Selasa, 28 Juni 2011

Fight for Love - Part 9

Part 9: Setitik Cahaya di Pagi yang Mendung

Kalau saja Ify mempunyai daftar malam terburuk sepanjang hidupnya, mungkin malam ini bakal langsung menduduki peringkat pertama. Bagaimana tidak? Rahasianya selama ini terbongkar, dan dia harus menghadapi kemurkaan keluarganya.

Seluruh anggota keluarga berkumpul, termasuk Cakka dan Rio, untuk mengadili Ify. Ketegangan di ruangan itu begitu terasa, membuat Ify mengkeret di tempatnya. Dia tak berani menatap sorot kemarahan dalam mata Papa dan Mamanya. Air matanya masih mengalir deras. Masih melekat di pikirannya, ketika Papa menampar Gabriel, dan sedikit kilatan kesedihan dalam mata kekasihnya itu.

"Jadi selama ini kamu membohongi Papa dan Mama?" Papa tidak mengucapkan kalimatnya dengan nada tinggi, namun nada yang digunakannya -rendah dan dingin- mampu membuat bulu kuduk Ify meremang. Dia menggigit bibir kuat-kuat, mencoba mengumpulkan keberanian.

"Maaf, Pa," jawab Ify lemah. Satu tetes air mata meluncur di pipinya lagi. Cakka langsung memalingkan wajah melihat air mata itu.

Papa menarik napas dalam-dalam sebelum melanjutkan. "Sudah berapa lama kamu...berhubungan dengan laki-laki itu?"

"Hampir satu bulan..."

Kalau saja tatapan mata bisa membunuh, Ify pasti sudah mati. Tatapan tajam ketiga pasang mata itu -Rio yang tidak tahu apa-apa hanya menatap Ify datar, jadi itu tidak dihitung- seakan mampu menembus ke dalam jiwanya.

"Kamu nggak boleh berhubungan lagi dengan dia," ujar Papa dengan nada final, tak terbantah.

Ingin rasanya Ify melawan. Mengatakan pada semua orang bahwa dia lelah dengan kehidupannya selama ini. Dia ingin menjalani sesuatu yang baru, sesuatu yang teman-temannya biasa lakukan. Dia ingin terbebas dari semua kekangan ini, ingin sekali saja memiliki hidup yang lebih berwarna. Tapi dia tahu, melawan Papa sama saja dengan bunuh diri dalam artian sesungguhnya.

"Ma, besok carikan program home school terbaik untuk anakmu ini." Hanya satu perintah yang diucapkan dengan sangat ringan, namun mampu mengoyak ketenangan Ify.

"Pa, Ify mohon jangan, Pa. Ify nggak mau." Ditatapnya Papa dengan sangat memelas. Lagi-lagi air mata meluncur di pipinya, namun air mata dan sorot kesedihan itu tak mampu menggoyahkan Papa. Mama menatap Ify khawatir, sedikit tidak tega melihat Ify seperti itu.

"Cakka? Kira-kira sekolah yang levelnya seperti Persada sekolah apa ya?" Papa ganti bertanya pada Cakka. Cakka tersentak, begitu pula Ify. Ify langsung menghampiri Papa dan berlutut di hadapannya. Digenggamnya kedua tangan Papa erat-erat.

"Papa, Ify nggak mau pindah sekolah. Ify nggak mau...." Isakan tangis mengiringi setiap kata yang diucapkan gadis itu.

"Atau sebaiknya kamu Papa titipkan pada Nenek di Bali? Hmm..sepertinya ide yang sangat bagus."

"Papa..." tegur Mama lirih. Ify semakin terisak. Dibenamkannya seluruh wajahnya di paha papanya.

"Maafkan Ify, Pa. Maaf...."

"Itulah konsekuensi yang harus kamu tanggung ketika memutuskan untuk berbohong, Ify!" ucap Papa keras. Isakan Ify makin lirih terdengar, namun kedua bahu kecil itu masih terguncang.

"Maaf, Papa. Maafkan Ify. Ify tahu Ify salah. Maaf.." Entah sudah berapa kali Ify mengucapkan kata sakti itu. Kali ini Mama ikut menangis. Dengan lembut ditariknya bahu anak gadisnya, dan membawa Ify untuk duduk di dekatnya. Ify langsung memeluk Mama, membenamkan wajah pada tubuh lembut Mama, menumpahkan semua tangisnya di sana. Lagi-lagi Cakka harus mengalihkan pandangan. Melihat kedua wanita penting dalam hidupnya menangis seperti ini, mau tak mau membuat torehan kecil pada hatinya.

"Ssssh..sudah, sudah," ujar Mama pelan sambil mengusap-usap rambut Ify dengan lembut. Dikecupnya puncak kepala Ify berkali-kali.

"Maafin Ify, Ma."

"Iya, iya, Mama maafin. Sudah, sudah, shh.." lagi-lagi Mama berusaha menenangkan Ify yang terisak dalam pelukannya.

Papa hanya menatap datar pada pemandangan di depannya. Beliau bangkit tanpa menatap Ify dan Mama lagi. "Rio, Om sudah urus semua kepindahan kamu. Mulai besok kamu bisa sekolah di Persada. Dan mungkin kamu harus menjaga sepupumu itu. Jangan biarkan dia melakukan kesalahannya lagi." Setelah mengucapkan itu, Papa langsung berjalan menuju kamarnya dan menutup pintu. Memang Papa kecewa dengan kebohongan Ify, tapi Papa tidak mau bertindak lebih jauh lagi. Bagaimana pun, Ify adalah anaknya.

Ify melepas pelukannya dan menatap Mama tak percaya. "Ma? Papa..."

"Iya, Sayang," Mama menjawab pertanyaan tak terucap Ify. Ify tersenyum kecil dan kembali memeluk mamanya dengan erat. Dia berjanji tidak akan menyia-nyiakan kesempatan kedua yang diberikan papanya. Untuk masalahnya dengan Gabriel.....lebih baik dipikirkan nanti.

*-*-*-*

Derum motor menjadi satu-satunya suara di sebuah arena balapan liar malam itu. Gabriel memainkan gas dengan tangan kanannya. Tatapannya lurus ke depan. Di sampingnya, Alvin melakukan hal yang sama, namun keningnya sedikit berkerut, heran dengan keinginan Gabriel yang begitu tiba-tiba.

Alvin sedang menonton TV dengan santai ketika Gabriel meneleponnya. Suara Gabriel sore tadi membuat alisnya menyatu.

"Vin, ke arena, sekarang. Ajak yang lain!"

Kemudian, tanpa menunggu jawaban dari cowok bermata sipit itu, Gabriel langsung mengakhiri panggilan.

Setelah instruksi singkat dari Gabriel, Alvin langsung menelepon seluruh teman-temannya, termasuk Sivia. Dia yakin, peran Sivia nanti sangatlah dibutuhkan.

Bukan hanya kali ini saja Gabriel tiba-tiba mengajaknya adu balap. Dan biasanya, ajakan itu datang ketika sahabatnya ini sedang terguncang dan butuh ketenangan. Alvin hanya bisa menuruti kemauan Gabriel itu, karena dia tahu itulah satu-satunya cara agar sahabatnya ini merasa lebih baik.

Sivia yang bertindak sebagai gadis pembawa bendera malam ini sudah bersiap di tempatnya, siap memberi aba-aba.

"Ready? Set....Go!!"

Setelah lambaian bendera yang dipegangnya, Gabriel, Alvin, dan 2 teman yang lain langsung melajukan motornya dengan kecepatan penuh. Keempat motor sport itu meliuk-liuk di jalanan sepi, saling mendahului satu sama lain. Sivia dan beberapa teman yang tersisa langsung menuju garis finish melalui jalan yang berbeda dari lintasan.

Raungan motor sport yang melaju kencang bahkan tak bisa memecahkan konsentrasi Gabriel pada jalanan di depannya. Matanya fokus, menatap lurus-lurus ke depan, sementara dia meningkatkan kewaspadannya. Pada lawannya, dan pada tikungan-tikungan tajam yang dilewati.

Sementara itu, Alvin yang berada di posisi kedua, tepat di belakang Gabriel, mencoba menyusul dengan trik-trik balap yang dipelajarinya. Dua temannya juga menempel rapat pada kedua sisinya, tak ingin kalah begitu saja.

Keempat motor itu terus melaju dan saling mendahului. Di tikungan terakhir, Alvin berhasil menemukan celah untuk mendahuli Gabriel.

Tetapi, beberapa meter dari garis finish, Gabriel melejit melewatinya dan...

"Ciiiiitt!!" Motor sport itu berhenti mendadak, bodi belakangnya sedikit terangkat. Beberapa detik kemudian, disusul motor Alvin, baru kedua temannya yang lain.

Semua bersorak menyambut kemenangan Gabriel. Gabriel sendiri, setelah melepaskan helmnya, hanya tersenyum tipis dan menghampiri Sivia yang berdiri tak jauh darinya. Sivia melipat tangan di depan dada dengan kening berkerut. Darah kering yang membekas di ujung bibir Gabriel jelas menarik perhatiannnya.

"Lo kenapa?" Dari ribuan pertanyaan akan sahabatnya yang terlihat kacau malam ini, hanya itu yang bisa dia ungkapkan.

Gabriel mengacak-acak rambutnya, kakinya menendang-nendang aspal. Terlihat begitu frustasi. Alvin yang menghampiri tak lama kemudian, ikut heran melihat kondisi Gabriel. Baru tadi pagi Gabriel dengan semangat dan berseri-seri menceritakan rencananya untuk membolos bersama cewek kelas 11 yang tidak dikenal Alvin. Tapi, belum ada 24 jam, Gabriel sudah berubah kacau begini.

Alvin dan Sivia untungnya cukup sabar menunggu Gabriel menghela napas panjang berkali-kali, mengacak-acak rambut tiga kali dalam satu menit, hanya untuk mendengar satu atau dua kata keluar dari mulut Gabriel.

Gabriel menatap kedua teman dekatnya itu lekat-lekat. Terlihat sedikit menilai, sebelum akhirnya satu kalimat terluncur dari mulutnya. "Mulai besok, elo berdua harus bantu gue."

*-*-*-*

Cakka berdiri tercenung di depan pintu kamar adiknya, tampak ragu-ragu. Tangannya berkali-kali diulurkan ke handle pintu, namun langsung ditariknya kembali. Akhirnya, setelah berdebat cukup lama dengan dirinya sendiri, Cakka memutar handle pintu dan melongokkan kepalanya ke dalam.

Ia meringis sedih melihat pemandangan pertama yang menyambutnya. Adiknya duduk meringkuk di samping tempat tidur, memeluk lututnya sendiri. "Ify.." panggilnya lirih.

Ify menoleh untuk menatap Cakka. Tapi tak lama, karena setelah itu ia kembali memalingkan wajah. Perlahan, Cakka menghampiri Ify, dan ia pun ikut duduk di sebelahnya. Tak ada yang berbicara selama beberapa menit. Kesunyian benar-benar memeluk mereka, membiarkan dua kakak beradik itu tenggelam dalam dunia mereka sendiri.

"Papa bisa bertindak lebih kejam dari itu. Lo tau?" Akhirnya Cakka membuka suara. Ify tidak merespon.

"Dan mungkin...gue nggak bakal sepenuhnya nyalahin papa kalo beliau nyuruh lo pindah," lanjut Cakka. Ify menoleh cepat dan menatap Cakka geram.

"Bisa nggak, sih, elo belain gue? Lo nggak tau, kan, perasaan gue gimana?!"

"Kenapa gue harus belain elo? Jelas-jelas elo yang salah di sini! Masih kurang jelas?!" Entah mengapa Cakka yang semula ingin menenangkan adiknya, melaksanakan tugasnya sebagai kakak yang baik, mendadak ikut terpancing emosinya mendengar kata-kata Ify.

Mereka bertatapan geram selama beberapa detik, barulah Ify memalingkan wajahnya. "Gue lagi nggak pengen berantem sama lo. Tolong biarin gue sendiri dulu."

Cakka terlihat tidak setuju, tapi..mau bagaimana lagi? Dia juga sama sekali tidak berniat untuk mengajak Ify adu mulut. "Oke," katanya pelan dan langsung keluar dari kamar Ify, meninggalkan adiknya yang masih meringkuk di dekat tempat tidur.

*-*-*-*

Dinginnya udara pagi itu tak sedikitpun mampu menghentikan langkah panjang Gabriel di jalanan perumahan yang lengang. Tangan kanannya ia surukkan ke dalam saku jaket, sedangkan tangannya yang lain menenteng sebuah tas kresek putih. Sesekali kepalanya berputar, mengecek kalau saja ada orang yang melihatnya. Tapi, sepertinya itu tidak mungkin. Jam masih menunjukkan pukul 5.30 dan penduduk di perumahan itu masih melakukan aktivitas di dalam rumah mereka. 18..19..20..Nah! Ini dia! Rumah nomor 21 yang baru kemarin ia datangi. Rumah bercat hijau muda dengan gerbang tinggi di depannya. Dengan cekatan, Gabriel menggantungkan tas kresek itu pada salah satu tiang besi yang menyusun pagar tinggi itu. Setelah yakin barang dalam kresek itu tak akan jatuh, Gabriel tersenyum puas dan berlari menuju gapura perumahan, tempatnya memarkirkan motornya tadi. Mission completed!

*-*-*-*

Suasana memang belum membaik. Dan mungkin tidak akan membaik untuk saat ini. Papa dan mama terlanjur kecewa. Ify memang termaafkan, tapi kesalahan kecil yang berujung besar itu tidak bisa dilupakan begitu saja.

Denting sendok dan garpu yang beradu dengan piring menjadi satu-satunya suara di ruang makan pagi ini. Tak ada satupun yang berniat membuka suara, tidak setelah apa yang terjadi semalam.

Ify hanya memainkan nasi goreng di depannya. Sama sekali tidak berniat untuk menyantap apalagi menghabiskan. Untuk mencegah kejadian pingsan yang memalukan seperti waktu itu, ia pun menandaskan satu gelas besar susunya.

"Ify berangkat dulu, Pa, Ma. Takut telat," ujar Ify pelan. Rio ikut bangkit. "Rio juga, Tante, Om."

Keduanya mencium punggung tangan papa dan mama sebelum keluar rumah. Ify sempat melirik Cakka yang dari tadi memerhatikannya.

Pak Pujo baru akan membuka gerbang ketika sebuah kresek putih menarik perhatiannya. Perlahan, diambilnya kresek itu. Matanya sedikit membeliak melihat barang yang ada di dalamnya. Siapa yang menaruh ini di sini?

"Ada apa, Pak?" tanya Ify penasaran melihat supirnya itu tercenung di dekat pagar.

Pak Pujo terkesiap dan tersenyum canggung. "Ini, Non, ada yang naruh kotak bekal di sini."

Alis Ify menyatu. Kotak bekal? Siapa yang menaruh kotak bekal di depan rumahnya? "Mana coba saya lihat."

Pria yang lebih tua beberapa tahun dari papa itu langsung menyerahkan kotak bekal dalam tas kresek putih misterius itu. Ify mengeluarkannya dari kresek, dan berniat membukanya tepat ketika selembar kertas terjatuh di depannya. Ia memungut kertas itu dan membacanya dalam hati.

Bekal sederhana untuk matahariku :)

-Gabriel-

Jantung Ify serasa berhenti berdetak. Perasaan hangat langsung menjalari tubuhnya, melemaskan seluruh tulang dan persendiannya. Tidak mungkin! Benarkah Gabriel yang mengirimi bekal padanya? Oh my..

"Kenapa belum berangkat?" Suara berat papa membuyarkan fantasinya. Reflek, tangannya langsung membawa kotak bekal beserta suratnya ke balik tubuhnya, sebisa mungkin menyembunyikannya dari papa.

"Ada apa di balik badan kamu?" tanya papa heran sekaligus curiga. Ify menggosok-gosok tengkuknya, kebiasaan kalau dia sedang salah tingkah. "Aaahh..bukan apa-apa kok, Pa," jawabnya gugup.

Jelas ada apa-apa. Bahkan orang paling bodoh di dunia pun langsung tahu kalau Ify sedang menyembunyikan sesuatu. "Jangan coba-coba menyembunyikan sesuatu lagi dari papa, Ify." Nada suara papa membuat Ify meringis. Sarat kekecewaan.

Tak ingin mendengar nada kekecewaan yang semakin membuatnya merasa bersalah, Ify pun menyerahkan kotak bekal itu beserta suratnya. Papa sempat mengernyit bingung menerima benda itu. Tetapi, sesaat kemudian ekspresinya langsung tak terbaca, tepat setelah papa membaca surat itu.

"Jadi ini dari...anak laki-laki itu? Siapa namanya? Gabriel?" tanya papa dingin. Diliriknya Rio yang berdiri mematung di samping mobil. "Rio, tolong buang benda ini ke tempat sampah."

Ify langsung terkesiap. Tidak! Ini tidak boleh terjadi! "Pa, Ify mohon jangan dibuang. Papa kan selalu mengajarkan pada Ify untuk tidak membuang-buang makanan."

Skak mat! Papa tak bisa berkutik lagi. Setengah kesal, dikembalikannya kotak bekal itu pada Ify. "Kalau begitu, biar Papa yang membuang suratnya. Kamu nggak mau makan kertas, kan?"

Kalau bisa, Ify akan mencegah papa. Surat itu dari Gabriel, dan sudah jelas ditulis juga olehnya. Dan Ify bahkan bisa merasakan ketulusan cowok itu di setiap kata yang menyusunnya. Sayang sekali kalau harus dibuang...

Ify hanya bisa memandang sedih kertas yang sekarang tergeletak tak berdaya di tempat sampah. Kertas itu dari Gabriel, satu-satunya cowok yang bisa mencuri hatinya. Cowok yang dengan mudahnya membuatnya jatuh cinta hanya dalam beberapa hari. Cowok yang membuatnya jungkir balik saking senangnya ketika dia mengirimi sms atau menelepon. Dan cowok yang berani menghadap papa, mengaku dengan jantan bahwa dia pacarnya, dan akan mencintainya sampai kapanpun.

*-*-*-*

Melihat sahabatnya tersenyum lebar di bangkunya, Alvin yakin, misi Gabriel berhasil kali ini.

"Gimana?" tanya Alvin langsung. Tau kalau yang dimaksud adalah misi tadi pagi, Gabriel langsung mengacungkan kedua jempolnya.

"Oke banget deh!" Alvin sedikit bergidik melihat gaya norak Gabriel barusan. Cinta memang menimbulkan kenorakan mendadak!

"Emang beneran berhasil? Gimana kalo ternyata dibuang?"

"Nggak mungkin. Tadi pagi gue liat dia dateng sambil nenteng kotak bekal gue," jawab Gabriel puas. Melihat Ify membawa bekalnya tadi pagi, membuatnya semakin yakin bahwa Ify layak diperjuangkan.

Alvin tertawa kecil. "Uda makasih belom tuh sama Ibu Guru?" tanya Alvin sambil mengerling ke arah Sivia yang baru datang.

"Hai Siv! Thanks banget ya! Lo keren deh!" sambut Gabriel langsung setelah Sivia meletakkan tasnya di meja. Mata Sivia langsung membeliak.

"Berhasil, Yel?" tanyanya antusias.

"Berhasil dong! Cuma gini doang mah kecil!"

Sivia mencibir. "Halah kalo nggak gue ajarin juga lo nggak bakal bisa bikin sandwich kan? Dasar!"

*-*-*-*

Lagi-lagi Shilla dibuat heran oleh Ify. Sahabatnya datang dengan mata bengkak dan rambut berantakan, namun seulas senyum kecil terpatri di bibirnya.

"Lo kenapa deh, Fy?" tanya Shilla setengah heran setengah ngeri. Jangan-jangan Ify udah nggak normal.

"Gue punya bad news sama good news. Mau yang mana dulu?" tanya Ify balik. Shilla menelengkan kepalanya. "Bad news dulu deh."

Ify pun langsung menceritakan kejadian kemarin. Lengkap dan tanpa sensor! Shilla menutup mulutnya yang menganga mendengar cerita Ify. Dia sama sekali tidak menyangka kejadian seperti itu benar-benar ada dalam kehidupan nyata. Biasanya kan dia hanya melihatnya di sinetron-sinetron kacangan kesukaan mamanya.

Ekspresi Ify ketika menceritakan kejadian itu jelas membuat Shilla prihatin. Apalagi waktu bagian papa Ify menampar Gabriel, mata Ify mulai berkaca-kaca. Untung Shilla sudah wanti-wanti sebelumnya agar Ify tidak menangis. Tidak di sini.

"Aah, gue ikut sedih, Fy. Terus sekarang good news nya apa nih?" tanya Shilla ceria, mencoba menyelamatkan suasana.

Bukannya menjawab, Ify malah menyodorkan sebuah kotak bekal pada Shilla. "Apaan nih?" tanya Shilla heran.

"Kak Gabriel ngirim ini buat gue tadi pagi. Baik banget kan?"

Ketersimaan Shilla terpaksa ditunda karena bel masuk sudah berbunyi nyaring. Jam pertama adalah Bahasa Inggris dengan Ms. Merry, atau yang lebih sering dijuluki Ms. Ngeri oleh anak-anak (tentu saja tanpa sepengetahuan Ms. Merry. Bisa-bisa mati digorok!)

Suara high heels lancip Ms. Merry sudah lamat-lamat terdengar. Anak-anak langsung duduk tegak di tempat masing-masing.

"Good morning, Students!" sapa Ms. Merry dengan suara tegasnya seperti biasa.

"Good morning, Ma'am!" balas anak-anak kompak.

"Have you prayed?"

"Not yet!" Dipimpin Olin, sang ketua kelas, semua langsung menundukkan kepala dan berdoa.

"Well, someone is gonna be your new friend today." Ms. Merry keluar kelas, sementara anak-anak langsung kasak-kusuk ribut. Penasaran dengan murid baru yang akan menjadi penghuni kelas mereka.

Seakan tak peduli pada kegaduhan teman-teman sekelasnya, Ify hanya diam, mencoret-coret bagian belakang bukunya. Toh dia sudah tau siapa murid baru itu...

Ms. Merry masuk ke kelas. Kali ini beliau tak sendiri. Seorang cowok tinggi dengan rambut spike mengekor. Kelas kembali gaduh melihat makhluk kece satu itu. Apalagi yang cewek. Beuh, langsung overacting dan membenahi penampilannya.

"Introduce yourself, please," pinta Ms. Merry. Cowok itu mengangguk dan tersenyum manis, membuat beberapa cewek di kelas itu melongo terpesona.

"Hi, I'm Mario Stevano. You can call me Mario or Rio. I lived in Manado until 3 days ago." Kalimat standar itu diucapkan dengan aksen bahasa inggris yang sedikit aneh. Maklum, Rio orang Indonesia asli. Bagaimanapun dia berusaha, lidahnya tetap lidah orang Indonesia.

"You may choose your seat, Mario, and..."

"Aahh wait," sela Rio tiba-tiba, membuat seisi kelas menunggu dengan penasaran. Ms. Merry membenarkan letak kacamatanya, merasa tidak nyaman ada seseorang yang berani menyela perkataannya. Rio tersenyum simpul dan melanjutkan kata-katanya. "I'm also....Alyssa's cousin."

bersambung...

*-*-*-*

hohohoho sebelumnya aku mau minta maaf banget karena part ini sangatlah lama. hampir satu bulan! habis bulan ini aku sibuk banget ngurusin SMA, terus mau nulis kok rasanya males hehe .__.v

by the way, sub judulnya rada aneh ngga sih? 'Setitik Cahaya di Pagi yang Mendung' bkakakakak ngakak sendiri bacanya. sok gimanaa gitu. ada yang ngeh nggak artinya apaan? pokoknya kan itu si ify lagi sedih, terus tiba-tiba ada kiriman bekal dari gabriel. nah, kiriman bekal itulah yang menjadi 'setitik cahaya' gitu lhoo.

oh iya maaf juga kalo ada salah ketik atau grammar yang nggak bener.

komen seperti biasa ya, bisa langsung di bawah ini, atau via twitter (@dwidamn)


muchas gracias!

Kamis, 23 Juni 2011

Fantasi Liarku

kali ini saya lagi-lagi mau ngepost sesuatu yang sangat tidak penting, dan masih berhubungan dengan Idola Cilik (maklum aja ya saya terlalu fanatik sama yang satu itu). nah, fantasiku ini sangat liar. aku punya beberapa versi, ada yang versiku sendiri, versi yang aku buat bersama @aulialialiel, dan ada versi yang aku buat dengan kak @fatimaazhra. inget ya, ini hanya fantasi belaka, bukan kenyataan (karena memang nggak mungkin jadi nyata).

Versi 1

aku punya temen dari SMP, sebut saja dia A. nah, dia ini sekarang menjabat jadi fotografer resmi Icil Diva, Icil Divo, dan SIB. ketiga grup ini (di fantasiku) uda punya album dan lagi sibuk-sibuknya promo di beberapa tempat. berhubung si A ini sangat dekat denganku, aku pun selalu diajak setiap kali Icil Diva, Icil Divo, dan SIB manggung, baik off air maupun on air.
dari situlah aku bisa deket dengan beberapa anak, terutama Ify (itu harus!), gabriel, rio, cakka, dan shilla. ceritanya, rio tinggal di jakarta, dan memang bener-bener ada geng The CRAG di Icil. walaupun dua personelnya (cakka & alvin) tinggal jauh di sono.
karena sering ketemu, aku dan anak-anak yang aku sebutin tadi jadi makin deket. kami sering curhat, main bareng kalo ketemu, bikin video-video gokil, dan lain-lain. nah, kan aku deket sama cakka tuh, terus akhirnya..................aku jadian sama elang deh! \m/


Versi 2 (aku dan @aulialialiel)

di sini diceritakan bahwa aku, gabriel, dan rio adalah kembar tiga yang harus long distance dengan beberapa alasan. dan aulia jadi kakak kami bertiga. aku, aulia, gabriel tinggal di satu rumah, sementara rio tinggal di manado.
sebenernya fantasi ini rada nggak jelas sih, eh bukan rada deng, tapi emang nggak jelas! ada cerita di mana aku, rio, gabriel, dan aulia nonton pertandingan MU vs Barca (ceritanya rio lagi pulang dari manado). aku dan gab dukung MU, aulia dukung barca, sementara rio malah ngabur main sama ify (ngedate dini hari? astaga-,-).
terus ada juga cerita waktu gab mau ke batam. aku dan aulia nggak bisa nganter dia ke bandara, soalnya aku diajak lomba voli antar-RT, dan aulia harus ke warung beli kerupuk. jadi deh akhirnya gab naik ojek ke bandara. rambutnya berterbangan kena angin, mulutnya mangap-mangap juga karena efek angin, dan karena kepanasan, dia pun pegang payung sambil pegangan pinggang si tukang ojek. kalau dilaguin gini nih: payung di tangan kanamu, pinggang di tangan kirimu~~~ (btw, kok lebih lucu waktu ngayal di twitter ya ketimbang pas aku tulis di sini?).


Versi 3 (aku dan kak @fatimaazhra)

fantasi ini lahir karena kami pengen banget ify nongol di tv!!!
kan tadi cakka ada di dahsyat tuh (ya ampun dia ganteng banget!!) terus ada kayak games nulis pake tangan kiri. iya kan? nah, dan kami pun mulai berkhayal. shilla yang notabene adalah left-handed atau kidal, nemenin cakka di sana, bantuin dia. terus habis itu si ify nongol, sama gabriel juga. dan pihak dahsyat pun bikin lomba kekompakan antarpasangan FYEL vs CAKSHILL. kami berdua dukung FYEL dong jelas!! (dalam bayanganku aku bergabung dengan anak-anak alay yang tiap pagi ke dahsyat, terus joget-joget gaje sambil pegang pom-pom). dan akhirnya......FYEL menang!!! terus mereka dinobatkan sebagai Raja dan Ratu terDahsyat WOHAHAHAHA :D


END OF STORY


oh iya sekadar info, bagi yang masih menunggu Fight for Love, sabar sedikit ya. insyaallah sebentar lagi bisa dipost di sini, dan anda semua bisa membacanya! terima kasih sebelumnya! :))

Kamis, 16 Juni 2011

Idola Cilik @ Ranking 1




Heran ya liat foto-foto di atas? Nggak? Oh yaudah :p
Itu foto diambil tadi malem, waktu Gabriel, Ray, Alvin, Shilla, dan Kiki tapping untuk program Ranking 1 di TRANS TV. Catet ya, TRANS TV! Bukan RCTI yang notabene adalah stasiun TV yang mengorbitkan mereka. Aku sendiri heran. Kenapa anak-anak itu (anak-anak Idola Cilik, red.) malah lebih eksis di stasiun TV lain. Padahal yang dulu bikin acara IC itu kan RCTI -__-
Oke, aku jadi nggak sabar nih pengen nonton itu acara. Secara gituuuu ada Gabriel si ganteng itu hahaha. Eh tapi, kayaknya nggak komplit deh kalo cuma anak-anak itu yang tapping program Ranking 1. Harusnya si Ify ikut juga dong! (ini sih mau saya.)
Haha mari berdoa aja deh semoga pihak RCTI berbaik hati mau ngadain IC 4, atau at least acara apaaa gitu yang melibatkan anak-anak IC terutama IFY. Karena kami KANGEN ICIL!!

Selasa, 07 Juni 2011

She's a Senior and I'm a Junior, but I Love Her

“ALVIIIIIINN!!” samar-samar kudengar teriakan Mama dari bawah. Kubuka sedikit mataku. Ah, ternyata sudah pagi. Cahaya matahari menembus sela-sela gorden kamarku. Aku melirik jam beker yang setia nangkring di meja sebelah tempat tidurku. Astaga!! Sudah jam 6!

Secepat kilat aku bangun dan berlari ke kamar mandi. Kubasuh tubuhku asal-asalan, entah bersih atau tidak, yang penting wangi! Sepuluh menit kemudian, aku sudah siap di ambang pintu kamar dengan peralatan Masa Orientasi Siswa (MOS) di tangan. Hari ini adalah hari pertamaku masuk SMA. Dan seminggu lagi, aku harus membuang celana biru ini jauh-jauh, dan menggantinya dengan celana abu-abu. Wow. Abu-abu!!

Tak ingin membuang waktu dan memancing emosi mama pagi ini, aku langsung turun ke meja makan. Di sana sudah ada Papa dan Mama. Langsung kulahap roti isi telur kesukaanku tanpa memedulikan orang tuaku. Toh mereka juga sedang serius melahap sarapan masing-masing.

“Alvin, hari ini kamu sampai jam berapa?” Tanya Mama dengan suara lembutnya. Kadang aku sendiri heran, mengapa suara mama yang selembut beledu ini kadang bisa persis kaleng rombeng kalau teriak. Yang denger dijamin langsung tuli mendadak!

“Mmm nggak tau juga, Ma. Nanti kalo udah selesai, Alvin telpon mama deh,” jawabku. Soalnya aku memang benar-benar tidak tahu acara hari ini apa saja.

Setelah melahap roti isi dan menandaskan susuku, aku dan Papa berangkat. Aku tak begitu memperhatikan jalanan apa saja yang kami lalui. Otakku sibuk memikirkan kira-kira apa yang akan terjadi hari ini.

*-*-*-*-*

Oke, mungkin aku harus menyingkirkan bayang-bayang indah tentang SMA. Ternyata, jadi anak SMA itu tidak seperti yang aku kira. Berat banget, man! Apalagi pas MOS kayak gini. Oh, rasanya pengen balik ke SMP lagi dan bersikap sewenang-wenang sama adek kelas!

Kak Mario, ketua OSIS di sekolahku, sedang ngoceh di depan kelas. Entah apa yang diocehkannya. Kupandangi satu-persatu teman-teman baruku. Semua memang sedang menatap Kak Mario, tapi aku yakin, pikiran mereka sedang terbang entah ke mana.

“Vin..Alvin!” bisik seseorang di belakangku. Tepat saat itu juga, kurasakan jari-jarinya menjawil pundakku.

“Apa?” tanyaku tanpa menoleh.

“Kak Mario ganteng banget, ya!” pekik Nova, teman SMP ku dulu yang tadi menjawilku. Mau tak mau aku memperhatikan Kak Mario yang kata Nova ganteng itu. Hmmm, sekilas sih emang ganteng. Kulitnya item manis, senyumnya cukup manis, walaupun dari tadi dia jarang senyum. Marah-marah mulu sih! Galak!

“Baik, adik-adik! Tugas kalian hari ini adalah mengumpulkan tanda tangan anggota OSIS. Harus lengkap!” kemudian, dia dan anak buahnya pergi meninggalkan kelas. Meninggalkan teman-teman cewekku yang berurai air liur menatapnya. Iuh!

Kurasakan sebuah tepukan di pundakku. Ketika menoleh, kudapati Ray, teman baruku berdiri di sampingku dengan sebuah buku di tangannya. “Ayo cari tanda tangan! Mumpung belum pada keluar, tuh!” ajaknya. Aku mengangguk. Kuambil bukuku yang tadi kuselipkan di laci. Setengah berlari, aku dan Ray menyusuri lorong, mencari-cari anggota OSIS untuk dimintai tanda tangan.

Tujuan pertamaku jelas Kak Mario. Kulihat dia sedang duduk di kursi pinggir lapangan dengan dua orang gadis. Aku mengenali salah satu gadis itu. Dia Kak Sivia, salah seorang anggota OSIS yang tadi juga masuk ke kelasku. Tapi, gadis yang satu lagi, aku belum pernah melihatnya.

Aku dan Ray melangkah mendekati Kak Mario. Semakin jelas pula wajah gadis di sebelah Kak Mario yang belum ku kenal itu. Kalau di lihat, sih, manis juga! Senyumnya sempurnya, matanya hitam memikat, rambutnya halus, hmmm bagaimana ya rasanya membelai rambut itu?

“Permisi, Kak. Kami mau minta tanda tangan,” ucapan Ray langsung menyadarkanku dari pikiran-pikiran ngaco. Otomatis, ketiga kakak kelasku yang sedang sibuk mengobrol itu menolehkan kepala, dan menatap kami berdua.

“Oh, boleh, sini buku kalian!” kata Kak Sivia ramah. Ray tersenyum dan menyodorkan bukunya. Sementara Ray menunggu tanda tangan Kak Sivia, dan aku menunggu tanda tangan Kak Mario, kutatap lekat-lekat gadis cantik di sebelah Kak Mario. Samar-samar tercium aroma apel dari rambut lembut itu. Ah, wangi sekali!

“Ini!” kata Kak Mario. Diulurkannya bukuku kepada ku. Aku mengambilnya, dan memberikannya pada gadis aroma apel yang cantik itu.

“Kak, aku minta tanda tangan,” kataku. Tak lupa kusunggingkan senyum manis andalanku.

Gadis itu terlihat terkejut. Dia memandang bukuku cukup lama sebelum menjawab. “Kakak bukan anggota OSIS.” Gadis itu tersenyum ramah. Senyum yang luar biasa manis! Dan astaga, suaranya lembuuuuuut sekali!

“Nggak apa-apa, Kak. Aku minta tanda tangan,” desakku. Gadis itu terlihat bingung, tapi dia segera mengambil bukuku dan membubuhkan tanda tangannya di sana. Tiba-tiba, Kak Mario mendekatkan kepalanya ke telinga gadis itu, membisikkan sesuatu yang tak dapat kutangkap. Gadis itu terkikik geli. Bisa kulihat Kak Mario tersenyum puas di depanku. Ada apa ini?

“Nih.” Aku memandangi tanda tangannya. Dahiku mengernyit melihat tulisan di bawah tanda tangan itu.

Alyssa, pacar Mario ^^

Aku menatap Kak Mario dan Kak Alyssa bergantian. Astaga, jadi kakak cantik ini pacar Kak Mario? Ya ampun, kok mau sih??

“Makasih, Kak.” Kupaksakan sebuah senyum di bibirku dan segera kutarik Ray menjauh dari mereka. Amit-amit deh deket-deket sama Mario galak itu!

*-*-*-*-*

Akhirnya, MOS penuh siksaan itu selesai juga. Aku bisa menjalani masa-masa awal SMA ku dengan tenang, tanpa bentakan kakak-kakak anggota OSIS. Aku sudah cukup dekat dengan teman-teman sekelasku, dan sudah sangat akrab dengan beberapa siswa. Mereka adalah Ray, Cakka, dan Ozy. Kami berempat duduk berdekatan. Mungkin itu yang membuat kami dekat hingga sekarang.

Oh, iya, aku sampai lupa dengan gadis cantik aroma apel itu. Seminggu ini aku berjuang mengorek informasi tentangnya. Kutanyai kakak-kakak kelasku tanpa malu. Dan akhirnya, tadaaaa aku mendapatkan banyak sekali informasi tentang Kak Alyssa, yang baru-baru ini kutahu sering dipanggil Ify. Jangan tanyakan kenapa, karena aku sendiri tidak tahu.

Beginilah ulasan singkat tentang Kak Ify. Namanya Alyssa Saufika Umari, sering dipanggil Ify –seperti kataku tadi. Dia kelas 12 IPS 2 –dan aku tidak keberatan dengan itu. Dia menjabat sebagai kapten Cheerleader sekolahku. Oke, harus kuakui, satu-satunya anggota cheerleader yang sedap dipandang hanyalah Kak Ify. Yang lain? Bah, mereka Cuma bisa teriak-teriak plus loncat-loncat doang! Rumahnya di Perumahan Griya Asri, hanya berjarak beberapa ratus meter dari perumahan tempat tinggalku (yes!!). Dia suka warna hijau tosca, biru tosca, dan baby pink. Hobinya menari dan mengoleksi mobil mainan, terutama Volks Wagon. Ya, dia maniak mobil antik satu itu.

Hmm..apalagi, ya? Sejauh ini hanya itu yang bisa aku dapatkan. Oh, iya! Ada satu info lagi, dan ini info yang paling aku benci. Dia pacar Kak Mario! Menurut desas-desusnya sih mereka udah pacaran cukup lama, hampir satu tahun. Sampai sekarang aku masih tidak mengerti mengapa cewek sebaik Kak Ify itu mau pacaran dengan Kak Mario. Kayak nggak ada cowok lain aja!

“Heh! Lo mau ikut ekskul apa?” kurasakan sebuah tepukan pelan di pundakku. Aku nyaris melonjak kaget dibuatnya.

“Mau jawab pertanyaan gue nggak, nih?” tanya seseorang yang baru saja menepuk pundakku ketika melihat aku hanya diam tak menjawab.

“Nggak tahu,” jawabku jujur. Ya, aku sama sekali tidak tahu ekskul apa yang ingin aku masuki. Basket? Aku punya sebuah trauma tersendiri dengan bola oranye itu. Fotografi? Bah, baru memegang kamera besar milik sepupuku saja aku sudah gemetar duluan. Terus apa, dong?

“Lo sendiri mau ikut apa?” tanyaku balik karena aku tak kunjung mendapatkan jawaban. Tiba-tiba Ray menyodorkan selembar kertas padaku. Sebuah formulir pendaftaran calon anggota ekskul sepak bola. Aku terkesiap. Ya ampun, kenapa bisa lupa sih? Aku kan hobi banget main sepak bola!

“Gue ikut bola, Vin,” katanya.

“Gue juga ah!” seruku pelan. Akhirnya aku bisa menentukan ekskul apa yang akan aku ikuti. Tapi, cheerleader bersorak untuk anak-anak bola nggak sih?

“Eh, Ray, kalo anak-anak bola lagi tanding, biasanya ada cheerleader yang sorak-sorak di pinggir lapangan nggak?” Ray langsung melayangkan jitakan ke kepalaku.

“Bego! Mada ada cheerleader buat anak-anak bola? Mereka tuh selamanya bakal bersorak Cuma untuk anak-anak basket!”

Aku memang belum pernah melihat cheerleader bersorak di pinggir lapangan sepak bola. Tapi, tidak ada salahnya berharap, kan?

*-*-*-*-*

“Five..six..seven..eight!”

Suara dentuman music dan sorak-sorai yel-yel terdengar dari gym indoor di belakang sekolah. Kulongokkan kepalaku ke jendela yang luar biasa tinggi itu. Di sana, para anggota cheerleader sedang berlatih. Dan, ah, itu dia! Kak Ify! Dia terlihat sedang serius mengamati anak buahnya berlatih. Seragam cheerleader masih melekat di tubuhnya. Rambutnya dikuncir kuda, membuat garis-garis wajah tirusnya jelas terlihat. Pemandangan menyejukkan di sore yang panas ini.

“Cklek..” aku bisa mendengar pintu di sebelahku membuka. Seorang cowok berpostur tinggi masuk sambil membawa satu botol air mineral. Kuamati cowok itu dari luar. Hmmm sepertinya kenal.

Cowok itu berjalan menghampiri Kak Ify yang sedang duduk di tribune penonton. Dia menyodorkan air mineral itu pada Kak Ify. Bisa kulihat senyum lebar mengembang di bibir Kak Ify. Oh, aku tahu siapa cowok itu! Kak Mario! Sial! Sial! Siaaaall!!

Kak Mario duduk di samping Kak Ify. Tangannya menggenggam tangan pujaan hatiku itu erat. Sialan! Aku tak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan. Tapi yang jelas, Kak Ify menatap Kak Mario lekat-lekat dengan senyum manisnya. Begitu pula Kak Mario. Aaarrggghhh!! Pemandangan di dalam benar-benar membuatku gerah! Mario kampret! Tanpa sadar, kutendang pintu keras-keras.

Aku baru menyadari apa yang baru saja aku lakukan ketika pintu gym indoor terbuka. Kutunggu kepala siapa yang akan muncul. Dan betapa terkejutnya aku ketika melihat kepala Kak Ify menyembul di pintu.

“Ada apa, ya?” suara lembutnya menggelitik indera pendengaranku.

Glek..kutelan ludah dengan susah payah. Wajah di depanku ini terlalu sempurna. Jantungku langsung bereaksi, menolak untuk berdegup secara teratur. Kucengkeram dadaku erat-erat, takut kalau jantungku akan mencuat keluar.

“Eh..itu..” tak sanggup rasanya aku meneruskan ucapanku. Seluruh inderaku seakan terkunci oleh wajah itu.

“Gue nggak tau ada perlu apa lo kemari, tapi maaf ya, latihan ini latihan tertutup,” katanya. Cih! Latihan tertutup kok Kak Mario itu bisa masuk? Tidak adil!

Kupaksakan seulas senyum di wajahku. “Maaf, Kak,” kataku setengah hati. Kak Ify tersenyum manis dan menutup kembali pintu gym indoor.

*-*-*-*-*

Mencintai dari jauh itu rasanya….nano-nano! Kadang seneng banget, kadang sedih karena nggak bisa nyamperin si dia, kadang kesel juga kalo dia deket-deket cowok lain dan kita nggak bisa cegah. Apalagi Kak Rio tuh uuuhhh kerjaannya nempel mulu sama Kak Ify! Berangkat sekolah barengan (untung pake mobil jadi duduknya nggak deket-deket banget), ke kantin sama-sama, kalo Kak Ify latihan cheers Kak Rio pasti ikut, kalo Kak Rio latihan basket Kak Ify juga pasti nemenin di pinggir lapangan sambil sorak-sorak nggak jelas (tapi dia masih kelihatan cantik banget!), terus nanti pulangnya juga sama-sama. Rawr! Nyesek banget rasanya!

Kutendang bola di kakiku keras-keras. Alamak! Ternyata jatuh cinta bikin pusing setengah mati!

“Heh! Liat-liat dong kalo nendang bola!”

Aku terlonjak kaget mendengar teriakan yang sumbernya tak jauh dari tempatku berdiri sekarang. Kuedarkan pandangan, mencari-cari sosok yang baru saja meneriakiku. Tiba-tiba, dari kejauhan muncul seorang cewek dengan bola di pelukan. Ah, itu dia bolaku! Tapi..tunggu! kayaknya itu…

“Lo adek kelas gue kan? Nih bola lo! Lain kali hati-hati ya,” katanya dengan suara lembut yang khas dan sangat kukenali itu. Ya ampun, mimpi apa aku semalam?

Aku tersenyum kikuk. Kularikan telapak tanganku di tengkuk, dan meringis menatap Kak Ify. “Iya, hehe..”

Kak Ify menatapku geli. Entah apa yang sedang berkecamuk di pikirannya. Tiba-tiba aku ingin sekali memiliki bakat seperti Edward Cullen si vampire ganteng (tapi masih lebih ganteng aku) itu. Ekspresi Kak Ify sama sekali tidak bisa ditebak, tapi tatapan matanya berkilat aneh.

“Kita belum sempet kenalan, kan? Gue Ify.” Aku terpaku menatap uluran tangan mungil itu. Bagaimana rasanya menyentuh tangan itu, ya? Pasti lembut sekali, selembut wajah dan suaranya.

“Gue Alvin,” ujarku nyaris berbisik. Kusambut uluran tangan itu. Ternyata benar! Tangan ini adalah tangan terlembut yang pernah aku genggam! Otomatis jantungku langsung bereaksi. Diam-diam aku menatap perubahan ekspresi Kak Ify, memastikan kalau dia tidak mendengar deguban jantungku yang secepat kuda ini.

Tiba-tiba saja dia duduk bersila di lapangan kompleks ku ini. Aku memandangnya bingung. Melihat ekspresiku, lagi-lagi Kak Ify tersenyum.

“Duduk, sini. Temenin gue,” katanya. Suaranya terdengar aneh.

Mau tak mau aku duduk di sebelahnya. Sikap Kak Ify membuatku bingung. Dia duduk memeluk lutut dan menatap langit. Tatapan matanya menerawang. Dan sepertinya wajahnya tak secerah biasanya. Guncangan kekhawatiran langsung melandaku. Ada apa dengan Kak Ify? Ke mana wajah cerianya?

Di sampingku, Kak Ify mendengus keras. “Gue capek.”

“Ya istirahat, dong,” jawabku bingung. Tapi aku bisa menangkap maksud kak Ify. Pasti kata ‘capek’ mempunyai makna yang lebih dalam dari arti harfiahnya.

Kak Ify bergumam pelan. “Menurut lo gitu ya?”

Kutanggapi pertanyaannya dengan anggukan bingung. Maksud Kak Ify apa sih? Tadi datang masih ceria, sekarang kok lesu begini?

“Menurut pandangan lo, gue ini orangnya kayak apa sih?” Tanya Kak Ify tiba-tiba dan mampu membuatku terperanjat. Apa maksud semua tingkah aneh ini?

“Tinggal jawab apa susahnya sih?”

Aku terdiam cukup lama. Bingung. Aku sendiri bahkan tidak bisa menggambarkan Kak Ify itu orang seperti apa. Dia sempurna dengan caranya sendiri, itu sudah jelas.

“Mmm..menurut gue sih elo cantik, baik, periang, dan aktif di sekolah. Terkenal, pula!” jawabku, sekuat tenaga menahan diri untuk menjawab “Elo itu satu-satunya cewek yang bikin gue jatuh cinta.” Bisa-bisa Kak Ify langsung pingsan mendengar pernyataan cintaku yang tiba-tiba.

Kak Ify menerawang menatap langit sore. Memandangi wajah cantiknya dari samping seperti ini benar-benar membuatku lemas. Dia terlalu sempurna.

Lagi-lagi dia mendengus. Sedetik kemudian, dia memalingkan wajah dan menatapku jenaka. Sepertinya keceriannya sudah kembali. “Gue liat tadi lo naik sepeda ke sini. Anterin gue dong! Mau kan?”

Sebentar. Apa katanya tadi? Dia memintaku untuk mengantarnya pulang? Alamak, mimpi apa aku semalam! Aku langsung mengangguk tanpa berpikir dua kali. Kesempatan emas ini tak akan kusia-siakan begitu saja!

*-*-*-*-*

Sejak pertemuan kami di lapangan sore itu, kami jadi lebih sering bertemu di tempat yang sama dan waktu yang nyaris sama dengan kejadian waktu itu. Setiap hari dia menemaniku bersepakbola dengan teman-teman kompleks. Dan setelah itu, kami pasti akan langsung duduk di bawah pohon hingga matahari kembali ke peraduannya. Aku pun hampir setiap hari mengantarnya pulang dengan sepedaku ini. Bisa kurasakan betapa lembutnya kedua tangan itu mencengkeram pundakku, dan rambut lembutnya yang berterbangan tertiup angin sore yang kadang menimpa wajahku. Tawanya yang renyah, suaranya yang lembut, tatapannya yang jenaka, dan aroma tubuhnya yang wangi bahkan sudah terpeta di otakku sejak pertemuan pertama. Dan sepertinya, semua itu membuatku ketagihan, ingin melihat dan merasakannya setiap hari.

“Eh, lihat deh!” Bisikan Cakka di sebelahku mampu menarikku kembali ke dunia nyata. Otomatis aku, Ozy, dan Ray langsung menoleh ke arah yang ditunjukkan Cakka barusan. Alisku mengernyit melihat pemandangan yang tak biasa di kantin, hanya berjarak beberapa meja dari tempatku duduk sekarang.

Kak Ify berdiri tegang di depan Kak Rio yang tengah duduk dan memandangnya. Tatapannya nyalang dan tajam menusuk. Keduanya masih bertatapan ketika tiba-tiba Kak Ify berteriak.

“Kita selesai!” teriaknya nyaring, membuat beberapa pasang mata memerhatikan mereka.

Kak Ify pergi begitu saja, namun tangannya dicekal oleh tangan Kak Mario yang kokoh itu.

“Kamu nggak bisa memutuskan hubungan secara sepihak, Fy!” teriaknya balik. Dan sekarang, semua pengunjung kantin tengah asyik menyaksikan drama di depan kami.

“Kenapa nggak bisa?! Kamu aja bisa maksa aku untuk nggak menjadi diri aku! Kenapa aku nggak bisa mutusin kamu?! Kenapa??!!” dada Kak Ify naik turun, mungkin menahan amarah yang begitu bergejolak. Dari tempatku duduk pun bisa kulihat kilatan emosi yang membara dalam tatapan matanya.

“Sejak kapan aku memaksamu untuk nggak menjadi diri kamu?!”

“Sejak awal, Yo! Kamu nyuruh aku ikut cheerleader, kamu ngelarang aku untuk bersikap aneh-aneh di sekolah ini, kamu selalu menyuruhku untuk tampil sempurna, padahal aku nggak pengen!! Tapi kamu selalu maksa!”

Kedua sejoli itu saling berteriak dan membunuh dengan tatapan mata. Kak Rio yang satu kepala lebih tinggi dari Kak Ify jelas mampu mengintimidasi.

“Karena pacar seorang Mario harus terlihat sempurna!”

Satu kalimat yang diucapkan pelan namun mantap itu mampu membius seluruh pengunjung kantin itu. Shocked? Jelas! Tapi, di antara kami semua, aku yakin, Kak Ify lah yang paling terguncang.

“PLAKK!” satu tamparan keras mendarat mulus di pipi kiri Kak Rio. “Gue bener-bener selesai sama lo!”

Kali ini kami benar-benar kaget, jauh kaget daripada tadi. Bagaimana tidak? Mario dan Ify, pasangan paling harmonis dan paling sempurna di sekolahku ini. Jelas tak ada seorangpun yang menyangka akan melihat kejadian tadi, termasuk aku (walaupun aku sudah lama menunggu saat-saat itu. Kak Rio ditampar Kak Ify? Jelas itu hiburan.)

Kak Rio masih mematung sementara Kak Ify sudah berlalu begitu saja. Tak mau membuang waktu, kutinggalkan baksoku yang masih dua butir dan kususul Kak Ify. Aku tahu dia sedang ingin sendiri. Tapi, entahlah, dia membuatku khawatir.

Tanpa memedulikan makian beberapa kakak kelas yang kutabrak, aku tetap berlari mencari Kak Ify. Di kelasnya nggak ada, di toilet nggak ada. Dan ketika tenagaku nyaris habis karena sekolah ini luar biasa luasnya, akhirnya kutemukan juga Kak Ify. Dia terduduk di depan pintu gudang, terisak pelan.

Kudekati pelan-pelan, tak ingin mengusiknya. Tangisan Kak Ify begitu lirih, tapi mampu membuatku ikut terhanyut dalam kesedihannya. Oke, meskipun aku sangat mengharapkan mereka putus, tapi aku tidak mau melihat Kak Ify terpuruk begini. Sedih dan menangis, untuknya. Kak Rio benar-benar tidak pantas mendapatkan ini semua!

“Kak..” kupanggil namanya, dia tidak juga menyahut. Akhirnya kujatuhkan pantatku di sebelahnya, menemaninya dalam diam hingga tangisan itu berhenti.

“Lo tau? Gue nggak punya perasaan apa-apa sama Rio sejak tiga bulan lalu.” Aku terkesiap. Benarkah ini? Sedikit tidak bisa dipercaya, karena selama tiga bulan ini dan selama aku bersekolah di sini, dua sejoli itu terus menempel seperti dilumuri lem. Tak terpisahkan.

“Terus..kenapa lo masih sama dia?” tanyaku pelan.

Kak Ify menghela napas panjang berkali-kali sebelum menjawab. “Karena gue masih ingin berusaha mencintainya, seperti dulu. Tapi, gue nggak berhasil.”

“Terus kenapa lo nangisin dia?” Baiklah, mungkin aku akan bersikap annoying kali ini. Begitu banyak pertanyaan berkecamuk dalam benakku, dan aku tidak akan puas sebelum semuanya terjawab.

“Lo pikir gue nangisin dia, hah?” Aku langsung mengangguk. Kak Ify tertawa pelan. “Bodoh! Gue itu nangis karena malu! Ini pertama kalinya gue jadi tontonan kayak tadi!” Benar-benar penuh kejutan, pikirku.

“Dan untuk ucapan dia tadi..gue kesel sih! Pengen rasanya nonjok tuh cowok gila! Tapi sayang juga tangan gue.” Kak Ify mulai berceloteh ngaco dan kami pun tertawa karenanya. Dalam hati aku merasa lega, setidaknya aku tidak harus melihat dan mendengar dia menangis.

*-*-*-*-*

Waktu terus bergulir, meninggalkan kenangan-kenangan pahit dan manis. Selama enam bulan ini, aku benar-benar melihat perubahan drastis pada Kak Ify. Dan aku merasa bahwa inilah dirinya yang sesungguhnya.

Hanya beberapa hari setelah dia putus dengan Kak Rio, Kak Ify langsung mengundurkan diri dari tim cheerleader dan mengambil ekskul baru yang membuatku tercengang. Bela diri! Aku baru tahu belakangan kalau semasa SMP dulu, Kak Ify pernah mengikuti beberapa pertandingan, dan kini dia sudah mendapatkan sabuk hitamnya.

Rumah yang tidak terlalu jauh dan memiliki hobi yang kebetulan sama (menonton pertandingan sepak bola) membuat kami lebih dekat. Bahkan di sekolah pun, tak jarang Kak Ify dan Kak Sivia, sahabatnya, bergabung dengan aku, Cakka, Ozy, dan Ray. Tapi kedekatan itu harus dihentikan sejenak, mengingat UN sudah menghadang di depan murid-murid kelas 12.

Dan sekarang, ketika UN sudah selesai, Kak Ify kembali seperti biasa. Mengahabiskan waktu istirahat denganku dan teman-temanku, menikmati udara sore hari di lapangan kompleks, dan menonton bola bersama (selama pertandingan, aku dan Kak Ify bertukar sms. Jadi sama saja). Aku tahu, tak lama setelah bebas dari UN, Kak Ify harus berpusing-pusing ria dengan tetek bengek kuliah dan SNMPTN. Jujur, aku jadi tidak ingin kuliah ketika melihat bagaimana keadaan Kak Ify ketika harus belajar untuk SNMPTN. Benar-benar membuatku mual bahkan sebelum aku merasakannya.

Dan sekarang, tiba-tiba Kak Ify sudah duduk di kursi teras rumahku, setelah menekan bel berkali-kali dan memanggil-manggil namaku dengan suaranya yang nyaring.

“Lama amat lo!” gerutu Kak Ify pelan. Aku hanya meringis.

“Ada apa nih? Tumben sore-sore begini ke rumah gue.”

Bukannya menjawab, Kak Ify malah memberikan selembar kertas tebal berwarna biru. Dahiku mengernyit melihat kertas itu. “Ini apa?” tanyaku polos.

“Tiket prom,” jawabnya singkat. Aku melongo. Tiket prom? Nggak salah nih? Aku kan baru kelas 10!

“Lo ngajakin gue ke…prom?” tanyaku tak percaya. Bisa kulihat semburat kemerahan menjalar di pipi Kak Ify.

“Yap. Gue bakal pake dress biru tua, jadi gue harap lo bisa menyesuaikan. Dan mungkin kita datang ke sana sebagai….ehem..kekasih?”

Aku masih terlalu shock untuk mencerna apa yang Kak Ify ucapkan. Tiket prom ini tidak lagi aku acuhkan, pikiranku masih berkutat dengan kalimat terakhir yang diucapkannya. Jantungku langsung menolak untuk berdegup secara teratur, reaksi yang sama seperti ketika aku melihatnya dan berada di dekatnya.

“Lo..?” aku bahkan tak sanggup melanjutkan pertanyaanku. Sungguh, aku benar-benar tidak menyangka! Kak Ify baru saja….

“Gue tau lo suka sama gue. Dan jujur, gue juga suka sama lo. Mungkin sejak kejadian di lapangan, atau bahkan mungkin sejak gue ngeliat elo. Walaupun gue sangat sadar kalo lo masih kecil, masih bau kencur. Tapi..yaah..” Kalimat-kalimat itu mengalir melewati telingaku, dan aku terus mengulangnya, untuk memastikan bahwa ini nyata.

“Lo nembak gue nih?”

Kak Ify mengangkat bahu dan mengalihkan pandangan. Mungkin dia jengah dengan tatapan mataku, dan aku senang karenanya.

Aku menyeringai lebar, tak mampu menyembunyikan perasaan bahagia yang membuncah ini. “Oke, deh. Gue mau.”

Kak Ify mengangguk, masih tidak mau menatap mataku. Lagi-lagi rona merah itu menghiasi pipinya, membuatnya terlihat begitu cantik. Dia beranjak dan mendekati sepedanya yang terparkir di depan pagar. Aku mengikutinya.

“Gue pulang, ya. Bye!” Dan dia berlalu dengan sepedanya. Setelah sepedanya hilang dari pandangan, aku langsung melompat-lompat kegirangan.

“Yes! Yes! Yes!!!! Gue pacarnya Kak Ify!!!”

--TAMAT--

Yak! akhirnya selesai juga! ini adalah cerpen ketiga ku, dan FF Alfy pertamaku. aku belum pernah pake Alvin di cerita-ceritaku sebelumnya.

Hahaha gimana nih? krik krik banget ya? jujur, aku sangat enjoy menulis ini karena selain sudut pandang orang pertama (jadi kayak nulis diary), juga karena bahasa yang aku gunakan adalah bahasa sehari-hari yang sederhana. jadi nggak ada beban deh bikin ini!

okay, kritik, saran, dan komentar selalu ditunggu. bisa di bawah ini, bisa juga via twitter (@dwidamn)


Muchas Gracias!