Kamis, 25 November 2010

You're Still Here (Fanfict)

Mau coba sok PD bikin cerita nih. Baca deh ya..

Once upon a time I believe it was a Tuesday when I caught your eye
We caught onto something, I hold on to the night
You looked me in the eye and told me you loved me

Lagu Taylor Swift yang terdengar samar-samar di telingaku mampu menarik pikiranku kembali ke masa lalu. Genggaman tanganku pada gelas kopi semakin erat, seiring dengan semakin jauh pikiranku terseret. Pemandangan Central Park New York di depanku bahkan tak mampu menahan pikiranku untuk tetap di sini. Kupejamkan mataku, mencoba tetap bertahan dan menolak kembali ke masa lalu. Tapi, seiring dengan lagu itu yang semakin keras, pikiranku semakin tertarik hingga aku tak sanggup untuk menahannya.

Selasa malam di bulan September, 2008.

“Ayolah, Ify, cepat! Kita bisa terlambat!” teguran mama di ambang pintu membuatku mengalihkan pandanganku dari cermin.

“Memangnya kita mau ke mana sih ma? Kok ify disuruh dandan begini?”

Mama berdecak tak sabar. Perlahan, dia menghampiriku dan meremas pundakku.

“Anak teman mama ulang tahun. Harus berapa kali mama bilang ini ke kamu, fy?”

Aku hanya meringis. Ini memang kebiasaanku. Lupa.

“Udah ayo! Kamu udah cantik kok!”

Mau tak mau aku tersipu dipuji begitu oleh mama. “Ah, mama bisa aja deh!”

Pesta ulang tahun anak teman mama ternyata sangat megah. Pasti ini anak bos mama. Megah begini pestanya. Di salah satu sudut, kulihat ada Gubernur DKI beserta keluarga, di sudut lain kulihat pemilik salah satu TV swasta sedang bercengkerama dengan tamu lain.

“Duduk sini, fy.” Kata-kata mama membuyarkan lamunanku. Aku duduk di salah satu meja. Sudah ada beberapa teman mama di sana, dan parahnya, aku tak tahu satu pun diantara mereka.

“Ini Ify ya? Wah, udah gede ya sekarang.”

Aku tersenyum masam. Hello?? Masa iya aku harus kecil terus? Kadang kala orang dewasa memang parah dalam hal basa-basi. Aku memandang berkeliling ball room hotel ini, dan pandanganku berhenti tepat di panggung. Kulihat seorang cowok sedang serius berbincang dengan salah satu crew penyelenggara acara. Sesekali keningnya berkerut, mungkin pembicaraan itu serius. Kemudian, dalam hitungan detik, cowok itu menghela napas pasrah dan menuruh crew itu pergi. Dia memutar kepalanya, dan tatapan matanya berhenti padaku.

Seketika itu juga, seluruh tubuhku terkunci. Dunia memudar, dan hanya matanya lah yang bisa ku lihat. Matanya begitu menghanyutkan. Membuatku terperosok masuk ke dalamnya. Tiba-tiba, kepalaku terasa ringan. Baru ku sadari aku menahan napas sejak tadi. Kualihkan pandanganku dari mata menghanyutkan itu, takut aku akan terperosok lagi.

“Ify sekolah di mana?” tanya seorang teman mama mengagetkanku.

“Di Binus, tante.” Semua teman mama tampak mengangguk-angguk. Kulihat mama, sedang tersenyum bangga. Sorot matanya seolah-olah mengatakan “ini anakku, hebat sekali bukan, dia bisa masuk binus?”

“Eh, jeung. Anak jeung ke mana?” obrolan antar ibu pun dimulai. Mau tak mau aku bergabung di dalamnya, sekadar untuk mengalihkan pikiranku dari mata tadi.

“Itu di sana lagi ngurusin crew. Dia hebat loh jeung bisa gantiin papanya jadi EO!” pamer salah seorang teman mama. Aku tersenyum simpul. Jadi yang bisa membuat orang tua bangga adalah ketika anaknya bisa menghasilkan uang? Kasihan sekali pasti anak yang mempunyai orang tua seperti itu.

Tanganku sedang sibuk mengaduk-aduk punch ketika seruan teman mama mengagetkanku. “Rio!” begitu serunya. Semua menoleh ke arah seseorang yang dipanggil Rio itu. Termasuk aku. Betapa terkejutnya diriku ketika melihat sang pemilik mata menghanyutkan sedang berjalan ke arah meja kami dengan senyum lebar tersungging di bibirnya. Tiba-tiba saja aku merasa tidak bisa bernapas.

“Iya ma?”

Oh dear, jangan bilang kalau dia anak Tante Manda.

“Jeung, kenalin, ini Rio, anak saya. Dia nih yang ngurusin acara malam ini.” Tante Manda mengenalkan Rio dengan bangga. Tiba-tiba saja ujung sepatuku terasa lebih menarik dari biasanya.

“Wah, ganteng ya. Hihi.” Terdengar suara tawa di sana-sini.

God, jangan sampai Tante Manda mengenalkanku padanya. Jangan sampai. Batinku memohon. Tapi....

“Ify, kenalin, Rio.”

Menengadahkan wajahku dan memandang Rio adalah hal terakhir yang ingin aku lakukan saat ini. “Hai.” Sapa Rio. Ya Tuhan, suaranya pun selembut beledu.

Akhirnya, perlahan, kuangkat kepalaku dan berusaha tersenyum. Senyumku terasa hambar bahkan oleh diriku sendiri.

“Hai.” Jawabku tak lebih dari sekedar bisikan. Kemudian, Rio duduk di sebelahku. Aku tak tahan untuk mencium aroma parfumnya. Begitu maskulin dan alami. Seperti bau rumput segar. Adakah parfum semacam ini? Parfum yang mampu mematikan seluruh indera wanita?

Sepanjang malam itu, jantungku tak bisa berdetak dengan normal. Gerak-gerikku menjadi kaku, dan tenggorokanku tercekat. Sepertinya bila aku berada di radius satu meter dari Rio setiap hari, jantungku akan meloncat keluar.

“Kamu kelas berapa?” tanya Rio. Sekarang kita sedang berada di taman belakang hotel. Entah kenapa aku bisa berada di sini, aku sendiri lupa. Ketika bersama Rio, aku tak bisa melihat keadaan di sekitarku. Seolah dialah pusat kehidupanku, tata suryaku. Setiap gerak-geriknya seolah berteriak “lihat aku! Lihat aku!”

“Kelas 11. Kamu?”

“Sama.”

Kemudian hening. Tak ada yang bersuara. Aku sendiri tak tahu ke mana suara cemprengku yang biasanya keluar. Sudah kubilang sebelumnya, Rio mematikan seluruh inderaku.

Tiba-tiba hapeku bergetar, memecah keheningan nyaman yang tercipta di antara kami.

“Iya, ma?”

“Kamu pulang sendiri ya. Mama ada urusan. Oke?”

Mataku membelalak lebar. Apa kata mama barusan? Pulang sendiri? Malam-malam begini?

“Tapi gimana Ify bisa pulang ma?”

“Ya ampun, Fy. Di depan hotel pasti banyak taxi kan?”

“I didn’t even bring my money.” Bisikku. Takut terdengar Rio. Bisa jatuh harga diriku.

“Oh Gosh! Kamu gimana sih? Pulang aja naik taxi, nanti bayarnya kalau udah sampai rumah! Oke? Mama keburu-buru nih. Bye, sayang.”

Aku menekan tombol end dengan sedikit keras. Bagaimana bisa mama melupakan anaknya yang sedang kebingungan bagaimana caranya pulang?

“Ada masalah?” tanya Rio lembut. Suaranya yang selembut beledu menggelitik telingaku.

“Aku ditinggal mama.” Kataku polos.

“Aku antar mau?” tawarnya. Batinku langsung bersorak “mau!”. Tapi nanti apa katanya kalau seorang gadis yang baru saja berkenalan dengan cowok mau-mau saja diantar pulang? Pasti dia akan berpikir aku cewek yang nggak bener.

“Tenang aja. Orang tua kita kan saling kenal.” Katanya, seakan-akan bisa membaca pikiranku. Dia memutar kepalanya, menghadap padaku. Sekali lagi, aku terkunci dalam tatapan matanya. Tiba-tiba aku merasa tenang. Semua kekhawatiranku hilang seketika. Dan aku pun mengangguk.

“Baiklah.”

Rio tersenyum lembut, dan tanpa berkata-kata, menggandeng tanganku. Semburat merah pasti sedang memenuhi pipiku sekarang. Tanganku begitu dingin di dalam genggaman tangannya yang hangat.

New York, sekarang.

Ah, bahkan urutan kejadian malam itu pun masih teringat betul di kepalaku. Setiap kata yang kami ucapkan, ekspresi, dan gerak-gerik kami malam itu masih terpatri dalam ingatanku. Kuhirup udara dalam-dalam, dan kuhembuskan keras-keras. Orang bilang menarik napas akan menenangkan, tetapi aku tidak merasakan khasiat bernapas kali ini. Aku bahkan tidak yakin aku masih bisa bernapas setelah peristiwa menyakitkan yang terjadi di masa laluku.

Jika kalian bertanya, bagaimana kelanjutan kisah ku dan Rio setelah malam itu, kurasa aku tak perlu menjawab. Kelanjutan hubungan kami sudah bisa di tebak. Sejak malam itu, aku menjadi semakin dekat dengan Rio. Jantungku berdegup tak normal setiap hari. Tiap malam setelah dia meneleponku, kurasakan beribu kupu-kupu beterbangan di perutku. Ya, aku jatuh cinta padanya. Dan ya, aku dan dia berpacaran hanya setelah satu minggu dari pertemuan pertama kami.

--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

“Kau mau pulang?”

Aktivitas beres-beres ku terhenti ketika mendengar pertanyaan Angel tersebut.

“Ya.” Jawabku masam. Angel tersenyum prihatin dan duduk di ujung tempat tidur. Matanya menatap mataku lembut.

“Kau benar-benar ingin pulang?” tanyanya sekali lagi.

“Sayangnya, aku harus pulang.”

Ya, aku memang harus pulang. Kemarin mama meneleponku agar aku menghabiskan liburan musim panas di Indonesia.

Angel memasang wajah kecewa. “Yaah, padahal aku baru saja ingin mengajakmu ke Tennessee untuk mengunjungi keluargaku. Pasti banyak objek di sana yang bisa kau ambil gambarnya.”

Aku tertawa hambar. “Sayang sekali. Aku sebenarnya ingin pergi bersamamu, tapi ibuku memaksaku untuk pulang.”

Angel tersenyum mengerti. “Baiklah aku tidak akan memaksa. Tapi kau akan tetap memotret sesuatu kan? Aku sudah tak sabar menunggu album musim panasmu keluar.”

Sebenarnya yang dia maksud album adalah kumpulan foto yang kutata menurut tanggalnya. Aku mencintai fotografi. Kuliah yang kuambil di New York University pun fotografi. Mengabadikan sesuatu yang tak bisa kita ingat selamanya sangatlah menyenangkan bagiku.

“Tentu saja. Di Indonesia banyak sekali objek menarik. Kau harus ikut pulang denganku kapan-kapan.”

Angel tertawa lepas. “Pasti aku akan nampak seperti orang idiot di sana. Sama sekali tidak mengerti bahasa yang kalian gunakan.”

Mau tak mau aku ikut tertawa. Temanku yang satu ini memang jago membuat seseorang merasa senang, walau hanya sejenak.


Were you just kidding cause it seems to me
This thing is breaking down we almost never speak
I don’t feel welcome anymore, baby what happened please tell me
Cause one second it was perfect and now you’re half way out the door

Lagi-lagi lagu ini. Seseorang di sebelahku sedang memutar lagu Taylor Swift keras-keras. Membuat pikiranku sekali lagi terseret ke masa lalu.

“Rio belum telepon kamu, Fy?” tanya Shilla, sahabatku, ketika melihatku terduduk lemas di meja kantin. Sebagai jawaban, aku hanya menggeleng lemah.

Shilla mendesah pelan. “Mau sampai kapan kamu begini terus, Fy? Kamu nggak bosan apa?”

Lagi-lagi aku hanya bisa menggeleng. “Nggak.”

“Fy, inget deh. Kapan terakhir kali dia telepon kamu? Atau sekadar sms mungkin?”

Aku memiringkan kepalaku. Hmm..kapan ya? Tiga hari yang lalu? Ah tidak, satu minggu yang lalu mungkin lebih tepat.

“Kamu harus ngobrol sama Rio, Fy. Hubungan kalian mulai nggak sehat.” Nasehat Shilla. Aku menenggelamkan wajah di kedua telapak tanganku.

Aku dan Rio sudah menjalin hubungan selama satu bulan. Dan baru tiga minggu kemarin kita resmi pacaran. Dua minggu awal kami jadian, Rio bersikap sangat manis padaku. Selalu menjemputku tiap pagi, meneleponku tiap malam, dan segudang perlakuan manis lainnya.

Tetapi, seminggu ini dia tak pernah meneleponku, atau hanya sekedar mengirim pesan singkat. Aku tahu dia sangat sibuk dengan kegiatan sekolah dan kegiatan perusahaan papanya, tapi tak bisakah dia menyempatkan waktu untuk menghubungiku?

Memikirkan itu membuat dadaku terasa sesak. Tenggorokanku tercekat. Bisa kurasakan bahuku bergetar menahan tangis. Kugigit bibirku kuat-kuat, untuk mencegah air mata ini turun. Shilla langsung memeluk bahuku. Diperlakukan seperti itu, malah membuat air mataku deras mengalir.

“Udah, Fy. Kamu harus kuat.” Suara lembut Shilla menenangkanku. Tapi air mata ini tetap tumpah tanpa bisa terbendung lagi. Dan aku tak berusaha untuk menahannya lagi. Aku hanya ingin semua isi hatiku keluar, semua unek-unek yang kutahan selama seminggu ini.

Kulajukan mobilku pelan-pelan, karena pikiranku belum sepenuhnya kembali ke ragaku. Aku tak ingin mengambil risiko dengan ngebut di jalan, meskipun aku ingin segera sampai ke tempat tujuanku, rumah Rio. Berbekal informasi dari mama, aku nekat mendatangi rumahnya.

Sesampainya di rumah Rio, aku disambut oleh pembantunya.

“Rio ada?”

“Ooh Mas Rio lagi keluar sama temen-temennya, Mbak. Ada pesan?”

Pergi dengan teman-temannya? Tapi kenapa dia harus mematikan handphone segala?

“Ah, nggak ada, Bik. Bilang aja tadi Ify ke sini.”

Aku tersenyum masam dan kembali ke mobil. Sebenarnya ada apa dengan Rio? Kenapa dia tidak menghubungiku? Berjuta pertanyaan ‘kenapa’ berkecamuk di pikiranku.


“Anda keberatan?”

Tanya orang di sebelahku tiba-tiba. Aku tersentak kaget.

“Ya?”

Orang itu mengulangi pertanyaannya lagi. “Anda keberatan saya memutar lagu ini?”

Tiba-tiba aku menjadi salah tingkah. Apakah orang ini bisa membaca pikiran?

“Tidak. Apa alasan saya harus keberatan?” tanyaku balik.

“Tidak ada sebenarnya. Tapi wajah Anda seperti tidak menyukai lagu ini.”

“Ah, bukan begitu. Saya hanya sedang memikirkan sesuatu.” Orang itu tersenyum, dan kembali memutar lagu itu yang tadi sempat dia hentikan.


And I stare at the phone and he still hasn’t called
And then you feel so low you can’t feel nothin at all

And you flash back to when he said forever and always

And it rains in your bedroom everything is wrong
It rains when you’re here and it rains when you’re gone
Cause I was there when you said forever and always

Hah, akhirnya aku sampai di Indonesia, setelah perjalanan yang panjang dan melelahkan. Kuhirup udara dalam-dalam. Walaupun udara di sini tak lagi murni, aku sangat merindukannya. Jakarta, kota yang tak pernah tidur. Kota yang selalu padat setiap saat. Kota yang menyimpan begitu banyak kenangan bagiku. Kenangan pahit dan manis.

Kulangkahkan kakiku menuju foodcourt terdekat, untuk sekedar melepas lelah setelah berjam-jam duduk di pesawat. Kulirik jam yang melingkar di pergelangan tangaku. Masih jam 11 pagi. Mama bilang supirku akan menjemputku jam 12. Jadi aku masih punya waktu satu jam untuk sendiri.

Kulahap nasi goreng yang kupesan dengan tekun. Menikmati tiap gigitan, dan menyimpannya dalam ingatan. Sudah berapa lama ya aku tak makan nasi? Hmm..hampir dua tahun.

Seorang gadis di meja sebelahku sedang duduk dengan gelisah. Matanya tak henti-hentinya menatap layar handphone. Wajahnya terlihat khawatir, dan agak sedih. Lagi-lagi sesuatu yang mengingatkanku pada Rio.


Aku berjalan mondar-mandir di kamar, dan sesekali melirik layar handphone. Rio masih belum menelepon. Ya Tuhan, ada apa dengannya? Jujur, aku sudah tak kuat lagi untuk menjalani ini semua. Siapa sih yang tahan ditinggal seminggu tanpa kabar sedikit pun?

Suara hujan di luar rumah menambah kekhawatiranku. Petir yang menyambar-nyambar seakan-akan adalah suara hatiku yang retak perlahan. Lagi-lagi kulihat layar hape, dan Rio masih belum juga menelepon.

Kutekan nomor Rio yang sudah ku hafal di luar kepala, dan menunggu nada sambung.

“Hei it’s Rio. Leave a message.” Mesin penjawablah yang menjawab teleponku. Aku menunggu nada “biip”, kemudian meninggalkan pesan suara.

“Rio, ini aku, Ify. kamu ke mana?”

Kemudian ku tutup teleponku. Di luar masih hujan. Bahkan semakin deras dari yang tadi. Seakan-akan merasakan kesedihanku saat ini. Dan, sesuatu yang hangat mengalir di pipiku.

Aku masih menangis ketika kurasakan hapeku bergetar di genggaman tanganku. Kulihat siapa yang meneleponku. Rio. Seketika itu aku langsung menghapus air mataku, dan segera menjawab teleponnya.

“Rio?” pekikku dengan suara parau.

“Iya, Fy. Maaf baru kabarin kamu sekarang. Seminggu ini aku sibuk.” Suaranya terdengar lemah. Mungkinkah dia kecapekan?

“Aku khawatir banget sama kamu, Yo. Aku ke rumah kamu tapi kamu nggak ada, aku telepon selalu nggak aktif. Aku khawatir.”

“Maaf, Fy. Besok bisa ketemu?”

Alisku berkerut heran. Ketemuan? Untuk apa?
“Mm..oke. di mana?”

“Di Cafe Mimosa aja ya. Jam 5 sore.”

“Iya deh aku pasti datang.”

“Udah dulu ya Fy. Aku lagi banyak kerjaan. Bye.”

Setelah itu telepon ditutup. Aku tersenyum lebar. Ah, inilah yang aku tunggu-tunggu. Akhirnya aku bisa mendengar suaranya.


I looked into your eyes, thought I knew you for a minute
now I’m not so sure.

“Hai. Udah lama?” teguran Rio mengagetkanku. Kuangkat kepalaku untuk melihatnya. Jantungku langsung berhenti berdetak. Tenggorokanku tercekat. Aku baru sadar betapa aku sangat merindukan dirinya.

“Enggak kok.” Jawabku sambil tersenyum.

“Udah pesen belum?” aku hanya menggeleng. Rio tersenyum, kemudian memanggil waitress yang kebetulan ada di dekat kami.

“Mbak, espresso satu, cokelat panas satu.”

Ah, ternyata Rio masih ingat cokelat panas kesukaanku. Dia menoleh dan tersenyum padaku. Senyumnya manis, tapi, ketika kulihat matanya, matanya yang indah tidak ikut tersenyum. Tak ada ekspresi apa pun di sana.

“Fy, aku kangen kamu.” Satu kalimat pendek yang mampu meluluhkanku. Dia menggenggam tanganku lembut dengan satu tangan, dan tangannya yang bebas membelai pipiku. Aku tenggelam dalam perlakuannya. Tapi mata itu masih dingin, berbalik dengan sentuhannya yang hangat.

“Kamu sibuk banget ya, Yo? Ke mana aja?” aku berusaha bertanya tanpa terlihat penasaran. Aku takut dia akan menganggapku cewek nggak pengertian.

Ekspresinya langsung berubah. Matanya jadi lebih dingin daripada sebelumnya.

“Adalah.” Jawabnya dingin. Aku tersentak. Ada apa dengan Rio yang selalu bersahabat?

Setelah itu, aku tak menyinggung lagi masalah ke mana dia seminggu ini. Yang penting sekarang dia di sini, bersamaku, dan mencintaiku. Itu sudah cukup bagiku. Sepanjang sore itu, kami terus berbagi cerita dan canda.


Arrgh! Kenapa aku masih mengingat semuanya? Kadang aku ingin amnesia sekali, saja. Agar aku bisa melupakan kenangan pahitku. Tapi, mana mungkin? Kecuali aku mengalami kecelakaan.

Seharusnya aku tak perlu pulang. Setiap sudut kota ini mengingatkanku pada Rio. Pada kenangan kami. Dan itu membuat lukaku terkuak kembali. Pedih. Sakit. Perih. Sesak.

“Ify!!” mama berlari menyongsongku di depan rumah. Kuletakkan semua koperku, dan kupeluk mamaku tercinta. Aku sangat merindukannya.

“Ify kangen mama.” Bisikku tepat di telinganya. Pelukan mama semakin erat.

“Mama juga.” Kata mama setelah melepaskan pelukannya. Kulihat setetes air bening keluar dari matanya.

“Kok malah nangis ma?”

“Mama kangen banget sama kamu, Ify.” aku tersenyum, dan menyuruh seorang pembantu ku untuk membawakan koper ke kamarku.

“Gimana di New York? Seru kan?” tanya mama setelah kami berdua duduk di ruang tengah.

“Seru sih. Tapi makanannya nggak ada yang kayak Indonesia.”

Mama terkekeh pelan. “Lidahmu itu Indonesia banget sih.”

Aku ikut terkekeh. Kupandang rumahku, tak ada yang berubah. Aku sangat merindukan suasana rumahku ini. Warnanya begitu menyejukkan dan menenangkan. Hmm, home sweet home.

“Eh, kemarin mama ketemu Rio loh. Sekarang dia kuliah di UI.” Kata mama.

Aku terdiam. Jantungku masih meloncat-loncat tiap kudengar namanya. Air mataku hampir menetes, kalau saja tidak kutahan. Aku tak ingin terlihat lemah di depan mama. Cukup satu kali mama melihatku menangis gara-gara Rio. Tak boleh ada yang kedua kali.


Kurebahkan badanku di tempat tidur. Ah, hari ini aku lelah sekali. Pelajaran hari ini benar-benar menguras tenaga dan pikiranku. Kulirik jam dinding yang tergantung di atas TV kamarku, jam setengah delapan malam.

Tiba-tiba hapeku bergetar. Satu kali, dua kali, tiga kali..

Berarti ada telepon. Kulihat layar hapeku sekilas. Rio is calling. Aku tersenyum dan segera menekan tombol ‘answer’ dengan semangat.

“Halo, Rio.” Sapaku. Senyum tak berhenti menghiasi wajahku.

“Ify, kita perlu bicara.” Nada seuaranya terdengar serius.

“Bicara apa, Yo? Ngomong aja.”

Kudengar Rio menghela napas dengan berat, kemudian menjawab. “Kita putus ya, Fy.”

Mataku melotot tak percaya. Napasku berpacu. “Kamu bilang apa Yo?”

“Kita putus.” Katanya sekali lagi. Seketika itu juga, perasaan tertolak melandaku. Hatiku remuk begitu saja.

“Yo, kamu bercanda kan?” tanyaku dengan tenaga yang masih tersisa.

“Enggak, Fy. Aku seratus persen serius. Thanks for all.” Kemudian dia menutup telepon begitu saja. Aku terpaku. Kubiarkan hapeku terjatuh.

Hatiku tercabik-cabik. Perih. Air mataku luruh. Aku tak berusaha untuk menghapusnya, dan hanya membiarkan mereka berkejaran di pipiku. Aku tak bisa merasakan apa pun saat itu. Aku mati rasa.

Isak tangisku kemudian pecah, menghasilkan raungan tangis yang memilukan. Mama segera masuk ke kamarku dan memelukku erat. Tangannya mengelus-elus kepalaku dengan sabar, mencoba menenangkanku. Tapi aku tak menghiraukannya. aku bahkan tak menghiraukan apa pun, tak memikirkan apa pun, dan tak merasakan apa pun, karena Rio telah mengambil hampir seluruh jiwaku bersamanya.

Itulah alasan mengapa aku memutuskan untuk melanjutkan kuliah ke New York. Aku ingin membuang kenanganku jauh-jauh. Tapi, semua usahaku sia-sia begitu aku menginjakkan kakiku di sini. Bagi orang lain, Indonesia identik dengan budayanya yang unik dan beraneka ragam. Tapi bagiku, Indonesia identik dengan Rio, dan identik dengan kenangan pahit.

--- TAMAT ----



Akhirnya selesai, meskipun gantung gini. Aku niatnya emang mau bikin cerita tak ber-ending. Hehe.

Aduh gimana? Jelek ya? Feelnya dapet nggak??

Maaf kalau jelek, maklum masih amatir. Makasih yang udah mau baca, jangan lupa komen.

Thank you so much!!

Rabu, 24 November 2010

Perpus Mengecewakan

Postingan kali ini, saya akan sedikit curhat. Sedikit lho. Nggak banyak .

Sekolahku, jelas punya perpustakaan. Perpustakaannya sih bagus ya, fasilitasnya lumayan lengkap. Absen pake alat pendeteksi barcode *nggak tau namanya*, ada katalog buat search buku, ada tiga komputer buat ngenet, buku-bukunya juga banyak, dan ada reading corner yang PW banget.

Tapi, sayang banget nih. Fasilitas yang memadai tidak diseimbangi dengan pelayanan yang memuaskan. Ada dua penjaga perpus, dan mereka cewek semua. Aku sering mikir. Kok bisa ya mereka kerja jadi penjaga perpustakaan?

Bayangkan, senyum saja mereka jarang. Padahal kan kita, sebagai pengunjung, pasti akan merasa nyaman ketika mendapatkan sambutan hangat. Iya kan?

Terus, pelayanannya sangat tidak praktis. Mau pinjem buku aja harus isi ini itu, dektein nomor induk, nunggu lama. It’s so NGESELIN.

Dan, yang terakhir ini nih yang aku paling nggak suka. Sekolahku kan pulangnya jam setengah dua untuk hari selasa-kamis. Tapi, perpustakaan tutupnya jam satu! Apakah itu pantas? Gimana coba, kalau ada anak yang ingin menggunakan perpustakaan di luar jam sekolah? Apalagi dengan waktu istirahat yang sangat singkat, hanya lima belas menit, waktu di luar jam pelajaran sangatlah efektif digunakan untuk mengunjungi perpustakaan. Tapi gimana kalau pas mereka ke perpus, eh malah udah tutup. Pasti pada kecewa kan?? Hiiiih..it’s another NGESELIN thing about my school library!

Jadi, aku berharap banget, kalau perpustakaan sekolah diperbaiki. Bukan bangunannya, bukan fasilitasnya. Tapi pelayanannya. Terima kasih.

Senin, 22 November 2010

Pacaran? Perlukah?

Baiklah, posting saya kali ini nggak bermaksud apa-apa loh ya. Saya nggak bermaksud menyindir siapa saja yang sudah punya pacar, dan saya perlu mengingatkan bahwa

SAYA TIDAK IRI MELIHAT TEMAN-TEMAN SAYA PACARAN!

Oke First, kita bahasa pengertian pacaran.

Pacaran itu apa sih? Apakah suatu hubungan spesial antara cowok dan cewek secara resmi? Ataukah ada yang lain? Sebenarnya saya juga kurang tahu akan definisi pacaran yang sesungguhnya.

Lihat sekitar kita. Lihat teman-teman kita. Berapa persen yang sudah pacaran? Wah, pasti lebih dari 50% dong ya.

Pacaran itu, menurut saya, HANYA STATUS belaka. Kita masih bisa kan, menjalani hubungan spesial dengan seorang cowok tanpa status apa pun? Meskipun beberapa orang pasti bakal bilang kalau kita menjalin hubungan tanpa status, dan itu tidak sehat. Tapi, jika dua orang saling mencintai, mereka sebenarnya sudah memiliki status. CINTA. Itulah status mereka. Bukan pacaran, atau tunangan, dan istilah lain. Jadi, cinta itu tidak butuh status. Cinta juga tidak butuh ungkapan dramatis nan tragis. Cinta tak perlu diungkapkan, karena mata kita, tingkah laku, dan perkataan, akan memancarkan cinta.

Sebenarnya, kita pacaran untuk apa sih? Untuk serius mencari belahan jiwa kita, atau hanya sekedar mengikuti trend? Atau hanya untuk mencari status? Saya telah melakukan riset, dan hasilnya:

1. 1. Agar kita mempunyai teman untuk berbagi

Well, kita masih punya keluarga. kita juga masih punya sahabat-sahabat yang menyayangi kita. So, akankah harus dideklarasikan dan diberi status? Sekali lagi, cinta tidak butuh status.

2. 2. Tempat bersandar

Mencari tempat bersandar mengapa harus dengan cara berpacaran? Tempat bersandar dapat kita temukan di mana-mana. Keluarga, bisa jadi tempat bersandar. Sahabat, apalagi.

Ternyata, fungsi pacaran tak jauh dari dua hal di atas. Jadi, kita bisa menemukan pengganti pacar kan? Kita masih punya keluarga dan sahabat. Kita masih dapat berdiri tegak walau tanpa pacar.

Cinta bisa kita temukan di mana-mana, bukan hanya ditemukan di pacar kita. Seperti di film-film yang saya tonton sebelumnya, bahwa LOVE IS EVERYWHERE