Rabu, 30 Maret 2011

Rob's Dream Girl

Robert Pattinson dream girl: "She has her own dreams & lives life to the fullest."

so don't stop dreaming and living your life!

Edward : So that's what you dream about. Becoming a monster
Bella : I dream about being with you forever
I've watched Twilight for like 256853789577 times. never get bored :D
"They say that life is a two-way street. When you're not sure you gotta trust your feet to know the right way." - Camp Rock 2


Selasa, 29 Maret 2011

Fight for Love - Part 2

Part 2 : Ini Bukan Cinta

Ternyata Shilla tidak main-main dengan ucapannya kemarin. Ketika bel istirahat berdering nyaring, Shilla langsung menarik Ify untuk menjelajahi sekolahnya. Menjelaskan setiap bagian dengan rinci.

Tujuan pertama adalah kelas 11. Shilla berpendapat bahwa Ify harus tahu dulu siapa saja teman-teman seangkatannya dan gosip yang sedang berkembang di antara mereka. Baru setelah itu, mereka akan menjelajah kelas 12 dan mungkin kelas 10 juga.

"Ini 11 IPA 2, Fy. Di sini tuh kelasnya para ilmuwan. Sebagian besar anak Olimpiade ada di sini. Lo inget si Lintar yang dua hari lalu berangkat ke Makassar buat ikut Olimpiade Fisika?"

Ify mengangguk. Ketika upacara bendera kemarin senin, dia sempat melihat acara pamitan Lintar.

Shilla menarik Ify lagi. Setiap berhenti di pintu kelas, Shilla langsung menjelaskan secara rinci. Ify sih hanya mengangguk saja. Sebenarnya dia agak tidak tertarik.

Setelah puas menjelajah kelas 11, kini saatnya mereka menjelajahi kelas 12 yang terletak di lantai 3.

"Nah, ini nih, kelasnya Kak Gabriel, cowok yang kemarin nabarak elo. 12 IPS 1. Kelasnya anak-anak populer. Ada Kak Gabriel, Kak Alvin yang mantan ketua OSIS, Kak Angel yang model, ah pokoknya anak-anak di sini populer semua deh!"

Ify tidak begitu menyimak penjelasan Shilla. Dia sibuk melongok ke dalam kelas, mencari-cari seseorang. Ketika orang yang dicarinya ternyata sedang di dalam kelas --bercanda dengan beberapa temannya-- wajahnya langsung memerah. Merasa malu kepada dirinya sendiri.

Shilla mengikuti pandangan Ify yang --sudah dia duga-- mengarah pada Gabriel. Shilla tersenyum menggoda. "Cieee diliatin terus!" goda Shilla.

"Ih apaan sih lo, Shil." tukas Ify. Semburat merah menjalar di pipinya. Membuat Shilla tertawa.

"Jangan diliatin terus, dong! Samperin sana!" godanya lagi.

"Samperin nenek lo salto? Gue sama dia kan nggak deket banget! Baru juga kenalan kemarin." sangkalnya.

Melihat temannya yang makin malu dan salah tingkah, Shilla akhirnya merasa kasihan juga. "Ya udah deh. Yuk balik ke kelas!"

Baru beranjak tiga langkah, seseorang di belakang mereka memanggil-manggil nama Ify.

"Ify!"

Kontan mereka berdua langsung berbalik. Gabriel sedang melambaikan tangannya dan tersenyum lebar. Melihat senyum itu, wajah Ify kembali memerah.

Ketika dua adik kelasnya tidak mengahampirinya dan memilih untuk diam di tempat, Gabriel langsung berjalan cepat ke arah mereka.

"Hei. Tumben ke kelas gue?" tanya Gabriel ramah.

Ify kelihatan salah tingkah. Shilla langsung menjawab pertanyaan Gabriell itu. "Lagi jalan-jalan aja, Kak. Bosen di kelas terus."

Gabriel ganti memandang gadis di sebelah Ify. Dia tahu siapa gadis ini. Teman-temannya sering membicarakannya. Dia Shilla, kembang SMA Persada.

"Nggak ke kantin? Gue mau ke kantin nih. Bareng aja." tawarnya. Ify langsung menggeleng.

"Nggak, Kak. Kita mau balik ke kelas. Ada PR yang belum selesai dikerjain." elak Ify. Dia sudah tidak tahan lagi berdiri di depan Gabriel.

"Oh, ya udah. Gue ke kantin ya! Bye!"

"Bye!" jawab Shilla dan Ify bersamaan. Mereka berpandangan sebentar, kamudian tiba-tiba keduanya tertawa. Entah menertawakan apa.

*-*-*-*

Shilla dan Ify masih tertawa ketika mereka berjalan memasuki kelas. Menertawakan betapa bodoh dan kikuknya Ify di depan Gabriel tadi.

"Hahaha..eh, Fy, cerita lo belum lengkap nih. Cepet ceritain lagi!" tuntut Shilla. Tadi pagi Ify tidak sempat menceritakan semuanya karena dia agak terlembat datang.

Kemudian, kejadian kemarin, pertemuannya dengan Gabriel di koridor dan di ruang praktik dokter gigi langsung mengalir dari bibir Ify. Matanya sesekali menerawang, mengingat-ingat apa yang dikatakan Gabriel waktu itu. Shilla mendengarkan dengan penuh perhatian.

Di akhir cerita, Shilla bersiul nyaring. "Kayaknya Kak Gabriel suka deh sama elo."

Mata Ify melebar. Membelalak tak percaya. "Nggak usah ngaco deh! Ketemu juga baru kemarin!"

Shilla tetap tidak menyerah. "Siapa tau dia suka sama lo sejak dulu, Fy. Tapi dia baru berani kenalan dan ngobrol sama elo kemarin!"

Sebuah jitakan pelan mendarat di kepala Shilla. "Kebanyakan baca novel kacangan sih, lo!" ledeknya. Shilla mengelus-elus puncak kepalanya.

"Yee kayak elo nggak aja!" cibirnya. Ify hanya meringis tak berdosa.

"Eh serius deh, Fy! Ngapain coba dia nyamperin lo waktu itu kalau nggak suka sama lo?" Shilla mulai lagi. Ify memutar kedua bola matanya.

"Please deh, Shil. Waktu itu cuma ada gue dan dia di ruang tunggu. Mungkin dia bosen setengah mati nungguin nyokapnya, terus nyamperin gue. Karena memang nggak ada pilihan lain!"

"Terserah deh! Tapi gue jamin, suatu saat, Kak Gabriel pasti suka sama lo!" kata Shilla yakin. Ify mencibir, tapi dalam hati dia bertanya-tanya juga. Apa iya, kejadian itu akan terjadi?

*-*-*-*

Gabriel tersenyum memandang buku di depannya. Bukan karena buku itu lucu, tapi karena dia sedang melamun. Memutar lagi kejadian kemarin dan barusan. Buku itu hanyalah tameng. Dia tidak membacanya sama sekali.

Ini bukan cinta, apa lagi cinta pandangan pertama. Ini hanya kekaguman. Kekaguman terhadap seorang cewek yang baru saja dikenalnya. Hanya itu. Tidak lebih.

Gabriel tidak tahu, apa yang membuatnya kagum pada Ify. Dia hanya suka memandang wajahnya. Suka melihat kedua pipi itu yang sering kali memerah tanpa sebab. Suka melihat dagu tirusnya yang sempurna. Suka memandang rambut panjang nan indah yang membingkai wajahnya.

Sebatas itu saja perasaanya. Suka. Suka bukan berarti sayang atau cinta. Sekali lagi, ini bukan cinta. Hanya kekaguman biasa.

*-*-*-*

Pelajaran Sejarah. Di mana-mana, pelajaran ini pasti cenderung membosankan. Apa lagi ditambah dengan guru yang hanya ngomong di depan kelas seenak jidat. Tidak peduli kalau muridnya sama sekali tidak mengerti.

Sedari tadi Ify mencoret-coret kertasnya. Tangan kirinya menyangga dagu. Tidak ada satupun penjelasan Bu Weni yang nyantol di kepalanya. Beberapa teman sekelasnya merebahkan kepala di atas meja, sedangkan sisanya seperti dirinya. Duduk bertopang dagu.

Sejarah di jam terakhir memang tidak efektif. Pasti tidak ada satu anak pun yang mendengarkan, apalagi memerhatikan. Bu Weni memandang murid-muridnya yang sudah tidak bersemangat. Dia menghela nafas perlahan, kemudian duduk di meja guru.

"Ya sudah. Kalian boleh tidur. Asal nilai ulangannya bagus." kata beliau perhatian. Tidak diragukan lagi, semua siswa di 11 IPA 3 langsung mendesah lega, beberapa langsung merebahkan kepala, sedangkan beberapa ada juga yang langsung terlelap.

"Alyssa!" panggil Bu Weni. Ify mengangkat kepalanya dengan malas. "Ya, Bu?" jawabnya ogah-ogahan.

"Kemari sebentar!" suruhnya.

"Ada apa, Bu?"

"Antarkan buku ini ke Pak Heri. Beliau sedang mengajar di.." Bu Weni tampak melihat cacatannya sekilas. "Di 12 IPS 1."

Ify yang semula berdiri lesu, langsung menegakkan badannya. "12 IPS 1, Bu?" ulangnya.

"Iya. Mengapa? Kamu belum tahu tempatnya?" tanya Bu Weni penasaran.

"Tau kok, Bu."

"Ya sudah, sana! Tunggu apa lagi!"

Ify langsung ngacir ke luar kelas. Shilla memandang kepergian sahabatnya itu dengan geli.

*-*-*-*

Lagi-lagi kelas ini. Ify berhenti sebentar di depan pintu kelas yang tertutup. Mengumpulkan keberanian. Kelas ini benar-benar membuatnya gugup.

Dengan keberanian yang sudah terkumpul, Ify mengetuk pintu kelas perlahan. Kemudian dibukanya sedikit pintu itu.

Pak Heri yang sedang mengajar di depan kelas kontan menoleh. Siswa kelas itu juga langsung mencurahkan perhatian pada Ify. Ify jadi semakin kikuk.

"Ada apa? Masuk saja, sini!" suruh Pak Heri. Ify mati kutu dibuatnya. Takut-takut, Ify masuk kelas dan mendekati Pak Heri.

"Saya disuruh Bu Weni untuk memberikan ini pada Bapak." Ify menyodorkan buku yang Bu Weni titipkan padanya.

"Oh, ini." Pak Heri mengambil buku itu dari tangan Ify. "Terima kasih, ya."

Ify mengangguk pelan. Dia baru saja akan beranjak pergi ketika salah satu siswa menyeletuk.

"Masa dibiarin pergi gitu aja, Pak? Nggak disuruh kenalan nih? Kan kita pengen kenal sama adik kelas kita, Pak!" celetuk salah satu cowok di belakang. Muka Ify langsung merah padam.

"Iya, Pak. Kita pengen tau namanya nih!" sahut siswa lainnya.

Muka Ify makin memerah. Sialan! Kayaknya ini satu kelas sekongkol mau ngerjain gue! Rutuk Ify dalam hati.

Pak Heri kembali memandang Ify. "Tuh, kakak kelas kamu ingin kenalan. Ayo perkenalkan diri kamu!"

Ify terpaku di tempatnya. Dia menyapukan pandang ke seluruh penjuru kelas. Semua menatapnya. Menunggunya mengatakan sesuatu. Tatapan Ify berhenti ketika bertemu dengan mata Gabriel yang sedang menatapnya iba. Tidak seperti teman-temannya yang lain, yang menatap Ify jail.

"Ayo tunggu apa lagi? Pita suara lo kejepit ya?" ledek salah seorang siswa. Ify memejamkan matanya. Dihirupnya udara banyak-banyak. Kemudian, dengan kikuk, dia memperkenalkan diri di hadapan kakak kelasnya.

"Nama saya Alyssa Saufika. Biasa dipanggil Ify. Kelas 11 IPA 3. Terima kasih." katanya. Cowok-cowok di belakang, yang sejak tadi menggodanya, bersiul serentak.

"Namanya keren booo!"

"Cantik pula!"

Tak ayal muka Ify benar-benar memerah sekarang. Merah yang benar-benar merah! Gabriel menatap Ify iba. Kemudian dipandanginya teman sekelasnya satu per satu. "Udah ah lo semua! Kasihan tuh!" teriak Gabriel tiba-tiba. Serentak semua memandang heran ke arah Gabriel. Mereka heran melihat Gabriel yang seperti ini. Padahal biasanya Gabriel adalah salah satu yang paling semangat kalau menggoda adik kelas.

"Sudah, sudah! Silakan, Alyssa! Kamu bisa kembali ke kelas." Pak Heri mengambil alih. Ify mengangguk singkat. Dia segera berlari keluar setelah sebelumnya memandang penuh terima kasih pada Gabriel yang juga sedang memandangnya. Gabriel tersenyum sambil mengangguk samar. Dia menangkap ucapan terima kasih itu.

*-*-*-*

Ify berdiri di samping pos satpam. Shilla sudah pulang sejak tadi, jadi terpaksa dia berdiri sendirian. Sekolah sudah sepi. Tinggal beberapa gelintir siswa saja yang masih betah tinggal.

Ify berkali-kali menengok ke jalanan, siapa tahu tiba-tiba mobilnya muncul di persimpangan depan. Sudah jam setengah 3, tapi mobilnya belum juga nongol. Tidak biasanya Pak Pujo seperti ini.

Ify merasakan seseorang berdiri tepat di sebelahnya. Dari ekor matanya, dia bisa melihat sepatu yang ia kenakan.

"Tumben belum dijemput." orang itu akhirnya buka suara setelah semenit diam. Ify terlonjak kaget. Sama sekali tidak menyangka kalau orang di sebelahnya ini Gabriel. Perasaan gue sering banget ketemu ini orang, deh, batin Ify.

"Nggak tau nih, Kak. Padahal biasanya nggak telat."

"Mau gue anter pulang?" tawarnya. Tangannya menjinjing sebuah helm hitam. Ify langsung menggeleng. Bisa-bisa dia dikemplang Papanya kalau ketahuan pulang bareng cowok. Pakai motor, pula!

"Atau mau dianter temen-temen gue aja?" Gabriel menunjuk teman-temannya yang sedang berkumpul dengan dagunya. Ify langsung bergidik. Tidak mau kejadian memalukan tadi terulang.

"Ngga, deh, makasih." katanya sinis. Gabriel tertawa pelan.

"Maafin temen-temen gue deh, tadi. Biasa lah cowok-cowok." kata Gabriel tulus.

"Makasih juga buat Kak Gabriel tadi uda mau bantuin."

Alis Gabriel terangkat. Satu ide untuk menggoda Ify menggelayuti kepalanya. "Siapa bilang gue bantuin elo?" tanyanya.

Ify menatap Gabriel heran. "Loh tadi kan..." dia tidak berhasil melanjutkan kata-katanya karena Gabriel langsung memotong begitu saja.

"Gue nggak bantuin lo, kok. Cuma sayang aja pelajaran sejarah kepotong gara-gara elo." kata Gabriel. Bibirnya menahan senyum.

Lagi-lagi muka Ify memerah. "Kok..."

Gabriel sudah tidak bisa lagi membendung tawanya. "Hahahaha gue bercanda! Gue emang tadi nolongin elo! Kasihan aja sama lo, mukanya udah merah padam!"

Mendengar tawa Gabriel yang --sumpah!-- puas banget, Ify langsung cemberut. Pipinya digelembungkan, tangannya dia lipat di depan dada.

Melihat gadis di sampingnya cemberut, Gabriel langsung berusaha menghentikan tawanya. "Udah, nggak usah ngambek gitu. Manyun deh tuh bibir." katanya dengan sisa-sisa tawa.

"Oh iya. Buat tadi, sama-sama deh." lanjutnya. Ify tersenyum tipis. Senyum yang dipaksakan. Masih gondok dia. Tiba-tiba sebuah Innova berhenti tepat di hadapannya.

"Gue duluan, Kak." pamitnya.

"Hati-hati." balas Gabriel. Dia melambaikan tangannya.

Pak Pujo menatap laki-laki itu heran. Sudah beberapa hari ini, ketika dia menjemput majikan cantiknya, laki-laki itu selalu ada di sampingnya. Tapi dia memilih untuk tidak mengatakan apa-apa. Dia sadar, ini bukan urusannya.

*-*-*-*

Begitu Ify menutup pintu mobil, dia langsung tersentak. Menyadari ada orang di sampingnya. Kepalanya menoleh cepat. Seketika itu juga, ekspresinya berubah. Wajahnya begitu berbinar-binar.

"Kakak!!!" pekik Ify gembira. Dia langsung memeluk sosok di sampingnya. Sosok yang walaupun kadang nyebelin, tapi selalu dia rindukan.

Si Kakak hanya tersenyum melihat kelakuan adik satu-satunya itu. Diangkatnya kedua tangan untuk membalas pelukannya.

"Kok Kakak bisa ada di sini, sih? Emang nggak kuliah?" tanyanya heran setelah melepaskan pelukannya.

"Libur semester. Rada telat sih soalnya kemarin-kemarin ngejar ketinggalan gara-gara Merapi meletus." jawabnya. Ify tersenyum.

"Akhirnya gue sekarang dibolehin keluar rumah juga!" soraknya.

"Loh? Apa hubungannya sama gue?" tanya Kakak heran.

"Kata Mama, Mama cuma mau ngizinin gue keluar kalau perginya sama Kak Cakka."

Satu toyoran pelan mendarat di kepala Ify. "Emangnya gue mau jalan sama lo? Dih PD amat hidup lo!" ledek Cakka. Dia hanya ingin menggoda adiknya. Kalau lagi marah atau ngambek, Ify tampak lebih menggemaskan.

"Ya jelas mau lah! Itung-itung lo dapet bonus jalan sama cewek cantik kayak gue!" jawabnya narsis. Dia sudah tau akal bulus kakaknya ini. Kak Cakka emang suka banget kalau ngeliat Ify ngambek. Terhibur banget katanya. Jadi dia memilih untuk tidak mengacuhkan godaan Cakka barusan.

"Dih narsis lo! Eh cowok tadi siapa sih?" tanya Cakka. Teringat cowok yang tadi berdiri bersisihan dengan Ify.

"Cowok?" alis Ify berkerut.

"Cowok yang tadi sama elo."

Muka Ify kembali memerah. "Oh, itu kakak kelas gue."

Melihat semburat merah di pipi Ify, Cakka tidak tahan untuk tidak tertawa. "Cieee adek gue jatuh cinta."

"Gue nggak jatuh cinta!"

"Terus kenapa tuh mukanya merah?" Cakka menunjuk kedua pipi Ify yang memerah. Ify langsung menepis tangan kakaknya.

"Pokoknya gue nggak jatuh cinta!"

"Tapi suka kan?"

"Cuma suka mandangin mukanya aja kok. Habis ganteng banget!"

Cakka mencibir. "Gantengan juga gue!"

"Dih amit-amit!"


bersambung..

Fight for Love - Part 1

Part 1 : Pertemuan Pertama

Pagi itu, tampak sebuah keluarga sedang berkumpul di ruang makan. Sang Mama sedang sibuk mengoleskan selai ke rotinya, sang Papa tenggelam dalam koran yang di bacanya, dan sang anak, hanya menatap roti di depannya tanpa ekspresi.

"Kok nggak dimakan, Fy? Nggak suka ya? Atau kamu lagi sakit?" tanya Mama melihat anak gadisnya diam saja dari tadi. Ify menggeleng perlahan. Ditatapnya Mama dan Papanya bergantian. Alih-alih menjawab, Ify malah bertanya balik.

"Pa, Ma, Ify mau ngomong boleh?" tanya Ify takut-takut. Semalaman dia mengumpulkan keberanian untuk mengatakan hal ini. Tapi, begitu melihat Mama menatapnya serius, dan Papa yang meletakkan kembali korannya --menaruh perhatian padanya-- tiba-tiba keberanian itu lenyap entah ke mana.

"Mau ngomong apa, Sayang?"

Ify menggigit bibir bawahnya. Sekali lagi mengumpulkan puing-puing keberanian yang sempat hilang.

"Mmm..Ify boleh pergi sama temen-temen Ify? Kami mau nonton." kata Ify akhirnya. Bukannya lega, jantungnya malah semakin berdebar menunggu jawaban orang tuanya.

"Nggak." jawab Mama tegas. Ify mendengus.

"Teman-teman Ify cewek semua, Ma. Ify juga janji nggak bakal pulang larut. Boleh ya, Pa? Ma?" mohon Ify. Tapi sepertinya hal itu sia-sia. Tatapan mata Mama tegas, tak terbantah.

"Nggak usah. Mendingan kamu belajar di rumah."

"Lagian kamu mau nonton apa sih, Fy? Besok Papa belikan deh DVD nya." hibur Papa sedikit.

"Itu kan film baru, Pa. Mana ada DVD nya hari gini?" tukas Ify. Mencoba agar Papanya luluh dan meloloskan permintaan anak gadisnya.

"Ya sudah. Kalau memang mau nonton, kamu nonton sama Kakak aja." saran Mama santai. Tak peduli kalau Ify sedang melotot menatapnya.

"Kakak kan lagi kuliah di Jogja, Ma! Dan nggak mungkin pulang dalam waktu dekat ini!" protes Ify.

"Kalau nggak mau ya udah. Pokoknya Mama hanya mengizinkan kamu pergi sama Kakak."

Dengan bibir manyun, Ify meninggalkan ruang makan dan segera berjalan menuju halaman rumah. Tanpa pamit. Di ruang makan yang baru saja ditinggalkan, Papa dan Mama Ify berpandangan sejenak dan mengangkat bahunya.

Pak Pujo heran melihat nona mudanya berjalan sambil cemberut. Tapi dia memilih bungkam. Hanya membuka pintu belakang dan membiarkan majikannya masuk. Sepanjang perjalanan pun Ify masih cemberut. Sesekali Pak Pujo menatapnya khawatir dari kaca spion.

*-*-*-*

Ify berjalan lesu menuju kelasnya. Dalam hati dia dongkol bukan main. Selalu saja seperti ini. Setiap kali dia meminta izin untuk pergi dengan teman-temannya, orang tuanya pasti melarang. Dia sampai heran dibuatnya. Dia ini kan sudah dewasa! Sudah kelas 2 SMA! Kenapa sih, mau pergi aja nggak boleh?! Gerutu Ify dalam hati. Dia tidak enak membatalkan rencanya dengan temannya lagi. Sudah berkali-kali dia membatalkan rencana untuk jalan-jalan.

Shilla menyambutnya dengan senyum lebar di ambang pintu kelas. "Gimana, Fy? Lo diizinin, kan?" tanyanya semangat. Penuh harap.

Ify tidak menjawab. Dia berjalan lesu ke bangkunya, dan menjatuhkan diri di sana. Tanpa mendengar jawaban Ify pun, Shilla sudah tau jawabannya. Jawaban itu begitu jelas tergambar di ekspresi Ify.

"Lo nggak boleh, ya?" tanya Shilla. Ify mengangguk pelan.

"Dongkol banget gue, Shil! Masa pergi aja nggak boleh, sih!" gerutu Ify. Shilla hanya tersenyum prihatin melihat sahabatnya. Ingin menolong, tapi dia tidak punya kuasa apapun atas keputusan orang tua Ify.

"Mungkin karena lo belum 17 tahun, Fy. Siapa tahu setelah lo 17 tahun, lo dibolehin." hiburnya.

"Tapi gue nggak enak sama lo, Shil. Udah berapa kali coba gue batalin janji?"

Shilla meringis. Dia bahkan tidak bisa menghitung berapa kali Ify membatalkan janji. Terlalu sering.

"Ya udah lah, nggak apa-apa. Lain kali aja, Fy. Gue juga bisa kok pergi sama sepupu gue." Shilla menepuk bahu sahabatnya. Seolah menekankan bahwa dia tidak keberatan. Dia mengerti.

*-*-*-*

Sambil sesekali melirik ke jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kirinya, Ify berlari kecil-kecil. Hari sudah beranjak sore. Dia tidak ingin membuat supirnya terlalu lama menunggu.

Ify terus berlari hingga di persimpangan koridor, dia merasakan ada tubuh yang menubruknya. Dia tidak ingat persis bagaimana kejadiannya, tiba-tiba saja dia sudah terduduk di lantai.

"Aduh!" erangnya pelan. Sosok di depannya refleks langsung mengulurkan tangan untuk menariknya berdiri.

"Maaf, maaf! Gue nggak sengaja!" kata sosok itu. Ify menepuk-nepuk roknya yang terkena debu.

"Nggak apa-apa, gue nggak lecet kok." jawabnya. Dia mengangkat wajah dan menemukan seorang cowok berdiri tegak di hadapannya. Dia sama sekali tidak mengenal cowok ini.

"Beneran nggak apa-apa?" tanya cowok itu sekali lagi. Ify mengangguk.

"Kenalin, gue Gabriel. Kelas 12." katanya sambil mengulurkan tangan. Senyum manis tersungging di bibirnya.

Ify menatap tangan yang terulur itu sejenak sebelum akhirnya membalas ulurannya. "Gue Ify, kelas 11." jawabnya santun, mengetahui fakta bahwa cowok ini adalah kakak kelasnya.

"Beneran lo nggak apa-apa? Duh gue merasa bersalah banget. Gue anterin pulang ya?" pinta Gabriel, masih merasa bersalah. Ify terkesiap. Tidak menyangka dengan ajakan Gabriel yang begitu tiba-tiba. Cepat-cepat dia menggeleng.

"Nggak usah, Kak. Gue udah dijemput. Tuh!" Ify menunjuk mobilnya yang sudah terparkir di halaman sekolah dengan dagunya.

"Ya udah, deh. Sekali lagi maaf, ya. Hati-hati."

Ify tersenyum sambil mengangguk. Setelah berpamitan, Ify langsung berlari menuju mobilnya tanpa menoleh. Dia bahkan tidak melihat Gabriel melambaikan tangan padanya sambil tersenyum.

Sepeninggal Ify, Gabriel masih saja berdiri di tempatnya. Tatapannya sedikit menerawang.

"Ify. Hmm.." gumamnya. Entah mengapa, nama itu terus terngiang di benaknya.

*-*-*-*

"Eh, anak mama udah pulang. Ganti baju dulu, gih! Terus kita makan siang sama-sama." sambut Mama begitu melihat Ify masuk rumah.

"Papa mana, Ma?" tanya Ify basa-basi.

"Ada urusan dengan klien. Ayo cepat ganti baju! Keburu dingin nih makanannya." suruh Mama. Ify berlari menaiki tangga dan langsung masuk ke kamarnya. Setelah mengganti seragamnya, dia segera menuju meja makan untuk makan siang bersama mamanya.

*-*-*-*

"Shil, I met a guy!" pekik Ify di telepon sore itu. Dia menggunakan telepon wireless nya secara diam-diam di kamarnya. Kalau mamanya sampai tahu, dia pasti diomeli habis-habisan. Soalnya, sore-sore seperti ini adalah jadwal Ify untuk mengerjakan tugas atau PR dari sekolah.

"Hah? Siapa? Tumben lo cuma ketemu sama cowok aja hebohnya kayak gini! Ganteng nggak dia?" tanya Shilla bertubi-tubi.

"Justru karena dia ganteng, Shill, makanya gue cerita sama lo! Eh tapi kok gue belum pernah ngeliat dia ya?" gumam Ify lebih kepada dirinya sendiri.

"Emang siapa sih, Fy? Cerita dong!" Shilla tidak bisa menyembunyikan penasarannya. Habis, ini pertama kalinya Ify heboh ketemu cowok, sih!

"Namanya Gabriel. Lo tau?"

Di seberang sana, Shilla melongo.

"Gabriel? Kelas 12?" tanyanya memastikan.

"Iya. Lo kenal, Shil?" Ify tampak tidak terkejut kalau Shilla langsung bisa mengenali Gabriel itu. Shilla berbeda dengan dirinya. Pergaulannya begitu luas. Sebenarnya, kalau Ify dibolehkan, pasti dia juga akan sama seperti Shilla. Tapi boro-boro mau punya pergaulan luas! Sekolah aja diantar jemput! Ke mana-mana juga harus sama supir.

"Ya ampun, Ify! Siapa gitu loh yang nggak kenal Gabriel? Dia kan mantan ketua ekskul sepak bola!" kata Shilla gemas.

"Ya jelas lah gue nggak tau! Gue kan nggak pernah berhubungan sama anak-anak bola! Gimana sih, lo?" omel Ify.

"Hehe iya juga, ya. Duh, Fy, gue prihatin deh sama pergaulan lo yang nol besar itu. Lo pasti juga nggak tau kan, kapten basket kita siapa?" Ify terdiam. Jujur, dia benar-benar tidak tahu siapa kapten basket di sekolahnya. Bahkan dia tidak tahu siapa ketua OSIS nya!

"Tuh, kan! Huh! Besok pokoknya lo harus ikut gue keliling sekolah!"

Tiba-tiba pintu kamar Ify diketuk. "Ify, udahan dulu teleponannya. Tugasnya diselesaikan dulu, Sayang." kata Mama dari luar. Ify kembali cemberut.

"Udahan ya, Shil. Gue mau ngerjain PR. Nyokap gue udah berkicau tuh!"

"Iya deh. Selamat mengerjakan PR ya, sahabatku yang paling cantik! Besok pokonya gue nyontek!"

"Yee enak di elo nggak enak di gue dong!" gerutu Ify. Shilla hanya tertawa, kemudian menutup teleponnya.

Ify mendengus. Dia menatap PR fisika di depannya pasrah. Yeah, here wo go! It's homework time!

*-*-*-*

Gabriel menenggelamkan dirinya dalam BB yang dia genggam. Menunggu adalah hal yang paling dia benci. Dia sudah bosan setengah mati duduk di ruang tunggu, menunggu mamanya periksa gigi.

Tapi tiba-tiba telinganya menangkap perdebatan kecil tak jauh dari tempatnya duduk. Begitu dia menoleh ke sumber 'keributan', dia mendapati seorang cewek yang sedang berdebat dengan mamanya. Dia yakin betul, cewek itu sangat tidak suka pada apa yang diperintahkan mamanya.

"Ify, dipakai jaketnya! Dingin, nih! Nanti kalau kamu sakit gimana?" paksa Mama Ify.

"Mama, Ify sama sekali nggak kedinginan. Dan Ify bukan anak kecil yang harus pakai jaket setiap saat!" protes Ify. Mukanya cemberut dengan bibir yang dimanyunkan beberapa mili.

Gabriel tersenyum di tempatnya. Tidak menyangka dia akan bertemu dengan gadis itu di tempat ini. Begitu dilihatnya gadis itu sendirian, dia langsung menghampirinya.

"Bener kata nyokap lo. Di sini dingin." katanya. Ify mendongak. Dia sedikit terkejut mendapati Gabriel berdiri di hadapannya.

"Kak Gabriel kok ada di sini?" tanyanya. Masih dengan keterkejutan yang terlihat jelas darii wajahnya.

Gabriel tersenyum geli. "Emang cuma elo yang boleh periksa gigi di sini? Eh ngomong-ngomong, gigi lo kenapa? Sakit?" tanyanya basa-basi. Ify tidak menjawab. Dia hanya tersenyum, memamerkan behel yang terpasang rapi di giginya. Gabriel langsung mengangguk paham.

"Oh, behel. Kirain gigi lo sakit. Kan lo jarang gosok gigi." candanya. Bukannya tersenyum, Ify malah cemberut.

"Nggak lucu, tauk!" gerutunya. Gabriel tidak tahan untuk mencubit pipi Ify yang menggelembung.

"Imut banget sih lo!" katanya, tanpa tedeng aling-aling. Ify menepis tangan Gabriel cepat.

"Gombal!" katanya pelan. Mencoba menyembunyikan kegugupannya.

Gabriel hanya tertawa. Tiba-tiba ruang praktik Dokter terbuka. Mamanya menyembul dari dalam ruangan itu.

"Yuk kita pulang, Yel." ajak Mamanya. Gabriel mengangguk. Segera ditatapnya gadis di sampingya.

"Gue duluan, ya." pamitnya. Ify mengangguk dan tersenyum pada Mama Gabriel yang juga sedang tersenyum padanya.

Selepas kepergian Gabriel dan Mamanya, Ify masih memegangi pipinya yang tadi dicubit Gabriel. Dia berani bertaruh, pipinya pasti sudah semerah kepiting rebus!


bersambung..

Selasa, 08 Maret 2011

Bingung Pilih SMA

Nggak kerasa, sekarang aku uda kelas 9. Dan itu artinya, bentar lagi aku harus melaksanakan Ujian Nasional dan tes masuk SMA. Yaampun kok rasanya cepet banget ya. Padahal kayaknya baru kemarin aku ikut MOS di SMP ku sekarang, SMP 1 Magelang yang membanggakan. wkwkwk.

Nah, dan sampai sekarang, aku masih bingung nentuin mau sekolah di mana. Pilihannya banyak banget!

Kalau mau yang deket sih ada, SMA 1 Magelang. Sekolahnya bagus sih. Dan pasti anak-anak SMP 1 tiap tahun banyak yang diterima di sana (pernah lebih dari 100 siswa yang diterima). Tapi, kata Mbak Farah, pacar Abang aku yang sekolah di sana, SMA1 udah nggak sebagus dulu. Dia ngerasa kalo dia nggak bisa berkembang di sana. Itu kata dia lho.

Terus Mbak Farah nyaranin buat ke Jogja. Tepatnya SMA 3 Jogja. Sekolah itu emang bagus banget! Dulu aku sempet pengen ke sana soalnya pengen kejar kelas akselerasinya. Tapi, kata Ibuk, Jogja itu jauh. Dan sampai sekarang aku belum bisa mandiri sepenuhnya. Sebenernya saudara-saudara di Jogja juga nyaranin aku untuk sekolah di SMA 3 aja, soalnya banyak saudara di sana. Lagian kan Abang juga kuliah di Jogja (UGM). Tanggapan Ibuk sendiri gini nih "Lha nanti kalau kamu sama Abang ke Jogja, Bapak sama Ibuk ditinggal sendirian, gitu? Sekolah yang deket aja lah." DOENGG!! Makin bingung kan?!

Ada satu saran lagi. Dari Tante Ari. Dia nyaranin sekolah di SMA Lazuardi Jakarta, ikut program beasiswa. Soalnya ada salah satu temen Abang yang dulu dapet beasiswa di sana dan sekarang dia juga dapet beasiswa kuliah di New York University fakultas kedokteran. WOW! Tapi masalahnya, emang aku mampu dapet beasiswa? Nilaiku di sekolah juga biasa-biasa aja, ya lumayan bagus sih, tapi nggak istimewa. Di sekolah juga aku jarang ikut lomba-lomba macam Olimpiade gitu. Jadi dapet beasiswa di Lazuardi kok kayaknya quietly impossible hahahaha :D

Di antara tiga pilihan itu, kalau dipandang dari segi kualitas dan kemampuan sih aku pilih SMA 3 Jogja. Tapi kalau dipandang dari sisi jarak dan kemudahan ya SMA 1 Magelang!

Haduuh sumpah bingung banget. Andai aja aku kayak Arin, temenku yang ikut Olimpiade Matematika. Dia uda diminta SMA 3 Semarang untuk sekolah di sana dan semuanya gratis termasuk biaya hidup! Jadi anak pinter emang lurus banget ya jalannya.

Hmmm kalau pendapat temen-temen sendiri gimana? Baiknya aku milih sekolah mana nih? Atau ada pendapat lain mungkin?



Thank you :*