Rabu, 03 Agustus 2011

Ingatlah Hari Ini

Deg..deg..deg..

Tidak butuh alat pendengaran super untuk mendengar degup jantung semua orang di ruangan ini. Tidak butuh alat canggih macam elektrokardiograf untuk mengukur seberapa cepat jantung mereka berpacu. Semua orang di sini dapat mendengar dengan sangat jelas, karena semua merasakannya.

Deguban jantung tak beraturan masih belum ada apa-apanya dibanding rasa gugup luar biasa. Tangan-tangan basah penuh keringat dingin saling bertaut, sebisa mungkin menyalurkan energi positif untuk melawan kegugupan itu.

Pengumuman kelulusan memang selalu seperti ini. Setelah tiga tahun mempelajari materi-materi rumit dan 4 hari penuh menghadapi soal-soal Ujian Nasional, tentu saja hari ini menjadi hari yang paling dinanti. Puncak perjuangan.

Di saat-saat seperti ini, ketika perpisahan terasa nyata membayang di depan mata, memori-memori masa SMA langsung menyergap tanpa ampun dan pandang bulu. Kenangan-kenangan indah dan pahit yang mengiringi langkah mereka selama berbalut seragam putih dan abu-abu.

*-*-*-*

Kriiiing...

Bel masuk berbunyi tepat pukul tujuh di hari pertama tahun ajaran baru. Membuat seluruh siswa kelimpungan dan berlari sekuat tenaga menuju kelas masing-masing sebelum guru datang.

Ketika koridor kelas 11 dan 12 ramai oleh murid-murid yang berlarian, koridor kelas 10 justru sepi. Kegiatan MOS sudah dimulai 15 menit yang lalu. Anak-anak baru duduk dengan tertib di bangku masing-masing, sebisa mungkin memerhatikan arahan kakak-kakak pengurus OSIS.

Lingkungan dan suasana yang benar-benar baru membuat peserta MOS patuh, tidak berani melawan apalagi memberontak seperti setahun lalu, ketika mereka masih kelas 9. Murid-murid baru itu hanya bisa saling lirik, seperti menilai teman-teman barunya.

Di bangkunya, Ify melirik cewek cantik berambut panjang yang duduk dengan tenang di sebelahnya. Kalau Ify tidak lupa, nama gadis itu Shilla.

"Baiklah, kalian boleh istirahat dulu. Yang belum berkenalan, silakan berkenalan. Terima kasih." Akhirnya, setelah 2 jam pengurus OSIS menjelaskan ini itu, murid-murid kelas 10 boleh istirahat juga.

Semua murid kelas 10-5, kelas Ify, baru akan bangkit menuju kantin ketika tiba-tiba salah seorang dari mereka maju dan mencegat semua.

"Kenalin! Gue Ozy, anak juragan katering paling enak se-Jakarta!" kata anak itu pede. Semua kontan tertawa dan langsung ikut memperkenalkan diri.

"Gue Keke, elo?"

"Acha."

Bermula dari Ozy, Keke, Acha, dan langsung menular ke semuanya. Anak-anak kelas itu sekarang sibuk salaman sana-sini dan saling berkenalan. Ify jadi lebih mengenal teman-teman barunya. Ada Ozy yang kocak dan selalu pede, Shilla yang cantik dan sedikit centil, Acha yang daritadi hanya tersenyum lembut, Lintar yang terlihat cerdas namun pendiam, dan masih banyak lagi spesies ajaib di sana. Dalam hati Ify tersenyum, setidaknya satu tahun ini tak akan membosankan.

*-*-*-*

Ingatan itu terpatri jelas dalam benak semua murid. Ketika mereka harus menghadapi teman-teman baru, beradaptasi dengan lingkungan sekolah dan pelajaran-pelajaran SMA, semua itu tak mungkin terlupa begitu saja.

Mengingat itu, Ify tersenyum sendiri, membuat Rio yang berada di sampingnya menatapnya heran. "Kenapa?" tanyanya.

Ify menggeleng masih dengan senyum di wajahnya. "Nggak apa-apa."

Rio masih menatap Ify dengan sejuta pertanyaan tak terucap, namun suara kepala sekolah kembali mengalihkan perhatiannya.

"Kami sangat bangga. Rata-rata nilai Ujian Nasional meningkat drastis dari tahun lalu yang hanya 8,03. Penasaran?" Bahkan di saat-saat menegangkan seperti ini, Pak Budi, sang kepala sekolah, masih saja bercanda.

"Iyaaaa!!!" Serentak murid-murid menjawab.

Pak Budi tersenyum simpul kemudian mengklik mousenya. Rata-rata nilai langsung terpampang di layar besar di aula.

"Untuk jurusan IPA, rata-ratanya adalah 8,34; dan 8,30 untuk jurusan IPS!!"

"YEEE!!" Sorak-sorai dan teriakan kegirangan langsung membahana, seakan mampu meruntuhkan atap aula. Luapan kegembiraan, pekikan kepuasan yang memekakan telinga, menjadi satu-satunya suara di ruangan itu.

*-*-*-*

"Duuuh gue dapet kelas apa ya?"

"Bisa dibakar bokap nih kalo gue sampe nggak masuk IPA."

"Semoga gue IPS deh. Gue enek ketemu kimia, Tuhan."

Wajah-wajah tegang dan khawatir berjejeran di luar kelas. Sementara para wali murid berada di dalam, sebentar lagi akan mengambilkan rapor anak mereka. Ify sendiri sudah komat-kamit sejak semalam. Dia yang payah dalam urusan menghafal jelas sangat mengharapkan bisa masuk IPA.

Sekitar 20 menit kemudian, para wali murid serentak keluar. Ify langsung menyongsong papanya yang bertugas mengambilkan rapor hari ini. "Pa, gimana?" tanya Ify deg-degan luar biasa. Papa hanya membalas dengan satu senyum tipis.

"Selamat! Anak Papa masuk IPA!" kata papa sambil mengusap puncak kepala Ify. Ify melonjak-lonjak senang. "Alhamdulillah!!" pekiknya tertahan.

Ketika melihat Shilla, tanpa pikir panjang Ify langsung menghampiri. "Gimana Shil?"

"Gue IPS, Fy. Syukur deh!" jawab Shilla riang. Ify memeluk teman sebangku sekaligus sahabatnya itu. "Tapi kita bakal pisah, Shil!"

"Nggak usah lebay deh! Kita kan masih satu sekolah! Tiap hari juga ketemu." kata Shilla setelah melepaskan diri dari pelukan Ify. Ify terkekeh dan mengacak-acak rambut sahabatnya. Dan dia langsung kabur sebelum..."IIHH IFY!! RAMBUT GUE BERANTAKAN NIIIHHH!!"


Ify melangkahkan kakinya dengan ringan di sepanjang koridor. Setelah 3 minggu libur semester, tentu saja dia ingin bertemu dengan teman-temannya kembali.

Sebuah papan kecil bertuliskan XI IPA 2 menempel di bagian atas pintu di hadapan Ify. Gadis itu tersenyum ceria dan masuk ke kelas barunya. Tadi dia sudah melihat pengumuman pembagian kelas. Ada beberapa nama yang sudah akrab, seperti Acha, Ozy, dan Deva yang merupakan teman sekelasnya di kelas 10, tapi banyak juga nama-nama asing yang masih belum ia ketahui pemiliknya.

"Lho, Ify? Lo kelas ini juga?" tegur seorang cowok tiba-tiba. Ify menoleh dan matanya langsung membeliak.

"Gabriel? Kita sekelas nih?" Melihat Gabriel menganggukkan kepala, Ify senang juga. Dia kenal Gabriel karena mereka menangani rubrik yang sama di organisasi majalah sekolah.

"Yel, lo kelas mana?" tiba-tiba seorang cowok lagi menghampiri mereka. Cowok tinggi berkulit hitam manis dengan rambut spike yang keren. Gabriel menunjuk papan kelas dengan jari telunjuknya. Cowok itu manggut-manggut. Dan ketika pandangannya jatuh pada Ify yang berdiri di samping Gabriel, ekspresinya langsung berubah.

"Lo Ify ya? Hai, gue Rio!" Ify memasang tampang kaget, kaget tiba-tiba ada seorang cowok tak dikenal yang mengajak berkenalan. Ify menyambut uluran tangan Rio sambil tersenyum kecil. "Ify," katanya. Gabriel terkikik samar, membuat Rio melotot sampai matanya nyaris meloncat keluar. Ify meringis dan karena tidak ada kepentingan lagi, ia langsung masuk kelas setelah berpamitan dengan dua cowok itu.

Gabriel melirik Rio yang masih berdiri tertegun di sebelahnya. "Dari dulu cuma ngeliatin mulu. Ambil tindakan dong!" Gabriel tertawa puas di ujung kalimatnya.


"Woy! Gue punya kabar buruk!!" teriakan cempreng Nova membuat seluruh penghuni kelas 11 IPA 2 menghentikan aktivitas masing-masing dan memandang Nova dengan kening berkerut.

"Pak Hilman bakal ngadain ulangan fisika mendadak nanti di jam ke 2!"

Semua kontan langsung bengong, sebelum Deva menyeletuk, "Alah paling isu doang! Lo kan sukanya nyebar berita yang nggak ada benernya!"

Nova melirik Deva sebal. Udah untung dikasih tau! Dasar nggak tau diri! Makinya dalam hati. "Ini beneran tauk!!"

Nova dan Deva saling pelotot kesal. Gabriel langsung melakukan tugasnya sebagai ketua kelas, menengahi sebelum dua anak itu adu mulut. Lengkingan suara Nova jelas bukan menu yang baik untuk sarapan.

"Emang lo dapet info dari mana, Nov?" tanya Gabriel.

"Dari anak Pak Hilman, si Rahmi itu loh...anak kelas sebelah."

Seolah tersengat listrik dengan tegangan ribuan volt, banyak yang langsung kelimpungan mencari-cari buku fisika dan berusaha keras untuk mempelajari, tapi ada juga yang hanya mengangkat bahu tak acuh dan kembali melanjutkan aktivitasnya.

Ternyata berita itu benar! Begitu memasuki kelas, Pak Hilman langsung mengeluarkan setumpuk soal fisika dan menyuruh muridnya untuk menyiapkan alat tulisnya. Yang tiap malam rajin belajar macam Acha dan Gita sih tenang-tenang saja. Tapi, yang tidak sudi mengulang pelajaran di rumah seperti Ify dan yang lain jelas langsung tegang.

Ify menggigit ujung pensilnya. Dari 5 soal ulangan yang diberikan, Ify baru bisa menyelesaikan satu! Itu juga karena Gabriel membisikkan rumus padanya. Ia mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kelas, dan wajah-wajah frustasilah yang dapat ia lihat. Dalam hati Ify bersyukur. Kalau ia memang harus remidi, setidaknya Ify tau kalau ia tak sendiri.

"Mati deh gue! Matiii!!" Ify meratapi nasibnya dalam ulangan tadi. Dia hanya menjawab tiga soal! Itu juga dia yakin cuma benar satu. Demi Tuhan!

Ozy cekikikan di bangkunya, persis di depan Ify. "Makanya belajar! Udah tau bego fisika, masiiih aja males-malesan," ledek Ozy yang langsung dihadiahi sebuah jitakan keras oleh Ify.

"Sok banget sih lo! Emang elo bisa?"

"Oh, jelas bisa dong! Kan ada neng Acha yang siap sedia ngajarin gue. Iya, kan, Cha?" Acha yang juga duduk tak jauh dari Ozy langsung tersipu. Ify memutar bola matanya.

"Iya deh yang punya cewek pinter. Coba kalo lo sama gue! Makin bego lo pasti!"

Beberapa siswa yang mendengar percakapan Ozy dan Ify langsung tertawa, sedangkan Ozy bergidik. "Amit banget deh gue mau sama lo!"

Ozy langsung kabur, dan Ify, yang keki setengah mati langsung berusaha mengejarnya, membuat suara tawa terdengar makin keras.

*-*-*-*

Itulah Ify, yang anti dengan fisika, tapi secara ajaib bisa masuk kelas IPA dengan mudah. Ify yang tidak pernah belajar, Ify yang tidak pernah mau mengerjakan tugas kalau belum deadline, dan Ify yang tak pernah sekalipun masuk jajaran 10 besar di kelas. Boro-boro 10 besar! Ranking 14 aja dia dapatkan dengan usaha mati-matian!

Tapi, pengumuman peringkat perolehan nilai UN membuat semua orang tercengang. Banyak nama-nama tak terduga yang tiba-tiba melejit masuk 3 besar.

"Peringkat ke-3 kelas IPA dengan nilai 55,25, diraih oleh Raissa Arif! Selamat!" Sementara teman-temannya bersorak kegirangan, Acha malah terbengong-bengong. Sama sekali tidak menyangka dia masih bisa masuk 3 besar! Ia bahkan masih bengong ketika Ozy merangkulnya sambil berteriak-teriak norak.

"Peringkat ke-2 diraih oleh Patton Otlivio dengan jumlah nilai 56,70!" Lagi-lagi sorak sorai terdengar. Patton sendiri malah guling-guling di lantai saking senangnya. Pasalnya selama 3 tahun ini ia tidak pernah sekalipun menyentuh jajaran 3 besar......dari atas. Kalau dari bawah, sih, sering!

Tapi suasana langsung hening kembali, karena sebentar lagi akan diumumkan siapa yang menduduki peringkat pertama.

"Dan..peringkat pertama dengan jumlah nilai 57,20 diraih oleh......Alyssa Saufika!!" Hening lagi. Semua terpana. Semua tak menyangka.

"IFY!! CONGRATS!!!" teriakan kebahagiaan Shilla langsung menyadarkan yang lain, dan suasana langsung gaduh kembali. Nama Ify diteriakkan di mana-mana. Semua berebut untuk menyalami Ify, mengucapkan selamat pada gadis manis yang sama sekali tidak diduga akan menduduki peringkat pertama. Yang benar saja! Ify!!

Ify menangis terharu di pelukan Shilla. Shilla tertawa kecil melihat tingkah bodoh sahabatnya ini. Dalam hati dia ikut senang dan bangga akan prestasi Ify.

Rio membelai pangkal hingga ujung rambut Ify dengan perasaan campur aduk. Senang, bangga, sekaligus terharu. Ify melepas pelukannya pada Shilla dan berbalik menatap Rio. Rio balas menatapnya dengan hangat.

"Selamat, ya!" kata Rio lembut. Ify tersenyum manis dan langsung menghambur memeluk Rio. Rio tersenyum dan mengangkat kedua tangannya untuk membalas pelukan gadisnya itu. Ah, perasaan itu masih sama. Desir-desir halus dan debaran jantung secepat kuda masih ada ketika gadis itu menatapnya, tersenyum padanya, tertawa di depannya, menyentuhnya dengan lembut, atau memeluknya. Seperti sekarang ini.

*-*-*-*

Kehidupan remaja pasti tidak jauh dengan sesuatu bernama cinta. Sebuah perasaan abstrak yang bisa membuat kita seolah terbang begitu tinggi, namun bisa dengan keras menghempaskan tubuh kita kembali ke bumi. Sesuatu yang tak berwujud, yang mampu menjungkir balik bahkan memorak-porandakan perasaan dan hidup seseorang. Lalu, bagaimana kalau serangan cinta itu datang? Bagaimana kalau tiba-tiba cinta menyergap tanpa ampun? Sanggupkah kita menghadapinya? Dan yang paling penting...siapkah kita?


Hari masih pagi tapi seluruh murid SMA Airlangga sudah dibuat tercengang sampai terbengong-bengong. Ada pemandangan menghebohkan di tempat parkir. Shilla berangkat bareng Alvin! Sebetulnya fakta itu tidak jadi masalah kalau dua sejoli itu tidak bergandeng tangan sepanjang perjalanan dari tempat parkir ke ruang kelas mereka di lantai 2.

Lagu-lagu patah hati bergaung di mana-mana. Alvin, kapten basket yang baru sebulan lalu dilantik, jadian dengan Shilla, si cantik dan centil anggota cheerleaders! Cewek-cewek jelas tidak bisa berkutik. Pasalnya, pilihan kapten basket idola mereka cukup qualified...ah, bahkan SANGAT qualified. Siapa sih yang nggak kenal Shilla?

Begitu juga para cowok. Ketika Alvin dinobatkan sebagai kapten basket, otomatis jabatan 'saingan terberat' juga ikut diberikan secara tidak langsung. Motto cowok-cowok itu cuma satu: Jangan sampai gebetan naksir atau ditaksir kapten basket! Dan melihat Shilla, salah satu dari segelintir cewek yang dikategorikan sebagai cewek 'sempurna' di SMA Airlangga, yang menjadi penyejuk di pinggir lapangan ketika sinar matahari sore menyengat dengan teriknya, jadian dengan Alvin si saingan terberat, jelas langsung melenyapkan harapan sebesar upil untuk menjadikannya pacar.

Ify mengulum senyum ketika sahabatnya itu datang menghampirinya. "Ciee yang udah jadian," godanya pada Shilla dan Alvin.

Alvin tertawa kecil sedangkan Shilla menundukkan kepala dengan wajah memerah.

"Haha..selamat ya, Vin, Shill," kata Ify tulus sambil menyalami pasangan baru itu.

"Thanks, Fy," jawab keduanya kompak.

"Duuhh, giliran gue kapan ya?" Ify mengibas-ngibaskan tangannya sambil menyeringai lebar.

"Bentar lagi pasti dapet kok. Tuh, udah ada calonnya." Alvin mengerling Rio yang sedang menatap Ify dari samping motornya. Ify mengikuti arah pandang Alvin dan mendengus. "Calon apaan coba."

"Calon pacar, dong. Gue kenal Rio. Doi udah naksir berat sama elo sejak kelas 10, Fy."

Ify mengangguk-angguk malas. "Iya, deh. Whatever."

"WOOYY yang udah jadian!! Traktir dong!!" Tiba-tiba dari jauh terdengar suara teriakan. Ify, Shilla, dan Alvin memandang sekeliling dengan bingung. Siapa tuh yang teriak?

Tak lama kemudian seorang cewek dengan rambut yang dikuncir kuda datang menghampiri. "Hoy!" serunya, menyadarkan ketiga temannya.

Ify menimpuk Agni dengan gumpalan tisu yang digenggamnya. "Kayak preman lo! Lembut dikit, kek!" gerutu Ify. Agni menjulurkan lidah sambil tertawa mengejek. Lalu ia menoleh pada Alvin dan menepuk pundaknya.

"Gue pinjem PR lo, ya, Bro. Semalem ketiduran. Biasa lah, nonton bola dulu."

"Iyeee."

Ify memutar bola matanya. 3 bulan ia mengenal Agni, dan sampai sekarang ia masih gerah dengan kebiasaan buruk temannya ini. Tapi, tiba-tiba sebuah motor sport merah melewati gerbang sekolah. Ify menyipitkan matanya untuk melihat lebih jelas pengendara motor itu. Ah, ternyata....

"Target lo dateng tuh," desis Ify. Shilla dan Agni mengikuti arah pandang Ify dan tersenyum antusias.

Alvin menatap ketiga cewek itu bingung. "Target apaan sih?"

"Tuh, targetnya Agni," tunjuk Ify pada seorang cowok berambut gondrong yang baru saja melepas helm. Mata Alvin membeliak.

"Cakka?? Lo naksir Cakka, Ni??!" pekik Alvin. Agni menyeringai dan menepuk-nepuk pundak Alvin lagi. "Santai, Bro. Nggak usah syok begitu deh. Oke? Gue duluan!"

Agni berlari menuju kelasnya, meninggalkan Alvin yang masih terbengong.

Dua orang bergandeng tangan, saling belai, saling melemparkan gombalan dan tertawa bersama, sudah menjadi pemandangan yang sangat biasa bagi Ify. Lihat saja sahabatnya! Setiap hari, Shilla tak pernah lepas sedikitpun dari Alvin. Di tempat parkir, di koridor, di kantin, bahkan kata Agni, di kelas mereka juga nempeeeeel banget kayak perangko. Yah, walaupun nggak nempel-nempel banget, sih. Secara mereka nggak duduk sebangku. Tapi, you know, lah...

Agni sendiri sama saja. Walaupun tidak semesra Alvin dan Shilla, dia dan Cakka juga nempel mulu. Saling adu gombal. Berdebat sesuatu yang sama sekali nggak penting setiap hari. (Agni berhasil menekuklututkan playboy kelas kakap macam Cakka beberapa hari yang lalu. Entah dengan cara apa. Ify sendiri menganggap jadiannya Cakka dan Agni sebagai sebuah misteri.)

Ify mendesah. Dia gerah. "Guys, toleransi dikit bisa kali ya. Di sini ada high quality jomblo yang ogah banget liat kalian mesra-mesraan tiap hari," kata Ify suatu hari di kantin.

Shilla dan Agni tersenyum minta maaf sementara Alvin dan Cakka tertawa puas. "Yeah, right. High quality," ledek Cakka yang langsung dihadiahi sebuah tendangan maut di tulang keringnya oleh Ify.

"Fy, si Rio udah gencar banget PDKT sama elo. Lo juga ngerespon, kan? Udaaahh...jadian aja deh! Keeburu expired entar!" kata Agni santai. Ify langsung merengut. Rio lagi, Rio lagi. Memang, sih, Ify sangat tahu dan sangat merasa kalau Rio tertarik padanya. Dia juga mulai tertarik dengan cowok hitam manis itu. Tapi, entahlah....hatinya belum mau bergerak.

"Ify, bisa ngomong sebentar?" Tiba-tiba sebuah suara mengagetkan mereka. Ify mendongak dan mendapati Rio berdiri di sampingnya dengan seulas senyumnya yang khas. Alvin, Shilla, Agni, dan Cakka langsung terbatuk dengan gaya dibuat-buat. Masing-masing dari mereka menyunggingkan senyum jahil dan penuh makna. Ify memutar bola matanya dan langsung menarik tangan Rio. "Jangan di sini."

Ify tahu, hatinya belum mau bergerak karena tidak ada pemicunya. Dan mungkin, lantunan lagu romantis dan sebuket bunga bisa jadi pemicu yang tepat.

Matanya masih berkaca-kaca menatap Rio. Kedua tangannya memeluk sebuket bunga mawar merah yang cantik dan harum. Rio, dengan gitar di tangan, masih menatap Ify sambil mengangkat kedua alisnya, meminta jawaban.

Dengan berjuta perasaan yang berkecamuk dan jantung yang berdebar lebih kencang dari biasanya, Ify mengangguk kecil. Air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya luruh. Rio tersenyum lega. "Terima kasih," katanya tulus. Dan ketika Rio menggenggam erat kedua tangannya, Ify tahu, ini adalah keputusan paling tepat yang pernah ia buat sepanjang hidupnya.

Ify tidak perlu merasa iri dan gerah melihat kemesraan Alvin dan Shilla, atau mendengar celotehan Cakka dan Agni. Karena ia sendiri sudah menemukan pendampingnya. Sejak kemarin, ia resmi bukan high quality jomblo lagi. Ia sudah menjadi pacar Rio sekarang.

Ketika ia menceritakan kejadian kemarin dengan dua pasangan itu, mereka saling pandang sejenak sebelum akhirnya mengucapkan pendapat mereka dengan kompak. "Udah gue duga."

Ify juga sudah tak perlu bingung lagi ketika salah satu temannya curhat tentang cinta. Seperti sekarang ini. Ozy yang duduk di hadapannya bukan Ozy yang biasanya ia lihat. Ozy yang sekarang lebih murung dan matanya berkilat sedih. Tidak ada lagi lelucon-lelucon jayus dan tawa jahilnya.

"Udah dua hari ini Acha nggak mau angkat telpon gue, Fy. Lo juga lihat sendiri, kan, di kelas dia selalu ngehindarin gue? Aduuuhh akang Ozy teh salah apa sama kamu, Neng Acha?" ratap Ozy sedih. Ify jadi ikut prihatin melihat Raja Lawak kelasnya seperti ini.

"Lo inget-inget lagi, deh, Zy. Si Acha berubah sejak ada kejadian apa, atau setelah lo ngelakuin apa. Kalo nggak inget, tunggu aja, siapa tahu dia lagi ada masalah dan belum mau cerita. Dan kalo sampe lamaaa banget dia masih begini, elo berhak kok tanya sama dia. Secara dia kan cewek lo," kata Ify panjang lebar. Ozy menghela napas panjang. Benar juga kata Ify tadi. Ia menatap teman sekelasnya sejak kelas 10 itu dan tersenyum lebar.

"Thanks, ya, Fy. Walaupun elo bego setengah mampus, tapi lo baiiiikkk banget. Hehe.." Ify harus menahan perasaan keki dan dongkolnya, mengingat Ozy sedang ada masalah dan tidak sedang dalam kondisi baik-baik saja. Maka ia hanya melotot dan memilih kembali ke bangkunya.

Di bangku sebelahnya, Gabriel sedang mengobrol dengan seseorang di telepon. Ify tersenyum simpul. Pasti apel pagi.

"Iya, Sayang. Aku tadi sarapan, kok. Kamu juga dong, kan hari ini katanya ada ekstra sampe sore," ujar Gabriel lembut masih dengan ponsel menempel di telinganya. Sesekali Gabriel tertawa oleh apa saja yang dikatakan seseorang di seberang sana.

Setelah Gabriel mengakhiri pembicaraannya, Ify tidak tahan untuk berkomentar. "Makin lengket aja lo sama Sivia," sahutnya tak acuh, membuat Gabriel tersenyum.

"Nggak capek LDR?" tanya Ify. Gabriel mengangkat bahu, masih dengan seulas senyum di bibirnya. Sepertinya cowok itu hobi banget senyum. Bahkan Ify memiliki asumsi gila kalau Gabriel sudah tersenyum sejak pertama kali menghirup udara di bumi ini.

"Yaahh, capek sih enggak. Jalanin aja lah. Lagian nggak jauh-jauh amat, kok. Cuma Jakarta-Bandung ini, 2 jam juga nyampe."

Itulah remaja, yang selalu dibuai pahit dan manisnya cinta. Bukan pemandangan yang aneh lagi ketika dua sejoli bergandengan tangan, mengobrol mesra di pojok koridor, atau berpelukan singkat ketika akan berpisah di gerbang sekolah. Bukan pemandangan yang mengherankan lagi ketika salah satu teman mereka datang ke sekolah dengan wajah keruh dan mata bengkak dengan lingkaran hitam di bawahnya. Bukan pemandangan yang mencengangkan lagi ketika sepasang anak manusia adu mulut, adu bentak, bahkan adu jotos gara-gara masalah yang sama, cinta.

*-*-*-*

Suasana kelulusan masih sangat terasa di siang hari itu. Sepuluh menit yang lalu, akhirnya dengan bangga, Pak Budi mengumumkan bahwa seluruh siswa SMA Airlangga dinyatakan lulus! Lagi-lagi sorak-sorai dan teriakan membahana terdengar di sana-sini. Banyak yang meneteskan air mata saking terharunya, banyak pula yang melonjak-lonjak kegirangan, memeluk sahabatnya, bahkan ada yang sampai bersujud syukur dan menciumi lantai Aula.

Ify tersenyum lebar. Tangannya aman dalam genggaman Rio. Ia dan Rio saling tatap dan sama-sama tertawa kecil. Kebahagiaan tak terkira masih menyelimuti mereka.

Tiba-tiba dari arah barat, datanglah segerombol siswa. Masing-masing dari mereka memegang spidol dan kain putih berukuran cukup lebar. "Minta tanda tangan dooong!" teriak mereka serempak. Ify dan Rio kompak mengambil spidol mereka di saku dan menandatangani kain putih yang dibawa teman-temannya. Tak lupa, mereka juga balas meminta tanda tangan. Setelah saling berpelukan singkat, gerombolan itu pergi. Tinggallah Ify dan Rio sendiri.

"Masih nggak nyangka aku udah lulus sekarang. Padahal kayaknya baru kemarin kita dibentak-bentak sama panitia MOS," kenang Ify. Rio tersenyum dan membawa kilas-kilas kenangan masa lalu itu ke hadapannya, melihatnya sekali lagi sebelum akhirnya menutupnya dan membuka lembar baru kehidupan.

"Apapun yang terjadi, di manapun nanti kita berada, sejauh apapun jarak yang memisahkan kalau kita nggak kuliah di daerah yang sama, aku pengen kamu tau kalo aku tetep ada buat kamu." Ify melepaskan genggaman tangannya, dan sebagai gantinya ia memeluk erat lengan kiri Rio.

"Wooyy!! Pacarannya entar lagi! Sekarang ayo kita foto!" Alvin berteriak keras dari arah lapangan, membuat dua sejoli itu terlonjak kaget dan segera berlari menghampirinya.

Di sana sudah ada Shilla, Gabriel, Ozy, Acha, Deva, Nova, dan beberapa teman dekat Ify. Ify dan Rio menyelip di antara mereka sementara Alvin menyiapkan kamera yang sudah tergeletak rapi di atas tripodnya.

Ekor mata Shilla menangkap Agni dan Cakka yang sedang berjalan berdua, masih sibuk mencari tanda tangan. Ia pun berteriak, "Agni!! Cakka!! Ayo kita foto!!"

Agni dan Cakka berpandangan bingung, namun sedetik kemudian mereka sudah berlari mendekat.

Alvin berkoar-koar mengatur posisi, dan setengah mati menahan kesal pada Gabriel yang nggak sadar sama tinggi badan sendiri dan pengennya nampang di depan. Suaranya juga sudah mulai habis meneriaki Ozy dan Deva yang saling dorong, mendebatkan sesuatu yang nggak penting, seperti biasa. Teriakan Nova yang memprotes keras Acha dan Ify yang dianggapnya menjatuhkan pasaran dengan berdiri mengapit Nova juga mewarnai penataan posisi. "Kalo gue berdiri di tengah elo berdua, gue makin keliatan item tauk!" teriaknya jengkel. Ify terkikik geli dan berpindah sebelum teriakan kedua yang lebih mematikan terdengar.

Setelah berkali-kali mengatur posisi, akhirnya mereka siap berfoto. Alvin menyalakan timer dan bergabung dengan teman-temannya yang lain. Mereka saling tatap satu sama lain sambil tersenyum lebar dan penuh kasih.

"Say Airlangga!!" komando Deva.

"AIRLANGGA!!!"

JPREEETT!!

Kamu sangat berarti, istimewa di hati

selamanya rasa ini...

Jika tua nanti kita tlah hidup masing-masing

Ingatlah hari ini...


TAMAT

*-*-*-*

YEAYYYY akhirnya ini cerpen selesai juga!! sebenernya ini cerpen request-an dari sahabatku yang tercuanteeexx dan terimoeeett, monica! hahahaha dia uda request dari kapan tau tapi jadinya baru kemarin :p maaf ya mon kalo nggak sesuai harapanmu :D

Gimana nih cerpennya? jujur, baru kali ini aku bikin cerita macam ini. jadi masih harus banyak belajar karena mungkin cerpen ini belum memuaskan para pembaca hehehe :)

jangan lupa saran, komen, dan kritik ya!


Muchas gracias!

Fight for Love - Part 10

Part 10: this world is for those who want to fight

Bukan pertama kali ini Rio menjadi pusat perhatian di sekolah barunya. Memiliki orang tua dokter yang sering dipindahtugaskan, kejadian-kejadian kecil setelah ia menginjakkan kaki pertama kali di lingkungan baru bukanlah masalah baginya. He had a ton of practices.

Contohnya kali ini. Begitu bel tanda istirahat berbunyi nyaring, Rio langsung dikerubungi anak-anak sekelas yang penasaran dan ingin berkenalan lebih jauh dengannya. Kebanyakan sih cewek. Cewek centil dan suka cari perhatian macam Dea dan Zeva jelas yang paling semangat.

"Rio kok pindah ke Jakarta kenapa?"

"Eh, lo beneran sepupu Ify ya? Beruntung banget ya jadi Ify."

"Rio, minta nomer hape lo dong!"

"Ih, Rio manis ya. Apalagi kalo senyum gitu. Aaaahh unyu banget!!"

Rio hanya bisa tersenyum di bangkunya. Tak sepatah katapun keluar dari bibirnya. Tiba-tiba ekor matanya menangkap gerakan Ify dan Shilla. Ia langsung bangkit dan mengikuti kedua gadis itu tanpa menghiraukan lagi orang-orang yang mengerumuninya.

"Ify, tunggu!" seru Rio. Kedua gadis itu menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Rio tajam.

"Mau apa lo?" tanya Ify sinis. Shilla hanya diam saja. Dia sudah mendengar 'peran' Rio di sekolah ini dari Ify tadi.

"Aku? Cuma mau ngingetin kalo aku diberi tugas sama papa kamu untuk mengawasi kamu," jawab Rio ringan disertai sebuah senyum kecil di bibirnya, membuatnya terlihat sangat menikmati tugas ini.

Ify mencibir kemudian menarik Shilla. Peduli amat sama Rio!

Bukannya menjauh, Rio malah mengikuti langkah sepasang sabat itu. Dalam hati menerka-nerka ke mana Ify dan Shilla akan membawanya. Begitu mereka sampai di depan sebuah kelas, Rio mengerutkan keningnya. Jangan-jangan...

"Kak Gabriel!" seru Ify ceria dari ambang pintu. Gabriel yang sedang mengobrol dengan salah satu temannya langsung membalikkan tubuh dan terkesiap ketika melihat Ify dan Shilla di pintu kelasnya.

Rio menatap Ify dengan bingung. Apakah sepupunya ini sudah lupa kejadian semalam? Apakah ia lupa betapa murkanya keluarganya?

"Fy, kok kamu ke sini sih? Om kan udah wanti-wanti sama kamu!" bentak Rio. Ify tidak menghiraukan bentakan itu karena Gabriel sudah berdiri tepat di hadapannya. Yang terpenting sekarang adalah Gabriel.

"Ify! Kamu lupa ya sama obrolan semalam? Ayo balik kelas!" Rio meraih lengan Ify dan berniat menarik gadis itu menjauh ketika Gabriel mencengkeram tangannya.

"Siapa lo?" desis Gabriel.

Rio tertawa mengejek dan menjawab, "Gue Rio, sepupu Ify. Dan gue diberi amanat oleh Om gue untuk mengawasi Ify."

"Lo apa-apaan sih, Yo?" Ify menatap sepupunya kesal. "Lo nggak berhak ngelarang gue untuk bertemu siapa pun!"

Shilla berdiri canggung di tengah keributan kecil itu. Sebelum mereka sempat menarik perhatian murid-murid yang berlalu lalang di koridor, Shilla menarik Rio dan membawa cowok itu menjauh. "Kita duluan!" seru Shilla dari jauh.

Sepeninggal Rio dan Shilla, mereka berdua hanya berdiri terpaku. Tak ada kata yang keluar dari bibir keduanya, karena gejolak dalam dada masing-masing adalah perasaan yang terlalu rapuh untuk diungkapkan.

"Bisa minta waktunya sebentar? Gue...mau ngomong sama lo," kata Ify ragu. Tanpa menjawab, Gabriel langsung menggandeng tangan Ify, mengajaknya ke taman belakang.

*-*-*-*

Ify yang mengajaknya bicara berdua, tapi malah Ify hanya diam semenjak mereka tiba di taman belakang sekolah yang biasanya sepi setiap jam istirahat. Sedari tadi Ify hanya mendundukkan kepalanya, mungkin merasa ujung sepatunya terlihat lebih menarik dari biasanya. Dan..oh! Gabriel juga sempat melihat Ify mencengkeram kursi kayu yang sedang mereka duduki.

Gabriel menghela napas berat. Dia harus membuka suara. Kalau tidak, mereka berdua bisa duduk diam sepanjang hari. "Semalem gimana?" tanya Gabriel langsung.

Ify mengangkat kepalanya dan menatap Gabriel dengan mata berkaca. Bibirnya sedikit bergetar. "Gue nggak nyangka...." Ify bahkan tak sanggup lagi melanjutkan kata-katanya. Kesedihan yang sedikit menguap tadi pagi tiba-tiba menghantamnya lagi. Tepat di dadanya. Membuatnya sesak dan tenggorokannya tercekat.

Gabriel meraih tangan kiri Ify dan menggenggamnya dengan tangannya yang besar dan hangat. Tangannya yang bebas mengusap air mata yang akhirnya luruh dan membasahi pipi tirus itu. "Kita harus kuat, Fy. Gue janji. Gue akan memperjuangkan elo."

Terbius oleh tatapan lembut namun sungguh-sungguh Gabriel, Ify mengangguk pasrah.

Tapi, tiba-tiba Gabriel menarik kedua tangannya. Dia teringat sesuatu. Ify menerutkan kening, menunggu Gabriel mengatakan sesuatu. Bukannya balas menatap Ify, ia malah menengadahkan kepalanya, seakan menantang matahari yang sedang terik-teriknya.

"Masalahnya...apa elo mau gue perjuangin?" ucap Gabriel lirih nyaris seperti bisikan. Pertanyaan yang berputar di kepalanya selama ini akhirnya terungkapkan.

Ify membeku di tempatnya, membuat Gabriel ikut tegang menanti jawaban kekasihnya itu. Bagaimana kalau Ify memilih menurut pada papanya? Bagaimana kalau Ify tak mau ia perjuangkan? Bagaimana kalau hari ini adalah hari terakhirnya bertemu Ify? Bagaimana kalau..arrgghh!! Pikiran-pikiran ngawur bersliweran di otaknya, membuatnya nyaris gila.

"Semalam, keluarga gue bener-bener marah. Hampir murka, malah. Yaahh, walaupun gue juga tau kalau ini kesalahan gue, tapi gue sama sekali nggak nyangka kalo reaksi mereka akan seperti itu.

"Jujur, gue ngeri ngeliat betapa murkanya papa. Gue sedih ngeliat ekspresi terluka papa. Gue nggak bisa bayangin gimana rasanya dibohongin anak sendiri, anak kepercayaan yang sangat disayanginya. Gue masih bisa sekolah di sini aja udah merupakan anugrah buat gue, mengingat papa marah dan kecewa banget tadi malem. Dan semalam penuh gue mikir, kalo mungkin...gue nggak akan pernah mau bohongin papa lagi. Gue nggak mau bikin beliau kecewa, marah, dan sedih lagi. Semua itu terlalu menyakitkan buat gue."

Bahu Gabriel terkulai lemas. Selesai sudah. Gadis di sampingnya ini tak mau diperjuangkan. Dengan seluruh tenaga yang tersisa, Gabriel memutar tubuhnya menghadap Ify, menggenggam erat kedua tangannya, dan menatapnya dalam-dalam.

"Gue ngerti, Fy. Siapa sih gue dibanding ortu lo? Elo baru kenal bentar banget sama gue. Sedangkan sama ortu lo?" Gabriel menghela napas panjang berkali-kali sebelum melanjutkan, "Walaupun ini berat buat gue, Fy, tapi gue bisa ngerti. Gue bisa ngerti kalo elo lebih milih untuk ngalah. Tapi mungkin, untuk jarak waktu yang nggak bisa ditentukan, lo jangan pernah tunjukkin wajah lo di depan gue, jangan pernah cari-cari gue, dan jangan sekalipun coba sms atau tepon gue. Karena kalo lo ngelakuin itu semua, bakal bikin gue makin berat untuk....melepas lo."

Benar. Gabriel tak akan bisa melepas Ify kalau wujud nyata bahkan bayangan gadis itu masih menghantuinya. Ia tak akan sanggup menatap ke depan kalau ia masih berhubungan dengan Ify. Seperti sebaris lirik lagu Escape The Fate kesukaannya yang berjudul Harder Than You Know; Baby, don't talk to me, I'm trying to let go...

Lantunan nada-nada pilu dari mulut Gabriel, tatapan mata yang sendu dan kehilangan binarnya, serta genggaman tangan yang semakin merenggang seakan menampar Ify. Suara itu, wajah itu, mata itu, lagi-lagi menyesakkan dada dan memunculkan bening-bening kaca pada kedua matanya. Tidak! Bukan ini yang dia inginkan!

"Kak, maksud gue buk---"

Sebelum Ify sempat menyelesaikan kalimatnya, Gabriel sudah memotong. "I got it, Fy. Elo nggak perlu ngomong apa-apa lagi. That'd hurt me." Baiklaaaahh, untuk kali ini saja ia akan membiarkan sisi mellownya menang melawan egonya. Biarkan Ify, untuk kali ini saja, bisa melihat segalanya dari sisi Gabriel. Ikut merasakan apa yang ia rasakan. Dan kalaupun pada akhirnya ia harus menangis di depan gadis ini, karena emosi yang begitu menyesakkan dada dan mendesak untuk dikeluarkan, ia tidak akan keberatan. Biarkan saja Ify melihat air matanya, agar ia tau, seberapa berartinya seorang Ify untuk Gabriel. Betapa lemahnya Gabriel tanpa Ify di sisinya.

"Kak Gabriel," kata Ify lemah. "Maksud gue adalah...."

"Just don't say anything. Jangan ngomong apa-apa."

Kesal karena Gabriel lagi-lagi memotong kalimatnya, Ify menempelkan kedua telapak tangannya di kedua sisi wajah Gabriel, dan menunggu kedua mata hitam itu balas menatapnya. "Dengerin gue!" Gabriel baru akan menyela lagi ketika Ify menepuk kedua pipinya dengan keras. Ia pun diam dan membiarkan Ify bicara.

"Gue nggak mau bohong sama papa lagi, karena mulai sekarang gue akan jujur sama semua orang kalau gue cinta sama lo. Gue akan dengan terang-terangan mengaku dan menunjukkan kalo gue pacar lo. Mulai sekarang, gue akan bergerak terang-terangan. Terbuka."

Mulut Gabriel menganga mendengar pernyataan panjang Ify barusan. Siapa sih yang menyangka seorang Ify yang notabene adalah gadis penurut dan tak pernah keluar jalur bisa bertutur seperti itu? Bahkan Gabriel berani bersumpah, baru pertama kali ini Gabriel melihat setitik api di kedua mata sayu yang dinaungi bulu mata lebat dan lentik itu.

"Se..serius?" tanya Gabriel terbata, masih dikuasai kekagetannya. Jantungnya berdebar kencang, perpaduan antara tegang, tak percaya, dan antusiasme. Ify mengangguk mantap. Ia tak main-main, meskipun ia juga tau hal besar apa yang menghadangnya ketika ia memutuskan untuk melakukan ucapannya tadi.

"Tapi kenapa? Gue tau betapa lurusnya elo..."

Ify melemparkan senyum manisnya ketika menjawab. Tatapannya seikit menerawang, dan tangannya sudah tidak lagi berada di kedua sisi wajah Gabriel. "I'm dealing with the grey area. Karena ketika kita jatuh cinta, kita nggak tau mana yang benar dan mana yang salah."

*-*-*-*

Okaaaayyyy, makhluk kece yang baru beberapa jam lalu menginjakkan kaki di SMA Persada sangat membuatnya kesal! Berkali-kali Shilla harus menarik cowok itu, mencegahnya untuk tidak menginterupsi obrolan serius Gabriel dan Ify di taman belakang. Dan berkali-kali pula ia kena semprot cowok cerewet itu. Mending kalo cuma kata-kata doang, nah ini pake kuah segala! Bener-bener tipe cowok yang harus dihindari!

"Lo bisa anteng nggak sih??!" pekik Shilla tertahan. Tangannya mencengkeram erat pergelangan tangan Rio.

Rio menghujamkan tatapan tajamnya pada Shilla. Shilla menelan ludah. Cowok ini, walaupun ngeselin setengah mati, tapi yang namanya ganteng ya tetep aja ganteng! Ganteng banget malah!

"Kalo kamu nggak nahan aku kayak gini juga aku bakalan anteng, Nona!" sembur Rio lagi, membuat Shilla harus menutup mata dan menjauhkan wajahnya dari percikan cairan penghuni rongga mulut Rio.

"Lo tuh kenapa sih??! Biarin aja Kak Gabriel ngobrol sama Ify! Elo nggak perlu ganggu!" bentak Shilla lebih keras. Peduli amat sama beberapa siswa yang memandang ke arah mereka heran. Toh ia sudah terbiasa jadi tontonan, terutama saat ia memutuskan mantan-mantan cowoknya di sekolah ini.

Mereka berdua bersembunyi di balik tembok, namun tetap leluasa melihat Ify dan Gabriel. Begitu keduanya pergi dari taman itu setelah sebelumnya Gabriel membisikkan sesuatu di telinga Ify dengan romantis yang membuat Shilla iri mendadak, Rio langsung menyentakkan cengkeraman jari-jari Shilla. Shilla tersenyum menang. "Sekarang mau apa lo? Sana kejar mereka! Hahaha!!"

Rio menatap geram kepada gadis di depannya yang sedang tertawa keras sambil memegangi perutnya. Tanpa mengucapkan sepatah katapun, ia langsung pergi. Puas tertawa, Shilla mencibir dan menggerutu pelan, "Dasar orang gila! Ngerusak kesenengan orang aja! Pantes Ify sebel setengah mati sama lo!"

Kriiiing....

Bel tanda istirahat berakhir berbunyi. Tak ingin terlambat masuk kelas dan harus mendengarkan ceramahan guru jam berikutnya, Shilla beranjak dari tempat itu menuju kelasnya. Sebelum mengayunkan kakinya, ia berbalik menatap bayangannya di cermin besar bertuliskan 'Sudah rapikah Anda?' yang menempel di tembok sampingnya. Ia membenahi seragam, poni, dan rambut hitam mengkilat yang ditata perm hari ini, kemudian tersenyum puas melihat bayangannya terlihat lebih rapi dan lebih cantik dari sebelumnya.

*-*-*-*

Dua sahabat berkulit putih pucat tampak sedang mengobrol akrab di sudut kelas. Si cewek menyisir rambut panjang indahnya dengan jemari sambil mendengarkan setiap kata yang keluar dari bibir cowok putih bermata sipit itu. Ia tampak mengangguk-angguk, sesekali tersenyum atau tertawa kecil. Sementara mereka berdua mengoborl dengan akrab, penghuni kelas yang belum kembali dari kantin mencuri-curi pandang curiga ke arah mereka. Ah, bukan hanya curiga. Tapi iri. Cemburu.

"Eh, elo sebelumnya udah kenal sama si Ify itu?"

"Gue sih cuma tau wajah sama namanya doang. Dia kan yang dulu dikerjain sama cowok-cowok kelas kita, termasuk elo! Inget nggak?"

Alvin mengerutkan kening, mengingat-ingat. "Oh! Yang itu?!" seru Alvin sambil berusaha membelalakkan mata, tapi gagal. Mau melotot sampe urat matanya putus, mata Alvin tetep aja segitu.

Sivia tertawa kecil. "Iya, yang itu. Pantes Iel kayak nggak terima gitu waktu dia digodain. Ternyata...hahahaha!"

Mereka tertawa bersama sampai Gabriel duduk persis di depan mereka. Gabriel melirik Alvin dan sebuah ide jail melintas di pikirannya. "Vin, gue tau lo naksir Sivia, tapi gue harap lo sadar kalo tempat duduk lo itu di sebelah gue. Bukan di situ."

Alvin mencengkeram lengan baju Gabriel erat-erat dan menatapnya tajam. "Ngomong apa lo barusan??!" desisnya. Gabriel hanya tertawa, membuat Alvin mendengus dan menonjok lengan bahu sahabatnya itu.

Sivia mengipas-ngipas buku tulisnya di depan wajah, karena suhu di tubuhnya langsung berubah panas. Terutama wajahnya.

Gabriel mengedipkan sebelah matanya pada Sivia ketika Alvin kembali ke tempat asalnya. Cewek cantik itu tersenyum malu dan membuang muka, menghindari tatapan menggoda dari sahabatnya.

*-*-*-*

Suara pantulan high heels menggema di koridor sekolah, mengiringi langkah-langkah panjang kaki jenjang milik seorang wanita separuh baya. Di usianya yang menginjak pertengahan kepala 4, ia masih terlihat muda. Mungkin berkat usahanya merawat wajah dan rajin fitness dua hari sekali.

Langkah itu akhirnya terhenti tepat di depan pintu ruang kepala sekolah. Tangannya yang bebas mengetuk kayu jati besar dengan ukiran cantik di hadapannya. Setelah mendapat izin dari kepala sekolah, wanita itu masuk dan duduk di kursi yang telah di sediakan. Ibu kepala sekolah tersenyum manis dan menanyakan maksud wanita awet muda ini menemuinya.

"Begini, Bu, saya Mama Gabriel, mau melengkapi berkas-berkas yang dibutuhkan Gabriel. Dari dua minggu yang lalu dia sudah saya suruh, tapi lupa terus. Maklum, remaja kan sukanya gitu. Jadi saya langsung menemui Ibu saja."

Ibu kepala sekolah tersenyum bijak dan melemparkan pandangan hangat. "Wah, untuk masalah seperti ini, lebih baik Anda langsung ke Tata Usaha saja, tidak perlu repot-repot kemari."

Mama Gabriel balas tersenyum. "Saya lebih percaya sama Ibu."

"Waduh, jangan sampai staf sekolah ini mendengar perkataan Anda barusan," ujar Bu kepala sekolah setengah bercanda. "Boleh saya lihat berkasnya?"

Mama Gabriel menyerahkan map berisi berkas-berkas kepada Bu kepala sekolah. Wanita bermata teduh itu memeriksa berkas sekilas dan menaruhnya di laci meja kerjanya. "Ini sudah lengkap. Kalau ada berkas lain yang harus dikumpulkan, saya akan menghubungi Anda."

Setelah mengucapkan terima kasih berkali-kali, Mama Gabriel beranjak keluar dari ruangan itu. Demi bertemu dengan seorang wanita seusia dirinya di depan pintu....

*-*-*-*

Gina, tlg km ke sklh Ify hari ini. Td kepsek sms, katanya msh ada urusan perpindahan Rio yg blm selesai. Aku ada meeting mnddk.

Mama Ify mendengus mengingat pesan singkat yang dikirim suaminya satu jam yang lalu. Sebenarnya dia tidak masalah kalau harus ke sekolah Ify, tapi masalahnya hari ini dia punya janji yang tidak kalah penting dan dengan sangat terpaksa harus dibatalkan.

Otaknya mengingat-ingat letak ruang kepala sekolah yang tadi ditunjukkan satpam yang berjaga di lobi.

Beberapa meter dari ruang kepala sekolah, ia berpapasan dengan seorang wanita seusia dirinya. Mungkin salah satu orang tua murid di sini, batinnya. Ia tersenyum pada wanita itu.

"Selamat siang! Habis ketemu kepala sekolah juga?" sapa Mama Ify ramah. Wanita itu menghentikan langkahnya dan membalas sapaannya.

"Iya. Anda mau bertemu kepala sekolah juga?" Mama Ify menjawab dengan anggukan.

"Loh? Mama??" seru Ify dari kejauhan. Kedua wanita itu menoleh dan menatap Ify heran.

"Mama ngapain di sini?" tanya Ify setengah bingung. Pasalnya, dia yakin tidak ada rapat orang tua murid dalam waktu dekat ini.

"Ada urusan sebentar," jawab Mama. Ify ganti menatap wanita di sebelah mama. Mama tersadar dan berkata, "Ini anak saya. Baru kelas 2."

Wanita itu mengangguk dan menyalami Ify. "Namanya siapa?"

"Ify, Tante," jawab Ify sambil tersenyum dan memamerkan sederet gigi berhias behelnya.

Wanita itu, Mama Gabriel, terkesiap sedetik. Ia mengamati Ify dari atas ke bawah, dan ke atas lagi. Ketika matanya menangkap seulas senyum itu, ia tau mengapa jagoan kecilnya jatuh hati pada seraut wajah itu. Ia tau mengapa ekspresi Gabriel berubah ketika menceritakan Ify. Ia tau mengapa pipi Gabriel sedikit memerah ketika nama Ify disebut-sebut di rumah. Ah, Gabriel benar-benar sudah dewasa. Pilihannya tepat. Sangat tepat.


bersambung...

*-*-*-*

Komen selalu ditunggu :)


muchas gracias!