Selasa, 12 April 2011

Fight for Love - Part 4

Part 4 : I'm Officially Yours, and You're Officially Mine

Ify berjalan menuju kelasnya dengan gembira. Bibirnya tersenyum lebar, langkahnya ringan, nyaris melayang. Masih teringat jelas kejadian tadi malam. Bahkan, semalam Gabriel sempat menelepon dirinya. Karena sudah larut, Ify terpaksa mematikan lampu kamarnya yang memang sudah harus padam jam setengah sepuluh malam. Kalau tidak ingat dia harus sekolah hari ini, Ify pasti semalaman penuh tidak tidur. Semalam pun sebelum tidur, Ify sempat membaca ulang sms-sms yang Gabriel kirimkan padanya.

"Hayo!!" Shilla mengagetkan Ify di depan kelas. Ify terlonjak kaget.

"Apaan sih lo ngagetin aja!"

"Lo dari tadi senyam senyum mulu sih! Kenapa sih?" tanya Shilla penasaran. Jarang sekali Ify sampai sekolah pagi-pagi begini, sambil senyam-senyum pula!

"Tau nggak, Shil? Semalam Kak Gabriel sms gue!" serunya.

"Hah? Yang bener?" tanyanya dengan mata membelalak lebar. Ify mengangguk sambil tersenyum lebar.

"Aaaa!!" teriak Shilla kemudian. Dua sahabat itu langsung berpelukan dan jingkrak-jingkrak di depan kelas, tidak memedulikan tatapan aneh teman-temannya.

"Eh tapi Fy, muka lo kok pucat gitu sih?" tanya Shilla begitu menyadari perbedaan warna muka Ify hari ini. Ify langsung meraba pipinya. Dia memang tidak sempat sarapan tadi pagi karena kepalanya masih dipenuhi Gabriel.

"Kantung mata lo gede banget Fy!"

Dengan panik, cepat-cepat Ify mengambil cermin dari dalam tasnya. Ketika melihat bayangannya sendiri, Ify melotot.

"Ya ampun muka gue!" pekiknya.

"Lo kalau jatuh cinta kok malah jadi jelek begini sih?"

"Biarin lah! Emang gue peduli?" Ify langsung memasukkan kembali cerminnya. Dia berjalan ke arah bangkunya sambil berdendang. Shilla hanya menatap punggung sahabatnya sambil geleng kepala.

*-*-*-*

Keadaan Gabriel tidak jauh beda dengan Ify. Sedari pagi, Gabriel terus saja tersenyum, sampai membuat Alvin, teman sebangkunya, merinding.

"Yel, lo jangan nakutin gue dong! Kenapa sih senyum-senyum terus??"

Gabriel tidak menjawab. Dia hanya tersenyum sambil memandangi handphone nya. Alvin bahkan yakin Gabriel sama sekali tidak mendengar pertanyaannya.

Hingga bel masuk berbunyi pun, Gabriel masih tersenyum. Alvin memilih untuk menyingkir sementara, mengantisipasi hal yang tidak diinginkan.

"Yel! Ngapain lo masih bengong? Kita kan olahraga!" Gabriel baru sadar. Dia langsung mengganti seragamnya di kelas, karena semua siswi sudah keluar.

Ternyata, jadwal olahraga kelas 12 IPS 1 sama dengan kelas 11 IPA 3. Begitu melihat Gabriel yang sedang bermain sepak bola bersama teman-temannya, Ify langsung menghentikan langkah. Gabriel terlihat sangat ganteng dengan peluh yang membasahi sekujur tubuhnya.

Merasa diperhatikan, Gabriel langsung menoleh. Dia mendapati Ify sedang terpaku menatapnya. Dengan semangat, Gabriel langsung melambaikan tangannya, memamerkan senyum lebarnya. Ify langsung tersadar. Dia langsung bergabung dengan teman-temannya yang sudah berkumpul di lapangan basket. Ketika berlari, kepalanya terasa sedikit pening. Tapi dia membiarkan saja. Pasti ini cuma pengaruh matahari.

"Halo Alyssa!!" seru seorang cowok yang pasti teman sekelas Gabriel. Ify menoleh. Cowok yang dulu mempermalukannya sedang menatap dirinya jahil.

Ify memilih untuk tidak memedulikannya. Lebih baik kabur dari pada harus dipermalukan dua kali.

Sepanjang perjalanan olahraga itu, Ify tidak bisa fokus. Selain karena fakta bahwa Gabriel mengawasinya, kepalanya juga terasa berat. Perutnya melilit.

Ketika gilirannya menangkap bola, Ify merasa limbung. Bola itu terasa semakin jauh, kemudian semuanya gelap.

*-*-*-*

Gabriel mengamati Ify. Ify terlihat lebih pucat, dan dia sedikit limbung. Ketika akhirnya tubuh itu hampir jatuh, Gabriel langsung menendang bola di kakinya, berlari kencang, dan menahan tubuh limbung itu dengan seluruh tubuhnya. Menangkapnya dengan kedua lengannya yang terbuka. Dia pun ikut luruh bersama tubuh itu. Semua teman-teman Ify langsung berkerumun mengelilingi mereka berdua. Gabriel yang semula berlutut di samping Ify, langsung menggendongnya dan membawanya ke UKS. Tak bisa dipungkiri lagi, seluruh siswa yang berada di lapangan langsung bengong. Masih terkesima dengan aksi heroik barusan.

Rahmi, petugas PMR yang sedang berjaga, langsung menyingkir memberi jalan untuk Gabriel yang sedang menggendong Ify. Dengan cekatan, Rahmi langsung mengambil minyak angin di lemari.

"Yel, ini cewek kenapa?" tanya Rahmi. Tangannya sibuk menata tempat tidur untuk Ify. Begitu sudah siap, Gabriel langsung merebahkan Ify dengan hati-hati.

"Tadi pingsan di lapangan."

"Mukanya pucet banget, Yel."

"Iya. Emang. Eh, Mi, tolong dong beliin teh anget atau apa gitu di kantin." Gabriel memberikan satu lembar uang lima ribuan pada Rahmi.

"Oke. Bentar ya!"

"Thanks, Mi!"

Sependinggal Rahmi, Gabriel duduk sendirian di samping tempat tidur. Menatap Ify yang terbaring lemah. Dia tidak menyangka dia akan khawatir seperti ini. Menatap wajah pucat itu, membuat Gabriel ingin sekali mengecup kedua pipinya. Gabriel mengangkat tangan kanannya, dan membelai wajah Ify perlahan. Menyingkapkan beberapa helai rambut yang jatuh menutupi keningnya.

"Ini, Yel, teh angetnya." kata Rahmi mengagetkan Gabriel. Gabriel langsung tersenyum menerima segelas teh hangat itu.

"Makasih banget ya, Mi."

"It's okay, lagi. Kan udah tugas gue. Eh, gue balik ke kelas ya. Ada ulangan habis ini."

Gabriel mengangguk saja. Perhatiannya sepenuhnya tercurah pada gadis di depannya ini.

Perlahan, mata Ify terbuka. Gabriel langsung menegakkan duduknya.

"Mmm.." Ify bergumam lirih. Gabriel mencondongkan tubuhnya.

"Fy, ini gue, Gabriel." kata Gabriel lembut. Mata Ify langsung terbuka penuh. Sedikit terkejut melihat wajah Gabriel tepat di depan wajahnya.

"Kok...." Ify bahkan tidak bisa melanjutkan pertanyannya saking banyaknya pertanyaan yang berkecamuk.

Gabriel tersenyum lembut, begitu juga matanya. "Lo tadi pingsan di lapangan. Kenapa?"

Bukannya menjawab, Ify malah bangkit pelan-pelan. Gabriel langsung memegangi bahunya dan membantunya bangkit. Gabriel teringat pada segelas teh hangat di meja. Di sodorkannya teh itu pada Ify.

"Nih, diminum dulu. Biar anget."

Ify menerima gelas itu hati-hati, kemudian menyesap isinya perlahan. Kehangatan langsung menjalari tubuhnya. Gabriel tersenyum puas melihat wajah Ify yang sudah tidak begitu pucat.

"Makasih, Kak." ujar Ify tulus.

"Kenapa sih kok bisa sampai pingsan?" tanya Gabriel masih penasaran. Terselip kekhawatiran dalam suaranya.

"Semalam nggak bisa tidur. Tadi pagi juga nggak sempet sarapan."

Gabriel berdecak pelan. "Kenapa nggak bisa tidur? Banyak pikiran? Sampe nggak sarapan segala."

Ify menundukkan kepala. Andai saja Gabriel tahu bahwa dia lah penyebab Ify jatuh pingsan.

Melihat wajah Ify yang menunduk dan mulai memerah, Gabriel tertawa kecil. "Lo kenapa sih? Wajah lo itu gampang banget memerah."

"Lebih baik, kan, dari pada pucet?" Ify mengelak menjawab pertanyan Gabriel.

Ify memandang UKS berkeliling. "Shilla mana? Kok nggak nemenin gue?"

"Nggak mau ninggal pelajaran mungkin. Lagian kan ada gue. Lo nggak suka gue tungguin?"

"Bukan gitu maksudnya. Kan dia sahabat gue. Masa nggak khawatir sama gue sih?"

"Khawatir sih pasti iya. Mungkin dia belum sempet. Udah lah," Gabriel mengibaskan tangannya. "Lagian lumayan kan gue bisa berduaan sama elo."

Ify tertegun. Gabriel mengucapkan kata barusan sambil lalu. Terlihat tanpa beban.

"Lo kenapa sih, Kak? Dari kemarin aneh mulu!" tanya Ify. Dia tidak mau GR dulu.

Gabriel menatap Ify lembut. "Kalau anehnya karena jatuh cinta gimana?" tanyanya.

Dahi Ify mengerut. "Maksudnya?"

"Maksud gue, gue ini aneh karena jatuh cinta." jawab Gabriel masih tidak mengalihkan tatapannya dari Ify.

Ify langsung menunduk. Dia tahu kepada siapa Gabriel jatuh cinta. Bayangan Sivia yang cantik menari-nari di kepalanya. Padahal baru semalam dia bahagia, merasa sangat dekat dengan Gabriel.

"Oh." respon Ify singkat. Gabriel mengangkat alis. "Cuma 'Oh'?"

Ify langsung mengangkat wajahnya. Menatap Gabriel dengan pandangan menyala-nyala. "Terus lo mau gue bilang apa??" tanyanya keras. Gabriel makin mengangkat alis.

"Lo kenapa sih?"

Ify mengatiur napasnya yang mulai memburu. Mencegah kemarahannya yang ingin muncul tiba-tiba. "Nggak apa-apa. Lupain aja." kata Ify pelan.

"Kalau gue bilang gue jatuh cinta sama elo, lo percaya?" bisik Gabriel. Ify tersentak. Ditatapnya mata Gabriel yang juga sedang menatapnya. Tatapan itu begitu lembut. Tapi lagi-lagi bayangan Sivia menyergap pikirannya.

"Nggak." jawab Ify. Dia memalingkan wajahnya, agar Gabriel tak bisa melihat butiran bening di sudut matanya.

Gabriel tampak terguncang. "Ke..kenapa?" tanyanya sedikit parau.

"Gue nggak mau dituduh sebagai cewek perusak hubungan orang."

"Hubungan siapa, Fy?"

Ify menoleh cepat ke arah Gabriel lagi. Tidak peduli bahwa air mata telah mengalir di pipinya. "Ya hubungan lo sama Kak Sivia!! Siapa lagi coba??!" sembur Ify.

Gabriel tampak terkejut. Dia merasa tidak mempunyai hubungan apapun dengan Sivia. "Maksud lo apa sih, Fy?" tanyanya bingung.

Ify merasa lelah. Lelah menghadapi Gabriel dan semua kepura-puraannya. "Lo nggak usah bohong deh sama gue. Lo punya hubungan spesial kan sama Kak Sivia? Terus kenapa lo care sama gue? Bahkan barusan lo bilang cinta sama gue!!"

"Fy, gue nggak punya hubungan apapun kecuali pertemanan sama Sivia." jelas Gabriel.

"Terus kemarin apa? Duduk berdua di..." Ify langsung menghentikan kata-katanya. Dia baru menyadari satu hal. Duduk berdua bukan berarti pacaran, kan?

Alis Gabriel terangkat tinggi. "Duduk berdua di kantin maksud lo?"

Ify diam saja. Malu mengakui kebodohannya. Gabriel tak tahan untuk tidak tertawa. Tawanya meledak, menertawakan gadis di depannya ini. "Ya ampun Ify! Duduk berdua kan bukan berarti pacaran! Lagian kemarin sama temen-temen gue yang lain kok. Lo nggak perlu cemburu gitu dong." Gabriel mencolek dagu tirus Ify setelah berhasil menghentikan tawanya. Wajah Ify langsung memerah.

"Mana pake nangis segala, lagi. Hahahaha!" Hening sejenak. Ify tidak tahu harus bicara apa. Malu berat dia.

Tawa Gabriel makin samar. Dia tersenyum lembut, dan mengusap puncak kepala Ify perlahan. "Lo cemburu ya kemarin? That's why gue nggak lihat lo seharian?" tanya Gabriel. Ify, yang kepalanya sudah tertunduk, mengangguk pelan. Kelewat malu untuk menjawab pertanyaan Gabriel.

Tangan Gabriel yang masih bertengger di puncak kepala Ify langsung mengacak rambutnya gemas. "Kenapa pake cemburu segala sih? Emang bahasa tubuh gue nggak cukup selama ini, hah?"

Ify masih kehilangan kata-katanya. Tapi dalam hatinya, perasaan bahagia itu membuncah. Dia tidak jadi mundur, karena Gabriel sendiri yang telah menariknya kembali.

Dengan lengan yang kokoh, Gabriel merangkul Ify. "Nggak pake cemburu-cemburuan lagi, oke? Janji?" diulurkannya jari kelingkingnya. Ify menimbang-nimbang sejenak sebelum akhirnya menyambut uluran kelingking itu. "Janji." senyum kecil menghiasi wajahnya.

Memang, tidak ada untaian kata cinta dan sayang. Tapi mereka tahu, ketika kedua pasang mata itu bertemu, cinta itu ada. Keberadaannya tidak akan hilang walaupun cinta itu tak terucap.

*-*-*-*

Shilla terlongo-longo mendengar cerita Ify tentang kejadian di UKS tadi. Tidak menyangka sahabatnya ini bakal jadian sama Gabriel. Yang lebih mengejutkan lagi, ketika dia tanya siapa yang nembak duluan, dengan tengan Ify menjawab, tidak ada acara tembak-menembak. Semua mengalir begitu saja!

"Sumpah, Fy. Gue bener-bener nggak nyangka!" ujar Shilla untuk yang kesekian kali.

"Gue juga, Shil. Masih berasa mimpi." sahutnya sambil memasukkan alat-alat tulisnya ke dalam tas. Setelah yakin tidak ada yang tertinggal, Ify menggantungkan tas selempang itu di pundaknya. Shilla melakukan hal yang sama.

"Tapi, selamat ya! Gue ikut seneng!" Shilla langsung memeluk sahabatnya itu. Ify tertawa.

"Makasih ya, Shill."

"Hei, ladies!" sapa Gabriel yang tiba-tiba saja sudah bersandar di ambang pintu kelas Ify. Shilla dan Ify langsung menoleh. "Pulang, yuk!" lanjutnya.

"Kalau gitu, gue duluan ya, Fy, Kak Gabriel."

"Hati-hati Shil." ujar Gabriel. Shilla mengangguk dan langsung berlari keluar kelas. Ify menghampiri Gabriel perlahan.

"Pulang sekarang?"

Tanpa aba-aba, Gabriel langsung menggenggam tangan Ify dan menariknya. Mereka berjalan sambil bergandengan tangan di sepanjang koridor.

Sebenarnya, sejak tadi, ada satu hal yang sangat menganggu pikiran Ify. Dia tidak sempat mengatakannya tadi, jadi dia harus mengatakannya kali ini.

"Kak, gue mau ngomong. Penting nih." kata Ify begitu mereka sampai di pos satpam. Mobil Ify belum terlihat.

"Ngomong aja."

Ify menghela napas panjang dan menghembuskannya perlahan. Gabriel memerhatikan dengan serius. "Sebenarnya, gue nggak dibolehin pacaran sama Papa." ujar Ify pelan. Gabriel menatap Ify tajam.

"Maksud lo?"

"Ya gue nggak boleh pacaran dulu!" jawab Ify setengah frustasi. Memikirkan Papa membuatnya mulas.

Ketika dilihatnya Gabriel tidak menyahut, Ify melanjutkan. "Mungkin lo belum tau gimana kehidupan gue selama ini. Orang tua gue protektif banget sama gue. Ke sekolah dianter, pulangnya dijemput, sampai rumah harus ngerjain PR, jalan sama temen nggak boleh, sakit dikit aja ke dokter. Gue nggak bisa bebas!" Ify menyandarkan punggungnya di dinding pos satpam dengan kedua tangan menutupi wajahnya. "Lo harus tau. Kalau kita pacaran, satu-satunya tempat di mana gue bisa bebas ketemu elo ya cuma di sekolah."

Gabriel memandang prihatin ke arah Ify. Diangkatnya tangan kanannya untuk membelai rambutnya.

"Lo bisa mundur sekarang, Kak." kata Ify akhirnya. Nada suaranya terdengar putus asa.

"Berarti lo belum kenal gue sepenuhnya, Fy." kata Gabriel sambil tersenyum simpul. Ify menurunkan kedua tangannya. Matanya menatap Gabriel bingung.

"Maksudnya?"

"Lo juga harus tau. Gue bukan tipe cowok yang gara-gara masalah ginian aja langsung mundur. Gue juga bukan tipe cowok yang sukanya ngajak cewek jalan-jalan nggak jelas. Gue bisa maklum sama kehidupan lo. Kalau memang satu-satunya tempat kita bisa ketemu cuma di sekolah, gue terima. Asal gue masih bisa milikin elo, itu semua nggak masalah." jelas Gabriel.

"Lo nggak bakal bosen?"

"Gue usahain enggak," ujarnya. "tapi gue yakin gue nggak bakal bosen." lanjutnya mantap.

Dalam hati Ify bersyukur Gabriel mau mengerti dirinya. Walaupun terbesit rasa tak enak hati. Dia berjanji. Dia akan seperti Gabriel yang tidak akan pernah menyerah gara-gara masalah seperti ini.

"Tuh mobil lo dateng." Gabriel mengejutkan Ify.

"Gue duluan! See ya!"

Sebelum masuk mobil, Ify melambaikan tangannya pada Gabriel. Gabriel pun membalas lambaian tangan itu.

"Nanti malam gue telpon!" walaupun diucapkan tanpa suara, Ify masih bisa menangkap maksudnya. Ify mengangguk semangat kemudian membuka pintu mobil dan masuk ke dalamnya.


bersambung..

*-*-*-*


cie, akhirnya Ify dan Gabriel jadian juga!! cihuy! pada seneng nggak nih?
eh eh tapi, kayaknya masih ada masalah deh. Ify dan Gabriel harus backstreet! waaah terus gimana ya?

nah, gimana? puas nggak? apa? kurang panjang? heuuu part 5 udah aku panjangin, kok. hehe tunggu terus ya!

silakan komen di bawah ini, bisa juga lewat facebook atau twitter (@dwidamn). thankyou :)


Dwida

Rabu, 06 April 2011

Fight for Love - Part 3

Part 3 : Perasaan Aneh

Sarapan pagi ini terasa berbeda. Ada Cakka di tengah-tengah keluarga.

"Ma, Pa, semalaman Ify ngeyel ngajak Cakka jalan. Emang boleh?" tanya Cakka pada kedua orang tuanya.

"Jam 3 sampai jam 5, Ify harus ngerjain tugas. Jam 8 sampai jam 9, Ify harus belajar. Jadi, kalau mau pergi, kalian hanya punya waktu 3 jam." jelas Mama rinci. Ify mendengus sebal. Walaupun dia dibolehin pergi, tapi masa cuma 3 jam? Dapet apa coba jalan-jalan 3 jam?!

Cakka melirik ke arah Ify yang menatap nasi gorengnya nanar. "Tambahin dikit dong, Ma. Dari jam 4 gitu perginya." rayu Cakka.

"Nggak bisa. Jadwal itu udah fix."

"Kan Cakka jarang pulang, Ma. Masa Cakka mau jalan sama adek sendiri cuma dibolehin 3 jam?" rayu Cakka lagi. Ditatapnya Mama dengan lembut. Dia tahu benar di mana kelemahan mamanya. Dan benar saja, Mama langsung mengalah.

"Iya, deh. Mama beri waktu 4 jam. Gimana, Pa? Boleh kan?" Mama meminta pendapat Papa, karena Papa lah pembuat keputusan di keluarga itu.

"Boleh."

Cakka tersenyum puas. Ify juga tersenyum. Akhirnya dia bisa jalan! Kepalanya mulai menyusun rencana ke mana dia akan pergi.

*-*-*-*

"Akhirnya gue dibolehin jalan, Shil!" sorak Ify gembira. Di hadapannya, Shilla tersenyum lebar.

"Yes! Berarti nanti kita ketemuan aja, Fy. Lo cuma pergi sama Kakak lo, kan? Nggak ngajak bonyok lo?"

"Ya enggak lah! Ngapain juga gue ngajak bonyok?" Ify menyeruput es jeruk di depannya dengan gembira. Dalam hati dia berterima kasih pada Cakka yang memberikan angin segar padanya.

Tiba-tiba Ify merasa rusuknya disikut Shilla. Dia mengerang pelan. "Aduh! Apaan sih lo? Sakit tauk!" gerutunya.

Shilla tidak memerhatikan gerutuan Ify. "Kak Gabriel, Fy! Tuh lihat!"

Ify memutar pandangannya ke penjuru kantin, dan menemukan Gabriel sedang bersama teman-temannya di pojok.

"Emang Kak Gabriel kenapa, sih?" tanya Ify heran.

"Lo lihat cewek yang ada di sebelahnya deh! Lo tau nggak itu siapa?"

Ify menoleh lagi ke arah Gabriel. Memang, di sebelah Gabriel ada seorang cewek cantik. Dia sama sekali tidak mengenal cewek itu. Pernah lihat tapi nggak tau siapa.

"Gue nggak tau. Emang dia siapa?"

Kalau saja Ify bukan sahabatnya, sudah pasti Shilla mencakar muka Ify sekarang juga.

"Dia Kak Sivia! Kembang sekolah kita! Sama kayak gue!" jelasnya gemas.

"Ngasih tau sih ngasih tau. Tapi ujung-ujungnya narsis juga." cibir Ify. Dia kembali mengamati gadis itu. Kulitnya putih pucat, pipinya chubby menggemaskan, rambutnya lembut dan panjang, belum lagi wajahnya yang cantik bak seorang dewi.

Ify langsung minder. Sivia begitu cantik dan modis, berbeda dengan dirinya, yang walaupun wajahnya nggak jelek-jelek amat, tapi dia masih jauh kalau dibandingkan dengan Sivia itu.

Tiba-tiba Ify merasa tersisih. Merasa tertolak. Ternyata gadis seperti Sivia lah yang pantas bersanding dengan Gabriel. Duduk bersebelahan.

Dengan ekspresi tak terbaca, Ify langsung bangkit dan meninggalkan baksonya begitu saja. Tak memedulikan Shilla yang berteriak-teriak memanggilnya. Dia hanya ingin sendiri sekarang.

*-*-*-*

Perasaan apakah ini? Bukankah dari awal dia hanya menyukai? Hanya mengagumi? Tapi, mengapa pemandangan di kantin begitu mengusiknya? Menggoreskan satu garis tak kasat mata di hatinya.

Ify tahu, dia telah membiarkan perasaannya terlalu jauh. Terlalu dalam. Secara tidak sadar, dia telah menautkan hatinya pada pesona Gabriel. Membiarkan bunga-bunga bersemi dan menyisipkan secercah harapan.

Dia juga sadar, perasaan ini datang terlalu cepat. Tapi, seperti yang dituliskan pada buku favoritnya, hati itu fleksibel. Dapat berubah sewaktu-waktu.

Tiba-tiba Ify tertawa. Getir. Pahit. Menertawakan dirinya sendiri yang dengan bodohnya mengikat hatinya pada Gabriel.

Satu hal yang dia bisa sekarang hanyalah mundur. Mundur sebelum goresan itu makin nyata. Mundur selagi bisa. Karena dia tahu, kalau tidak ada kejadian tadi, hatinya pasti akan terus maju sampai sekarang. Terus maju tanpa bisa mundur lagi.

*-*-*-*

Cakka melihat ada sesuatu yang berbeda dengan adiknya. Sejak dia kembali dari sekolah, dia sama sekali tidak bersuara. Lebih banyak melamun. Pancaran matanya yang biasanya menyala-nyala penuh semangat, kini sedikit redup.

Ketika Cakka menemani adiknya mengerjakan PR, dia berani bertaruh, Ify mengerjakannya asal-asalan. Sama sekali tidak memikirkan jawaban yang benar. Hanya menggoreskan penanya sesuka hati untuk menyibukkan tangannya.

"Lo kenapa, sih, lesu begitu?" tanya Cakka ketika dia tidak bisa lagi membendung rasa penasarannya.

Ify menengadahkan kepalanya, lalu menggeleng pelan. "Nggak apa-apa. Cuma ada masalah dikit aja."

"Mau cerita sekarang? Siapa tau gue bisa bantu."

Lagi-lagi Ify menggeleng. "Jangan sekarang. Lagian ini juga cuma masalah kecil." Ya, ini memang hanya masalah kecil. Sebuah ironi memang, mengingat dampak yang ditimbulkan masalah ini bagi dirinya.

Cakka menyerah. Kalau sedang seperti ini, lebih baik memang membiarkan Ify berjuang sendiri menghadapi masalah. Tapi kalau hal ini berlarut-larut, tanpa persetujuan Ify pun, dia pasti akan langsung turun tangan.

Cakka menoleh ke arah jam yang menggantung di dinding, di atas foto keluarga berukuran besar.

"Udah mau jam 4, Fy. Siap-siap gih! Masih mau jalan kan?" suruh Cakka. Berharap bisa mengalihkan perhatian Ify sejenak.

Benar saja, mendengar ajakan Cakka, Ify kembali bersemangat. "Asyiiiik!" serunya girang. "Gue ganti baju dulu. Oke, bro?"

Ify langsung berlari menuju kamarnya, dan mengganti baju rumahnya dengan baju yang lebih pantas.

Dalam hati Cakka bersyukur. Dia pulang di saat yang tepat. Coba kalau dia tidak pulang, entah apa jadinya Ify sekarang.

*-*-*-*

Di dalam mobil, Ify sibuk berkutat dengan hapenya. Sedari tadi dia berbicara di telepon. Cakka hanya bisa mendengar beberapa bagian saja.

"Iya, Shil, gue udah berangkat...di mana?..oh oke deh sekitar 20 menit lagi gue nyampe...hahaha iya bener banget...oke, see you!"

"Telponan sama siapa sih? Semangat amat?" tanya Cakka tanpa mengalihkan pandang sedikitpun dari jalan di depannya. Di sampingnya, Ify tersenyum lebar.

"Sama Shilla. Kan gue sama dia janjian ke mall." jawabnya ceria. Sangat kontras dengan keadaannya tadi sepulang sekolah.

"Oh jadi ini alasan lo ngajak gue ke mall? Ternyata lo udah janjian sama temen lo?" Cakka berdecak sambil menggelengkan kepala di akhir kalimatnya.

Ify meringis lucu. "Hehe. Lo jangan kasih tau mama ya, please." Ify mengatupkan kedua tangannya dengan mata memohon.

"Tergantung temen lo dulu dong. Dia cewek apa cowok? Kalau cewek sih gue fine-fine aja. Tapi kalau cowok nggak janji deh." goda Cakka.

"Temen gue cewek kok. Sumpah deh! Jadi jangan kasih tau mama ya." mohon Ify lagi.

Cakka segera mengacungkan jempol kirinya. "Sip deh! Percaya aja sama gue!"

*-*-*-*

Dia tidak melihat gadis itu hari ini. Di kantin tadi, dia juga tidak menemukan tanda-tanda keberadaannya. Ah, di mana gadis itu? Mengapa sehari tak melihat saja dia jadi gundah begini?

Gabriel mulai meragukan perasaannya sendiri. Kalau ini memang hanya sebatas kekaguman, kesukaan memandangi wajahnya, mengapa dia tidak tenang ketika sehari saja tidak melihatnya?

Suaranya cemprengnya, tawanya yang renyah, semua berdengung-dengung di telinga Gabriel. Bayangan dagu tirusnya, rambut panjangnya, bibir mungilnya, bahkan behelnya, seketika itu juga langsung menyergap pikirannya.

Mungkin ini unik. Hatinya begitu cepat berubah. Dari mata turun ke hati. Dari kagum menjadi sayang. Terlalu cepat memang. Tapi, sejak awal, sejak pertemuan pertama itu,gadis itu telah menyusup ke dalam hatinya. Mencari tempat kosong untuk singgah.

Gabriel teringat sesuatu. Dia langsung mengambil handphone, mencari nama dalam daftar kontak, dan menempelkan benda itu di telinga kanannya. Terdengar nada sambung sebelum akhirnya seseorang menjawab panggilannya.

"Vin, lo tau nomor hapenya Shilla nggak?" tanya Gabriel langsung tanpa menunggu Alvin mengucapkan 'hallo'.

Kening Alvin berkerut. "Tumben lo nanyain nomor cewek?"

"Ah, nggak usah banyak tanya deh! Tau nggak?" tuntut Gabriel. Dia agak tidak sabaran sore ini.

"Kayaknya ada deh. Nanti gue kirim ke elo, deh."

Gabriel tersenyum puas. "Oke deh. Thanks, Vin."

*-*-*-*

Setelah puas berjalan-jalan, Ify, Shilla, dan Cakka berhenti di salah satu cafe untuk melepas lelah. Senyum lebar tak henti-hentinya mengembang di bibir Ify.

"Mau pesen apa, nih, cewek-cewek?"

Ify mempelajari buku menu di depannya. "Gue croissant sama cappuccino aja deh."

Cakka ganti memandang Shilla. "Lo, Shil?"

"Samain aja."

Cakka menyebutkan pesanan mereka pada pelayan yang berdiri di sampingnya. Setelah mengulang kembali pesanan mereka, pelayan itu kembali ke tempatnya.

Baru saja Shilla akan membuka shopping bag nya, melihat barang apa saja yang tadi dibelinya bersama Ify, tiba-tiba HP di sakunya bergetar. Cepat-cepat dia mengambil HP nya. Ketika melihat layarnya, kening Shilla berkerut. Sederet nomor muncul di layar itu, tapi Shilla sama sekali tidak mengenalnya.

"Halo?"

"Halo, ini Shilla kan?" tanya suara di seberang sana. Cowok.

"Iya. Ini siapa ya?"

"Gue Gabriel. Ingat?"

Shilla langsung melongo. Dari mana Kak Gabriel tau nomornya?

"Ingat, Kak. Ada apa, Kak?" tanyanya.

"Lo lagi sama Ify nggak?"

Shilla langsung menoleh ke arah Ify yang sedang berkutat dengan shopping bag nya. Sepertinya dia sama sekali tidak mendengar percakapan Shilla.

"Iya. Memangnya kenapa, Kak?"

Tanpa Shilla ketahui, di ujung sana, Gabriel tersenyum lega. Lega mengetahui bahwa gadis itu baik-baik saja dan sehat.

"Nggak kok. Cuma nanya aja. Eh, gue minta nomornya Ify dong. Entar lo kirim ke gue. Oke?" Dalam hati Shilla mendengus sebal. Kenapa nggak minta langsung sama orangnya aja sih? Nggak gentle banget! Gerutunya dalam hati.

"Iya deh, Kak. Nanti ya."

"Oke. Thanks ya Shil."

"Yup!" Shilla memasukkan kembali HP nya ke dalam kantong celana.

"Telpon dari siapa, Shil?" tanya Ify mengejutkan Shilla. Shilla menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. "Itu, dari Kakak kelas gue dulu waktu SMP."

Ify hanya mengangguk saja. Tidak ingin bertanya lebih jauh. Diam-diam, Shilla menghela napas lega.

*-*-*-*

Ketika sampai di rumah, Papa dan Mama sudah menyambut Cakka dan Ify di ruang keluarga. Sekilas Mama melihat jam dinding di ruang keluarga.

"Tepat waktu."

Ify tersenyum. Dia langsung menghampiri mamanya. Kemudian dengan satu gerakan cepat, dia langsung memeluk mamanya.

"Mama, makasih banget!!" seru Ify. Mama tersenyum kemudian membalas pelukannya.

"Pergi ke mana aja hari ini, Cakka?" tanya Papa.

"Tadi ke mall terus mampir ke cafe bentar." jawab Cakka tanpa memberi tahu orang tuanya kalau mereka jalan-jalan dengan Shilla tadi. Ify menatap Cakka sambil tersenyum penuh terima kasih.

"Ganti baju gih! Terus belajar." perintah Papa. Ify masih saja tersenyum. Dia sama sekali tidak keberatan diperintah Papanya. Dia senang sekali hari ini.

Ify meletakkan semua belanjaannya di dekat lemari, kemudian berjingkat ke tempat tidur. Ah, capeknya!

Tiba-tiba handphone nya menjeritkan ringtone. Satu sms diterimanya.

Hi! I hvn't seen ur face today. Where were u?

-gabriel-

Ify nyaris terlonjak saking kagetnya. Siapa yang nggak kaget kalau tiba-tiba disms Gabriel?!

Jari-jari Ify gemetar ketika mengetik sms balasan. Jantungnya berdegup kencang.

Hahaha I was too busy. Miss me, eh? :p

Saking gugupnya, Ify bahkan lupa pada luka hatinya tadi siang. Luka itu menguap begitu saja!

Tak lama kemudian, datang sms balasan dari Gabriel.

Kgn? Jelas dong :D

Sibuk ngapain sih lo?

Ify langsung terbang membaca sms balasan Gabriel barusan. Sesuatu menggelitik perutnya, membuatnya tersenyum sepanjang malam itu.


bersambung..

*-*-*-*


hohohoho akhirnya part 3 nongol juga. ada yang nungguin kah? semoga ada deh.

ohiya curcol sedikit nih. buat saya, part 3 ini adalah part paling hambar sepanjang hayat (?). di sini kan harusnya nyeritain tentang perasaan Ify dan Gabriel, eeeh malah menurut saya nggak nyampe banget ke pembaca. mungkin, seperti yang saya tulis di twitter beberapa waktu yang lalu, I almost forget how it feels to be in love. hahaha :D

okay, seperti biasa, saya minta komentar, kritik, dan saran. bisa komen di bawah ini, atau hubungi saya lewat fb (Dwida Septanaima Kumalasiwi), atau bisa juga lewat twitter (@dwidamn)


thank you


Sabtu, 02 April 2011

Happy Birthday Dad

Dear, Dad

It's April 2nd. Do you know what does that mean? It's your birthday!!!
Happy birthday, Dad. Thanks for being such a
wonderful, amazing, great, and spectacular father! Wish you nothing but the best. Keep on rocking! \m/

Love,

Your daughter