeringai. Sepertinya Donghae melewatkan satu detail penting.
"Oh, dia tidak membutuhkanmu. Dia selalu berkata betapa bahagia dan tentramnya dirinya jika kau tidak di rumah," godanya.
Seperti yang Yoona harapkan, Donghae memberengut. Yoona tergelak. Betapa pria yang mengaku penakluk wanita di depannya ini bisa bertingkah seperti balita. Entah apa yang akan dikatakan penggemarnya di luar sana.  


Salju masih gencar turun, menimbulkan titik putih yang melayang-layang indah di udara. Semakin mendekati tahun baru, gundukan salju semakin tebal, seiring dengan makin tebalnya mantel dan jaket yang dipakai orang-orang.
Yoona sedikit tidak rela ketika ia harus keluar dari mobil, meninggalkan jok empuk dan udara hangat di mobilnya. Ia merapatkan mantelnya, lalu berjalan menuju pintu depan kediaman keluarga Lee. Donghae menyusul tak lama kemudian, juga baru saja keluar dari mobilnya.
"Cepatlah sedikit, Yoong!" kata Donghae tidak sabar ketika Yoona berjalan dengan langkah-langkah kecil karena terganggu salju.
Donghae mengulurkan tangannya dan langsung menarik Yoona untuk berlari bersamanya. Udara di luar begitu dingin, dan ia tidak mau berlama-lama berada di luar gara-gara kelambatan Yoona.
Keduanya langsung disambut pelayan Donghae yang menawarkan untuk membawakan tas serta mantel mereka. Yoona menyempatkan untuk berbasa-basi sebentar. Sudah lama sekali sejak terakhir kali ia mengobrol dengan gadis-gadis yang sebagian besar lebih muda darinya itu.
"Noona!" seseorang berseru dari tangga.
Yoona dan Donghae berbarengan mendongak, kemudian tersenyum lebar. Setengah berlari, Yoona menghampiri orang itu dan langsung memeluknya. Tawa kecil keluar dari kepala berambut pendek itu ketika tubuhnya ditabrak tubuh ramping Yoona.
"Amber!" Yoona mengecup kedua pipi Amber bergantian. "Kau tahu betapa aku merindukanmu?" tanyanya gemas.
Amber tertawa lagi, menampilkan sepasang lesung pipinya. Sudah bertahun-tahun mengenal gadis tomboy itu, Yoona masih takjub dengan kemiripan Amber dan Donghae. Mereka hampir tidak bisa dibedakan.
"Bukankah aku sering meneleponmu, Noona?"
Belum sempat Yoona menjawab, sebuah suara yang datangnya dari dapur menyelanya. "Berhentilah memanggilnya 'Noona', Amber. Kau ini perempuan!"
Yoona membalikkan badan, kemudian membungkuk berkali-kali. "Annyeonghaseyo, Mrs. Lee!" sapanya sopan.
Mrs. Lee alias ibu Donghae dan Amber, tersenyum kecil. "Panggil saja Eomma, Sayang. Kau sudah kuanggap anakku."
Yoona membungkuk sekali lagi. "Ah, kamsahamnida, Eomma."
Amber, Yoona, dan Mrs. Lee kemudian duduk di sofa ruang keluarga, menyusul Donghae yang entah sejak kapan sudah berganti pakaian. Melihat ketiga wanita penting dalam hidupnya berjalan mendekat, Donghae bergeser, menepuk-nepuk tempat di sampingnya sambil melirik Yoona, memberi gestur padanya untuk duduk di sampingnya.
"Ah, Eomma," kata Yoona tiba-tiba. Donghae mengangkat sebelah alis, tetapi Yoona mengabaikannya. "Donghae baru saja menemukan target baru."
Amber nyaris melonjak di kursinya. Matanya melebar, wajahnya menampilkan antusiasme berlebihan. Cenderung sarkastis, sebenarnya. "Jinja?! Seberapa besar otaknya kali ini?"
"Amber," tegur Mrs. Lee, menatap tajam putri satu-satunya. Kemudian ia berpaling pada Donghae. "Kuharap ini yang terakhir, Hae. Eomma tidak pernah mengaturmu dalam masalah ini, tetapi Eomma ingin kau segera menjalani hubungan yang serius. Eomma dan Appa sudah tua, tentu kami ingin melihat anak kami segera memiliki keluarga sendiri," jelasnya.
"Whoa, whoa, Eomma," Donghae mengangkat kedua tangannya. "Jujurlah padaku, kau mulai gemar menonton drama di TV lagi, kan?"
"Yah! Donghae! Dengarkan eomma mu!" Yoona memukul kepala Donghae, membuat laki-laki itu mengerang.
"Sampai kapan kau terus memukul kepalaku, Yoong?!" sebuah protes kecil yang sia-sia meluncur dari bibir Donghae.
Amber terkikik di tempatnya. "Lihatlah, cara kalian bertengkar saja sudah seperti suami-istri. Kenapa tidak menikah saja?"
Donghae memelototi adiknya, sementara Yoona mendengus kemudian memasang wajah memelas yang dibuat-buat.
"Apakah kau tega melihat unnie-mu menikah dengan lelaki setengah-setengah ini? Dia bahkan belum mengikuti Wajib Militer," Yoona mengeluh, mengusap air mata imaji di pipinya.
Amber tergelak, begitu pula Mrs. Lee. Di usianya yang sudah menginjak 27 tahun, Donghae belum juga bergabung dengan militer. Sedang mempersiapkan mental, katanya. Akibatnya, ia harus rela dijadikan bahan olokan Yoona dan adik satu-satunya yang paling ia sayangi itu.  


"Good morning, Miss Im," salah satu staf di butik Yoona, Eun Ri, menyapanya yang baru saja memasuki pintu butik.
Yoona tersenyum manis. "Good morning. Tidak ada yang sakit, kan, pagi ini?" Yoona bertanya sambil memeriksa beberapa pakaian karyanya yang dipajang di etalase.
Eun Ri menggeleng. "Semua sehat, Miss Im."
"Bagus," Yoona mengangguk puas. "Hari ini kita harus bekerja keras untuk fashion show tiga bulan lagi."
Eun Ri membungkukkan badan, kemudian berlalu dan melanjutkan pekerjaannya. Sementara itu, Yoona melangkahkan kaki jenjangnya menapaki tangga menuju studionya di lantai atas. Tangannya sudah gatal ingin memvisualkan ide-ide dalam kepalanya.
Baru ia akan menyelesaikan gambar keduanya, pintu studio diketuk dan kepala Jang Min, stafnya yang lain, muncul di pintu.
"Ada customer yang ingin memesan gaun dan ingin langsung bertemu dengan Anda," kata Jang Min.
Yoona menghela napas. Ia sebenarnya sangat berharap bahwa para pelanggannya bisa memercayai stafnya seperti halnya mereka memercayai dirinya. Tapi tetap saja masih banyak yang tidak mau jika tidak bertemu dengan Yoona secara langsung.
"Annyeonghaseyo, ada yang bisa saya bantu?" Yoona menyapa customernya ramah.
Wanita berambut pirang yang tengah sibuk melihat koleksi butik Yoona berbalik, kemudian tersenyum. "Kau pasti Im Yoona. Benar, kan?" tebak wanita itu.
"Benar sekali," Yoona menjawab ramah.
Customer harus dilayani sebaik-baiknya, meskipun customer paling bawel sekalipun. Itu adalah prinsip yang selalu ia pegang sejak dulu.
"Aku ingin memesan gaun untuk pesta pernikahan temanku. Aku belum tahu gaun apa yang harus kupakai. Kau bisa membantuku?"
Yoona baru akan menjawab ketika seseorang muncul dari balik pakaian yang berjejer. "Ini sudah jam makan siang. Bagaimana kalau masalah ini kalian bicarakan di luar saja?"
Sang perancang busana membelalakkan mata. "Yah! Lee Donghae!" teriaknya, mampu membuat staf-staf dan pelanggan menyempatkan diri untuk melihat ke arahnya. Tapi Yoona tidak peduli.
"Mengapa kau tidak memberitahuku kau akan datang?" protesnya kesal.
Donghae terkekeh. Ia maju beberapa langkah, lalu merangkulkan lengannya ke bahu wanita berambut pirang itu. Mata mirip rusa milik Yoona makin melebar.
"Omo! Jadi wanita ini yang bernama Jessica?" ia nyaris memekik, tak mampu menyembunyikan keterkejutannya.
Kali ini bukan hanya Donghae yang tertawa, Jessica pun ikut terkekeh. "Annyeong, Yoona-ssi!"
Setelah itu, mereka bertiga keluar untuk makan siang bersama. Yoona memilih untuk tidak membawa mobil dan ikut bersama Donghae dan Jessica. Yoona cukup yakin untuk tahu bahwa Donghae dan Jessica belum resmi sepasang kekasih, jadi tidak ada salahnya mengganggu mereka sedikit.
Bagi Yoona yang belum begitu mengenal Jessica, Jessica adalah wanita yang menarik. Kekurangannya dalam hal tinggi badan seolah tertutup wajahnya yang berkarisma. Oh, jangan lupa rambut pirang panjang yang memesona itu. Pantas Donghae langsung terpikat olehnya, batin Yoona sambil terkikik geli.
Donghae senang mengetahui bahwa Yoona dan Jessica membaur dengan mudah. Tidak ada sesi-sesi canggung seperti yang biasa Yoona alami dengan wanita-wanita Donghae dulu. Setelah beberapa kali pergi bersama Jessica, Donghae langsung tahu bahwa wanita seperti Jessica lebih nyaman dijadikan teman dekat. Terlebih ia juga tidak ada rencana apapun dengan Jessica semenjak pertama kali bertemu.
Toh ia sudah menemukan wanita paling tepat dalam hidupnya. Wanita yang suatu hari nanti akan ia lihat berjalan dengan gaun putih yang memesona, sementara ia menunggu dengan hati berdebar di altar. Wanita itulah yang akan pertama kali ia lihat di pagi hari. Wanita itulah yang akan menciumnya sebelum dan sesudah ia bekerja. Dan, wanita itulah yang akan menjadi ibu dari anak-anaknya.
Kupu-kupu seakan memenuhi dada dan perutnya, seperti setiap kali ia memikirkan hal yang ia yakini akan membuatnya bahagia itu. Seulas senyum menghiasi bibirnya, tanpa sadar membuat dua wanita di depannya mengerutkan kening.


Yoona merapatkan jaket tebalnya, sebisa mungkin menjaga tubuhnya agar tetap hangat. Hidungnya sudah memerah, dan ia bisa merasakan telinganya mulai membeku. Yoona mengerang, merutuki dirinya yang ceroboh tidak membawa earpuff di saat musim dingin yang parah ini.
Dengan gusar, Yoona memeriksa ponselnya. Tetap tidak ada balasan sms dari Donghae. Ia tidak membawa mobil hari ini sementara malam semakin larut. Di saat-saat seperti inilah kehadiran playboy itu sangat ia butuhkan. Tetapi, Donghae belum juga membalas smsnya. Ditelepon juga tidak diangkat.
Tidak ingin menyerah, Yoona menekan tombol 3 pada ponsel layar sentuhnya. Ia menunggu dengan sabar, berdoa dalam hati Donghae akan mengangkat teleponnya kali ini.
"Yeoboseo...?" Akhirnya Donghae mengangkat telepon.
Yoona mengeryitkan kening mendengar suara sengau Donghae. Ia juga yakin sempat mendengar suara batuk dari seberang sana.
"Are you okay?" tanya Yoona khawatir. Dingin yang menyelimutinya seakan tidak ia rasakan lagi.
Tedengar suara seseorang mengulap ingus. Kerutan di dahi Yoona makin banyak. "Donghae?"
"Aku...uhuk!!"
Dengan itu, Yoona langsung berkata, "Aku segera ke tempatmu."
Ia menyegat taksi yang pertama kali ia lihat. Dengan tergesa ia menyuruh supir taksi untuk mengebut, yang langsung ditolak mentah-mentah karena jalan sedang licin tertutup salju. Gelisah, Yoona menatap jalanan di luar jendela, berharap perjalanan ini tidak akan memakan waktu lama. Donghae jarang sekali sakit, dan membayangkan sahabatnya itu terbaring lemas di tempat tidur adalah hal terakhir yang diinginkannya. 


Yoona sering melakukannya, namun kali ini ia benar-benar mengutuk Donghae karena pindah ke apartemen yang baru disewanya beberapa hari lalu. Dengan begitu ia harus hidup sendiri, mengurusi semuanya sendiri. Dan, di saat ia terbaring tak berdaya dengan bekas tisu di sekelilingnya, tidak akan ada yang membantunya. Tidak ada Mrs. Lee yang bersedia mengompresnya dan menungguinya semalaman.
Donghae tersenyum lega ketika pintu kamarnya menjeblak terbuka, dan Yoona, dengan wajah khawatir, langsung menyerbu ke arahnya. Ia juga hanya diam sambil mengamati wanita itu membersihkan tisu yang berserakan di tempat tidurnya.
"Kau akan mendapatkan balasan karena telah membuatku khawatir, Fishy," desis Yoona sambil membenarkan selimutnya, memastikan bahwa selimut tebal itu menutup rapat tubuh Donghae kecuali kepala.
"Berbaik hatilah pada pasienmu, Suster."
Yoona menggerundel pelan. Ia beranjak ke dapur, menyiapkan air es dan handuk kecil untuk mengompres Donghae. Ia juga menyempatkan diri untuk mengambil sebutir obat penurun panas yang untungnya tersedia di kotak obat apartemen si playboy.
Donghae memejamkan mata ketika Yoona duduk di samping tempat tidurnya. Namun Yoona tahu Donghae tidak tidur. Dengan lembut, Yoona mulai menempelkan handuk basah ke kening Donghae. Panas tubuh Donghae membuat handuk itu cepat menghangat.
"Kau ini kenapa? Terlalu banyak pekerjaan di kantor?" Yoona bertanya, masih mempertahankan kelembutannya.
Perlahan Donghae membuka mata, walau ia sudah setengah terlelelap. Ia tidak akan melewatkan Yoona yang seperti ini, yang khawatir dan lembut dengan sisi keibuan yang jarang ia perlihatkan.
"Mungkin aku merindukan rumah," kata Donghae mencoba bercanda. Tapi Yoona tidak tertawa. Ia menatap Donghae sebentar, kemudian memalingkan wajah.
"Minumlah obat ini." Yoona menyodorkan segelas air putih dan sebutir obat. "Kau tidak perlu makan. Aku juga tahu kau tidak mau makan apapun jika sedang sakit."
Setelah setengah duduk untuk meminum obat, Donghae berbaring lagi. Ia baru akan terlelap ketika merasakan tangan Yoona menggenggam tangan kirinya.
"Aku ada di sini, Hae-yah," kata Yoona sambil tersenyum. Lama berteman dengan Donghae membuatnya tahu bahwa Donghae tidak akan bisa beristirahat ketika tidak ada yang menggenggam tangannya ketika ia sakit.
Donghae ikut tersenyum, menggumamkan terima kasih lirih, kemudian terlelap dengan tenang. 


Mungkin Donghae harus menandai kalender. Hari ini adalah hari bersejarah baginya. Untuk pertama kalinya selama hampir dua minggu ini, akhirnya ada yang menggunakan dapur di apartemennya. Selama ini ia selalu makan di luar. Kemudahan mendapatkan makanan cepat saji membuatnya tidak perlu repot-repot mengotori dapurnya yang bernuansa karamel itu.
Tersaruk-saruk keluar dari kamarnya, Donghae bisa merasakan bau lezat sup kimchi di udara. Ia menghirupnya dalam-dalam. Air liurnya hampir menitik.
Di dapur, Yoona tengah berdiri membelakanginya, menghadap kompor. Rambutnya ia ikat asal-asalan, menampakkan bagian belakang leher jenjangnya yang dihias tali celemek. Donghae tidak tahan untuk tidak tersenyum. Mengabaikan hatinya yang menghangat, Donghae menghampiri Yoona.
"Kau sudah sehat?" Yoona bertanya tanpa membalikkan badan. Donghae bahkan belum sempat mengagetkan wanita itu.
"Ugh. You're no fun!" Donghae menggerutu, menjatuhkan pantat di kursi di depan counter.
Terdengar tawa kecil Yoona. Ia mematikan kompor, lalu membawa panci kecil berisi sup ke meja makan. Asap yang mengepul dari sup itu mengenai wajah Yoona, membuat kulit mulus itu sedikit berminyak. Dan, Donghae, seakan terpaku di tempatnya, merasa bahwa pemandangan itu adalah pemandangan terindah dalam hidupnya.
"Kau akan tetap duduk di sana dan melihatku makan?" tanya Yoona sambil melepas celemeknya. Mangkuk, sumpit, dan sendok sudah tertata dengan rapi di meja makan Donghae yang harus ia bersihkan dulu sebelum dipasangi taplak meja.
Donghae mengerjapkan mata, tersadar dari lamunannya. Setelah itu, keduanya makan pagi bersama.
Donghae menyerutup kuah sup dan langsung mendesah puas. "Yaaah, sering-seringlah memasak untukku, Yoong," katanya sambil menyiduk sup ke mangkuknya sendiri.
Yoona mencibir. "Aku ini orang sibuk. Lagian kau bisa minta gadis-gadismu memasakkan apa saja untukmu," balas Yoona pedas.
Donghae menyeringai. Ia menurunkan sumpitnya, memajukan badannya mendekat ke arah Yoona. "Kau...cemburu?" Memiliki pikiran bahwa Yoona mungkin cemburu membuatnya senang mendadak.
"Pfff.." Yoona mendengus. "Dream on, playboy!" bentak Yoona yang berhasil membuat Donghae tergelak.
Selesai menyantap habis sarapannya, Donghae menyandarkan tubuhnya sambil mengelus perut yang sekarang telah penuh. Ia menatap Yoona yang tengah menandaskan jus jeruknya. Donghae terkekeh melihat cara Yoona menghapus sisa-sisa jus di bibirnya, mengingatkannya pada salah satu keponakannya yang masih balita. Cute.
"Kau tahu?" Donghae membuka suara, membuat Yoona mendongak menatapnya.
Donghae pun melanjutkan. "Hidup akan lebih mudah kalau kau jadi istriku."
Tak ada yang berbicara setelah itu. Keduanya saling tatap, dengan pancaran mata yang berbeda. Yoona menatap Donghae tajam, sementara mata Donghae memancarkan senyum yang tidak terpatri pada bibirnya.
Yoona-lah yang pertama kali memalingkan wajah. Ia bangkit dari kursinya. "Kau sudah sehat kan? Cucilah semua ini," ia berkata tanpa menatap ke arah Donghae.
Yoona beranjak dari meja makan, meninggalkan Donghae yang menghembuskan napas berat dan panjang.


"Ternyata kau tampan dengan rambut pendek seperti ini." Yoona tersenyum geli, mengelus rambut Donghae yang masih asing untuknya.
Donghae bergumam tidak jelas, kembali memakai topi tentara miliknya, menutup kemungkinan Yoona dan Amber untuk meledeknya lagi. Yoona, masih mau menjaga perasaan Donghae, hanya tersenyum untuk menutupi tawanya. Sementara Amber malah sudah tergelak hingga jatuh terduduk di sampingnya. Donghae sampai harus mengetuk kepala adiknya itu agar segera menghentikan tawanya sebelum mereka menjadi pusat perhatian.
"Kalau seperti ini, masih adakah gadis yang terpikat olehmu, Hyung?" ledek Amber tak henti.
Kali ini Yoona menyikut tulang rusuk Amber, menatap galak adik Donghae, menyuruhnya untuk berhenti. Amber langsung berdiri tegak, membungkukkan tubuhnya berkali-kali.
"Maafkan aku, kakak ipar," katanya hormat. Yoona dan Donghae mendengus bersamaan.
"Eomma, Appa, doakan aku," Donghae berpamitan pada kedua orang tuanya yang menatapnya haru.
Mrs. Lee memakaikan ransel tentara pada bahu Donghae, mendadak ingin menitikkan air mata. "Sampai ketemu dua tahun lagi, anakku," kata Mrs. Lee.
Ia memang terharu, tetapi lebih merasa haru lagi ketika Donghae datang menemuinya dan mengatakan bahwa ia akan mengikuti Wajib Militer tahun ini, lalu langsung menikah setelah ia kembali nanti. Dengan Yoona. Ya, dengan Yoona. Wanita yang diam-diam memang diinginkannya untuk menjadi menantunya. Hanya saja Yoona belum tahu rencana ini.
Selesai berpamitan dengan keluarganya dan harus kembali mendapatkan ledekan dari Amber, Donghae menghampiri Yoona yang sengaja berdiri menjauh. Diraihnya kedua tangan Yoona, dan digenggamnya hangat. Ia menggenggam tangannya lama sekali, seakan berharap agar genggaman itu cukup untuk membuatnya bertahan selama dua tahun tanpa kehadiran wanita impiannya.
Ditelusurinya wajah Yoona. Disentuhnya kening cantiknya yang sangat Donghae sukai, matanya yang seperti mata rusa, hidungnya yang mudah memerah jika kedinginan, pipinya yang putih mulus bak pualam, dan terakhir bibirnya. Bibir tipis yang membentuk lengkung khas saat ia tersenyum. Bibir yang sering meluncurkan serentetan makian ketika Donghae membuatnya kesal. Donghae akan sangat merindukan semua ini.
Donghae merogoh sakunya untuk mengambil sesuatu, namun tidak melepaskan genggaman tangannya. Ketika kotak beludru merah kecil berada di genggamannya, Yoona terkesiap. Jari-jari lentiknya menutupi mulutnya yang terbuka lebar.
"Harusnya kau tidak terkejut lagi, Yoong. Aku tahu kau sudah tahu hal ini akan terjadi sejak lama," Donghae berkata ringan, membuka kotak itu yang berisi cincin dengan berlian mungil yang berpendar indah.
"Kau akan menjadi Mrs. Lee Yoona dua tahun lagi. Kau sudah siap, kan?" tanya Donghae tenang, walaupun hatinya berdebar kencang. Bagaimana kalau Yoona menolak lamarannya?
Dan ketika Yoona mengangguk, itu adalah saat terindah dalam hidupnya, menyingkirkan adegan memasak di dapurnya beberapa waktu lalu dari posisi pertama. Dengan perasaan membuncah, ia memasangkan cincin di jari Yoona, lega ketika cincin itu terpasang dengan pas.
Direngkuhnya tubuh gadis itu ke dalam pelukannya. Ia bisa merasakan sekelilingnya berputar, menampilkan gambar blur yang tidak jelas. Di belakangnya, kembang api bermunculan dengan indah.
"Kau ingat pesanku selama ini, kan?"
Yoona mengangguk, melepaskan pelukan Donghae, kemudian menghapus air mata bahagianya. "Never date anyone, safe yourself for me," katanya, menirukan pesan yang selalu Donghae berikan padanya selama ini. Pesan yang ia anggap tidak serius, tapi entah mengapa ia patuhi.
Donghae menghapus sisa air mata di pipi Yoona, mendekatkan wajahnya untuk mencium kedua mata indah itu. "I love you."
Yoona menempelkan dahinya pada dahi Donghae, membuat keduanya bertatapan. Tersenyum, ia menjawab, "I love you too."

-END-

So, this is my new YoonHae fanfict. I ship them hard kekeke :D Too bad Yoona couldn't attend SMTown Live in LA, which means no YoonHae moment at all :( I really hope they will secretly show their love again in public, like stealing glance etc :)
And for those who are longing for Fight for Love, I'm truly sorry I can't continue it as fast as you want. I don't read Icil FF recently, so I think the feeling is gone. But don't worry, I'm still gonna continue it. I'm trying hard to work on it now. Just give me some support, okay? And I hope I'll get my feeling back.
What do you guys think about this? :) I already made a YoonHae FF before, and it was in English. I wanted to make another one in English too but I was not really into it. So I decided to post this one. Give me some comment, okay?

Saranghae! <3 

Author's note:

Ini adalah FF Korea pertama, sekaligus cerpen pertama dalam bahasa Inggris. Excited? Jelas! Akhirnya bisa bikin kayak gini walaupun pasti masih banyak salah grammar, typo, dan kata-kata yang nggak padu. Hehehe harap dimaklumi aja yah, English is not my first language :p

Di sini aku kasih beberapa kata dan istilah dalam bahasa Korea, jadi mending sekarang aku kasih terjemahannya dulu nih:

Maknae = anak termuda

Ani = tidak

Neh = ya

Unnie = panggilan buat cewek ke kakak cewek

Oppa = panggilan buat cewek ke kakak cowok

Hyung = panggilan buat cowok ke kakak cowok

Dongsaeng = adik cowok/cewek

Yeoboseo = halo

additional note:

Love Rain >> drama yg dibintangi Yoona bersama Jang Geun Suk

We Got Married >> variety show Korea, memasangkan dua artis yg nantinya disuruh kawin kontrak 1 tahun (kawin pura2). kurang lebih kek gitu deh, aku juga ga ngikutin :p

ENJOY!

*-*-*-*





"Bam!!"

The door was slammed and everyone stopped doing anything. 5 girls in the living room sighed at the same time.

"That girl. I wonder what's now," Yuri said, sighed and shook her head.

The leader, Taeyeon, stood up and faced others. "Ya, maknae!" she pointed on Seohyun who was trying to read the very last page of the book.

"Go there and talk to here. You're the only one she can never mad at."

"Ani," Sooyoung interrupted. "I'll go talk to her. This is for slamming the door million times in a week."

She then slowly walked to Yoona's room. While, in the other hand, Jessica was busy texting to someone.

"Girls, Taecyeon Oppa asked me out," she said, grabbed her things and ready to go.

"Okay," Taeyeon answered. "Get home before ten. You're filming tomorrow, aren't you?"

"Neh. Bye, Girls!" She waved at everyone and went out of their dorm. Taecyeon, her boyfriend for these past 2 months was asking her out. They could rarely meet due to their hectic schedule as an Idol.

Well, let's back to Sooyoung. She opened the door (Yoona might always slammed the door but she never locked it) and saw Yoona on her bed, hiding her face in the pillow.

"What happened, Yoong? Fighting with Donghae Oppa again?" she asked.

Yoona looked up and sat. She knew she couldn't avoid her unnies. "Same damn thing," she said with a low yet angry voice. She must had been very upset right now.

"You watched the recent episode of We Got Married, right?" She then continued as Sooyoung nodded. "They were very intimate!! I even heard that they're very close in real life. The whole show is pissing me off already then this? God, I can't believe he did that to me!"

Sooyoung walked closer and sat beside Yoona. He stroked her hand on her dongsaeng back. "Why don't you talk to him?"

"I did! But when I brought this up, he'd also bring Jang Geun Suk and we ended up fighting. I can't stand him anymore, Unnie."

Sooyoung felt bad about her dongsaeng. She already knew that Yoona & Donghae's relationship wouldn't be easy. They both worked as an entertainer and couldn't do nothing but prioritizing the professionalism. Yoona's role in dramas sometimes made him jealous, and he was also doing We Got Married variety show which made her more more more jealous.

"You know Eun So. You worked with her during Love Rain filming, right?" said Sooyoung, trying to relieve Yoona's temper.

"That's the point, Unnie!" She almost yelled. "I know her well. She's like an angel; kind-hearted, wise, and also cute! I'm just..." Yoona couldn't finish her words.

Sooyoung smiled. "You're just worried that Donghae might fall over her."

Yoona nodded slowly. Her unnie was right. "So, what should I do now?"

"Just calm yourself down, and talk to him again when you're ready." Yoona smiled and mouthed a 'thank you' to her.

"Now let's go get some food. This talk definitely makes me hungry," she said as she walked out of Yoona's room.

Yoona giggled, then followed her. "You're always hungry, Unnie."



The Oricon Music Awards was coming. Taeyeon was in charge to be an MC. 7 members were out for their individual schedule, and Yoona was taking responsibilities to represent Girls' Generation since they're also one of the nominees.

"Geez, I can't believe I'm attending this alone," she whispered to herself.

She looked for a seat then finally found her name on the second row. She took a seat and surprised when her Oppas from Super Junior were there too, sitting on the first row and some on the second row, just right beside her.

"What a beautiful dress you are wearing, Yoong!" Shindong compliments on her white gown.

She smiled. "Thanks, Shindong Oppa."

And, there he was, Donghae, sitting right in front of Shindong. She sighed, feeling frustrated. Things were getting worse between them, and they were still mad at each other.

Suddenly, Yoona's phone vibrated. She took it out from her purse and opened a message Sooyoung just sent her.

Don't show your sadness in public, Yoong. You remember what happened in New York, right? Fighting! <3

Yeah, of course she remembered that. They were having an interview with some New York medias, and she was not in a good condition. She and Taeyeon, to be exact. While other members were chatting, smiling, and laughing, Yoona and Taeyeon just sat still with tired face. They were scolded after that and promised other members and their company to not put that kind of expression while in public.

"Enjoy your loneliness, Yoong?" Siwon turned and faced Yoona. He smirked when saw his dongsaeng alone here to attend the award ceremonies.

She couldn't do anything but smiled weakly, knowing that the camera was there and recording them. Siwon chuckled and turned again, when he saw Donghae glaring at him.

"What? You don't need to be jealous, Hyung," he teased.

Donghae sighed and paid attention to T-Ara who was performing on the stage. He acted like he didn't care that Yoona was behind him. But deep inside his heart, he wanted to sit next to her and hug her tightly. He missed her, indeed.

"And, The Oricon Music Awards for Best Album Category goes to....Girls' Generation!" The MC announced.

Yoona was surprised and happy at the same time. She never imagined that this could happen. Her group just won another award this year!

She received standing ovation from Super Junior members who also congratulated her while she was approaching the stage. Then she had her speech, together with Taeyeon who was already on stage as an MC. They thanked their fans, their company, and also everyone who was always supporting them.

Super Junior also won a trophy for Best Boy Group category. Since Girls' Generation and Super Junior were from the same company, the planned to celebrate it right after the ceremony ended. They went to an exclusive cafe which was booked in advance.

Yoona was glad to be there, but she was feeling uncomfortable, knowing that Donghae was there too. They sat not too close to each other and still ignoring each other’s existence.

But Yoona couldn't handle this anymore. She approached Donghae and sat beside him. "Oppa," she called. Donghae stared at her but didn't say a word.

"I couldn't stand it anymore. I'm tired of ignoring you," she started.

Donghae took a deep breath and looked at her intensely. "It's also hard for me, Yoong."

Yoona's eyes became bright and she smiled widely. She leant herself towards Donghae and hug him.

"I'm sorry, Oppa. I don't want to have another fight with you."

Donghae nodded and stroked his hands over Yoona's back. Other members just watched them happily, so glad the cold war was over.



Things went well after that, but still, they couldn't escape from problems. This time Yoona was super jealous after watching Donghae kissed Eun So on the show. She cried the whole night. The other members understood her situation and just left her alone. They hoped that Yoona & Donghae could work this out and they would be happy again.

SuJu's dorm was quite when Yoona came. She knocked on the door and found Leeteuk opening the door for her. "Come in, Yoong. It's raining outside, you'll catch flu."

Leeteuk knew something was wrong. Yoona's eyes couldn't lie, not when he understood Yoona inside and out. He guided Yoona to the living room where Donghae was laying on the sofa, watching TV with Siwon and Heechul. Siwon and Heechul looked up and surprised Yoona was there. Leeteuk gave them a signal to leave the couple alone.

Leeteuk clapped Yoona shoulder and smiled at her. "Talk to him, Yoong. He's been quite the whole time."

"Hey, Beautiful!" Donghae greeted her.

Yoona's eyes became watery when she heard Donghae called her 'beautiful'. The fact that Donghae acted like nothing went wrong also hurt her.

Yoona replied with a small smile. She took a seat next to him. Donghae grabbed Yoona's shoulder and pull her closer. He put his arm around her and played her long brown hair with his finger.

"Why didn't you tell me that you'll come?" he asked.

Yoona shake her head. She hadn't spoken since she sat there. Then she leant her head on Donghae's chest.

"Oppa, why did you kiss her?" suddenly she said.

Donghae froze for a moment. He released his arm from Yoona, sat straight and glared her.

"It was scripted, Yoong," his voice become serious. His cute smile disappeared.

"But you guys...looked good together. You kissed her with all your heart."

"Yoong, you're jealous?"

"Jealous?? Of course! Who wouldn't be?!" she yelled.

Donghae who felt annoyed couldn't do anything but yelled back. "Oh my God it's just a show! I have nothing towards her!"

"But.." Yoona's face was wet. Tears were running down through her cheeks. "You should've told me first, Oppa."

"What about you, huh? What about 4 kissing scenes on Love Rain! It was 4, Yoong!"

Yoona didn't answer. She sobbed and looked down, wasn't brave enough to look Donghae in the eyes.

"Yoona, I think we need to take a break. We can't have a relationship like this. We still can't trust each other even we've been together for almost 2 years." Donghae sighed. Yeah, maybe this will be the best for both of them.

Yoona looked at Donghae in disbelief. "I can't believe you gave up easily, Oppa. I thought we would try to work this out and fix this all."

She was still staring at her boyfriend, but he looked away. She released a sigh and wiped her tears. "Maybe I'll just...go."

After she left, Donghae blew a heavy breath and went upstairs to his room.

In the other hand, Leeteuk heard their conversations and got a little worried. He took his phone and called Taeyeon.

"Yeoboseo?" Taeyeon greeted with her angelic voice.

"Taeyeon-ah, we got a problem."



All Girls' Generation and Super Junior members (minus Yoona and Donghae, of course) were gathering in their practice room. It was all because of that just-broke-up couple.

"Seriously, if I could, I'd just kick their ass right now!" Yuri said with a little anger. The others nodded in agreement.

"They made us awkward when we're all together," Siwon added.

"Ah!" Tiffany exclaimed. "Do you guys remember when we were practicing for our couple performance? They were paired but didn't even see eyes to eyes! The dance came out awkward then."

Taeyeon sighed in frustration, thinking about her second maknae. Yoona was not fun as she used to be, instead she became Thunder Yoona.

"We need to do something."

"Yes. They actually still love each other," said Seohyun.

Suddenly, Yuri clapped her hands. Her eyes were shining bright. "I got an idea!" she said, feeling excited in all of sudden.

The others looked at her with curiosity. Yuri then explained her idea, which made everyone sighed in relieve. This could be the best idea ever!



Donghae woke up with a weird feeling. He just dreamt about Yoona. Again. He sighed, trying not to think about her for now.

He went out of his room but his hyungs and dongsaengs were nowhere to be found. The dorm was completely quite. "Where is everybody?" he mumbled to himself.

Just right after he had breakfast, his phone rang. He ran towards his room and picked the phone. It was from his manager.

"Yeoboseo?"

"Where are you?!" Donghae was surprised by the anger tone his manager just used.

"I'm in the dorm. I thought I don't have any schedule today," he said.

"Well, you thought wrong, Donghae! Everyone is already here! I updated your schedule last night. Don't you know that?"

He shook his head. Knowing his manager couldn't see it, he answered, "I don't know anything, Hyung. Seriously, why didn't they wake me up?!"

"We did but you slept like a sleeping beauty!!" He heard the boys shouting.

Donghae sighed again. "Okay, where are you guys? I'll go right now, and catch up as fast as my car can."

"Yeah, right. We're in Eurwangni Beach to have a commercial filming. Come here quickly!"

"Okay," he said as he grabbed his things and prepared his car.

"Don't forget to pick up Yoona! We'll do the filming with her."

"Wait..what?" he asked surprisely but his manager already hang up the phone.

He had no choice besides picking up Yoona in her dorm. His heart beats faster as he was already close to the girls' dorm.

He arrived and ready to ring the doorbell when suddenly someone came out. Donghae gulped when he saw Yoona went closer to him. She was always beautiful, he thought. Even when she dressed casually like now, with light make up. Her beauty never changed.

"Ehem.." Donghae cleaned his throat. "So, your manager already told you, huh?" he asked when Yoona jumped to the car.

"He told me 20 minutes ago, I didn't know about this before," she said coldly. She didn't even turn her face or looked at Donghae.

"Weird," he whispered. "Same thing happened to me."

There was a long silent, an awkward one. They just stared out of the window all the way to the beach. Donghae decided to turn on his stereo set to kill the awkwardness between them.

It took two and a half hours to reach the beach from Seoul. When they arrived, they felt relieved for becoming free from the awkward situation.

But it was all just weird. There was no one in the beach, no sign of the filming activities. "Where are they?" Yoona asked herself.

Donghae was suspicious. He looked around to find the boys but they were not there.

"Let's go there." Donghae grabbed Yoona's wrist.

They walked along the beautiful white sand. That beach was famous for its white sand and beautiful scenery. Donghae was surprised when he felt Yoona held back his hand. He stared at her but she looked away. Oh my God, she was blushing, he thought to himself.

They walked for fifteen minutes but still couldn't find anyone. Yoona was frustrated and stopped walking. Her feet already hurt.

"Let's just sit here. Maybe they just prank us," she said calmly as she put her shoes off and sat.

Donghae did the same. The sit next to each other, enjoying the wind blew their hair. Donghae stared at Yoona, whose hair was messy but still, she looked beautiful.

Suddenly, Donghae did something that surprised Yoona. "IM YOONA!!" he screamed at the sea right in front of them.

Yoona's eyes became wider. "What are you doing??"

But Donghae ignored her. "IM YOONA! WHY IT'S HARD FOR US TO TRUST EACH OTHER?? WHY DON'T YOU TRUST ME??"

"HOW CAN I TRUST YOU IF YOU DON'T TRUST ME EITHER??!" Yoona followed him, screaming out loud. Other people might think they were crazy, but they didn't even care.

"YOU STILL HAVE DOUBT ON ME, DON'T YOU?! WHY DON'T YOU BELIEVE ME?! THE ONLY GIRL I LOVE IS YOU! IT'S ALWAYS BEEN YOU, YOONG!!"

Yoona's eyes became watery. He looked at Donghae, surprised yet touched by what he just said. "Was..was that true, Oppa?"

Donghae's heart fluttered when she called him 'Oppa' again. He never realized how he missed her calling him like that. He missed everything about her, about them.

He turned around and looked at her. They looked at each other for such a long time, when suddenly tears running from her deer-like eyes.

"I'm sorry, Oppa," she said, still crying.

Donghae leant closer and hugged her tightly, as if he'd die when he let go of her. Yoona hid her face on Donghae chest, while Donghae stroked her back. She said so safe and all of her worries were gone.

He let go of her and wiped her tears from her beautiful face. "You're my only love, Yoong. Keep that in mind."

Yoona nodded as tears running down through her cheeks again. Donghae chuckled and hugged her. He felt the warm of her body and closed his eyes. His love finally came back to him.

When he looked behind Yoona's back, he saw his members, his manager, and Girls' Generation's member as well.

"Yoong, I think we must get our revenge," he said, still looking into through Yoona's back.

Yoona followed his eyes and found everyone waving at them. They smiled widely, happy because their plan ran perfectly.

"They seriously will die after this!!" Yoona hissed and Donghae giggled.

He put his arm around her as they walked towards their members and managers. He leant closer and whispered in Yoona's ears. "I love you."

Yoona smiled and suddenly kissed his cheek. "I love you too, Oppa."



END

Me for Real

Foto Saya
Sixteen. Love books, music, and cars. Buy me a yellow Chevy Camaro and I'll kiss you for sure! :D Following: Allah SWT, my fams, and my best friends.