Selasa, 14 Januari 2014

Foolish



For him, the word beautiful never suits her. She was way more than that. Ethereal is what he believes suits her best.
Mornings always come as pleasant surprises every time he sees her in the hallway. She would smile, wave at him, and say the brightest hello, like she always does. Before he replies her greeting, he always takes 3 seconds to appreciate God’s best creation in front of him. With her dark locks cascading down her back, doe eyes twinkling in a happy manner, and the smile that could reach her ears, he swears he has never seen anything more beautiful.
The next sentence she says comes in a velvety voice, sending warm sensation from his heart to his fingertips. And when she laughs, the voice has already been registered to a secret corner of his heart as one of his favorite voices he likes to hear in the morning.
“Did you sleep well?”
“Have you had breakfast?”
“What will you do after school today?”
were questions she never forgets to ask him. He could see (and feel) her sincerity through every word she is saying. He isn’t sure how he could picture their mornings in their future just like this; seeing her smile as she asks him how his sleep. He just knows if this is how his morning will always be like, he hopes they always stay this way.
But then, everything is not his to decide. He can be happy for every 10 minutes he has with the girl beside him, but he knows someone is waiting for her (and maybe she is waiting for that someone too) to spend the rest of their day together. That someone is (unfortunately) his best friend, his dear, dear best friend.
His best friend is the nicest person he has always met. He’s friendly, well-mannered, and always considerate toward others around him. And one thing his best friend got but he never would is the courage to tell that one girl how he really feels. He knew they were (and still are) in love with the exact same girl but he was not brave enough to tell her. And since the day when she accepted his best friend’s feeling, he has been trying hard to kill the stinging feeling of regret. 
“We will go to a jazz concert this weekend. You can join us if you want.”
Her offer sounds tempting if she’s not referring to her and his best friend in the word ‘we’. So he shakes his head, showing her his best smile with an apologetic look in his eyes.
And when she shots him a bright smile before making her way to her locker, realization hits him that he had foolishly fall even deeper than he had allowed himself to, and for the one person he shouldn’t have; the girl that his best friend is already in love with.

Kamis, 19 Desember 2013

Yoona and Wedding Dresses


Seriously, guys, what is it with Yoona and wedding dresses? She's married 3 times (in 'You Are My Destiny', 'Love Rain', and lately 'Prime Minister and I') within 5 years. She wore wedding dress in her first solo performance for GG Asia Tour ('Introduce Me a Good Person'). Oh, and in Acebed CF too! LOL. She sure has a thing for wedding dresses, no? She always looks stunning in any wedding dresses anyway, making me wonder what will she look like in her own wedding wearing her own wedding dress :)
Oh and have you watch 'Prime Minister and I'? You have to watch it! It's good, hilarious, and it's seriously a breath of fresh air. Despite the 20 years age gap, Yoona and Lee Bum Soo still manage to have a good chemistry. And don't forget Yoon Si Yoon! That guy is gonna make it on my list of favorite Korean actors. He's sooooo handsome and lovely ooohh I think I have a little crush over here <3 i="">
Make sure to watch it every Monday and Tuesday, okay? You won't regret it! :D

Senin, 18 November 2013

Watercolor Nail Art

Dari dulu udah pengen banget nail art. Akhirnya cari-cari video tutorial nail art dan berhasil mempraktikkan! Yay! Tapi, berhubung gak boleh pake kuteks (kan sholat :D), akhirnya aku pake cat air aja. Hahahaha kalo kata temen aku sih dibilang kurang kerjaan tapi lumayan kan siapa tau bisa buka usaha nail art beneran suatu hari :P
Nah, alat-alat yang aku pake ini nih:


1. Cat air
2. Kuas ukuran 1
3. Palet
4. Air secukupnya
5. Dotting tools (alat buat bikin polkadot. Berhubung aku gak punya, aku pakenya tusuk gigi, jarum pentul, dan bagian pangkal kuas, dipake sesuai kebutuhan.)
6. Cutton bud (buat membersihkan kalo ada cat yang keluar dari kuku)

Kalo udah lengkap, let's begin! Hari ini aku udah bikin 3 varian (?) nail art nih :)

1. Starwberry



2. Strawberry ice cream with chocolate sauce and sprinkles (ini kok rada-rada failed ya -_-)



3. Catching Fire
Salah warna dasar, btw. Harusnya kuning, biar kerasa efek terbakarnya. Lupaaaa tadi malah pake putih -__-



Ohiya btw aku belajar nail art ini dari channel cutepolish di youtube. Bagus-bagus dan gak susah deh, dijamin!
Ayo belajar nail art dari sekarang buat pecinta nail art, biar gak usah bayar orang buat mempercantik kuku :p

See you!

Senin, 11 November 2013

Cinta yang Lebih Besar

Ini cerpen bikinan aku belum lama ini, buat tugas bahasa Indonesia hahahaha I thought, kenapa nggak post di blog aja? Enjoy! :)

*****



Suara tawa tidak terdengar lagi. Kaki-kaki kecil yang digunakan untuk berlari seharian tadi sudah tersembunyi dengan aman di bawah selimut. Matahari sudah kembali ke pelukan cakrawala dua jam yang lalu, dan kini saatnya Kania mengantarkan malaikat kecilnya ke alam mimpi. Si sulung, Alika, masih tersenyum mengingat cerita putri dan pangeran katak yang baru saja dibacakan sang bunda. Sebelah tangannya memeluk Alki, adiknya, yang sudah terlelap sejak tadi. Setelah membimbing si kecil Alika berdoa, Kania mengecup dahi kedua anaknya. Kecupan kali ini lebih lama dari biasanya. Ia berusaha sekuat tenaga menahan rasa sesak yang tiba-tiba menyergap ketika bibirnya bersentuhan dengan kulit lembut anak-anaknya. Ya Allah, batinnya, bagaimana hamba bisa bertahan tanpa mereka?
Kania berjalan menuju ruangan di sebelah kamarnya dan mendapati Bara masih terjaga dengan sketsa bangunannya. Ada proyek besar menanti di depan mata suaminya itu, dan ia menjadi lebih sibuk beberapa hari ini. Sebagian besar waktunya di rumah ia habiskan di ruangan ini, bahkan anak-anak pun tadi diajaknya menggambar di sini. Kania menatap punggung suaminya sedih. Ia tahu, menyibukkan diri adalah salah satu cara Bara untuk lari dari segala penat barang sejenak.
Kania ingat betul sejak kapan suasana rumahnya menjadi biru, walaupun ia dan Bara tak pernah lupa meyediakan suasana yang lebih ceria untuk kedua anaknya. Pagi dan siang hari mereka habiskan seperti sebuah keluarga bahagia; Bara mengajari Alki menyusun balok warna-warni, Alika membantu Kania membuat cup cake di dapur dan wajahnya akan berlumuran tepung beberapa jam kemudian. Namun, ketika pintu kamar anak mereka sudah tertutup, hanya kesunyian yang menemani mereka. Saling memandang dalam diam, saling memeluk tanpa suara. Begitu banyak yang ingin disampaikan tetapi tidak ada satupun yang keluar dari bibir mereka. Hanya dengan menatap mata masing-masing, mereka tahu mereka sedang berbagi kesedihan yang sama.
"Sudah bertemu pengacaramu?" tanya Bara tanpa membalikkan tubuh. Kania sama sekali tidak bersuara, tetapi Bara bisa merasakan kehadirannya. Hal itu adalah salah satu alasan mengapa Kania mencintainya.
Kania tidak menjawab. Ia berjalan mendekat, melingkarkan kedua tangannya di leher sang suami dari belakang. Bara menghela napas panjang, luluh dalam kehangatan Kania. Percakapan tanpa suara kembali terjadi. Kania mengeratkan pelukannya, merasakan betapa kurusnya suaminya sekarang. Pria itu kehilangan beberapa kilo semenjak kedatangan kakak perempuan Kania, Kayla.
Ya, kedatangan kakak perempuannya yang berujung pada kesedihan mereka saat ini. Kayla yang sangat ditunggu-tunggu kehadirannya karena tidak sempat menghadiri pernikahan mereka lima tahun lalu, justru malah membawa petir pada kehidupan rumah tangganya hanya dua hari setelah ia menginjakkan kaki di rumah mereka. Kayla sendiri sebenarnya sudah merasakan kesedihan yang mendalalam bahkan sebelum ia menyampaikan berita itu pada adiknya. Wajah Bara yang menyambutnya dengan ramah justru malah menghancurkan hatinya saat itu.
"Kalian adalah saudara sesusu." Kania masih ingat mata kakaknya yang mulai berkaca-kaca ketika ia harus mengungkapkan kenyataan pahit itu.
Kayla kemudian bercerita bagaimana ia mengumpulkan informasi selama ia berada di sana, memastikan dugaannya. Benar saja, ibu Kayla pun menceritakan semuanya. Dulu, setelah Bara lahir, ibunya tidak sanggup untuk menyusui. Akhirnya, karena tidak tega, ibu Kayla dan Kania memutuskan untuk menyusui anak itu. Ketika Bara datang ke rumah mereka untuk melamar Kania, orang tua Kania sebenarnya sudah tahu bahwa Bara adalah saudara sesusu dari anak-anaknya. Namun, tidak ada yang tahu bahwa dalam agama Islam, saudara sesusu diharamkan menikah.
Kania mengurung dirinya di kamar setelah mendapatkan berita itu. Ia menyesali semuanya. Menyesali kedua orang tuanya yang tidak memiliki fondasi agama yang cukup kuat, menyesali semua kebenaran yang datang terlambat, tetapi ia sama sekali tidak menyesali pertemuannya dengan Bara yang membawa mereka sampai di sini. Ia tidak menyesali telah melahirkan dua malaikat kecil yang kini selalu mewarnai harinya. Dan kini, ketika perpisahan sudah membayang di hadapan mereka, Kania dan Bara memutuskan untuk tetap saling menguatkan.
Bara masih tenggelam dalam kehangatan yang diberikan istrinya ketika ekor matanya menangkap sebuah amplop di meja kerjanya. Ia mengangkat benda segi empat itu, menimbang-nimbangnya dengan heran. Kayla mengulurkan tangan, dengan lembut merebut amplop itu dan membuka isinya.
“Ini adalah surat yang aku tulis untuk Alika dan Alki,” jelasnya. Jarinya yang lentik mulai membuka lipatan kertas di dalam amplop, tahu bahwa suaminya juga ingin mengetahui isinya.
“Untuk Alika dan Alki, malaikat hidup Ayah dan Bunda,” Kania mulai membaca. Belum apa-apa, kristal-kristal sudah terbentuk di kedua bola matanya yang indah.
“Ketika kalian membaca ini, kalian pasti sudah dewasa, dan kita tidak bisa berkumpul bersama-sama untuk melihat perkembangan kalian. Ayah mungkin sedang berada di suatu tempat di belahan bumi lainnya, merindukan kalian, merindukan Bunda. Sementara Bunda mungkin sedang sibuk mencuci, memilah-milah kaus kaki kalian yang bau dan kumal, sambil memikirkan menu makan malam untuk kita bertiga.”
Bara menggenggam sebelah tangan Kania, menguatkan wanita itu dan member gestur padanya untuk lanjut membaca.
“Anak-anakku, maafkan Ayah dan Bunda. Kalian pasti masih menyimpan luka akibat perpisahan kami berdua bertahun-tahun yang lalu. Hati kalian pasti menyimpan berjuta tanya, mengapa Ayah harus pergi dan mengapa kita hanya tinggal bertiga setelah itu. Kami tidak pernah bisa member penjelasan saat itu, tetapi, kini, saat kalian sudah dewasa, Bunda yakin kalian akan mengerti.
Dulu, Ayah dan Bunda tidak pernah tahu bahwa kami adalah saudara sesusu, sampai bibi kalian datang dan memberi tahu kami. Dalam Islam, pernikahan antara saudara sesusu adalah haram. Nenek dan kakek kalian tidak pernah tahu ini, Sayang. Mereka tidak melarang kami untuk menikah waktu itu. Karena itulah, ketika kami akhirnya tahu, satu-satunya jalan terbaik untuk kami adalah berpisah.
Jangan pernah berpikir bahwa Ayah dan Bunda tidak menyayangi kalian, Anakku. Kami sangat menyayangi kalian, lebih dari hidup kami sendiri. Namun, cinta kami pada Tuhan ternyata lebih besar. Kami harus berpisah, demi cinta kami pada Tuhan.
Anakku, Ayah dan Bunda tidak pernah menyesal melahirkan kalian. Malah, kalian adalah anugrah terindah yang Tuhan pernah berikan pada kami. Bunda sangat mencintai Alika dan Alki, begitu juga dengan Ayah yang saat ini tidak berada di tengah-tengah kita. Cinta kami pada kalian tidak akan pernah berkurang, walaupun kita tidak bisa selamanya bersama.
Bunda harap kalian mau memaafkan kami, berdamai dengan luka di masa lalu, dan mulai menerima keadaan dengan hati yang lapang mulai sekarang. Maafkan Ayah dan Bunda, Sayang.
Dari orang yang paling mencintai kalian, Ayah dan Bunda.”
Bara tidak menyadari tetes demi tetes air mata telah mengalir di kedua pipinya. Kania sendiri terduduk lemas dengan napas tercekat dan hati yang terluka. Isakan keduanya terdengar samar-samar, tidak mampu menutup luka yang menganga lebar. Setiap tetes air mata yang jatuh ke bumi adalah kekecewaan, dan setiap isakan adalah sayatan panjang dalam hati mereka.
       Dengan lengan gemetar, Bara menarik Kania ke dalam pelukannya. Kania menyerah, membiarkan semua yang telah dipendamnya tumpah malam ini. Ia bisa merasakan pelukan suaminya yang mengerat, seakan-akan tidak pernah sanggup melepaskannya. Mereka tahu, setelah mereka sama-sama melepaskan dekapan, keduanya tidak akan lagi bisa menjangkau satu sama lain.

Selasa, 29 Oktober 2013

Yoona and Sehun being All Adorable

Thumbs up for Yoonhun moments in SMTOWN Tokyo! You can see in these picture and gif here that Sehun was dragging Yoona into the water fountain everyone was running away from. Naughty Sehun is just naughty :p And he didn't just grab her by the wrist but then ENCIRCLED HIS HAND AROUND HER UPPER ARM.



AND LOOK AT THE LAST PICTURE! Yoona was tapping Sehun's back and he was whispering something to her awwwwwwwwww I have no idea where his right arm was, though. Could it possibly in Yoona's waist? :)))
They are so cute together, and definitely very close to one another. Enuff said.

Rabu, 09 Oktober 2013

Taecyoon

Great, Taecyeon-Yoona (Taecyoon) mess my OTP list with this.

  

Damn. They look like they're in their own world, speaking in their own language with no words are said. 


p.s Yoonhae is still number 1, though :)

Senin, 30 September 2013

Pindahan!

Okeeee tiba-tiba pengen bikin blog baru hihi. Blog baru ini khusus buat FF Korea ya, dan namanya pake nama pena aku (gaya sekarang udah pake nama pena). Jadi, yang nyari FF Yoonhae atau Changyoon dll di sini udah gak ada, udah aku pindahin ke blog baru aku. Monggo, silakan berkunjung.
Love you guys! :)