Kamis, 27 Januari 2011

Curhatan di Jam TIK

hey hey! sekarang aku lagi pengen banget rajin ngepost.
dan, kali ini, aku ngepostnya waktu pelajaran TIK! berhubung tugas udah selesai, yaudah deh ngenet aja. akhirnya ngepost deh yihaa!! \(^^)/

oke, karena judulnya 'curhat', pasti post-an ini full of curcol!

cerita dimulai ketika Pak Budi, guru musik di sekolahku, memerintahkan (?) murid-muridnya untuk membentuk kelompok. kelompok itu nantinya disuruh bikin band, atau grup musik, dan lain-lain yang akan ditampilkan untuk ujian praktik.
satu kelas dibagi menjadi tiga kelompok. berhubung satu kelas terdiri atas 24 siswa, satu kelompok jelas dong anggotanya ada 8. aku sekelompok sama Elsa, Karin, Nia, Ufik, Devy, Ardian, dan Seta. nah nah nah masalah datang! aku, Elsa, Karin, Nia, Ufik, dan Devy ngerasa kalau kita nggak bisa main alat musik. padahal rencananya kita mau bikin band. nah lo! mau ngeband tapi gabisa main alat musik ya sama aja boong!
akhirnya, Ardian, si MASTER MUSIK, ngajarin kita-kita hihi :) aku diajarin main keyboard, Ufik les gitar sama Seta, Devy les bass sama Seta juga, kalau Seta mah udah lancar banget main gitar! Ardian, yang jago main keyboard ternyata juga jago main drum! nyeeh makan apa ya tuh bocah? terus si Elsa, Karin, dan Nia jadi vokalis!
nah, terus kita bingung tuh milih lagunya. kita para cewek pengennya lagunya Chris Brown yang With You. tapi berhubung itu lagu RnB, jadi rada-rada susah gitu deh! terus ada satu lagu. kata Ardian sama Seta lagunya gampang. lagunya Avenged Sevenfold yang So Far Away. awalnya, waktu ndengerin, aneh gitu lagunya. tapi lama-lama asik juga kok! apalagi pas bagian solo gitar itu wow keren banget! :D
yes! let's play! awalnya susah banget soalnya aku udah bertahun-tahun nggak pegang keyboard. dulu sempet ikut les keyboard waktu SD, tapi aku nggak pernah berangkat. kabur terus hehe :)
akhirnya, setelah main berkali-kali, aku udah lumayan lancar main keyboard. Devy bass nya juga udah mantab! Ufik juga lancar. kalau Seta sama Ardian sih jangan ditanya deh! mereka udah lancaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaarr bangeeeeeeeeeet. ohiya pas solo gitar kan yang main Seta, aduuuh enak banget deh didenger. syahdu gitu haha. Elsa, Karin, Nia juga nyanyinya udah nggak fals, walaupun kadang suka lupa lirik dan lupa masuknya kapan. tapi kan practice makes perfect ye nggak?
nah, nanti pulang sekolah ada latihan di sekolah. panggung nya dibuka dari jam 2. dan jadwal latihan hari ini adalah kelas 9E, 9F, dan 9G. dan itu artinya, kita hari ini tampil! omg aku belum begitu hafal chord nya! aaah tapi kan keyboard ga begitu kelihatan hehe.

oke, that's all. wish me luck for the show ya!! :D

Rabu, 26 Januari 2011

Mix and Match






beberapa karyaku di looklet.com
jangan ketawa maklum lah masih pemula, masih asal masangin baju.
aku sering banget memadu-padankan warna hitam dan merah. they're just perfect together! :)))

Selasa, 18 Januari 2011

Bacalah Ini..

Untuk seseorang di sana yang pernah kucintai, bacalah ini....

Seperti yang digariskan Tuhan, aku dan kamu, pernah sama-sama menjadi seorang anak berusia 12 tahun. Itulah usia di mana kita terjebak dalam suatu peristiwa, yang juga akan kita alami di masa mendatang, walaupun kita tak pernah tahu kapan peristiwa itu terjadi lagi. Jatuh cinta.

Aku dan kamu pernah jatuh cinta. Saling mencintai. Kisahku denganmu tidak serumit sinetron, tidak pula semanis novel. Cerita kita mengalir apa adanya, menurut takdir. Dan, di sinilah cerita kita dimulai.

Aku telah mengenalmu sejak umur 6 tahun. Kala itu, aku bahkan tidak bisa mengahafal wajahmu, yang menurutku hampir sama dengan wajah teman-teman yang lain.

Tapi aku tidak tahu sejak kapan aku mendapati diriku menatapmu dengan cara yang berbeda. Aku tidak tahu sejak kapan aku sering mencuri-curi pandang ke arah dirimu, atau jika kita berdekatan, menulusuri garis-garis wajahmu. Aku bahkan masih ingat gigi gingsulmu yang menghiasi senyum malaikatmu. Aku ingat bulu matamu yang terlalu lentik untuk ukuran seorang laki-laki, bahkan bulu matamu itu sama persis dengan bulu mataku.

Aku tidak tahu sejak kapan aku mulai rajin mendengarkan lagu-lagu lembut Kerispatih, band yang waktu itu digandrungi olehmu. Aku juga tidak ingat, sejak kapan aku selalu berharap, ketika pengacakan tempat duduk, yang waktu itu memang perempuan harus duduk dengan laki-laki, aku selalu mengharapkan aku bisa duduk denganmu. Melewati 6 jam penuh bersamamu.

Aku tidak tahu, mengapa hal kecil tentang dirimu selalu menarik untukku. Warna kesukaanmu, lagu kesukaanmu, makanan favoritmu. Tak henti-hentinya aku mencari informasi tentang dirimu, baik secara langsung menanyaimu, maupun bertanya pada teman-temanmu. Aku ingat, kamu suka warna biru, kamu sangat menyukai lagu The Way You Look at Me dari Christian Bautista, yang pernah kamu nyanyikan untukku. Aku juga ingat betul, kamu menuliskan di bukuku, kamu sangat suka makan sarden. Fakta-fakta kecil yang mungkin bagi beberapa orang tidak penting, namun bagiku sangat berarti.

Aku sering mendapati diriku mencuri dengar ketika kamu dan teman-temanmu membicarakan hal ‘cowok’, sekedar untuk mengetahui seleramu. Aku pernah bilang bahwa fakta kecil tentang dirimu sangat berarti untukku, kan?

Waktu itu, aku juga merasakan perlakuanmu berbeda terhadapku. Kamu menjadi lebih rajin menghampiri tempat dudukku, lebih intens menggodaku, dan perlakuan lebih lainnya. Kamu tahu? Semua perlakuanmu membawa secercah harapan bagiku.

Seluruh perlakuan itu, disimpulkan olehku, juga kamu. Aku dan kamu jatuh cinta. Saling mencintai.

Memang, tak pernah ada kata cinta yang terucap diantara aku dan kamu. Bahkan, ketika itu, aku dan kamu, yang masih kecil dan belum berpengalaman, menjadi malu untuk sekedar mengobrol. Tetapi, kalimat ‘aku memilihmu’ yang pernah aku dan kamu ucapkan, menjelaskan segalanya. Menjelaskan bahwa aku dan kamu saling mencintai. Inilah waktu yang tepat bagiku untuk mengganti ‘aku dan kamu’ menjadi ‘kita’.

Hari-hari berlangsung seperti biasa kecuali fakta bahwa kita ada ‘sesuatu’. Kita memiliki perasaan yang sama.

Tidak ada sesuatu yang sempurna, bahkan sebuha hubungan. Setelah enam bulan penuh melewati segalanya bersama, dengan sesuatu yang spesial menyusup di antara kita, kita memilih untuk menghentikan semuanya. Kita sangat sadar, bahwa kita belum siap untuk semua ini.

Tidak dapat kupungkiri, ini semua berat untukku. Aku terlanjur mencintaimu. Ah, istilah pasaran memang, tapi itulah kebenarannya.

Setelah itu, entah kamu tahu atau tidak, aku mengalami masa-masa sulit. Mataku memanas ketika melihatmu berkelakar di dalam kelas bersama teman-temanmu, tenggorokanku tercekat ketika melihatmu, melakukan sesuatu bersama orang lain, yang seharusnya dilakukan olehku dan kamu.

Seperti anak usia 12 tahun pada umumnya, kita masih sangat labil. Emosi kita tak terkendali.

Kita memilih jalan pintas untuk saling melupakan. Membenci satu sama lain. Ungkapan benci beda tipis dengan cinta memang sangat tepat. Dua orang yang saling membenci bisa dengan mudah saling mencintai. Dan dua orang yang saling mencintai, bisa dengan mudah saling membenci.

Hingga akhirnya, tiba saatnya kita harus mengambil jalan masing-masing, menuju tujuan masing-masing, yang tentu saja berbeda. Sejak saat itu, aku tak pernah melihatmu lagi. Kita masih berada di planet yang sama, tapi mengapa rasanya kamu sangat jauh dariku? Apakah kamu bermigrasi ke galaksi lain tanpa sepengetahuanku? Begitu pikirku waktu itu.

Waktu berjalan dengan cepat, walaupun sisa-sisa bayangan dirimu masih saja menghantuiku ke mana pun aku pergi. Kita belajar menjadi dewasa, belajar menahan luapan emosi, untuk saling bertemu kelak di kemudian hari.

Kita memang tidak pernah bertemu di dunia nyata. Tapi kita bertemu di dunia pertelekomunikasian yang semakin hari semakin canggih. Membuat dunia seakan-akan ada dalam genggaman.

Kita benar-benar telah dewasa, dan bisa saling melupakan. Bukan melupakan seutuhnya, tapi hanya melupakan rasa yang dulu pernah ada. Membuang jauh perasaan yang dulu pernah singgah.

Aku dan kamu, telah menemui jalan masing-masing. Telah berada di posisi yang tepat dan terbaik. Posisi di mana aku dan kamu tak bisa bertemu, untuk saat ini.

Aku berhasil membuang jauh perasaanku ini. Aku juga berhasil mengubah kata ‘kita’ kembali menjadi ‘aku dan kamu’. Karena saat ini, aku dan kamu, tidak satu. Aku dan kamu adalah dua individu berbeda yang mempunyai tujuan berbeda.

Tapi, aku ingin kamu tahu, bahwa kenangan-kenangan tentang kamu, akan selalu ada di sini. Di hati dan pikiranku. Kamu telah mempunyai laci tersendiri dalam hatiku, yang sekarang telah ku kunci. Dan kini, saatnya bagiku, juga kamu, untuk membuka laci lain di sisi hati. Membukanya lebar-lebar untuk siapa saja yang ingin singgah dan menghiasi.