Senin, 23 Mei 2011

Fight for Love - Part 7

Warning: Part ini sangat kacau. Don't expect too much.


Part 7
: Orang Baru

Shilla berlari secepat mungkin, mengabaikan suara teriakan memanggil-manggil namanya. Paling-paling juga Riko. Shilla mendengus tanpa sadar. Keputusannya untuk menerima tawaran Riko bertemu hari ini ternyata salah besar! Walaupun dia sudah bisa meraba alasan Riko mengajaknya bertemu, tapi dia tetap tidak menyangka Riko akan bersikap seperti tadi -memaksanya (dan mengancam) untuk kembali padanya. Cih! Memang di dunia ini tinggal dia satu-satunya cowok yang tersisa?

Beberapa meter di belakang Shilla, Cakka berlari mengejar gadis itu. Shilla memang feminin, tapi larinya luar biasa! Cakka sampai kewalahan mengejarnya.

"Shilla! Tunggu!"

Shilla terus berlari dan berhenti di halte bus. Lehernya terjulur, memastikan kalau Riko tidak bisa mengejarnya. Hah! Shilla kok dikejar! Batinnya bangga.

"Shil!" Shilla langsung menoleh. Terperanjat melihat siapa yang berlari mendekatinya.

"Cakka?" tanyanya pada diri sendiri.

Cakka berhenti tepat di depan Shilla. Tangannya bertumpu pada kedua lututnya, trengah-engah, lelah sehabis berlari. Tetes ketingat membasahi sebagian rambut harajukunya.

"Ngapain lo di sini?" tanya Shilla heran. Dia pikir yang mengejarnya tadi Riko.

Cakka mengatur napasnya. Punggung tangannya menyeka setetes keringat di pelipisnya. "Gue tadi liat lo, terus gue susul aja," jawabnya.

Shilla mengangguk mengerti. Tadi dia pasti terlalu berkonsentrasi berlari hingga tidak sempat melihat mobil Cakka di depan cafe.

"Tadi ngapain lo sama cowok itu? Pake guyur-guyuran segala. Haha.."

"Biasa lah," jawab Shilla tak acuh.

"Cowok ini yang ke berapa?"

Shilla menghitung dalam hati dan meringis ketika dia tidak menemukan jawabannya. Lupa saking banyaknya.

"Dasar player!" ledek Cakka. Shilla mendelik tak terima. Nggak terima dong kalo dibilang player!

"Enak aja! Bukan salah gue dong kalo gue cantik! Gue emang sering ganti pacar, tapi gue nggak pernah ngeduain!" ujar Shilla defensif. Kembali Cakka tergelak.

"Iya deh iyaaa," katanya mengalah. "Dijemput?"

Shilla menggeleng. Sepulang sekolah tadi dia langsung naik taksi ke sini, dan lupa mengabari supirnya.

"Bareng gue aja yuk!" Shilla mencibir.

"Rumah lo kan di utara, sedangkan rumah gue di selatan. Ntar lo ngomel kalo bensin lo habis? Gue udah lama kenal lo, kali!" ledeknya. Cakka meringis. Untuk urusan bensin, dia memang sangat berhati-hati. Jadi, kalau mengantar Ify ke tempat yang agak jauh, dia tidak pernah menggunakan mobilnya.

"Taksi!" teriak Shilla tiba-tiba. Tangannya menjulur dan melambai-lambai. Taksi itu berhenti tepat di depannya. Dia berbalik dan pamitan pada Cakka.

"Okay, gue duluan ya!"

Shilla langsung masuk dan menutup pintu, tapi gerakan Cakka yang tiba-tiba menghalanginya. Cakka menahan pintu itu dan menjulurkan kepalanya ke dalam. Dirogohnya dompet di sakunya, dan dikeluarkannya selembar uang lima puluh ribuan. Diletakkannya uang itu di pangkuan Shilla. “Nih buat ongkos. Gue nggak sepelit yang lo kira.”

Shilla masih melongo di jok belakang, tidak menyangka Cakka yang notabene pelit banget kalau urusan duit, mau membayarkan ongkos taksinya. Diam-diam dia tersanjung.

"Jalan, Pak," katanya sambil menatap spion, memandangi bayangan Cakka yang sedang melambai ke arahnya.

*-*-*-*

Keesokan harinya, Ify menuruni tangga dengan langkah ringan. Wajahnya sumringah. Semalam dia ngobrol cukup lama dengan Gabriel (lagi-lagi dengan penerangan remang-remang lampu tidur), dan perasaan bahagia itu masih terbawa hingga sekarang.

"Pagi, Papa, Mama, Kak Cakka!" sapanya pada setiap orang di meja makan. Cakka hanya melirik sekilas, masih terlalu kesal dengan pacar adiknya.

"Pagi, Sayang. Hari ini kamu ada acara apa?"

Ify menahan diri untuk tidak mendengus keras-keras. Mamanya ini pura-pura tidak tahu atau gimana, sih? Jelas-jelas Ify tidak mengikuti satu kegiatan pun di sekolah. Dia juga tidak pernah memiliki acara dengan teman-temannya.

"Memangnya kenapa, Ma?" tanya Ify akhirnya. Tidak mau dianggap tidak menghormati mamanya.

Kali ini Papa yang menjawab. "Sepupu kamu dari Manado datang hari ini. Papa minta kamu jemput dia di bandara. Papa ada urusan, Mama juga."

Ify membelalakkan mata lebar-lebar. "Sepupu dari Manado? Rio, maksud Papa?"

"Iyalah, siapa lagi?"

"Tapi, kenapa harus Ify yang ke bandara? Kenapa nggak Kakak aja?" Ify melirik Cakka tajam, secara tidak langsung memaksa kakaknya agar setuju.

Cakka langsung menyela. "Gue ada reuni sama sahabat-sahabat SMP gue, Fy."

Ingin rasanya Ify berteriak saat itu juga. Menjemput -dan menemui- sepupunya yang satu itu adalah hal terakhir yang diinginkannya saat ini. Seringaian jahil dan tatapan mengejek Rio langsung menghantuinya.

"Kamu pulang jam setengah 3, kan? Nanti langsung ke bandara saja. Pesawatnya datang jam setengah 4," kata Mama. Ify mencemberuti nasi goreng di depannya. Baru saja dia merasa bahagia dan berbunga-bunga, tapi semudah ini dia merasa bete dan kesal setengah mati!

*-*-*-*

"Gue malah baru tau kalo lo punya sepupu dari Manado," bisik Shilla tanpa mengalihkan pandangan dari papan tulis. Saat ini pelajaran matematika, dan Shilla berusaha sekuat mungkin agar terlihat memerhatikan.

Ify juga sibuk mencatat, tapi bibirnya bergerak samar membalas pernyataan Shilla. "Lo sahabat gue bukan sih? Masa ginian aja nggak tau!" protes Ify pelan. Shilla meringis.

"Lo juga nggak pernah cerita!" protes Shilla balik. "Eh terus kok lo segitu kesalnya sih disuruh jemput sepupu di bandara? Harusnya kan seneng kedatengan saudara. Cowok, pula. Kan lumayan tuh buat gandengan. Kalau dia ganteng, lho."

Ify langsung menginjak kaki Shilla kuat-kuat. Dasar temannya yang satu ini memang pikirannya cowok mulu! Shilla meringis menahan sakit. Kalau saja tidak ada guru di kelas itu, dia pasti akan membalas Ify dengan jurus andalannya yang lebih sadis -menjambak rambut Ify kuat-kuat dan mencubit tangan Ify sampai biru.

"Kayaknya yang ada di otak lo tuh cowok, mulu!"

Shilla tekekeh di sampingnya. "Emangnya elo? Mikirnya pelajaran terus, nggak pernah yang lain!" Ify diam saja diledek begitu oleh Shilla. Dia sudah sangat terbiasa.

"Eh lo belum jawab pertanyaan gue nih! Kok lo kayaknya sebel banget sih sama sepupu lo itu?"

Ify mendengus sebal. "Soalnya, dia itu ngeselin banget! Nyolot, songong, dan sukanya ngeremehin orang!" jawab Ify berapi-api sambil menambahkan tekanan pada pena yang dipegangnya. Shilla menatap buku Ify ngeri. Sebentar lagi pasti buku itu akan sobek.

"Kalo kata gue, sih, lo cuekin aja tuh sepupu lo itu. Orang kayak gitu mah nggak usah ditanggepin, nanti pasti capek sendiri. Mending lo mikirin Kak Gabriel aja deh daripada pusing-pusing miki..."

Belum sempat Shilla menyelesaikan pidatonya, suara gebrakan meja oleh penggaris tiba-tiba mengagetkan seluruh siswa di kelas itu. Ify dan Shilla sontak langsung terlonjak.

"Alyssa, Ashilla! What do you think you're doing?!" Guru matematika mereka, Bu Irine, berdiri berkacak pinggang di depan kelas dan menatap Ify dan Shilla galak.

Ify membalas tatapan itu takut-takut. "We're..mmm..we're.." jawab Ify terbata.

"I know. You didn't even pay attention to my explanation. Gossiping, huh?" Bu Irine yang memang sok Inggris langsung menyerocos dengan logat british yang dibuat-buat.

"Actually, we're having a discussion. You know, math discussion," celetuk Shilla santai. Semua siswa tak tahan untuk tidak memutar bola mata mereka. Ify dan Shilla berdiskusi? Hah! Yang benar saja!

Bu Irine masih berkacak pinggang dan memandang dua muridnya galak. Tapi, karena tidak bisa menemukan letak kesalahan muridnya itu, beliau langsung berbalik menghadap papan tulis dan meneruskan penjelasannya. Ify menghela napas lega, sementara Shilla tersenyum puas.

*-*-*-*

Sementara itu, di kelas 12 IPS 1 suasananya tidak jauh berbeda dengan kelas Ify. Semua siswa sibuk dengan bukunya, walaupun tidak sedikit yang hanya melototi bukunya tapi pikirannya berlari liar entah ke mana. Gabriel sendiri mencoret-coret bagian belakang buku tulisnya, menggambar beberapa tokoh kartun yang diingatnya untuk mengusir kebosanan.

"Pssstt.." desis seseorang di belakangnya. Gabriel langsung menoleh dan menatap gadis di belakangnya dengan bingung.

"Apa?" bisiknya. Gadis itu menyeringai, memamerkan sederet giginya yang rapi.

"Lo jahat banget sampe sekarang nggak ngenalin gue ke cewek lo," kata gadis itu pura-pura merajuk. Gabriel terkekeh pelan.

"Nanti, deh, Siv. Lagian lo sibuk terus sama temen-temen se-geng lo."

"Yah, namanya juga udah kelas 12, udah mau pisah. Makanya kami lagi pengen bikin kenangan yang nggak bakal bisa dilupakan." Gadis itu, Sivia, tersenyum geli di ujung kalimatnya. Sementara Gabriel hanya mencibir menanggapinya. Dia kembali menghadap papan tulis, namun punggungnya yang menempel pada sandaran kursi menunjukkan bahwa telinganya masih terbuka lebar-lebar untuk mendengar omongan Sivia lagi.

"Eh, pesta ultah gue, lo dateng kan?"

"Pasti, lah! Gue juga udah lama nggak ke rumah lo!" ujar Gabriel. Gabriel dan Sivia memang sudah saling mengenal sejak SD. Dan sampai saat ini mereka masih dekat, bahkan bersahabat.

"Yee siapa bilang pestanya diadain di rumah? Masa ultah ke 18 di rumah sih? Nggak seru tauk!" Lagi-lagi Gabriel terkekeh. Bukan Sivia namanya kalau tidak membuat sesuatu yang heboh pada pesta ulang tahunnya.

"Gue dateng deh, pasti. Di manapun pesta itu diadakan." Sivia tersenyum puas.

"Sekalian ajak cewek lo, ya. Pasti seru tuh!" usul Sivia antusias. Saking antusiasnya, dia bahkan tidak menyadari air muka Gabriel yang mulai berubah.

*-*-*-*

Bel pulang sekolah sudah berbunyi nyaring beberapa menit yang lalu. Ify dan teman-teman sekelasnya sibuk memberesi barang-barang mereka ketika tiba-tiba Gabriel mengetuk pintu kelas keras-keras. Melihat siapa yang datang, seluruh pasang mata yang semula memandang penasaran, langsung melengos. Mereka sudah tidak heran lagi melihat kedatangan makhluk ganteng satu itu. Walaupun tidak pernah ada kalimat 'Gue sama Ify udah jadian loh!' dan sejenisnya yang terucap dari bibirnya, teman-teman sekelas Ify cukup tahu bahwa di antara Gabriel dan Ify ada hubungan khusus. Hanya orang bodoh yang tidak bisa membaca sorot mata mereka ketika berhadapan.

Shilla bersiul di bangkunya. Diletakkannya cermin kecil yang semula dipegangnya ke dalam tas. Matanya berkilat menggoda menatap Ify dan Gabriel. "Jadi, pangeran mau menjemput putri, nih?"

Ify mencibir, sementara Gabriel terkekeh. "Tau aja lo, Shil," responnya, membuat Shilla memutar bola matanya.

"Okay, gue duluan ya, William, Kate," katanya sambil menyelempangkan tote bag di bahunya. "Good luck ya, Fy. May God with you!" Sebelum berlalu, Shilla mengedipkan sebelah matanya yang langsung dibalas pelototan galak dari Ify.

Gabriel menatap dua gadis itu bingung. "Ngomong apa sih, dia?" tanyanya pada Ify.

"Ceritanya sambil jalan aja," jawab Ify malas. Gabriel mengangkat sebelah alisnya, tapi tidak berkomentar apa-apa.

Di sepanjang koridor, Ify menceritakan kekesalan hatinya hari ini. Dia juga bercerita tentang sepupu yang sangat dihindarinya itu. Betapa dia sangat tidak suka dengan nada-nada meremehkan di setiap ucapannya, tatapan mengejek yang selalu ditunjukkannya, dan masih banyak lagi.

Tanggapan Gabriel justru sangat berbeda dari prediksi Ify sebelumnya. Dia pikir Gabriel akan menghiburnya dengan kata-kata indah yang menenangkan seperti biasa, tapi sekarang Gabriel malah tercenung di dekat pos satpam. Tatapannya menerawang jauh ke depan.

"Dia beneran sepupu lo, kan?" tanyanya tanpa menatap Ify sama sekali. Ify mengerutkan kening.

"Iya. Kok nanyanya gitu?"

Gabriel menghela napas dan menoleh ke arah Ify. Disentuhnya pipi gadisnya dengan lembut. "Cuma khawatir aja. Jangan-jangan dia calon tunangan lo." Gabriel tertawa di akhir kalimat. Ify melengos sambil berusaha menyembunyikan senyumnya.

"Hayo!! Pacaran mulu!!" Gabriel dan Ify tersentak kaget dan refleks langsung membalikkan badan. Sivia berdiri tepat di hadapan mereka dengan cengiran menawan yang khas. Ify memandang Sivia bingung.

"Hey!" sapa Sivia ramah. Ify tergagap dan langsung tersenyum kikuk. Ingin sekali dia mengubur dirinya dalam tanah di bawahnya. Kecantikan Sivia benar-benar membuatnya minder.

Sivia menatap Gabriel penuh arti sambil sesekali mengerling ke arah Ify. Gabriel langsung mengerti.

"Fy, ini Sivia, sahabat gue. Siv, ini Ify, cewek gue," kata Gabriel. Sivia tersenyum lebar. Ify juga tersenyum tetapi untuk alasan yang berbeda. Dia sangat tersanjung. Pasalnya, baru kali ini Gabriel mengenalkannya pada orang lain sebagai ceweknya.

"Sivia." Sivia mengulurkan tangan kanannya. Ify membalas uluran tangannya dan langsung mengumpat dalam hati. Sial! Tangan Sivia begiti halus! "Ify."

"Haah, akhirnya gue bisa kenalan sama lo! Bocah tengil satu ini pasti nggak bakal ngenalin lo ke gue kalau nggak gue yang minta!" kata Sivia sambil melirik Gabriel sengit. Gabriel langsung tertawa. Ify ikut terkekeh di sebelahnya.

Sivia melirik jam tangan kuning di tangannya, kemudian tampak menimbang-nimbang sejenak. "Gue rasa cukup dulu deh acara perkenalan hari ini. Gue duluan, ya, Gab! Fy!" pamit Sivia. Gabriel dan Ify kompak mengangguk. Sivia melambaikan tangan dan berlari menjauh. Ify menatap kepergian Sivia merana. Bahkan ketika berlaripun, langkah Sivia masih terlihat anggun.

"Dia cantik ya?" gumam Ify. Gabriel menoleh.

"Siapa?"

"Kak Sivia."

"Ya, dia memang cantik."

Ify menoleh cepat menatap Gabriel. Matanya membelalak lebar. Perasaan kaget, kesal, dan sedikit cemburu berkelebat di matanya. Melihat itu, Gabriel tersenyum.

"Dia memang cantik, gue akui itu." Mulut Ify langsung terbuka, tapi Gabriel meletakkan jari telunjuknya di bibir itu. "tapi buat gue, lo lebih cantik. Dan lo harus tau, lo nggak pernah hanya sekedar cantik," lanjutnya sukses membuat muka Ify merah padam. Tangannya menepis kedua tangan Gabriel di pipinya dan memalingkan wajah. Kelewat malu untuk menatap Gabriel. Gabriel sangat menikmati pemandangan di depannya. Rona merah wajah Ify terlihat sangat cantik, membuatnya tak ingin memalingkan wajah dari ukiran sempurna di depannya.

Beberapa detik kemudian, ekor mata Gabriel menangkap sebuah bayangan sebuah innova merah di dekat gerbang. Dia menatap mobil itu sekilas, dan lega mengetahui bahwa bukan Cakka yang duduk di belakang kemudi. "Tuh, udah dijemput," katanya sedikit tidak rela. Dia selalu berharap supir Ify terlambat menjemput majikannya, dan dia bisa bersama Ify lebih lama.

Sama seperti Gabriel, Ify mendesah kecewa dan menatap Gabriel untuk terakhir kalinya -setidaknya untuk hari ini. "Kakak hati-hati ya bawa motornya!" pesannya seperti biasa. Gabriel mengangguk simpul.

"See ya!"

"Bye!" Setelah saling melambai singkat, Ify berlari menuju mobilnya dan membuka pintu belakang.

*-*-*-*

Perjalanan menuju bandara sore itu terasa sangat lama. Selain karena memang jalanan yang macet, juga suasana hati Ify yang sedang tidak bagus membuat perjalanan yang hanya empat puluh menit itu terasa seperti berhari-hari.

Pak Pujo menurunkan Ify di depan bandara sementara beliau mencari parkiran. Ify langsung berjalan cepat menuju gerbang kedatangan dalam negeri. Tanpa repot-repot berdiri sambil memegang spanduk 'Selamat datang Rio' yang sudah disiapkan mamanya, dia langsung duduk di salah satu kursi tunggu. Masih 15 menit menuju pukul setengah 4 sore.

Akhirnya, pesawat dari Manado datang juga. Orang-orang di sekitar Ify mulai ramai, mungkin menyambut kedatangan anggota keluarga atau teman mereka. Ify berdiri dan menjulurkan kepalanya tinggi-tinggi. Dan, di sanalah dia! Di antara kerumunan orang-orang, wajah sepupunya itu menyembul. Cengiran jahilnya yang khas langsung menjatuhkan mood Ify.

Ify masih setengah cemberut ketika Rio sampai di hadapannya. "Halo, sepupu!" sapa Rio riang. Ify tersenyum masam.

Tatapannya tertumbuk pada dua koper besar Rio yang sudah diambilnya dari baggage claim dan tersenyum sinis. "Mau ke mana, Bang? Bawaanya sebanyak itu. Dih..kayak cewek, lo!" ledek Ify. Rio menyeringai.

"Kamu nggak tau kalau aku mau di sini 2 tahun?"

"Apa?!!"


bersambung..

*-*-*-*

tetotetotetoottt..part ini asli kacau banget! maaf mengecewakan. udah ngaret parah, kacau pula!

komen, kritik, dan saran bisa langsung di bawah ini atau via twitter (@dwidamn)


Gracias!

Rabu, 11 Mei 2011

Edward Cullen's Quotes

'I'm here, and I love you. I have always loved you, and I will always love you. I was thinking of you, seeing your face in my mind, every second that I was away.'

Only you could be more important than what I wanted...what I needed. What I want and need is to be with you, and I know I'll never be strong enough to leave again.’

Before you, Bella, my life was like a moonless night. Very dark, but there were stars--points of light and reason...And then you shot across my sky like a meteor. Suddenly everything was on fire; there was brilliancy, there was beauty. When you were gone, when the meteor had fallen over the horizon, everything went black. Nothing had changed, but my eyes were blinded by the light. I couldn't see the stars anymore. And there was no more reason for anything.

I’ll be back so soon you won’t have time to miss me. Look after my heart — I’ve left it with you.

You are the only one who has ever touched my heart. It will always be yours.

I’ll never forgive myself for leaving you. Not if I live a hundred thousand years.’

The outside world holds no interest for me without you.

If there were any way for me to become human for you — no matter what the price was, I would pay it.

We’ll go to Vegas — you can wear old jeans and we’ll go to the chapel with the drive-through window. I just want it to be official — that you belong to me and no one else.

All of my best nights have happened since I met you.

Isabella Swan? I promise to love you forever — every single day of forever. Will you marry me?

I love Edward Cullen not just because he’s hot and gorgeous, but also because he’s romantic, and never let someone he loves (in this case, Bella) get hurt. OOOHHHH


Selasa, 10 Mei 2011

Fight for Love - Part 6

Part 6: Berjuang Untuknya


Gabriel memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi. Tak peduli jeritan klakson dan makian dari pengguna jalan. Terbiasa melakukan offroad membuat Gabriel tidak terlalu kesulitan mencari celah-celah agar mobil besarnya bisa lewat.

Di sampingnya, Ify meremas-remas tangannya. Matanya menjelajah ke luar jendela, takut-takut dia melihat mobil papanya lagi.

Tadi, Gabriel sedikit terkejut ketika melihat Ify masuk kembali ke mobil padahal belum genap 3 menit dia keluar. Ify terlihat panik saat itu. Kata-kata berhamburan dari mulutnya. Gabriel agak kesulitan menangkap kata-kata dari mulut Ify, tapi dia cukup bisa membuat kesimpulan. Ify melihat mobil papanya! Tadi mobil papanya lewat persis di depannya. Seketika itu pula Gabriel langsung memacu mobilnya. Ify masih komat-kamit di sebelahnya. Mungkin berdoa semoga papanya tidak melihatnya tadi.

Setengah jam kemudian, Ify sudah berada dalam mobil Cakka. Sepuluh menit sebelum mobil Cakka datang, Ify sempat berhenti di rumah Shilla dan mengganti bajunya.

Entah hanya perasaan Ify saja atau bukan, tapi Ify merasakan sesuatu yang aneh pada kakaknya. Sedari tadi Cakka hanya diam, fokus pada jalanan di depannya. Rahangnya mengeras, dan jarinya mencengkeram stir kuat-kuat, seperti berusaha menahan amarah.

Ketika mobil Cakka sudah terparkir rapi di garasi, Ify langsung turun dan berjalan menuju pintu. Jantungnya berpacu seiring dengan ketegangan dalam dirinya yang semakin memuncak. Berbagai pertanyaan bersliweran di kepalanya. Bagaimana kalau Papanya melihatnya tadi? Bagaimana kalau Papanya tahu kalau dia pergi bersama Gabriel, alih-alih mengerjakan tugas di rumah Shilla? Bagaimana kalau keluarganya tahu dia berbohong selama ini?

"Assalamualaikum, Ify pulang!" seru Ify. Alangkah terkejutnya ia ketika melihat Papa dan Mama duduk berdampingan di ruang keluarga. Ekspresi mereka tak terbaca, membuat titik-titik peluh bermunculan di kening Ify.

Sekuat tenaga, Ify memaksakan senyum. "Malam, Ma, Pa," katanya berusaha menghilangkan getar dalam suaranya.

"Duduk!" perintah Papa tegas. Ify langsung pucat pasi.

"Papa bilang, duduk!" ulang Papa ketika dilihatnya Ify masih saja berdiri di tempatnya. Ify menghela napas perlahan. Tolong selamatkan hamba-Mu ini, Tuhan, doanya dalam hati.

Papa dan Mama menatap putrinya tajam. Di samping putrinya, Cakka duduk manis sambil memainkan kuku-kuku jarinya. Seakan tak peduli atmosfer yang mulai berubah.

Ify memperhatikan Papa dengan khawatir. Papa merogoh sakunya, dan mengeluarkan secarik kertas dari sana.

"Explain this!" perintah Papa lagi, jauh lebih tegas dari sebelumnya. Ify menelan ludah. Dia tahu kertas apa itu. Itu kertas ulangan kimianya dua hari lalu yang sengaja ia sembunyikan di laci meja belajarnya. Mengapa harus disembunyikan? Yeah, tak ada yang dibanggakan dari nilai 7, kan, kalau teman-temanmu mendapatkan nilai diatas 8?

Tapi dalam hati Ify merasa lega. Mama dan Papanya marah karena alasan lain. Berarti papanya tadi tidak melihatnya.

Ify mengambil kertas ulangan itu perlahan. Ditatapnya Mama dan Papa bergantian. Otaknya berputar cepat mencari alasan. "Waktu itu..mmm..Ify nggak tau kalo...mau ada..ulangan," kata Ify terbata.

"Kok bisa sampai nggak tahu? Mama kan udah pernah ngasih buku agenda buat Ify, untuk mencatat semua tugas, PR, dan jadwal ulangan," sangkal Mama tajam. Lagi-lagi Ify hanya bisa menelan ludah.

"Buku agendanya...hilang, Ma," dustanya. Hanya ini yang bisa ia lakukan. Berbohong. Walaupun dalam hati dia merutuki apa yang baru saja dia lakukan.

*-*-*-*

Keadaan rumah bergaya minimalis itu masih sama seperti beberapa jam yang lalu ketika ia menginggalkannya. Belum ada satu lampu pun yang menyala. Ia melongok ke garasi. Mobil mamanya belum terlihat.

Gabriel mendesah pelan, membuka pintu depan, menyalakan lampu taman, lampu teras, dan lampu ruang tamu. Dengan gontai dia melangkah menuju dapur. Matanya tertuju pada sebuah kertas post it kecil di pintu kulkas. Tangannya langsung meraih kertas itu.

I'll come home late. Make your own dinner. Bi Minah libur 3 hari.

Love,

Mama

Gabriel membuang kertas itu begitu saja di tempat sampah. Ia mulai menggeledah isi kulkas, mencari sesuatu yang bisa dimakan. Dia belum sempat makan malam karena Ify keburu panik melihat mobil papanya.

"Hhhh.." Gabriel mendesah lagi. Entah untuk yang keberapa kali. Pikirannya mulai berkelana. Andai saja Ify tidak melihat mobil papanya, andai saja orang tua Ify tidak mengekang Ify, andai saja kakak Ify tidak menjemputnya tadi, andai saja...aahhh lupakan! Bukankah dia sudah berjanji bahwa dia tidak akan menyerah begitu saja? Bukankah dia sudah berjanji pada gadis itu bahwa tidak ada yang dapat memisahkan mereka, bahkan orang tua Ify?

Baru saja Gabriel akan menyalakan kompor, tiba-tiba terdengar suara mobil mamanya di luar. Gabriel mengurungkan niat untuk memasak dan memilih untuk menunggu mamanya di ruang tamu.

"Gabriel..." kata Mamanya di ambang pintu. Gabriel langsung bangkit dan menyambut mamanya.

"How's work? Mama capek ya?"

Mama tersenyum dan mengecup pipi kiri putra tunggalnya sekilas. Entah kenapa rasa pening di kepalanya akibat tumpukan pekerjaan di kantor lenyap begitu saja melihat Gabriel ada di rumah dan menyambutnya.

"Papa belum telepon?" tanya Mama sambil berjalan menuju ruang keluarga. Gabriel mengekor di belakang. Mama melepaskan stiletto nya dan menyandarkan kepalanya di sofa. Gabriel menatap mamanya iba. Pasti Mama capek sekali.

"Mama mau teh hangat?"

Mama menggeleng. "Nggak usah. Mama baru saja minum kopi. Papa udah telepon?" diulangnya kembali pertanyaannya tadi.

"Belum, Ma. Gabriel juga baru aja pulang," jawab Gabriel.

"Dari mana?" tanya Mama menyelidik. Gabriel menggosok-gosok tengkuknya dengan kikuk.

Mama tersenyum geli melihat putranya salah tingkah begitu. Dia bahkan sudah mendapatkan jawabannya lewat pipi Gabriel yang sedikit memerah.

"Kapan kamu mau ngenalin dia ke Mama?"

"Dia siapa?"

"Your girl, siapa lagi?" Lagi-lagi Gabriel dibuat salah tingkah oleh pertanyaan mamanya. Mama menatap Gabriel dengan sayang. Ternyata putranya sudah dewasa sekarang.

"Pesan mama, if you really love this lucky girl," Mama mengelus rambut Gabriel lembut, sebelum kembali melanjutkan, "don't ever let her go. Perjuangkan dia," kata Mama. Gabriel terpana mendengar perkataan mamanya. Perkataan mamanya barusan, seakan mama mengerti apa yang sedang Gabriel hadapi saat ini.

"Kamu mau dengar cerita mama?" Gabriel mengangguk.

"Dulu, ketika mama masih kuliah -waktu itu mama belum bertemu papa kamu- mama pernah punya pacar. Mama cinta sekali sama pacar mama itu. Dia dewasa, baik, dan sangat mengerti mama." Mama tersenyum di akhir kalimatnya. Tatapan matanya sedikit menerawang, mengenang masa mudanya kala itu.

"Kami berdua saling mencintai, dan berencana akan menikah begitu kami lulus kuliah. Pacar mama itu seorang pelukis sejak SMA dan selalu dibayar mahal atas lukisan-lukisannya yang luar biasa bagus, jadi kami tidak begitu khawatir memikirkan uang untuk menghidupi keluarga kami kelak.

"Tapi, rencana tinggal rencana. Beberapa bulan sebelum wisuda, nenek dan kakek kamu mengenalkan papamu pada mama. Waktu itu mama nggak tahu apa maksud mereka, tapi beberapa minggu setelah perkenalan itu, mama tahu. Nenek dan kakek kamu berniat menjodohkan papamu dengan mama. Jelas saja waktu itu mama menolak, kan mama sudah punya pacar. Nenek dan kakekmu juga sudah tau itu. Tapi mereka malah memaksa mama meninggalkan pacar mama dan segera menikah dengan papamu. Mereka mengancam mama, kalau sampai mama tidak mau, mereka akan mencoret mama dari silsilah keluarga. Mama sedih sekali waktu itu. Mama mendatangi pacar mama dan menangis di depannya. Mama ceritakan semuanya. Dan, Gabriel tahu, apa yang waktu itu pacar mama katakan?" Gabriel menggeleng.

"Katanya, mama harus menuruti kemauan orang tua mama. 'Orang tuamu sudah mengenal kamu seumur hidupmu, sedangkan aku? Aku tidak ada apa-apanya dibandingkan orang tuamu.' begitu katanya. Mama langsung menangis makin keras. Padahal, kalau pacar mama mau memperjuangkan mama, mama rela namanya dicoret dari silsilah keluarga. Mama rela tidak dianggap anak lagi oleh nenek dan kakek kamu. Tapi ternyata pacar mama malah menyerah begitu saja. Dia nggak mau memperjuangkan mama, Gabriel!" nada suara mama sarat emosi. Dadanya naik turun. Matanya mulai berkaca-kaca.

"Jadi, mama menikah sama papa karena terpaksa?" tanya Gabriel lirih, masih sedikit terguncang oleh cerita mamanya. Mama mengelus puncak kepala Gabriel.

"Apalagi yang bisa mama lakukan kalau orang yang mama cintai nggak mau memperjuangkan mama?"

"Mama cinta sama papa?" Mama sedikit terkejut mendengar pertanyaan Gabriel.

"Mama nggak tahu, Gabriel. Selama ini mama sudah berusaha mencintai papa kamu, tapi perasaan mama untuk pacar mama dulu masih begitu kuat. Kamu tahu kenapa mama dan papa sibuk sekali di kantor?" Gabriel menggeleng bingung.

"Karena hanya itu satu-satunya cara bagi kami untuk menghilangkan kejanggalan perasaan kami. Ternyata papa kamu juga dipaksa orang tuanya untuk menikah, nggak jauh beda sama mama. Jadi, bisa dibayangkan, kan, gimana perasaan kami?" Gabriel menatap mamanya takjub. Ternyata selama ini kedua orang tuanya menyimpan sebuah luka tersendiri, dan mereka masih berusaha terlihat kuat di hadapannya.

"Apakah mama dan papa bahagia dengan pernikahan kalian?"

"Apakah Gabriel bahagia?" Mama balik bertanya. Hati Gabriel mencelos. Papa dan Mamanya bertahan hingga saat ini karena dirinya. Mereka terlihat bahagia karena dia bahagia. Kebahagiaannya adalah kebahagiaan orang tuanya juga. Semua karenanya. Karena Gabriel. Dan demi Gabriel.

"Jadi, seperti kata mama tadi, jangan pernah biarkan orang yang kamu sayang pergi begitu saja. Perjuangkan dia. Walaupun seandainya pada akhirnya kamu nggak berhasil, kamu nggak akan menyesal, karena kamu pernah mencoba," ujar mama bijak. Gabriel tersenyum. Ya, dia akan berjuang. Berjuang untuk satu-satunya perempuan yang dia cintai. Berjuang untuk Ify.

*-*-*-*

Kelas masih sepi pagi itu. Hanya ada beberapa gelintir siswa yang memang selalu datang pagi di sana. Ify duduk di bangkunya sambil komat-kamit menghafalkan rumus. 25 menit lagi dia ulangan kimia, dan masih banyak rumus yang belum dihafalnya. Dia harus serius belajar agar tidak diomelin Papa dan Mama lagi. Males banget deh kalau harus dengerin omelan panjang Mama. Apalagi Papa, baahhh omelannya nggak ada ujungnya deh!

Konsentrasinya buyar oleh suara gaduh di depan kelas. Shilla datang.

"Ipyyy semalem gue nungguin telepon lo! Cerita dong soal first date looooo!!" Ify memutar kedua bola matanya melihat tingkah heboh sahabatnya ini.

Shilla melempar begitu saja tasnya di meja dan duduk menyamping menghadap Ify. "Gimana kemarin??" tanyanya antusias. Ify pun menceritakan kencan pertamanya dengan Gabriel. Shilla mendengarkan sepenuh hati.

"Waaahh Kak Gabriel romantis banget sih!" kata Shilla. Ify tersenyum bangga.

"Iya dong! Cowok siapa dulu!"

BUKK

Buku kimia Ify mendarat dengan sukses di kepalanya. "Kampret lo!" sungut Ify sambil mengelus kepalanya.

"Eh tapi gimana, bokap lo tau nggak?" Shilla bertanya tanpa memedulikan makian Ify.

Ify mendengus. "Tau sih enggak. Tapi gue diomelin semalaman gara-gara ulangan kimia kemarin! Gila deh punggung gue mau patah rasanya!"

"Ulangan kimia kemarin bukannya lo dapet 74 ya? Gitu diomelin? Lah gimana gue yang cuma dapet 40?" protes Shilla. Bagi Shilla, mendapatkan nilai 65 pada ulangan kimia sudah merupakan anugerah terbesar dalam hidup.

"Yee! Bagi bonyok gue, nilai bagus ya 100! Atau paling nggak 90 deh!" Shilla menggelengkan kepalanya. Nilai 90? Kayaknya dia harus puasa 40 hari penuh ditambah semedi 1 bulan untuk mendapatkan nilai itu.

Shilla mengaduk-aduk tasnya untuk mengambil bedak yang selalu dibawanya ke mana-mana, sementara Ify kembali komat-kamit menghafalkan rumus-rumus kimia. Sepuluh menit kemudian, bel masuk pun berdering.

*-*-*-*

Seperti hari-hari biasa, kantin sangat ramai di saat jam istirahat pertama. Ify dan Shilla berdesak-desakan di kantin, berjuang dengan sekuat tenaga untuk memesan bakso dan segelas es jeruk. Akhirnya, setelah diwarnai aksi anarkis -sikut sana sikut sini, injak sana injak sini, dorong sana dorong sini- mereka berhasil mendapatkan pesanan yang mereka inginkan. Mereka duduk di salah satu bangku panjang di sudut kantin.

Bakso mereka belum tandas ketika tiba-tiba ponsel Shilla menjeritkan ringtone. Shilla merogoh sakunya dan meraih benda kecil kesayangannya. Dahinya berkerut melihat layar ponselnya.

"Kenapa?" tanya Ify penasaran. Shilla mendesah dan meletakkan ponselnya begitu saja di meja.

"Riko minta ketemuan lagi," katanya. Ify memandang Shilla prihatin. Riko adalah salah satu dari sekian banyak mantan pacar Shilla yang masih sering menghubunginya, kebanyakan sih minta balik.

"Lo sendiri gimana? Mau?" Shilla mengangkat bahu dan memainkan bakso terakhir di mangkoknya.

"Nggak tau deh. Sebenernya sih males banget gue. Tapi yaaa.." Shilla menggantungkan ucapannya. "Eh, entar bolos Jerman, yuk. Sumpah gue males banget ketemu Bu Selvi."

Ify langsung menggeleng keras. "Nggak! Bisa dimarahin nyokap, gue!"

Shilla tak tahan untuk tidak memutar bola matanya. "Taelah, Fy, cuma satu jam doang!" bujuk Shilla, walaupun dia tahu bujukannya ini sia-sia.

Lagi-lagi Ify menggeleng. "Nggak! Mama sering nelepon wali kelas kita untuk memantau gue di sekolah. Nggak bisa bayangin gimana reaksi mama kalo dia tahu gue madol!" Ify bergidik. Membayangkannya saja dia sudah ngeri.

"Cupu banget sih, lo!" ledek Shilla setengah jengkel. Habis, Ify ini susah sekali diajak bolos. Ify menjulurkan lidahnya, tapi sama sekali tidak menanggapi.

"Ify!!" suara bariton yang sangat dikenal Ify terdengar sampai mejanya. Ify menoleh dan mendapati Gabriel sedang berjalan ke arah mejanya. Shilla tersenyum geli.

"And here comes the prince charming.." katanya. Ify tersipu dan memukul pelan bahu Shilla, membuat tawa Shilla yang sudah ditahannya meledak.

*-*-*-*

Dalam keramaian jalanan siang itu, Cakka melajukan mobilnya pelan-pelan, mengikuti sebuah Innova merah di depannya. Matanya berusaha berkonsentrasi, tak ingin kehilangan mobil itu, meski dia tahu akan ke mana mobil itu melaju.

Ketika akhirnya mobil itu berhenti tepat di depan gerbang SMA Persada, Cakka ikut menghentikan mobilnya beberapa meter di belakang mobil itu. Dari sini, ia bisa melihat Ify masuk ke mobil itu, meninggalkan seorang cowok yang sedang melambai ke arahnya. Itu pasti Gabriel, batinnya.

Setelah mobil itu membawa adiknya pergi, tak ingin buang waktu, Cakka ikut melajukan mobilnya. Dia berhenti tepat di depan sebuah motor hitam. Sang pengendara motor melepas kembali helm nya melihat mobil yang menghalangi jalannya. Cakka menghampiri Gabriel yang masih terbengong di tempatnya.

"Gue Cakka," kata Cakka datar padanya. Gabriel langsung tersadar.

"Gue Gabriel. Ada apa, ya?" tanyanya bingung. Tapi, tunggu! Dia bilang dia siapa? Cakka? Bukankah Ify pernah cerita kalau dia punya kakak namanya Cakka? Jadi...

"Gue kakaknya Ify," ujarnya. Tuh kan! Gabriel mengangguk saja.

"Ada perlu apa?"

Cakka memandang Gabriel dingin. Dia bersandar di kap mobilnya dengan tangan terlipat di depan dada. "Tolong, jangan bikin adek gue jadi pembohong."

Gabriel tersentak. "Maksud lo?"

"I know what's going on with you and her." Gabriel baru akan menyela ketika Cakka melanjutkan. "Gue juga tahu dia sering bohong sama bonyok gara-gara ini. Pernah nggak sih lo pikirin sekali aja, gimana reaksi bonyok gue kalo tahu anaknya ternyata tukang bohong?"

Cakka sama sekali tidak bisa menyembunyikan nada tajam dan sinis di suaranya. Bodo amat dengan status cowok di depannya ini!

"Jadi lo mau gue putus sama Ify?" tanya Gabriel yang mulai mengerti arah pembicaraan ini. Tangannya mengepal tanpa sadar.

"Ternyata lo lebih pintar dari yang gue duga," kata Cakka santai. Gabriel tertawa sinis.

"Sorry bro, bukannya gue nggak ngehargain elo, tapi gue cinta sama adek lo. Dan gue nggak akan nyerah begitu aja!"

Gantian Cakka yang tertawa sinis. "Telen tuh cinta! Gue nggak mau adek gue jadi pembohong!"

Gabriel memakai helmnya dan menyalakan motornya. Sebelum pergi, dia berkata pada Cakka yang masih berdiri di tempatnya, "Itu sih terserah elo. Yang penting gue cinta dia, dan gue akan tetap mempertahankan dan memperjuangkan dia. Gue duluan."

Cakka menatap motor hitam itu dengan geram. Ditendangnya ban mobilnya sebagai pelampiasan rasa kesalnya. Dasar cowok brengsek! Makinya dalam hati.

*-*-*-*

You look in my eyes

and I get emotional inside

I know it's crazy

but you still can touch my heart

Lagu I Still Believe milik Mariah Carey mengalun lembut, membuat suasana cafe sore itu semakin romantis. Tapi, tampaknya lagu itu tak banyak mendatangkan perubahan pada suasana hati Cakka yang memburuk karena kejadian tadi siang.

Tangannya mengaduk-aduk iced cappuccinonya keras-keras, menimbulkan bunyi dentang berisik. Tapi toh dia tak peduli. Dia masih terlalu kesal dengan pacar adiknya itu. Cowok kurang ajar! Nggak tau malu! Makinya dalam hati.

Suasana romantis itu rusak begitu saja oleh suara keras cewek yang duduk di pojok cafe.

"Gue udah bilang, kan, gue nggak mau balik sama lo!" teriak cewek itu kencang, membuat semua pengunjung cafe menoleh ke arahnya. Cewek itu berdiri di depan cowok yang nampak shocked.

Cakka menatap cewek itu lekat-lekat. Sepertinya dia mengenalinya. Tapi siapa ya?

Entah apa yang dikatakan cowok itu, cewek itu kembali berteriak. "Nggak sudi!"

Dan "pyuurr" segelas cairan merah milik cewek itu membasahi kepala dan sebagian tubuh cowok itu.

Cewek tadi berlari menuju pintu, melewati meja Cakka. Cakka tertegun melihat siapa yang baru saja berlari melewatinya.

"Shilla?"


bersambung...

*-*-*-*

Doeng!! yaa begitulah saudara-saudara, part 6 kali ini! oh iya sebenernya kalo setiap part full ify-gabriel terus ngebosenin nggak? kalo iya, insyaallah part 7 ada tokoh lain juga deh hehehehe.

okay, that's it! (ini bikinnya rada cepet soalnya banyak yang mendesak dan saya sangat senang sekali banget banget banget banget)

komen, kritik, dan saran bisa langsung di sini atau lewat twitter (@dwidamn)


Gracias :)