Minggu, 25 September 2011

Lewat Radio

Cintailah aku sepenuh hati..

Sesungguhnya aku tak ingin kau pergi..

Takkan mampu ku hadapi dunia ini..

Tiada arti semua bila kau pergi..


Alvin menyanyikan bait terakhir lagunya dengan seulas senyum lebar di bibirnya. Lagu barusan adalah single pertama di album keduanya sekaligus merupakan lagu penutup konser malam ini.

Penonton bersorak meneriakkan namanya. Teriakan "Lagi! Lagi! Lagi!!" menggema di seluruh tribun penonton. Lagi-lagi Alvin tersenyum.

"Terima kasih atas kedatangan kalian malam ini. Terima kasih telah mendukung saya sampai sejauh ini. Tanpa kalian, saya bukan apa-apa. Terima kasih untuk hadiah-hadiah yang kalian berikan, saya menyukainya."

Lagi-lagi teriakan penonton memekakkan telinga. Alvin melambaikan tangan sambil tersenyum lebar. Setelah teriakan itu mereda, Alvin kembali melanjutkan pidatonya.

"Malam ini adalah malam yang nggak akan saya lupakan begitu aja. Terima kasih sekali lagi. Dan maaf, saya hanya bisa menemani sampai di sini. Sampai jumpa lagi!!"

"Aaaahh!!" penonton mendesah kecewa. Alvin hanya bisa tersenyum, melambaikan kedua tangannya, dan pelan-pelan berjalan menuruni panggung.

Manajernya sudah siap dengan handuk di tangan. Begitu Alvin menginjak tangga terakhir, ia langsung mengulurkan handuk itu. Alvin menerimanya dengan seulas senyum penuh terima kasih.

"Kamu bisa langsung istirahat, Alvin. Nggak ada jadwal setelah ini."

*-*-*-*

Manajer Alvin duduk sambil meniup-niup kopi panasnya. Di depannya, sang artis sedang serius membaca skrip film yang ia bawa barusan. Tadi malam, salah seorang produser film mendatanginya dan meminta Alvin untuk membintangi sebuah film. Ketika ia mengabari Alvin lewat telepon, Alvin tidak memberi jawaban, hanya meminta sang manajer agar membawakan skrip film itu.

"Bagaimana? Kamu tertarik?" tanya sang manajer, Fadel, setelah Alvin selesai membaca.

Alvin menaruh skrip itu di meja dan mulai meminum teh hangatnya yang ia anggurkan sedari tadi. "Hmm..idenya cukup menarik. Abang yakin aku nggak harus ikut casting dulu?"

Fadel menggeleng. "Produser film itu uda liat kemampuan akting kamu di film-film sebelumnya, dan ia terkesan. Kamu beruntung, tauk!"

Alvin terkekeh. "Baiklah, aku mau."

Fadel hampir menjatuhkan cangkir saking kagetnya. Semula ia berpikir bahwa mungkin Alvin akan menolak, mengingat jadwal manggungnya yang cukup padat bulan ini. Tapi, siapa yang mengira ternyata artis muda ini langsung menyetujui. "Kamu serius?"

"Kapan sih aku bercanda soal ginian?" tanya Alvin retoris. Fadel hanya meringis mendengarnya.

"Oh, iya. Hampir saja lupa." Alvin menatap judul film yang tertera di skrip cukup lama sebelum mendongak menatap manajernya. "Siapa yang akan menjadi lawan mainku?"

*-*-*-*

Alvin terduduk dengan sebuah notebook yang menyala di hadapannya. Dengan cepat ia mengetikkan sebuah nama pada search engine. Nama yang beberapa hari lalu disebutkan manajernya, yang nantinya akan menjadi lawan mainnya.

Ify Alyssa

Menampilkan 1-20 dari 15.000 hasil


Alvin setengah melongo melihat hasil penelusuran Ify Alyssa di search engine. Ia segera mengklik salah satu link dan membaca profil Ify Alyssa yang tertera di sana.

Ternyata nama aslinya Alyssa Saufika Umari, Ify Alyssa adalah popular name-nya. Usianya 17 tahun, satu tahun lebih muda dari Alvin. Ia sudah menjadi penyanyi sejak menginjak Sekolah Dasar. Tak hanya jago menyanyi, Ify, sapaan Ify Alyssa, juga pandai berakting. Hal itu dibuktikan dengan belasan serial dan beberapa judul film yang pernah ia bintangi.

Alvin nyaris terjengkang melihat foto close-up Ify. Bukan main cantiknya gadis ini! katanya dalam hati. Pernah beberapa kali ia mendengar orang-orang di sekitarnya membicarakan seorang Ify Alyssa, tapi ia tak pernah memerhatikan. Dan..hey! Bukankah gadis itu yang ada di konser amal semalam? Alvin dan Fadel menghadiri sebuah konser amal di sebuah ballroom hotel tadi malam. Ia sama sekali tidak menyangka bahwa gadis pelantun lagu 'Cintaku Untukmu' adalah Ify, calon lawan mainnya.

"Hmmm..semoga ini cewek enak diajak kerja."

*-*-*-*

Ify Alyssa merogoh-rogoh oversized bag-nya dan menggerutu pelan, tidak menemukan benda yang ia cari.

"Nyari apa, sih?" Di sebelahnya, sang kakak sekaligus manajernya, Shilla, bertanya dengan heran.

Ify menjatuhkan tasnya di tengah-tengah. "Nyari headphone," jawab Ify sedikit ketus sambil menunjukkan iPod-nya.

Shilla tersenyum kecil dan merogoh saku belakang jok. Tak lama kemudian, headphone putih milik Ify sudah ada di tangannya. "Nih, kemarin kamu naruh itu di sini."

"Hehehehe.." Ify tertawa kecil, malu akan kecerobohannya. Ia lalu mengalihkan perhatian pada organizer biru tua yang selalu dibawa kakaknya.

"Hari ini ngapain aja?" tanya Ify.

Shilla memeriksa organizer-nya sebelum menjawab. "30 menit lagi rapat sama produser film. Jam 2 ada pemotretan plus interview sama majalah GlamTeen. Jam setengah 4 fitting baju, dilanjut dinner sama keluarga Wilaga jam setengah 6."

Ify mendengus pelan. "Wilaga? Yang punya WTV itu? Yang sombong banget itu?"

Shilla hanya menatap Ify datar sebagai jawaban, seakan mengatakan, "Iya, lah. Siapa lagi?"

Mobil Innova yang ditumpangi Ify dan Shilla berhenti di parkiran bawah tanah sebuah gedung bertingkat. Ify membenahi penampilannya sebelum turun dan naik ke lantai 3, tempat diadakannya rapat nanti.

Di ruang rapat baru ada seorang cowok berusia sekitar 28 tahun (dilihat dari wajah dan pakaiannya yang terlihat resmi) dan seorang cowok putih yang jauh lebih muda.

"Hai!" sapa Shilla pada kedua cowok itu. Si pria 28 tahun itu mendongak dan tersenyum. Ia langsung berdiri untuk menyalami Shilla.

"Ashilla ya? Kakak sekaligus manajer Ify Alyssa?"

"Shilla," koreksi Shilla segera.

"Saya Fadel, dan ini Alvin."

Mendengar namanya disebut, Alvin langsung mendongak dan berdiri, ikut bersalaman dengan Shilla dan Ify. Ify maupun Alvin sama-sama melakukan quick scanning, lalu tersenyum.

"Alvin."

"Ify," katanya sambil memamerkan seulas senyum andalan Ify Alyssa, senyum yang selalu disukai fotografer.

"Kata resepsionis di depan, kita disuruh nunggu sebentar."

Shilla mengangguk singkat dan langsung duduk. Ify ikut duduk. Ia memilih kursi persis di sebelah Alvin.

Seperti kebiasaannya ketika bertemu orang baru, ia langsung mendekati orang itu dan mencoba mengenal lebih jauh. Terlebih orang di sampingnya ini akan menjadi lawan mainnya, jadi tidak ada salahnya mulai mendekatkan diri sejak sekarang.

*-*-*-*

Ternyata Alvin sudah akrab dengan Ify, pikir Danny, sang sutradara, sambil mengamati kedua orang itu dari belakang kamera.

Saat itu adalah pengambilan adegan Alvin dan Ify. Mereka terlihat akrab. Malah Danny sedikit tidak sabar ketika berkali-kali Alvin mengacaukan konsentrasi Ify dan membuat gadis itu tertawa di tengah-tengah take. Seharusnya mereka berdua berdiri berhadapan dan berpegangan tangan, lalu perlahan wajah Ify terangkat menatap Alvin, setelah itu Ify akan tersenyum dengan mata berkaca-kaca karena akhirnya bertemu dengan Alvin yang sudah lama tak ditemuinya. Seharusnya itu menjadi adegan romantis, tapi ternyata..

"Alvin, kita tidak sedang membuat film komedi," Danny menegur dari belakang kamera.

Alvin berbalik dan membungkukkan badan, meminta maaf. Ify juga ikut membungkukkan badan, namun ia melakukannya dengan tangan membekap mulutnya, menahan tawa.

Danny menghembuskan napas. "Sekali lagi," katanya.

Alvin menatap Ify serius. "Jangan ketawa lagi. Kamu nggak bakal suka liat Mas Danny kalap."

Kemudian Alvin membisikkan sesuatu di telinga Ify sambil menunjuk-nunjuk Danny. Ify menatap Alvin dengan tatapan heran, lalu melirik Danny, dan akhirnya kembali menatap Alvin yang mengangguk-angguk kecil.

Danny hanya bisa mendesah melihat ulah kedua pemainnya. "Alvin! Ify!" tegurnya sekali lagi. Alvin dan Ify meringis lalu kembali ke posisi semula dengan konsentrasi penuh.

Danny mengangkat pengeras suaranya. "Camera, rolling...action!!"

*-*-*-*

7 bulan berlalu sejak pertemuan pertama Ify dan Alvin. Syuting sudah berakhir 4 bulan lalu, tapi Ify dan Alvin masih sering berhubungan. Hubungan mereka memang tidak lantas berhenti walaupun syitung sudah selesai. Ify sering menghubungi Alvin untuk meminta saran, Alvin sering bertemu gadis itu di acara-acara TV, baik sebagai undangan maupun pengisi acara. Mereka berdua juga tak jarang sengaja membuat janji untuk bertemu di sela-sela jadwal yang sangat padat.

Semakin sering Alvin bertemu dengan Ify, semakin sering pula wajah keduanya wira-wiri di program infotaiment dan majalah atau tabloid. Beberapa wartawan pernah mendapatkan gambar mereka berdua ketika sedang makan siang bersama di daerah Kemang.

Gosip-gosip tidak sedap pun mulai berdatangan. Keduanya digosipkan berpacaran. Bahkan Ify pernah dituduh sebagai orang ketiga atas putusnya hubungan Alvin dengan pacarnya, Sivia, beberapa bulan lalu karena kedekatan mereka berdua. Untung Alvin segera mengklarifikasi gosip itu dan Ify pun bisa beraktivitas seperti biasa tanpa harus mendengar komentar-komentar negatif yang ditujukan untuknya.

Mereka berdua memang terlihat tenang menghadapi gosip-gosip murahan itu. Tapi kesabaran manusia ada batasnya. Dan batasnya hari ini.

Ify membanting tabloid yang terdapat foto dirinya sebagai cover. Shilla baru saja membeli tabloid itu dan langsung menyerahkannya pada Ify. Hati Ify serasa terbakar membaca artikel yang terdapat di tabloid itu.

Di artikel itu disebutkan bahwa hubungan Alvin dan Ify sudah memasuki tahap yang lebih serius. Bahkan, disebutkan bahwa keduanya akan melangsungkan pertunangan beberapa bulan lagi, padahal usia keduanya belum genap 20 tahun. Disebutkan juga bahwa Alvin sudah sering mengunjungi rumah Ify dan mengenal dekat keluarga besar Umari, keluarga Ify.

Pada halaman tepat di balik artikel itu juga termuat beberapa foto candid Ify dan Alvin. Ada foto ketika mereka berdua sedang berjalan menuju mobil Alvin (saat itu mereka baru saja makan malam dengan teman-teman sesama artis), ada foto Ify dan Alvin yang duduk berdua di acara awards (entah bagaimana caranya kursi mereka bersebelahan, pasti si empunya acara sengaja), dan terakhir ada foto mereka berdua di ulang tahun Ify yang ke-18 sebulan lalu. Di foto itu Ify dan Alvin terlihat sedang asyik mengobrol. Sebelah tangan Alvin diletakkan di punggung kursi belakang Ify, jadi seolah-olah Alvin sedang merangkulnya, padahal bukan begitu kenyataannya.

"Wartawan sialan!!" maki Ify keras, mengagetkan kucing persia yang sedang bermalas-malasan di dekat kakinya.

Shilla menghela napas berat. Ia sudah menduga reaksi adiknya setelah membaca artikel itu. Gosip berpacaran masih bisa diterima, tapi bertunangan? Geez, bukan wartawan infotaiment namanya kalo nggak lebay!

"Bisa nggak sih mereka berhenti bikin gosip-gosip sampah kayak gini! Seenaknya aja nyebarin berita!! Kampret!!" maki Ify sekali lagi. Shilla mengelus pundak adik yang 8 tahun lebih muda darinya itu.

"Udah, Fy. Namanya juga wartawan infotaiment," ujar Shilla, berusaha meredakan amarah Ify.

"Tapi mereka udah keterlaluan kali ini, Kak!" sahut Ify tidak terima.

"Udaaahh, nggak usah dipikirin lagi. Kakak udah kontak pihak Alvin, dan katanya manajer Alvin udah ngasih klarifikasi ke wartawan, bahkan kalo wartawan itu masih nggak percaya, Alvin sendiri yang akan turun tangan."

Ify menghela napas berkali-kali. Inhale..exhale..seperti yang diajarkan instruktur yoga nya untuk menenangkan diri.

"Udah?" tanya Shilla.

Ify mengangguk. Ia masih emosi, tapi sudah jauh lebih tenang daripada beberapa waktu lalu.

Shilla menyodorkan sebuah little black dress dengan aksen manik-manik di bagian dada. "Nih, mending kamu siap-siap. Beberapa jam lagi film kamu tayang perdana kan?"

Ify mengambil gaun itu dan naik ke kamarnya di lantai dua. Sebentar lagi ia akan menghadiri premier filmnya dengan Alvin. Ngomong-ngomong tentang Alvin, cowok itu jadi jemput ke rumah nggak sih?

Pertanyaan tak terungkap Ify langsung terjawab begitu Shilla berteriak dari bawah. "Fy! Alvin bakal jemput kamu jam 6!!"

*-*-*-*

Ify turun dari mobil Alvin setelah membenahi penampilannya. Keduanya berjalan menuju red carpet yang telah dikerubungi wartawan. Serangan lampu blitz dan beragam pertanyaan langsung menyambut mereka begitu mereka berjalan di sepanjang red carpet. Beberapa kali Ify dan Alvin berpose berdua, sempat juga berfoto bersama sutradara dan kru film yang lain. Senyum tak henti-hentinya mengembang di bibir keduanya, walaupun beberapa wartawan ada yang usil menanyakan gosip pertunangan mereka -which is so not true.

Di sepanjang acara, keduanya begitu menikmati film yang mereka bintangi sendiri. Ada rasa bangga yang hinggap ketika melihat diri mereka berakting dengan begitu gemilang di film itu. Mereka begitu terkesan dengan pilihan gambar Danny dan efek-efek yang dibuat oleh para editor.

"Keren ya, ternyata," komentar Ify pelan dalam keremangan bioskop. Alvin yang duduk tepat di sampingnya terkekeh dan mengangguk setuju.

Setelah menonton dan sempat mengadakan konferensi pers kecil-kecilan, seluruh pemain dan kru film itu langsung berangkat menuju sebuah cafe eksklusif yang telah dibooking untuk mengadakan after party sekaligus reuni.

Ify dan Alvin lebih memilih menyendiri, menjauh dari hingar-bingar di dalam sana. Keduanya duduk dengan tenang di balkon, menikmati angin malam yang berhembus pelan.

"Maaf ya," tiba-tiba Alvin berujar.

Ify menoleh dan menatap Alvin heran. "Maaf untuk apa?"

Alvin tersenyum kecil, namun perasaan bersalah tergambar jelas di wajahnya. "Gara-gara aku, kamu jadi harus nahan kesel ngadepin wartawan-wartawan kurang kerjaan itu," kata Alvin penuh sesal.

"Oh, itu." Ify mengangguk. "Nggak apa-apa, lagi. Yaah, walaupun sempat kesel setengah mati. Tapi, tanpa mereka kita juga nggak bakal ada di sini, kan?"

Lalu hening. Keduanya sama-sama tidak tahu apa yang harus dikatakan. Walaupun Alvin sebenarnya punya sesuatu untuk dikatakan pada Ify.

"Fy.."

"Hmm?"

"Minggu depan aku ke Spore," kata Alvin pelan. Ify terkesiap dan kehilangan kata-kata selama beberapa detik.

Setelah berhasil menguasai diri, ia bertanya, "Ngapain? Mau liburan? Ihh jahat nggak ngajak-ngajak," ujar Ify berusaha terlihat santai, walaupun pasti bukan karena liburan Alvin mau ke Singapura. Ekspresinya yang begitu serius tidak mungkin bisa membohongi.

"Bukan. Aku mau promo album kedua ku, sekaligus re-package album. Ngerekam lagu-laguku yang udah diterjemahin ke bahasa Inggris."

Ify sudah tau bahwa waktu ini akan tiba. Beberapa minggu ini Alvin dan label rekamannya sibuk menerjemahkan lagu Alvin ke dalam bahasa Inggris. Ify bahkan sempat membantu cowok itu.

"Hmm..ya udah. Good luck!"

Alvin tersenyum. Ia mengacak-acak rambut Ify pelan. "Jangan kangen ya," godanya.

Bibir Ify mencebik. "Iihh..nggak bakal lah!"

Lalu keduanya tertawa bersama, dalam hati sangat menikmati momen ini, karena mungkin saja ini terakhir kali mereka bertemu sebelum keberangkatan Alvin ke Singapura selama beberapa bulan.

*-*-*-*

"Jadi, konsep video klip Ify akan dibuat...."

Ify menguap bosan di tempatnya. Ia sempat melihat Shilla melayangkan tatapan menegur yang hanya ia balas dengan cengiran tak bersalah.

Kali ini sedang diadakan rapat untuk membahas konsep video klip single kedua Ify. Semalam Ify begadang menonton drama korea favoritnya dan baru terlelap pukul 4 pagi. Padahal jam 7 ia harus ke kantor label rekamannya untuk membahas konsep video klip. Pantas saja ia dari tadi hanya menguap dan memandangi orang-orang di ruangan itu dengan bosan.

Hari ini tepat seminggu setelah after party premier filmnya dan Alvin. Dan benar saja, pertemuan kali itu adalah pertemuan terakhir mereka. Keduanya sama-sama sibuk dan hanya berkomunikasi lewat ponsel.

Ify melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. 7.30. Hmm..kurang dari setengah jam lagi pesawat Alvin akan lepas landas. Berarti cowok itu pasti sudah ada di bandara sekarang.

Ify baru akan mengetikkan sms untuk Alvin ketika BlackBerry-nya bergetar. Alvin lebih dulu mengirimi BBM.

Mau take off nih. Bye, Ify! See you in 6 months :)))

Tak sadar, Ify menahan napas membaca BBM dari Alvin. Dengan perasaan tak menentu, ia mengetikkan balasan.

Oke. Have a safe flight ya, Vin! Take care! :))

Ify meraih pensil dan menuliskan sesuatu pada notesnya: He said goodbye.

Dan sepanjang sisa rapat pagi itu, Ify hanya melamun, menganggap penjelasan produsernya angin lalu.

*-*-*-*

5 bulan sudah berlalu sejak keberangkatan Alvin ke Singapura. Keduanya masih sering berhubungan walaupun tidak sesering dulu karena kesibukan Alvin yang bertambah berkali-kali lipat dari biasanya. Promo albumnya berjalan lancar, dan sekarang ia disibukkan dengan berbagai konser dan jumpa fans.

Ify tersenyum kecil mengingat kejadian beberapa waktu lalu. Jam sudah menunjukkan pukul 11 malam ketika tiba-tiba Alvin meneleponnya. Cowok itu baru saja selesai manggung di sebuah acara dan mendadak insomnia, padahal besok pagi ia harus mengisi acara talk show.

"Nyanyi buat aku dong, Fy," pinta Alvin waktu itu.

Ify terkekeh. "Kenapa harus repot-repot telepon kalo pengen denger suaraku? Dengerin aja laguku yang udah aku copy-in ke iPod kamu. Gampang, kan?"

Di seberang sana, Alvin ikut terkekeh. "Rasanya beda, Fy. Serius deh!"

Akhirnya setelah berdebat kecil, Ify mau juga bernyanyi untuk Alvin.

There's a song that's inside of my soul..

It's the one that I've tried to write over and over again..

I'm awake in the infinite cold..

But you sing to me over and over and over again..

Lagu milik Mandy Moore yang juga merupakan soundtrack film romantis A Walk to Remember menjadi obat tidur Alvin malam itu. Ia begitu menikmati baris demi baris lirik yang dinyanyikan Ify dengan penuh penghayatan.

Ify baru akan mengakhiri panggilan karena sudah tidak terdengar suara apapun dari seberang sana ketika suara Alvin yang berujar lirih (mungkin karena ia setengah sadar) membekukan seluruh tubuhnya.

"Good night, Dear," katanya waktu itu.

Ify hampir menjatuhkan ponselnya. Matanya melebar dan bibirnya terbuka separuh. Gawd! Did he just call me 'Dear'?

Kejadian itu tidak hanya terjadi sekali. Hampir setiap malam Alvin menelepon Ify, meminta gadis itu bernyanyi untuknya sebelum akhirnya cowok itu terlelap. Dan ternyata Ify tidak salah dengar waktu itu. Setiap Ify selesai menyanyi, Alvin pasti mengucapkan selamat malam, diikuti dengan kata 'Dear' bahkan 'Sweetheart' sebagai penutup.

Ify memegang dadanya. Beberapa hari ini Alvin tidak menghubunginya, tidak meneleponnya tengah malam seperti biasa. Secuil perasaan khawatir menghinggapi dirinya, tapi bukan itu yang membuat dadanya sesak pagi ini. Ia rindu Alvin. Sejak keberangkatan Alvin ke Singapura, ada sesuatu yang hilang dari dirinya. Ify mencoba menutupi fakta itu, tapi tidak berhasil. Ia rindu Alvin. Rinduuu sekali.

Lamunan Ify buyar oleh ketukan keras di pintu kamarnya. "Ify! Cepat siap-siap! 15 menit lagi kita berangkat ke Star FM!"

Ify mendengus mengingat jadwal satu-satunya hari ini. Ia menjadi bintang tamu di sebuah acara untuk remaja dalam Star FM. Kata Shilla, ia harus tampil prima can ceria, padahal ia sedang kehilangan semangat.

Ditatapnya bayangan wajahnya di cermin. Dengan seulas senyum lebar tersungging di bibir, Ify berseru kepada dirinya sendiri, "Ify, fighting!!"

*-*-*-*

"Helloooo guys!! Ketemu lagi sama gue, Aji, di acara StarTeen! Kali ini gue nggak sendiri, nih! Di sebelah gue, ada seorang cewek cantik yang jago nyanyi dan jago akting! Cewek satu ini sedang sibuk-sibuknya bikin album baru yang katanya bakal rilis nggak lama lagi. Hmm penasaran? Yak! Ini dia! Ify Alyssa!! Apa kabar, Ify?"

Ify membenahi headphones dan mengubah posisi duduknya agar lebih nyaman. Ia tersenyum kecil kemudian mencondongkan tubuh ke microphone di hadapannya.

"Hai! Alhamdulillah baik," katanya ceria. Ia merasa lebih rileks sekarang.

"Waahh, sahabat StarTeen udah pengen banget ngundang elo ke sini dari kapan tau, tapi baru kesampaian sekarang, deh!" Aji kembali berceloteh dengan suara renyahnya.

"Hahahahaha..sekarang udah kesampaian, kan?" balas Ify diplomatis.

"Oke, well, selain sibuk bikin album, sekarang lagi sibuk ngapain lagi nih?"

"Kalo ditanya sibuk ngapain sih jawabannya pasti macem-macem, ya. Secara tiap orang kan nggak cuma punya satu kegiatan. Tapi kali ini gue lagi sibuk persiapan album dan syuting serial gue yang terbaru. Mungkin akan ditayangkan sekitar sebulan lagi," jelas Ify.

"Waahh, serial lagi? Asik niihh para penggemar Ify di manapun kalian berada, siap-siap pantengin TV terus ya, karena nggak lama lagi serial Ify yang baru akan tayang!"

Ify terkekeh. "Tapi gue nggak bakal tanggung jawab kalo tagihan listrik mereka pada naik," canda Ify.

Sekitar 15 menit Ify ditanya ini itu oleh penyiar radio ceriwis bernama Aji itu. Sesekali diselingi iklan dan lagu-lagu yang emang lagi ngehits saat ini.

"Nah, sekarang langsung aja nih. Siapa aja yang pengen ngobrol langsung sama Ify, tanya apa aja ke dia, tinggal telepon aja ke 021-565-5657. Mulai dari...sekarang!"

Tak ada satu menit, sudah ada penelepon. "Wah, ini dia penelepon pertama kita hari ini. Dengan siapa di mana?" Cara Aji berinteraksi dengan penelepon mengingatkan Ify pada kuis-kuis yang sering ditonton mamanya setiap hari.

"Saya fans Ify dari Malang, tapi sekarang lagi ada di Bekasi." Suara cowok.

Dahi Ify mengernyit mendengar suara itu. Kok kayaknya kenal ya? Ia pun memajukan tubuhnya, mendengarkan penelepon itu dengan lebih antusias.

"Oke, dari Bekasi. Namanya siapa?"

Jeda sejenak sebelum cowok itu menjawab, "Nathan."

"Hai, Nathan!" sapa Ify ramah. Dari balik dinding kaca, Shilla mengangkat kedua ibu jarinya.

"Well, Nathan. Mau tanya apa, nih?"

"Mmm..aku nggak mau nanya apa-apa," kata cowok itu, membuat bingung seisi studio.

"Terus?" tanya Aji heran.

"Aku mau nyanyi buat Ify."

Ify melongo, sementara Aji tersenyum kecil di tempatnya. "Waahh jarang-jarang nih ada yang mau nyanyi buat Ify. Mau nyanyi lagu apa?"

"Lagunya Alvin Jo, Cintai Aku Sepenuh Hati."

Ify meremas-remas tissue di tangannya mendengar nama yang disebut fansnya yang bernama Nathan tadi. Jantungnya langsung menolak berdebar secara teratur.

"Oke, silakan!"

Tanpa diminta dua kali, cowok itu mulai bernyanyi. Suaranya begitu jernih, membuat Ify dan semua orang di studio itu merinding. Tapi tunggu..kenapa cara cowok ini bernyanyi sama persis dengan Alvin?

Ternyata Aji juga merasakan keganjilan pada cowok itu. Setelah Nathan selesai menyanyi, Aji tak tahan untuk bertanya. "Kok suara lo mirip banget sama Alvin Jo, sih? Jangan-jangan elo Alvin, lagi."

Terdengar derai tawa di seberang sana. "Bingo!" katanya.

Mulut Ify menganga makin lebar. Aji bahkan sempat blank beberapa detik. Astaga! Apa-apaan ini?!

"Ini..beneran Alvin?" tanya Ify ragu.

"Iya, Fy. Masa lupa sama aku, sih," kata Nathan-atau-Alvin-whoever-lah lembut.

"Kamu di Indonesia?"

"Tepatnya di Bekasi, di rumah tercinta."

Ify hampir lupa caranya bernapas. Ini benar Alvin! Alvin yang dirindukannya!

"Alvin?" panggil Aji.

"Ya?"

"Kenapa harus menyamar jadi penggemar Ify?"

Lagi-lagi derai tawa terdengar. "Kejutan!!"

Orang-orang di luar studio langsung bersorak. Rating acara ini pasti akan naik dalam sekejap. Thanks to Ify and Alvin!!

Shilla bahkan langsung memerintahkan salah satu anak buahnya untuk merekam apa yang sedang terjadi di dalam.

Sekarang malah jadi ada dua bintang tamu. Aji langsung memanfaatkan kesempatan ini untuk mencecar Alvin dengan berbagai pertanyaan seputar kegiatannya di Singapura.

Tibalah akhirnya di penghujung acara. "Okay, last question, nih. Nggak mungkin kan elo nelpon ke sini tanpa tujuan? So, apa yang mau elo sampaikan ke Ify sampe dibela-belain nelepon ke sini?"

Tanpa sadar Ify memejamkan matanya. Tangannya berkeringat, gugup menanti apapun yang akan dikatakan Alvin.

Alvin tidak langsung menjawab. Ia diam selama beberapa detik, membuat Ify makin gugup. Hingga akhirnya, dengan lembut dan penuh kesungguhan, dua kalimat meluncur dari bibirnya.

"Aku kangen kamu, Fy. Aku nggak kuat lagi jauh-jauh dari kamu."

*-*-*-*

Satu tahun kemudian..

Alvin meniup-niup teh panas kesukaannya. Jam baru menunjukkan pukul 3.45, tapi ia sudah duduk di teras sambil menikmati secangkir teh panas. Di atas meja di depannya, tergeletak sebuah majalah yang baru saja dikirim oleh tim redaksi. Terpampang foto dirinya dan Ify yang diambil seminggu lalu sebagai cover. Di ujung bawah cover, terdapat dua baris kalimat dengan huruf besar-besar berwarna biru.

ALVIN JO & IFY ALYSSA:

"WE'RE LUCKY TO HAVE EACH OTHER..."

Alvin tersenyum kecil membaca kalimat itu. Hmm..he's lucky to have such a fabulous girl like Ify.

Kemudian matanya tertumbuk pada sebuah undangan pernikahan berwarna merah maroon dengan hiasan keemasan bertuliskan: F&S. Fadel dan Shilla akan menikah dua hari lagi.

Tiba-tiba suara alarm menjerit-jerit dari ponselnya. Alvin menatap layar ponsel sekilas dan tersenyum lebar. Diletakkannya cangkir berisi teh panas itu, dan ditekannya tombol 7, angka speed dial yang menghubungkannya langsung dengan Ify.

"Hmmm??" Ify mengangkat teleponnya setelah tiga kali nada tunggu. Suara gadis itu parau, mungkin baru saja bangun, atau malah terbangun gara-gara teleponnya.

"Good morning!" sapa Alvin.

Ify mengerang. "Kamu nggak punya jam ya? Ini masih jam 4!" omelnya.

Alvin hanya tersenyum seolah tidak mendengar omelan Ify. Ia malah berkata, "Happy first anniversary, Honey. I love you."


TAMAT

*-*-*-*

hello!! yeay aku kembali dengan cerpen baru! ini bikinnya cepet banget loh, nggak ada sehari deh pokoknya!

oh iya, cerita ini terinspirasi oleh WooYoung 2PM yang membuat kehebohan dengan berpura-pura menjadi fans IU dan meneleponnya ketika IU lagi jadi bitang tamu di salah satu radio hehehehe langsung deh tercetus ide untuk membuat cerpen kayak gini.

komentarnya ditunggu ya, bisa di sini atau via twitter @dwidasept)


Muchas Gracias!

Selasa, 20 September 2011

Sweet Sixteen

It’s September 20th. Anyone knows what does that mean? Hehehehe it’s my birthday!! Yaaayyy!!

I can’t believe I’m turning 16. Sixteen. SIXTEEN. Doesn’t it mean something? I have to be more mature, maybe?

Yes, I was being so childish all the time. Seriously, when you’re at my age, your mood-swings are your worst enemy. Like..they’re killing you slowly and in painful way (?)

Some of my best friends sent me ‘birthday messages’. Here’s from Riri, the first one:

Wow it’s 00.00! I’m rush to type this message before someone could send it firstly!*typing...*

HAPPY BIRTHDAY! Happy sweet 16th for my dearest bestie :*

I wish that you could be a strongest Wonder woman and a powerful wizard in your own world J

WINGARDIUM LEVIOSA!

Pop up your life, build up your world, and let’s MAKE A CHANGE!

Have a blast bday! :* :* :* :* :*

~ririr~

(I guess it’s the longest message somebody ever sent to me. Mmm has anyone known that she IS obsessed with Harry Potter? Her life is full of spells, like Wingardium Leviosa, Alohomora, and..you know, wizard’s things hahaha. But she is wonderful and I love her :*)

Second, from Anya, who’s far away from me cause she moved to Cimahi 2 or 3 months ago:

Dwida Sayangku. Happy birthday yaaaa. Panjang umur, tambah pinter, tambah rajin belajar & sholat, tambah nurut ortu. Pokoknya semuaaaa yang baik nambah ke dwida. Semoga kepengenan dwida tercapai ya :)

Maaf anya gbs ngado lagi kaya dulu, tp disini anya selalu doain yg terbaik buiat dwida.

Best wishes always darling .

Once,happy birthday :*

From Cimahi with love .Xoxo :*

(I’m going to cry like seriously!! Anyaaaa thank you for all the amazing wishes. I always wish you were here. Presents, distance, uggghh they don’t even matter! I always love you, always miss you every second in my life, and also wish the best for you. Hope we’ll meet soon, dear :*)

Third, from my best friend slash classmate, Ifa:

HAPPY BORNDAY MY BESTIE DWIDA SEPTANAIMA KUMALASIWI!!

HAVE A BLAST!!

WE LOVE YOU :*

(She told me this morning that she couldn’t find any sweet words. Hahahaha, my definition of sweet is THIS, honey. And please repair your caps lock hihihi love you! :*)

Next, my sister from another mother, Monica (hahahahaha):

So may wishes

So many smiles

Too many tears

Too many memories

Too few words

With one big birthday

HAPPY BIRTHDAY DWIDA SAYAAANGG<3 semoga panjang umur, sehat, diberi rezeki yg banyak.

Semoga tambah pinter, tambah baik, tambah rajin, tambah semua yg baik baik. Umur tambah makin dewasa ya dwid :’)

Once again, happy birthday dwida :) :*

Salam muah muah dari Monica

Xoxo ;)*

(Hahaha I still don’t know what’s the point of the first part of this message :p Mon, you’re the youngest among us, but you know, sometimes you acted like you’re waaayy older than us. Hmmm maybe you should swap with someone in X-1, X-2, X-3, X-4, or X-5 so you’re not away from me any longer hehe. Mwach! :*)

And also thanks for those who wish the best for me via Twitter and Facebook (Sasa, Icha, thanks for the water :p) and thanks for others who can’t be mentioned one by one here. Thank you for all the wishes and I love you! :*

Ah! HAPPY BIRTHDAY ALVIN JO!! haaaa we have the same birthday hihi :D

Wish you nothing but the best and have a blast! keep raaawwwkk \m/

Senin, 05 September 2011

Fight for Love - Part 11

Part 11: Perang Terbuka


"Siap?"

Dengan terpaksa Ify mengangguk. Ia meraih tangan Gabriel dan duduk di atas motor sportnya. Ada perasaan lega yang menyusup di hati Gabriel ketika gadis itu sudah ada di boncengannya. Gabriel melirik Ify sekilas melalui kaca spion dan menutup helmnya. Motor itu melaju kencang meninggalkan halaman belakang sekolah.

Sementara itu, di depan gerbang utama, Cakka dan Rio tampak menunggu dengan tidak sabar. Berkali-kali mereka melirik jam masing-masing dan menjulurkan leher, mengamati siapa saja yang ada di lapangan dalam.

"Kok lama banget sih, Yo?" desak Cakka. Tapi percuma, Rio sama tidak tahunya dengannya.

"Mana aku tau! Tadi dia bilang mau ke kamar kecil," jawab Rio.

"Dan lo ngelepas dia begitu aja?! Ngebiarin dia sendirian?"

Rio tampaknya mulai tersinggung dengan pertanyaan itu. "Terus aku harus gimana?! Ikut masuk kamar mandi cewek?!" balas Rio setengah kesal. Cakka meringis dan melemparkan tanda peace pada Rio.

Cakka memutar kepalanya lagi. Kali ini tiap sudut ia amati dengan teliti. Dari kejauhan, seorang cewek berambut panjang datang menghampiri. Ia melemparkan senyum manisnya pada Cakka.

"Jemput Ify ya?"

Cakka balas tersenyum dan mengangguk. "Lo tadi bareng sama dia nggak, Shill?"

Shilla mengerutkan keningnya dengan bingung. Ketika bel pulang berdering tadi, Ify langsung melejit ke luar kelas diikuti Rio. "Nggak tuh, bukannya tadi sama elo, ya, Yo?"

"Tadi emang sama aku. Tapi tadi dia ke kamar kecil dulu."

"Kamar kecil yang di mana?"

"Yang di deket parkiran samping."

Bibir Shilla mengulum senyum penuh arti. Parkiran samping. Hmm...Gabriel biasa memarkirkan motornya di situ. Dan akses dari lantai 3, tempat kelas Gabriel berada, ke parkiran itu sangat mudah. Tinggal turun tangga, jalan sedikit, sampai deh! Kalau mendengar cerita Ify tentang kejadian kemarin waktu jam istirahat, bisa dipastikan Ify sedang bersama Gabriel sekarang.

"Elo tau di mana Ify sekarang nggak, Shill?" tanya Cakka ketika dilihatnya Shilla hanya diam. Shilla menggeleng. Ia tidak bohong. Toh ia juga tidak tau di mana Ify sekarang. Ia hanya tau bahwa sahabatnya sedang bersama Gabriel.

"Tapi mending elo berdua pulang deh. Percuma nungguin Ify di sini." Tak mau menunggu dua cowok itu mencerna kata-katanya, Shilla langsung bergegas menuju jalan raya ketika dilihatnya mobil jemputannya sudah menunggu.

Cakka menyenderkan tubuhnya ke tembok dengan lemas. "Tuh anak udah kayak belut sekarang. Semua gara-gara cowok brengsek itu! Ayo, Yo, kita kejar mereka berdua!"

Rio langsung mengikuti langkah-langkah panjang dan cepat Cakka. Mereka berdua masuk mobil. Honda City keluaran 2000 itu melaju kencang, meninggalkan debu-debu yang berterbangan.

*-*-*-*

Ify menatap geli Gabriel yang bersimbah keringat di hadapannya. Wajahnya begitu merah sampai ke telinga. Gabriel mengibas-ngibaskan tangan di depan wajah.

"Nih minum dulu." Ify menyodorkan segelas es jeruk masih dengan seulas senyum geli. Gabriel menandaskan isi gelas itu dengan empat kali teguk.

Keluar dari sekolah, mereka mampir dulu ke warung mie ayam Pak Yanto yang terkenal pedas, tak jauh dari sekolah.

"Makanya, nggak usah banyak-banyak ngasih sambelnya. Kepedesan, kan," ujar Ify. Gabriel meringis dan melanjutkan acara makannya. Melihat wajah kekasihnya yang merah padam dan bersimbah keringat, ia merasa tak tega juga. Ditariknya selembar tisu dari sakunya, dan perlahan mengusap titik-titik keringat di wajah tampan itu. Gabriel menghentikan kunyahannya dan menatap Ify dengan takjub.

"Makasih," kata Gabriel tulus.

Ify tersenyum singkat dan kembali meneruskan aktivitasnya. Ketika ia memandangi jalanan di depan warung tenda itu, tatapannya langsung terkunci pada sebuah Honda City yang terparkir di samping motor Gabriel. Dengan rasa tegang luar biasa, Ify membaca plat nomor mobil itu. B 2243 CIF. Oh my...

"Pulang yuuukk!" kata Ify tiba-tiba sambil memasang wajah memelasnya. Sumpit Gabriel berhenti di udara.

"Kenapa? Gue belom selesai, nih!"

Ify bolak-balik menatap ke jalan depan dan Gabriel dengan panik. Gabriel mengerutkan kening, heran dengan kelakuan Ify. "Kenapa sih?" tanyanya sedikit memaksa.

"Ada Kak Cakka sama Rio!!" pekik Ify lebih panik. Wajahnya memucat.

Gabriel meletakkan sumpitnya dan menatap Ify lekat-lekat, tepat di manik mata. Ify ganti melempar pandangan panik dan sedikit heran, kok Kak Gabriel malah diem aja, sih?! teriak batinnya.

"Katanya mau perang terbuka? Nggak jadi nih?" Tanpa sengaja, Gabriel melontarkan pertanyaan dengan nada sinis. Apa Ify udah lupa sama perkataannya kemarin waktu istirahat?

Ify tergagap. Mulutnya membuka menutup mirip ikan, mau ngomong tapi nggak jadi-jadi. Oh iya, dia kan niat mau perang terbuka. Tapi....

"Tapi kan...gue..mm..apa ya? Gue..."

"Nggak niat? Oke. Boleh-boleh aja sih," tukas Gabriel langsung. Ify langsung cemberut, merasa terpojokkan. Diam-diam menahan dongkol pada cowok satu itu. Ngertiin dikit kek! Kan baru kali ini dia 'berbelok' dari jalannya yang selalu 'lurus'! Pasti butuh adaptasi lah.

"Sukanya nge-judge orang tanpa tau kebenarannya. Dasar!" cibir Ify pelan. Pelaaaan sekali, tapi Gabriel masih bisa mendengarnya. Lha wong jarak mereka nggak ada satu meter.

"Ngedumelnya dalam hati aja. Gue kepedesan nih," sahut Gabriel enteng. Ify mengaduk-aduk minumnya dengan sedikit kasar, menimbulkan dentingan keras gelas beradu sendok.

Diam-diam Gabriel mengulum senyum. Rasanya sudah lama sekali ia tak melihat ekspresi seperti ini dari wajah Ify. Beberapa waktu belakangan, gadis itu lebih banyak murung. Jarang sekali menunjukkan ekspresi lugunya yang lucu, atau ekspresi kesal yang menggemaskan seperti ini. Pipinya juga jarang memerah. Hmm...mungkin ia harus membuat sepasang pipi putih itu merona menahan malu.

"Eh gue belum bilang ya? Elo cantik banget hari ini, kemarin-kemarin juga iya sih. Pokoknya elo tuh selalu cantik."

Serrrr...darah di seluruh tubuh langsung seperti berlarian di wajah Ify, meninggalkan warna merah padam nan cantik di kedua pipinya. Belum puas Gabriel menggoda Ify, cowok itu dengan senyum jahil tersungging, menggenggam tangan Ify di atas meja dan membawa ke depan wajahnya persis.

Jantung Ify langsung jumpalitan tak keruan. Masih saja sulit rasanya untuk mengatur jantungnya agar berdetak normal ketika Gabriel berada sedekat ini dengannya. Apalagi ketika Gabriel menyentuhnya ringan seperti meraih tangannya, menggenggamnya erat, merengkuh bahunya, atau mengusap kepalanya dan mengacak-acak rambutnya.

"Jari lo lentik, ya. Cantik juga kayak orangnya," kata Gabriel lembut tanpa mengalihkan pandangan dari tangan Ify. Ify membuang muka dan menyentakkan tangannya.

"Gombal!" Gabriel terkikik di tempatnya.

"Ooh, perang terbuka ya? Hmm..interseting." Sebuah suara dingin langsung menyela tawa Gabriel. Ify menegakkan tubuhnya, syarafnya menegang seketika. Gabriel memutar tubuhnya, menghadap sumber suara dingin itu yang duduk di belakangnya. Seketika ia tersentak.

"Halo, Gabriel!" sapa Cakka tajam. Ify bergidik dan menyembunyikan wajahnya. Gabriel masih membisu.

"Menyenangkan banget, kan, jalan sama adek gue?" sindir Cakka. Gabriel tetap diam, tak bereaksi.

"Iya, nyenengin banget sampe-sampe kamu njerumusin sepupu aku," sambung Rio tiba-tiba. Ify mengangkat wajah dan memelototi Rio. Kalo nggak tau apa-apa nggak usah ngomong deh!

"Masih untung yang jemput elo hari ini gue, Fy. Kalo papa sendiri gimana ya?"

Ify mengerucutkan bibirnya dan menyipitkan mata menatap Cakka. Kakak satu-satunya ini sudah berubah. Kalau dulu ia sering kontra pada semua aturan papa terhadap Ify, kali ini ia banting stir dan memilih untuk memihak papa.

"Elo kok jadi kayak gini sih, Kak?" desis Ify menyuarakan pikirannya. Seulas senyum sinis tersungging di bibir Cakka.

"Tanya tuh sama cowok lo yang brengsek itu!"

Gabriel mendesis dan langsung berdiri berhadapan dengan Cakka. Cakka ikut berdiri, memandang Gabriel sinis. Ify memutar bola matanya dan ikut bangkit, langsung menarik tangan kedua cowok itu dan membawa mereka dari TKP. Rio yang rada-rada syok dan emang dasarnya kalo nyerap sesuatu pasti lama (bahasa bakunya: lemot), cuma bisa bengong dan akhirnya ikut keluar. Tapi sebuah tangan khas bapak-bapak penjual mie ayam yang pastinya bau mie dan berminyak, langsung menghentikan gerakannya.

"Mas, bayar dulu dong! Mie ayam 2 sama es jeruk 3, jadi semuanya 14 ribu."

Rio cuma bisa pasrah dan mengambil dompetnya, menyodorkan selembar sepuluh ribuan dan lima ribuan. "Ambil aja kembaliannya!" seru Rio sambil berlari ke jalanan.

*-*-*-*

Tangan kecil itu menyentakkan pergelangan dua laki-laki di sampingnya. Ify menatap keduanya dingin dan berujar, "Sekarang terserah elo berdua mau ngapain. Mau bunuh-bunuhan juga boleh. Ayo!"

Gabriel dan Cakka berpandangan bingung. "Maksudnya?"

Dengan tangan terlipat di depan dada, Ify mendengus sebal. Andai saja ia memiliki lebih banyak kekuatan dari perempuan pada umumnya, ia pasti sudah menghajar habis kedua lelaki itu. Tapi, ia cukup sadar bahwa tangannya tidak cukup kuat untuk membuat salah satu apalagi keduanya lebam.

"Lo berdua tuh egois, tau nggak?!"

Cakka tersentak. Belum pernah Ify membentak sangat keras seperti itu. Dan menilik luapan emosi pada wajahnya, bukan tidak mungkin kalau sebentar lagi cewek itu akan histeris.

Gabriel terlihat kehilangan kata-kata. "A..apa, Fy?" Mungkin dia syok dibilang egois sama ceweknya sendiri. Ia merasa sudah menjadi pacar terbaik di dunia -yang perhatian, pengertian, lembut, romantis, dan bla bla bla-, tapi dengan mudah Ify menyebutnya apa? Egois?

"Iya, egois!! Cuma mikirin perasaan sendiri! Lo nggak tau dan nggak mau peduli sama perasaan gue kan?!" Ify membentak sekali lagi. Urat lehernya serasa ingin putus. Kristal-kristal air mulai menumpuk di matanya, tinggal satu gerakan kecil dan semuanya akan tumpah begitu saja, mengungkap fakta betapa rapuhnya gadis itu.

Melihat Cakka dan Gabriel hanya diam, Ify melanjutkan lirih, "Kak Cakka, elo nggak tau kan gimana perasaan gue? Gue pengen ikut ngerasain apa yang temen-temen gue rasain; jatuh cinta. Gue pengen lo ngerti dan sadar, kalo gue udah gede, ingin menentukan jalur hidunya sendiri. Gue cuma pengen itu, dimengerti.

"Terus, Kak Gabriel. Ini kali pertama gue berbuat seperti ini, melakukan perang terbuka, membangkang orang tua. Elo sendiri tau betapa lurusnya gue sebelum ketemu lo, jadi gue masih butuh waktu buat terbiasa sama ini semua. Semua butuh proses, Kak, dan nggak semudah lo membalikkan telapak tangan. Tapi lo nggak pernah mau ngerti. Elo selalu bersikap dingin kalo gue ketakutan mau bertindak nekad, lo nggak tau gimana gue bergelut dengan diri gue sendiri, cuma buat lo."

Pengakuan seorang wanita. Pengungkapan rahasia yang tersimpan rapi dalam hati wanita, makhluk penuh keajaiban. Rahasia yang sebenarnya terlalu rapuh untuk diungkapkan.

Setelah mengeluarkan isi hatinya, Ify tertunduk lemas. Air matanya mentes satu persatu, diiringi guncangan kecil bahu kecilnya. Membuat kedua pasang lengan kokoh itu ingin segera menariknya, merengkuhnya dalam pelukan hangat.

Cakka berjalan mendekat, mengusap lembut puncak kepala Ify. "Maaf," ucapnya lirih.

Sepasang mata lain menatap adegan itu nanar. Ingin, ingiiin sekali ia ikut mendekat, menenangkan dengan sentuhan lembutnya. Tapi sesuatu menahannya. Mungkin Ify memang sedang ingin sendiri, tenggelam dalam dunianya sebentar.

Ify mengangkat wajah, menghilangkan jejak-jejak air mata dengan punggung tangannya. "Gue pengen pulang," katanya final.

Gabriel menghela napas. Menyerah. "Ya udah, hari ini gue nggak bisa nganter lo. Lo nggak mau bonceng motor dalam keadaan kayak gini, kan?" Yang ditanya hanya mengangguk sekali.

"Gabriel, gue pulang dulu," pamit Cakka kaku. Mungkin gencatan senjata sangat penting dilakukan sekarang, demi gadis yang terdiam dalam rangkulan Cakka.

"Aku juga." Gabriel menoleh dan tersentak. Ia nyaris melupakan makhluk satu ini, yang sedari tadi hanya diam memerhatikan, mungkin takut disemprot Ify.

"Hati-hati!" pesan Gabriel sedikit keras sebelum pintu mobil Cakka tertutup dan menelan bayangan tambatan hatinya.

Enough for today, batin Gabriel.

*-*-*-*

"Assalamualaikum!" Suara Ify terdengar samar-samar dari dapur, membuat mama yang sedang bereksperimen dengan resep yang baru didapatnya dari internet langsung menghampiri.

"Kok baru pulang? Ke mana aja?" tanya Mama. Ify diam saja, berjalan ogah-ogahan ke lantai atas.

Mama baru akan berteriak ketika Cakka menepuk bahunya. "Ify lagi banyak pikiran, Ma. Dia mungkin lagi pengen sendiri."

Mama menatap Cakka bingung. "Pikiran apa?" Mama mengerutkan kening, lalu, sebentuk wajah muncul di pikirannya. "Ah, cowok itu, ya?"

Cakka mengangguk. Mama menatap putranya sendu, menepuk pipinya pelan. "Ya udah. Biarin aja dulu." Ketika dilihatnya Rio masuk, beliau langsung menyapa, "Hai, Rio! Makan siang dulu sana! Pasti belum makan, kan?"

Rio tersenyum senang. Akhirnya ada juga yang menyadari keberadaannya. Sudah cukup ia menjadi kambing congek di dekat tukang mie ayam dan di mobil tadi. "Oke, Tan! Ini baru mau ganti baju dulu. Gerah," jawabnya.

Setelah Rio berlalu, mama ganti menatap Cakka. "Kamu juga makan dulu, gih! Jangan lupa cuci tangan! Biar Ify mama yang urus," katanya menenangkan.

Mama menaiki tangga satu persatu yang membawanya ke kamar Ify. Beliau diam sejenak di depan pintu jati itu, kemudian memutar handel, membuka pintu kamar putrinya yang tidak pernah terkunci.

Ify sedang menelungkup di tempat tidurnya sambil memutar lagu dari stereo-set nya keras-keras. Perlahan, mama menekan tombol off, membuat kamar itu hening.

"Is everything alright?" Mama bertanya dari ujung ranjang. Malas-malasan Ify membalikkan badannya.

"Menurut mama?" balas Ify ketus.

Ah, mama berkata dalam hati. Tidak pernah Ify menjawab seketus ini.

Ify menenggelamkan kepala dalam-dalam pada guling yang dipeluknya ketika mama menyentuh puncak kepala Ify dan mengusapnya.

"Ify tau kenapa banyak orang tua yang menentang anaknya pacaran?"

Mata bulat kecoklatan itu menatap mama heran sekaligus tertarik. "Emang kenapa?"

"Karena mereka nggak ingin anaknya sakit hati gara-gara orang lain. Kami para orang tua berusaha mati-matian agar anaknya bahagia, eeh tiba-tiba ada orang yang dengan seenaknya menyakiti anaknya," jelas mama.

Ify menggeleng, tampak tak setuju. "Tapi, rasa sakit itu kadang perlu, Ma, biar kita jadi lebih kuat. Bahkan induk macan aja membiarkan bayinya terjebak dalam parit, biar bayinya berusaha sendiri keluar dari sana. Ify pernah baca di mana gitu, menampar bukan berarti membenci, seperti mencium bukan berarti tak akan menyakiti."

Mama tersenyum. "Tapi bukan berarti kami harus diem aja kan, kalau anaknya disakiti?"

"Jadi, menurut mama, Kak Gabriel nyakitin Ify?" Nada Ify semakin tajam.

"Bukan begitu, hanya saja....mama dan papa cuma melakukan tindak pencegahan. Antisipasi."

Ify melengos. "Tapi mama dan papa udah lebay. Berlebihan!"

Dahi mama mengernyit, sedikit tidak suka. "Jadi melindungi kamu adalah suatu tindakan berlebihan?"

Lagi-lagi Ify melengos. Ia menyingkirkan gulingnya dan berdiri. "Mama, listen. Ify ngerti, mama dan papa maksudnya baik. Mau ngelindungin Ify. Tapi, ma, izinkan Ify sekaliii aja keluar dari zona nyaman ini. Kalo akhirnya nanti Ify tersakiti, Ify mungkin...uda siap. I know the risk, and I'll take that."

Mama tertegun menatap Ify. Putrinya sudah benar-benar menjadi perempuan. Yang kuat, berprinsip, dan berani. Perempuan dengan tekad yang tidak bisa dipatahkan begitu saja.

Setelah terdiam agak lama, menimbang-nimbang ucapan Ify, mama mengangguk. "Fine. Ini pilihan kamu. Mama akan mencoba menjadi induk macan yang membiarkan anaknya terjebak di parit, mengamatinya keluar dari sana sendiri."

Bibir Ify terbuka separuh. Ia memandang mama tak percaya. Betapa mudahnya bernegosiasi dengan mama. "Mama serius?" katanya lirih.

Mama mengangguk. Ia ikut berdiri dan berjalan keluar. Ketika sampai di ambang pintu, beliau berbalik dan berkata, "Mama pengen ketemu Gabriel. I'm free tomorrow."

*-*-*-*

Mama Gabriel bersiul riang sambil menyelesaikan pudding cokelatnya. Sesekali ia menajamkan pendengaran, siapa tahu Gabriel sudah pulang. Ada berita yang ingin ia sampaikan pada putranya, dan ia sangat tak sabar.

Tak lama kemudian, deruman motor terdengar disusul pintu yang menjeblak terbuka. Langkah Gabriel yang diseret membuat mama berjalan cepat ke depan, menyambut putranya yang baru pulang sekolah.

Gabriel sedikit kaget melihat mamanya sudah di rumah jam segini. Biasanya mama nggak akan ada di rumah sebelum jam 6. "Hai, Ma!" sapa Gabriel lesu. Ia menjatuhkan tubuhnya di sofa, disusul mamanya.

Mama tersenyum lembut menatap putranya. "Capek ya? Lesu banget gitu."

Gabriel mengangguk seadanya. "Capek batin sih iya. Tadi ribut dikit sama Ify dan abangnya."

"Ribut sama Ify? Tumben."

"Yaa gitu deh," jawab Gabriel cuek. "Mama sendiri tumben udah di rumah?" tanya Gabriel balik, mengalihkan perhatian. Ia sedang tidak ingin mengungkit kejadian tadi.

"Lagi nggak ada kerjaan di kantor. Eh mama punya berita nih buat kamu!" Mama bertepuk tangan kecil, antusias. Gabriel menggelengkan kepala, heran dengan mamanya yang udah kepala 4 tapi tingkahnya kadang masih kekanakan.

"Tadi Ify telepon ke rumah."

Seandainya saja sedang minum, Gabriel pasti angsung tersedak. Matanya membeliak, setengah kaget setengah tidak percaya. "Serius, Ma?? Kok nggak telepon ke hape Gabriel aja??"

Mama mengangguk semangat. "Iya, serius. Tadi dia udah coba telepon kamu, tapi katanya nggak bisa." Gabriel menepuk dahinya, teringat pada ponsel yang sudah mati sejak tadi pagi. Low batt.

"Dia bilang apa, Ma?"

"Nggak bilang apa-apa. Setelah tau kamu nggak ada di rumah, dia langsung salam terus matiin telepon."

Hmm, berarti apapun yang akan diucapkan Ify pasti hal yang sangat penting, Gabriel berkata dalam hati.

Mama menepuk pipi Gabriel sekilas sebelum berdiri. "Udah, mama cuma mau bilang itu. Ganti baju sana. Terus bantu papamu di belakang benerin gazebo."

Gabriel ikut bangkit. "Papa pulang?"

Mama mengangguk, kemudian berbalik. Teringat lagi satu hal yang belum sempat disampaikan pada Gabriel. "Waktu mama ke sekolahmu ngumpulin berkas, mama ketemu Ify. Sempat ngobrol sebentar, bahkan. She's beautiful." Seulas senyum tersungging di bibir mama pada kata terakhir.

Gabriel nyengir. Dalam hati bersorak senang. Senang karena mamanya menyebut Ify beautiful, bukan pretty, meskipun keduanya memiliki arti yang nyaris sama. Tapi, mengenal mama selama seumur hidupnya membuat Gabriel tahu bahwa pretty bagi mama hanyalah kecantikan fisik, sementara beautiful adalah cantik secara keseluruhan; dari fisik sampai kepribadian.

Setelah menancapkan charger pada colokan di sebelah ranjangnya, Gabriel mengaktifkan ponselnya. Beberapa sms langsung masuk memenuhi inboxnya. Gabriel membuka amplop tertatas di inbox, dari Ify.

Mama pengen ketemu kakak besok. After school.

Gabriel tercekat membaca pesan itu. Ya Tuhan! Mimpi apa ia semalam hingga mendapat kejutan beruntun seperti ini?

Dengan lincah, jarinya segera mengetikkan sms balasan.

Siap! :D

Gabriel tersenyum puas. Satu batu hampir terangkat, tinggal menyingkirkan yang lain lagi. Teringat sesuatu, ia langsung menelusuri kontak di ponselnya, dan mendial salah satu nama di deretan atas, Alvin.

Alvin mengangkat telepon setelah dering ketiga. "Ya, bro?"

"Yang buat besok udah siap, kan?"

"Beres! Tenang aja."

"Oke, thanks, Man."

"Yup, sama-sama."


bersambung..

*-*-*-*

hai!! :D maaf lama banget ini part 11nya, maklum masih awal SMA jadi sibuuuk banget. maaf juga kalo part ini pendek dan nggak memuaskan. aku emang kalo nulis uda dapet sekitar 5 atau 6 halaman gitu terus berhenti hehe, nggak pernah lebih dari 7 :p. eh, cerbung ini tuh kayaknya datar banget deh. iya nggak sih? wadawwww maklum saya masih belajar jadi gini deh u,u

komen, kritik, saran selalu ditunggu ya! bisa di sini atau di twitter @dwidasept (username saya ganti soalnya yg lama diprotes kakak kelas katanya saru wkwkwkwk)


Muchas Gracias!