Jumat, 14 Oktober 2011

Neapolitan

Kami adalah Neapolitan

Tiga rasa yang berbeda

vanila, cokelat, stroberi

Bersama dalam satu wadah bernama

persahabatan...


Ramandika Adhikara menggigit ujung pensilnya gemas. Benda kecil panjang itu pasrah membiarkan beberapa bagian terkena dampak keganasan gigi Rama. Rambut hitamnya yang tebal sudah tak berbentuk, semua keluar dari jalurnya.

"Kok susah banget, sih?!" gerutunya frustasi.

Di sampingnya, Lunaria Srikandi menutup buku tebalnya dengan keras, membenahi poninya yang menjuntai menutupi sebagian wajah, dan menatap Rama datar. "Itu materi kimia kelas 1, Ram. Masa gitu doang nggak tau."

Rama mendelik. "Kamu kan rajin, Lun. Kalo aku kan banyak kegiatan, hampir nggak ada waktu buat ginian," kilahnya. Usaha terakhir untuk mempertahankan harga diri di depan sahabat cerdasnya ini.

"Alasan bodoh." Kalimat dingin itu meluncur dari bibir sahabatnya yang lain, Adamus Sebastien. Di balik kacamata tanpa frame, sepasang mata hijaunya bergerak ke kanan dan ke kiri mengikuti barisan kata di buku yang sedang dibacanya.

Rama memandang Ad sengit. Dari dulu tidak berubah anak itu. Komentarnya masih saja menusuk. "Kamu nggak bantu apapun, tau!" sungutnya.

Ad hanya mengangkat bahu dan menekuri bacaannya kembali. Buku setebal 6 cm berbahasa Inggris yang menjadi santapannya sehari-hari. Baru melihat saja Rama sudah ingin pingsan.

Sementara Rama kembali berkutat dengan kimianya, Luna, panggilan akrab Lunaria, menepuk bahu Ad pelan. Ad mengangkat wajahnya, membenarkan letak kacamatanya yang sedikit melorot. "Ada apa?"

"Benerin tuh cara ngomong kamu. Menusuk banget, bisa-bisa bikin orang sakit hati."

Ad melempar tatapan mengejek pada Luna. "Benerin juga tuh catatan sosial kamu. Dari dulu senangnya menyendiri, nggak mau gabung sama yang lain," balasnya tak mau kalah.

Luna tersenyum tipis dan mengangkat bahu. "Aku cuma terlalu nyaman sama diriku sendiri."

"Jadi, kamu nggak nyaman sama kami?" Tiba-tiba Rama menyeletuk dari balik buku kimianya. Kompak Ad dan Luna saling pandang dengan alis terangkat.

"Kamu tau apa yang aku maksud, Ram," kata Luna datar.

"Jangan kumat deh melankolisnya," timpal Ad juga. Lagi-lagi Rama menggerutu kecil.

Lonceng besar di jam rumah Luna berdentang. Luna langsung membereskan alat tulisnya dan bangkit. "Kalian mau makan malam di sini?"

Ad menimbang-nimbang sejenak. "Kayaknya aku di rumah aja deh, udah janji sama Mama tadi," jawab Ad akhirnya.

Gadis kurus itu menangguk. Tatapannya beralih ke Rama. "Kamu, Ram?"

"Di sini."

Tanpa berkata-kata lagi, Luna langsung beranjak ke dapur untuk memasak makan malam. Sejak ibunya meninggal 2 tahun lalu, semua pekerjaan rumah memang dilimpahkan padanya. Ayahnya sibuk bekerja sementara adik Luna yang masih SD belum bisa membantu banyak. Mereka juga belum bisa memercayakan urusan rumah pada pembantu, meskipun nenek Luna berkali-kali menyuruh Ayah untuh mempekerjakan pembantu rumah tangga.

Setelah berusaha mengutak-atik satu soal dan gagal total, Rama memasukkan seluruh bukunya asal-asalan ke dalam tas. Mungkin untuk sementara waktu ia tak akan sudi membuka tasnya.

"Hahh, capek ya belajar terus," kata Rama sambil meregangkan otot-otot punggung dan lehernya.

Ad mendengus kecil. "Belajar terus? Nggak salah?" ledeknya.

Rama memilih untuk tidak menanggapi ledekan sahabatnya itu. Ia malah mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut rumah Luna dan berhenti di satu titik. Dari jendela ruang tamu yang lumayan besar, terlihat sebuah lapangan basket kecil dengan satu ring di ujungnya. Rama tersenyum sendiri melihat lapangan itu. "Udah lama ya kita nggak main basket bareng," kenangnya.

Kilasan-kilasan kejadian masa lalu melintas di benaknya. Ketika 2 anak sekolah dasar berkejaran memperebutkan bola sementara seorang gadis kecil berseragam putih merah menyoraki dari pinggir lapangan.

Ad ikut merenung, seakan ikut membawa kembali masa-masa indah persahabatan mereka dulu. "We've been too busy," katanya lirih, lebih kepada dirinya sendiri.

*-*-*-*

Banyak orang sering mengatakan kalau apapun akan dilakukan demi seorang sahabat. Luna saja yang anti sosial rela bergabung dengan teman-teman satu sekolah di tribun penonton. Bahkan, Ad yang tidak tahan dengan panas rela membakar kulitnya di bawah terik sinar matahari sore, hanya untuk menonton pertandingan Rama.

Luna bertepuk tangan kecil setiap kali Rama berhasil memasukkan bole ke ring, sementara Ad hanya tersenyum tipis. Mereka berdua begitu tenang menonton padahal orang-orang di sekitar mereka mulai berteriak tanpa ampun sambil mengibarkan bendera sekolah dengan heboh.

Pertandingan basket antara SMA 3 dan SMA 26. Walaupun hanya pertandingan persahabatan, tapi seluruh warga SMA 26 berharap pada Rama dan timnya agar menang kali ini.

Tepat di samping Luna, duduk seorang cewek yang dari tadi paling heboh soal teriak-meneriaki. Dia Kezia, pacar Rama. Luna tersenyum tipis melihat tingkah Kezia, dan terpaksa harus menutup sebelah telinganya ketika lengkingan suara cewek itu mulai terdengar.

Akhirnya, pertandingan empat quarter itu berakhir dengan SMA 26 sebagai juaranya. Kezia dan teman-temannya berjingkrakan heboh. Cewek mungil berambut ikal itu langsung berlari menghampiri Rama di bawah sana. Rama tersenyum dan membuka kedua lengannya, menyambut Kezia dalam pelukan. Ad dan Luna bertatapan sejenak sebelum akhirnya ikut turun untuk menyelamati Rama.

Setelah sibuk berterima kasih kepada siapapun yang memberinya ucapan selamat plus membersihkan diri, Rama langsung mengajak Ad dan Luna ke Freund Cafe, cafe langganannya.

"Selamat ya, Ram," ujar Luna. Rama terkekeh pelan.

"Kamu udah bilang kayak gitu berapa kali coba, Lun?" Luna mengedikkan bahu tak acuh.

Tiba-tiba, segerombol siswi mendekati meja mereka bertiga. Masing-masing dari mereka nelempar senyum genit yang langsung membuat Luna ingin muntah.

"Kak Rama, selamat yaaa!" seru mereka kompak. Rama tersenyum manis sembari mengucapkan terima kasih. Sementara itu, Ad memutar pandangannya, memeriksa apakah seruan adik-adik kelasnya itu menimbulkan dampak yang berarti. Ia tidak pernah suka menjadi pusat perhatian, sangat berkebalikan dengan sahabatnya yang baru saja memenangkan pertandingan basket.

"Kasihan Kezia, tiap hari harus rela liat pacarnya digenitin sama cewek-cewek." Ad berdecak di akhir kalimatnya.

"Kamu lupa? Kezia juga tiap hari digenitin cowok-cowok, kali! Jadi kita impas," jawab Rama.

"Ah, benar juga," Ad mengangguk-angguk. Kezia dan Rama adalah sepasang kekasih a la film-film dan sinetron. Sama-sama supel, aktif, dan terkenal. Yang satu ganteng, yang satu cantik. Benar-benar pasangan yang ideal.

Rama melirik Luna yang sedang tekun meniup-niup kopi hitam panasnya. Ia teringat sesuatu. "Lun, tadi banyak lho temen-temen basket aku yang pengen ngobrol sama kamu. Nathan, Demian, Rico, sama yang lain juga. Tapi mereka segan, katanya kamu terlalu tertutup."

"Hah. Aku akan pukul kepalaku pake buku Mushashi kalo Luna mau ngobrol sama mereka," timpal Ad langsung.

Luna hanya menguap bosan. Dia sudah kebal disindir-sindir begini. Catatan sosialnya memang buruk. Entah sejak kapan ia mulai menutup diri, menarik diri dari pergaulan. Terlalu nyaman dengan dirinya sendiri, katanya.

"Ram, bilang sama sama mereka, aku nggak ada waktu untuk basa-basi," tukasnya datar. Lalu tatapannya beralih pada Ad. "Dan kamu, Ad. Kamu jayus banget!"

Rama nyaris terjengkang dari sofa melihat ekspresi syok Ad yang terlihat konyol. Tubuhnya bergetar hebat seiring dengan tawanya yang semakin keras. Benar-benar momen langka. Seraut wajah dingin dengan sepasang mata hijau cemerlang yang tersembunyi di balik kacamata tanpa frame itu sedang menunjukkan ekspresi paling konyolnya. Rama mengeluarkan ponselnya, mengabadikan ekspresi konyol itu.

Setelah sadar dari kekagetannya, Ad memicingkan mata menatap Rama. Bibirnya terkatup, membentuk segaris tipis yang tajam. "Hapus foto itu atau kamu akan mengucapkan selamat tinggal pada ponsel canggihmu. Satu..dua.."

Rama memegangi perutnya, sakit karena tertawa. Matanya bahkan mulai berair. "Santai, Ad. Santai," katanya sambil menyusut air di sudut-sudut matanya.

Ad tampak tak peduli. Tangannya sudah terulur, siap merebut ponsel di tangan Rama kapan saja. "Satu..dua.."

"Oke! Oke!" Rama menangkat kedua tangannya, menyerah. Cengiran lebar masih menghiasi wajahnya.

"Masih aja kayak anak kecil," komentar Luna pelan. Wajahnya tenang, nyaris tanpa ekspresi, seperti biasa. Matanya terpejam, entah mengantuk atau sedang menikmati aroma kopinya, hingga tidak menyadari kedua sahabatnya yang sudah saling lirik.

"Satu.." Rama mulai menghitung.

"Dua.." Ad melanjutkan.

"Tiga!!"

Setelah itu Luna sibuk melepaskan diri pelukan beruang dari Rama dan Ad. Jari-jari Rama tidak tahan untuk tidak mengelitiki pinggang kurus Luna.

"Kaliaaaann!!" Erangan Luna nyaris tidak terdengar, tertutupi dua tubuh yang memeluknya erat, ditambah dengan gelegar tawa Rama yang menenggelamkan suara-suara di sekitarnya.

*-*-*-*

Rama menghela napas lelah. Dilemparkannya ransel hitamnya asal-asalan, lalu dibantingnya tubuhnya ke pelukan sofa lembut di ujung kamar. Ia mendesah lega ketika merasakan empuknya sofa di bawah punggungnya. Tubuhnya serasa remuk setelah fitness tadi.

"Dari mana saja kamu, jam segini baru pulang?" Tiba-tiba Mama sudah berdiri di ambang pintu. Tangannya terlipat di depan dada.

"Habis fitness di rumah Bryan tadi, Ma," jawab Rama tanpa membuka mata. Sebentar lagi ia pasti akan terlelap, kalau saja Mama tidak membentaknya.

"Kamu itu! Tiap hari kerjaannya main terus, nggak pernah belajar. Nilai selalu jeblok. Mau jadi apa kamu besok, hah?!"

Rama mendesah pelan. Ia lelah. "Ma, Rama lagi pengen istirahat, capek banget nih."

"Rama!" bentak Mama lagi, merasa tersinggung dengan ucapan putra semata wayangnya itu.

"Berprestasi kan nggak cuma lewat akademik, Ma. Lewat olahraga juga bisa."

"Kamu pikir piala-piala basket kamu bisa menjadi jaminan kamu akan lulus ujian? Begitu?!"

Rama mengubah posisi tubuhnya dari terbaring menjadi terduduk tegak dengan wajah menghadap sang mama. Kalau mamanya sudah begini, bersikap tenang seperti tak ada yang terjadi sama saja bunuh diri. "Terus Rama harus gimana?"

Mama berdecak tak sabar. "Masih tanya harus gimana? Belajar yang rajin! Kurangi bermain-main! Lihat tuh, sahabat kamu, Adamus. Baru kelas 2 saja sudah ditawari beasiswa di mana-mana."

Tanpa sadar kedua tangan Rama terkepal. Beberapa waktu ini ia begitu sensitif setiap kali telinganya menangkap nama Adamus. Ia mulai tidak nyaman dengan orang-orang di sekitarnya yang membandingkan dirinya dengan Ad. Ad yang cerdas, Ad yang calon dokter, Ad yang juara olimpiade.

Rama menggelengkan kepalanya pelan. Menghilangkan pikiran-pikiran negatif dari benaknya. Ia bangkit dan berjalan ke luar kamar, tanpa memedulikan mamanya yang berteriak-teriak marah.

"Rama ke rumah Luna!" serunya sebelum tubuh jangkung itu hilang ditelan pagar rumah.

*-*-*-*

Denting sendok yang beradu dengan cangkir terdengar nyaring di dapur. Luna mengaduk teh dalam dua cangkir itu pelan sebelum akhirnya meletakkan keduanya di tatakan.

"Ada siapa, Luna?" tanya Ayah tiba-tiba. Luna nyaris terlonjak saking kagetnya.

"Oh, ada Rama di depan, Yah. Ayah mau Luna bikinin teh juga?"

Ayah hanya menggeleng sambil tersenyum lembut. "Tapi mungkin adik kamu pengen dibuatin susu," ujarnya.

Luna mengangguk. Tak ingin membuat Rama menunggu terlalu lama, ia bergegas membawa nampan berisi dua cangkir teh dan satu setoples biskuit cokelat ke depan. Luna meletakkan teh itu dalam diam dan hanya mendesah pelan melihat Rama tertunduk dalam-dalam, masih bertahan dengan posisinya semenjak ia datang ke rumahnya beberapa menit lalu.

"Di minum dulu, Ram. Hujannya deres banget, kamu pasti kedinginan," katanya lembut.

Rama mengangkat wajah, sedikit kaget melihat Luna duduk di sampingnya. "Ah, iya, Lun," katanya setelah berhasil menguasai diri.

"Kalo udah tenang, segera pulang. Jangan menghukum mamamu seperti ini," celetuk Luna tiba-tiba. Rama nyaris tersedak saking kagetnya. Ia belum bercerita sepatah katapun pada Luna, tapi tiba-tiba Luna berujar seperti itu, seolah ia sudah mengetahui duduk permasalahannya. Ah, hampir saja lupa. Luna kan sahabatnya, sudah pasti ia tahu apa yang membuat seorang Rama rela berlari di bawah hujan hanya untuk datang ke rumahnya.

Rama mendesah untuk yang kesekian kalinya. "Aku gerah sama sikap Mama, Lun. Rasanya pengen pergi aja dari rumah," keluhnya putus asa.

"Kamu nggak akan pernah pengen ngerasain yang namanya kehilangan, Ram. Jangan sampai aku denger kamu bicara seperti itu lagi."

Rama menoleh cepat, menatap sepasang manik hitam pekat yang penuh misteri. Sepasang mata yang ternyata menyimpan duka teramat dalam, juga kerinduan terhadap sosok ibu yang telah meninggalkan kehidupannya dua tahun lalu.

Sepasang mata itu ganti menatap Rama lembut. Rama menggigit bibirnya dan berujar penuh penyesalan, "Maaf."

Wajah datar itu menyunggingkan seulas senyum tipis. "Nggak apa-apa. Jangan ulangi lagi," ujarnya.

"Boleh pinjem bahu?"

Luna tertawa kecil. Ia mendekatkan tubuhnya pada Rama, memberi gestur agar Rama juga mendekat. "Selalu boleh."

Rama menyandarkan kepalanya pada bahu Luna, dan memejamkan mata ketika bahu lembut itu menyambut kepalanya. Bahu Luna adalah tempat ternyaman kedua setelah tempat tidurnya sendiri. Sejak kecil, ia yang sedikit manja selalu membutuhkan bahu Luna untuk bersandar dan menguatkan diri.

Lagi-lagi Luna tersenyum tipis. Ia sama sekali tidak bergerak, membiarkan Rama dengan tenang bersandar di bahunya. Usia Rama memang beberapa bulan lebih tua dari Luna, seharusnya ia yang memberikan bahu untuk gadis itu bersandar, bukannya malah Luna. Tapi Luna tak pernah keberatan. Toh Rama sudah ia anggap adik sendiri.

*-*-*-*

Rama mendesis pelan, mengatupkan rahangnya. Matanya nyalang menatap sepasang mata hijau cemerlang. Tangannya sudah terkepal, dan..

"Bugg!" satu tonjokan mendarat di rahang Adamus, membuat ujung bibirnya sobek.

"Rama!!" Luna berteriak syok melihat pemandangan di hadapannya. "Apa-apaan ini?!"

Tidak ada yang menjawab. Rama masih membisu dengan tubuh bergetar menahan emosi. Ad menyeka setitik darah di sudut bibirnya dan memandang Rama heran.

"What was that?" tanyanya dingin seperti biasa. Wajahnya tenang, padahal pukulan Rama tadi pasti menimbulkan denyut menyakitkan di rahangnya.

Dan cerita itu mengalir. Dua sosok yang terdiam semakin membeku mendengar cerita Rama.

"Rama, aku pengen ngomong sesuatu." Kezia tiba-tiba mendatangi Rama di kelas. Alis Rama terangkat melihat ekspresi serius Kezia.

"Mau ngomong apa?" tanya Rama begitu keduanya sudah berada di depan gudang.

Kezia menarik napas berkali-kali sebelum menjawab. "Aku udah nggak kuat bohong lama-lama sama kamu, Ram."

Alis Rama terangkat makin tinggi. Kezia mendesah, menyandarkan tubuh pada dinding, dan menemukan bahwa ujung sepatunya terlihat lebih menarik. "Aku suka..eh, bukan. Aku...mencintai sahabat kamu."

Rama berkedip. Jantungnya berhenti berdetak. Wajahnya pucat pasi. "Ma...maksud kamu?"

"Maaf, Rama. Selama ini aku nggak..eh..aku sayang sama kamu, sebagai temen. Sejak dulu cuma Ad, Ram. Maaf aku udah bohong sama kamu," ujar Kezia memelas. Matanya mencembung, menampilkan kristal yang pasti akan luruh sekali kejap.

"Adamus?" lirih Rama, selirih bisikan angin. Matanya menerawang jauh ke depan.

"Maaf, Rama," ulang Kezia, seolah hanya kata itu yang ia tahu.

Yang terjadi selanjutnya membuat Kezia terlonjak kaget. Rama mendaratkan tinjunya pada pintu, menimbulkan derak keras pintu tua yang reot itu. Rama bahkan tak peduli kalau pintu itu hampir terlepas dari engselnya.

Takut-takut, Kezia mendekati Rama, mengelus lengan kanan cowok itu yang menutupi sebagian wajahnya. "Rama, aku harap kamu nggak membenci Adamus. Ini semua salah aku. Aku yang terlalu desperate karena sikap Ad yang dingin hingga membuatku nggak bisa berpikiran jernih. Maafin aku, Ram," kristal itu akhirnya pecah, menganak sungai di pipi mulus Kezia.

"Pergi!" desis Rama. Rahangnya mengatup, menahan emosi yang bergejolak. Kejadian barusan begitu mengguncangnya.

Kezia, cewek cantik yang sudah menjadi kekasihnya sejak kelas 1, ternyata memendam perasaan untuk sahabatnya sendiri. Memang, siapa sih yang bisa lepas dari pesona blasteran Indonesia-Perancis pemilik mata hijau itu? Ditambah sikap misterius Ad yang membuat penasaran, juga kecemerlangan cowok itu dalam setiap mata pelajaran, lengkap sudah kesempurnaannya. "Rama.."

"Pergi!" bentak Rama, kali ini lebih keras. Dan Kezia berlalu, meninggalkan gema isakannya di koridor sepi itu.

"Puas kamu sekarang?! Udah puas ngambil semua yang aku punya?!" Rama kembali meracau, tangan kanannya mencengkeram erat kerah baju Ad.

Luna langsung menyusup ke tengah-tengah keduanya yang terselubungi emosi. "Kalian ini apa-apaan, sih?! Jangan kayak anak kecil dong!" Perlahan, didorongnya bahu Rama, menjauh dari Ad. Bahkan, ketika Luna menyentuh lengannya, Rama tetap bergeming. Matanya tak lepas dari mata Ad.

Menggertakkan gigi, Rama berbalik, tidak menghiraukan Luna yang berteriak memanggil namanya. Baru Luna akan menyusul, tangan Ad mencengkeram pergelangan tangannya.

"Biarkan dia. Dia harus belajar jadi dewasa," ujar Ad tanpa menatap Luna. Luna hanya bisa memandang Ad dan punggung Rama yang semakin menjauh dengan cemas.

*-*-*-*

Tak terasa, dua bulan berlalu semenjak pertengkaran itu. Rama masih mengibarkan bendera perang. Sikapnya begitu dingin, dan lebih sering menghabiskan waktu dengan rekan-rekan satu timnya. Adamus sendiri tetap tenang, masih bertahan pada argumennya, bahwa Rama harus belajar menjadi dewasa.

Yang paling bingung jelas Luna. Ia terjepit, tidak tahu harus berbuat apa. Sesekali ia berusaha menyatukan kedua cowok itu, namun hasilnya nihil. Rama langsung hengkang ketika menyadari kehadiran Ad, begitu pula sebaliknya.

"And now, you're being childish," kata Luna suatu hari di teras rumahnya. Ad tersenyum tipis, nyaris tak kentara.

"You think?" tanyanya setengah mengejek.

Luna mengangguk. "Kalian sama aja. Diem-dieman berbulan-bulan, persis anak SD."

Ad meletakkan majalah National Geographic yang baru dibacanya, menatap Luna dalam-dalam. "Ini cuma proses pendewasaan diri buat Rama, Lun."

Luna memutar bola matanya. "Ya, ya, ya, whatever. Sekarang aku laper dan kedinginan. Bikin mie instan yuk!"

Lagi-lagi Ad tersenyum tipis. Ia mengikuti Luna yang sudah lebih dulu masuk rumah untuk membuat mie.

*-*-*-*

"Kak Rama!!"

Rama setengah menjongkokkan badannya menyambut sesosok kecil yang tengah berlari ke arahnya. Rambut gondrongnya bergerak-gerak mengikuti gerakannya yang atraktif. Rama tertawa kecil ketika Evan, adik Luna, memeluknya erat.

"Apa kabar, Van?" tanya Rama begitu ia melepaskan pelukannya. Bukannya menjawab, Evan malah kembali memeluk Rama, membuat Rama mengerutkan kening, heran.

"Ada apa?" Ia sedikit panik ketika merasakan bahu Evan berguncang dalam pelukannya. Entah bagaimana bulu kuduknya meremang, ia merasakan sesuatu yang buruk akan datang. Dan selama ini firasatnya selalu benar.

Evan terisak kecil. Pipinya sudah basah oleh air mata. "Kak Luna tadi pingsan, sekarang sama ayah lagi ke rumah sakit," katanya di sela isakannya.

Punggung Rama menegak, tegang. Tanpa sadar ia sudah mencengkeram bahu Evan erat. "Evan nggak bohong, kan?" desaknya. Evan menggeleng kecil, kemudian kembali terisak.

Tanpa pikir panjang, Rama langsung merogoh saku celananya, meraih ponsel, dan menekan salah satu angka speed dial yang menguhubungkannya langsung pada Adamus.

"Ad," kata Rama cepat begitu Adamus mengangkat teleponnya. "Luna masuk rumah sakit. Mungkin yang biasa." Dan ia langsung mengakhiri panggilan bahkan sebelum Adamus merespon.

Ditariknya Evan, dan setengah berlari, keduanya menuju mobil Rama.

*-*-*-*

"Luna terkena hepatitis B....sejak lama..berbahaya.."

Ad mengerang, menyentakkan punggungnya pada sandaran kursi. Matanya terpejam. Kata-kata ayah Luna terus terngiang di telinganya, meneriakkan kata yang itu-itu saja.

Dirinya yang calon dokter tentu tahu jelas apa Hepatitis B itu. Penyakit ganas yang menyerang hati, dan sangat berbahaya. Bahkan bisa menyebabkan kematian. Ad bergidik membayangkan Luna...ah, lupakan!

Di sampingnya, Rama duduk dengan keadaan yang tak jauh beda darinya. Rambutnya mencuat akibat terlalu sering diaca-acak dengan ganas. Ad sangat tahu, betapa kejadian ini begitu mengguncang Rama. Juga dirinya. Siapa yang menyangka, Luna yang terlihat sehat dan prima, ternyata menyimpan penyakit ganas dalam tubuhnya.

"Ada yang perlu aku selesaikan sama kamu," Rama berujar dingin dan bangkit. Memberi gestur pada Ad untuk mengikuti langkahnya. Ad mengernyit, tapi memilih untuk tidak peduli. Ia hanya mengikuti Rama tanpa protes.

Ternyata Rama membawanya ke halaman belakang rumah sakit. Keadaan di sana begitu sepi dengan lampu taman yang remang-remang di setiap sudut.

Ad sudah mempersiapkan diri, bahkan ketika sebuah bogem mentah mendarat di rahangnya. Kacamatanya terlempar, menimbulkan goresan tipis di ujung matanya. Bisa dirasakannya denyut yang menganggu di ujung bibir sobeknya.

Bogem kedua mendarat, disusul bogem ketiga, dan bogem-bogem selanjutnya. Tak mau tinggal diam, Ad melayangkan tinju tepat di perut Rama. Kutu buku begitu, Ad pernah menjuarai berbagai kejuaraan bela diri.

Adu jotos pun tak bisa dihindari lagi. Setiap kepalan adalah sebuah emosi yang tak terungkap. Setiap tendangan adalah amarah yang menggelegak.

"Bugg!!"

Rama mencengkeram perutnya yang entah sudah berapa kali terkena tinju dan tendangan Ad. Dengan sisa tenaga, ia melayangkan tinju lagi, dan meninggalkan lebih banyak jejak di wajah blasteran itu. Entah karena lelah atau memang terlalu semangat, keduanya roboh, dan kembali bergulat di atas tanah. Berguling dan saling menindih, saling memukul di tengah usaha menahan nyeri di sekujur tubuh, sebelum akhirnya telentang, bersisihan, memandang langit malam.

Napas keduanya memburu, memecah sunyi di taman malam itu. Ad kembali mengenakan kacamatanya yang sedikit patah. "Puas, eh?"

Rama tidak menjawab. Hanya menatap gelap langit malam. Dari samping, Ad bisa menangkap cengiran lebar di wajah Rama.

"Hahahaha..!!" Suara tawa Rama bergaung di taman, mengalahkan suara jangkrik yang berlomba.

Tak tahan, Ad ikut tertawa. "Hahahaha..! Konyol!" katanya di sela-sela tawa.

Tak perlu ada kata maaf. Keduanya sudah terlalu mengenal untuk tahu apa yang sedang bergejolak di pikiran masing-masing. Rama meninju pelan bahu Ad, bermaksud bercanda, yang hanya dibalas dengan pukulan ringan di pahanya.

Bersama, kedua sahabat itu menatap bulan yang seakan tersenyum melihat upacara pengibaran bendera putih. Bulan. Benda bulat ramah teman para bintang, yang sering disebut 'Lunar' oleh orang-orang. Ngomong-ngomong soal bulan...

"Udah selesai jotos-jotosannya?" Tanpa menoleh, Rama dan Ad sudah tahu siapa pemilik suara datar itu. Namun, kali ini keduanya ingin menoleh, hanya untuk memastikan.

"Lun..a?" Rama berkata takjub.

"Kamu ngapain di sini? Kamu kan harusnya istirahat!" Ad berujar panik. "Ayo kita kembali ke dalam!"

Luna menahan tangan Adamus yang melingkari lengannya. Ia menatap datar Adamus yang mengangkat kedua alisnya, bingung. Sebagai gantinya, Luna merebahkan diri di samping Rama, menarik Adamus kembali ke tempat semula.

"Lun, kamu ngapain, sih? Kamu kan sakit hepatitis B, butuh banyak istirahat! Angin malam nggak baik untuk kamu. Gimana kalo.." Kalimat Rama terputus karena Luna lebih dulu membekap mulutnya.

"Siapa bilang aku sakit hepatitis B?"

Ad dan Rama bertukar pandang. "Loh, kata ayah kamu tadi.."

"Emang ayahku nggak bisa bohong?"

Ad dan Rama makin bingung. Maksud Luna apa, sih?

"Aku cuma kena hepatitis A, kok. Seminggu juga paling sembuh," Luna berkata dengan ringan, bahkan tak peduli pada Rama dan Ad yang sudah melongo total. Rama bahkan tidak sempat menertawakan ekspresi tolol Ad.

"Jadi..."

"Yap. Gimana? Rencanaku berhasil kan? Buktinya kalian udah baikan sekarang."

Terlepas dari kekagetannya, Ad mendengus, sementara Rama mengacak rambut Luna gemas.

"Dasar Luna! Kamu udah berhasil bikin jantung aku mau copot tau nggak?"

"Pake hepatitis B sebagai rencana? Hah! Lain kali kamu harus lebih kreatif."

Seakan tidak peduli pada kata-kata sahabatnya barusan, Luna berujar, "Brothers fight.."

Tanpa diminta, Ad dan Rama melanjutkan serentak, "But they're still brothers."

Luna menarik ujung bibirnya, membentuk seulas senyum manis nan langka milinya. "Pelukan beruang!!"

Dan detik berikutnya ia sudah tenggelam di tengah dua tubuh yang memeluknya.


TAMAT

*-*-*-*

yap! ini dia projek baru yang aku omongin di twitter kemarin. cerpen BUKAN FF. it's so challenging :) selama ini kan aku bikin cerita yang tokohnya emang nyata, dan yang baca uda tau gimana gambaran tokoh itu. nah kalo kayak gini kan berarti aku harus bikin sendiri beberapa karakter, dan kudu pinter-pinter nyampein biar pembaca bisa berimajinasi :)

aku dapet inspirasi buat cerpen ini dari....banyak. Remember When, Dungeon, terus beberapa novel lain yang pernah aku baca. ada adegan yang rada mirip adegan di Remember When, terus tokoh 'Luna' juga hampir mirip sama Freya. si 'Adamus' juga awalnya terinspirasi oleh tokoh 'Adamus' yang di Dungeon (dan sama-sama bermata hijau). tapi, itu semua nggak sengaja. I write what I read, aku bacanya itu-itu, jadi tulisanku ya kurang lebih sama kayak yang aku baca.

leave a comment :)


Muchas Gracias!

Senin, 10 Oktober 2011

Penjiplakan Menyakitkan

mau cerita, nih. mmm walaupun ceritanya agak basi, sih, karena kejadiannya hampir setahun yang lalu. tapi nggak apa-apa, deh, itung-itung nambah entry blog :)

waktu kelas 9 kemarin, menjelang tahun baru, guru bahasa Inggris ku ngasih 'wejangan' ini itu tentang resolution, dll. nah, setelah itu, kami disuruh bikin semacam resume gitu tentang 'wejangan' tadi.

yeah, I love writing, and I really enjoy every moment of it. walaupun kadang mood nggak bisa diajak kompromi, tapi aku tetep suka nulis. salah satu alasannya karena aku lebih nyaman mengungkapkan perasaan lewat tulisan ketimbang ngomong. believe it or not, aku rada antisosial, terlalu nyaman sama diri sendiri hehe (nyambung nggak sih?)

oke. ini klimaksnya. resume ku uda jadi, and ready to be submitted pagi itu. tiba-tiba ada temenku, cewek, datang tergopoh-gopoh ke kelas, panik karena belum pikin resume. yang paling aku benci adalah, dia panik tapi ngga sendirian, nular-nularin gitu ke temen-temen yang lain. waktu itu sih aku cuma ngebatin aja, "Salah siapa nggak ngerjain dari kemarin-kemarin."
terus dia deketin aku. "Dwid, coba aku liat punyamu," katanya waktu itu. ya udah aku kasihin aja, kasihan juga sama temen-temen lain yang jadi ikut panik gara-gara dia. aku sih ngiranya dia pinjem punyaku cuma buat inspirasi atau bayangan gitu, tapi yang terjadi adalah........DIA NGEJIPLAK! JDEEER!!

awalnya sih beda, tapi paragraf terakhirnya, SAMA PERSIS! padahal di paragraf itu aku nyantumin kata-kata dari tanteku, "Do your best, and God will do the rest." waktu itu, kalimat itu jadi andalanku, dan nggak semua orang tau, especially her.

bisa bayangin gimana perasaanku waktu itu? bisa bayangin gimana rasanya kalo karya kita, yang kita bangga-banggain, DIJIPLAK sama orang lain? nahan kesel, aku langsung ke kelas Ifa, ngadu sambil nangis-nangis. I was so down, beneran deh. sakiiiiit banget rasanya.

terus, setelah menghapus air mata yang bersimbah (cieh), aku bikin lagi resume itu. yah, bukan terus bikin dari awal gitu, tapi cuma merombak bagian akhirnya. pokoknya, waktu itu di pikiranku cuma satu: I HAVE TO BE DIFFERENT WITH HER. najis tralala kalo sampe punya karangan yang mirip!

dan kejadian itu nggak cuma kejadian satu kali loh. sekarang juga masih kayak gitu anaknya (aku harus sekelas lagi sama dia di SMA ini. Gawd! -,-). suka nyontek, dan selalu ngandalin aku juga temen-temen yang lain. intinya, dia nggak mau (atau nggak bisa?) usaha sendiri.

harapanku sih ke depannya dia jadi lebih dewasa, lebih percaya sama dirinya sendiri dengan nggak NYONTEK orang lain. you're good in your own way, kok, teman :) dan buat aku, semoga makin sabar aja kalo digituin lagi, hehe.


Adios!

Senin, 03 Oktober 2011

Fight for Love - Part 12

Part 12: Satu Pintu Sudah Terbuka

Mama mengurungkan niat untuk menyiram bunga di halaman ketika matanya menangkap keberadaan sebuah mobil pick-up di depan gerbang. Penasaran, mama melangkahkan kakinya mendekat. Betapa terkejutnya ia ketika melihat benda di box mobil; 5 buket besar bunga lili, freesia, dan orange blossom yang ditata dengan apik di pot besar cantik dan berwarna-warni.

Pengendara mobil dengan seragam sebuah toko bunga terkenal keluar. "Permisi, benar ini kediaman keluarga Bapak Pratama?"

"Ya, benar," mama menjawab linglung, masih belum bisa menyerap apa yang terjadi. "Ada apa?"

"Anda Ibu Gina?" Mama mengangguk.

"Anda mendapat kiriman bunga dari seseorang, bisa dilihat di kartu yang ada di pot," jelas orang itu sementara rekan kerjanya mulai mengangkuti pot-pot besar itu ke dalam rumah.

"Tolong ditandatangani lembar terimanya."

Mama yang sedang menikmati harum bunga yang dibawa masuk langsung terlonjak. Dengan cepat ia menandatangani lembar terima yang disodorkan pegawai toko bunga itu.

"Boleh saya bertemu dengan putri Anda? Dia juga mendapat kiriman khusus," pinta pegawai toko bunga. Mama mengernyitkan dahi, bingung, namun akhirnya memanggil Ify yang mungkin sedang sarapan.

Tak ada 2 menit kemudian, Ify sudah berada di samping mama. "Ada apa, Ma?"

"Kata mas ini kamu dapet kiriman," jawab mama. "Mama masuk dulu, ya!" Tak sabar ingin menikmati keindahan bunga yang kini telah berpindah ke halaman samping rumah, mama segera berlalu dari sana.

"Kiriman apa, Mas?" tanya Ify bingung sekaligus penasaran. Pegawai itu tampak berhati-hati mengeluarkan kiriman untuk Ify. Mata Ify membeliak lebar melihat kirimannya, sebuket besar bunga mawar merah dengan beberapa kuntum mawar putih di tengah-tengah yang ditata sedemikian rupa hingga membentuk gambar hati.

Ify membaca pesan yang ada dalam kartu, dan perasaannya langsung menghangat.

Kutitipkan hatiku padamu, jaga baik-baik.

Gabriel

*-*-*-*

Lagi-lagi kejutan di pagi hari. Ify berkali-kali mengucapkan terima kasih pada pegawai itu dan langsung masuk kembali ke rumah sambil menciumi bunga dalam pelukannya. Seulas senyum ceria tersungging di bibirnya.

Ketika Ify berpamitan akan berangkat sekolah, mama berbisik, "Sampaikan pada Gabriel, terima kasih. Mama nggak tau dia bisa tau bunga kesukaan mama."

Ify mengangguk antusias dan langsung masuk ke dalam mobil. Tangannya menggenggam erat sekuntum mawar merah dan putih. Ia tak henti-hentinya tersenyum, bahkan sama sekali tidak mengacuhkan Rio yang sudah memulai keusilannya seperti biasa.

*-*-*-*

Alvin meniup-niup teh panasnya, sesekali menghirup wangi khas teh yang menguar dari cankirnya. Wajahnya tenang menyambut kepulan asap yang menyapu wajah putihnya. Di sampingnya, Sivia duduk menghadap cermin sambil menyapukan bedak. Diliriknya Alvin sekilas.

"Tadi pagi bangun jam berapa, lo?"

Alvin mendekatkan bibir cangkir kepadanya, menyerutup sedikit isinya, meletakkan kembali ke atas tatakan, lalu menjawab, "Jam setengah lima, terus ke toko bunga dulu mastiin semuanya uda bener dan siap, terus ke sini deh numpang sarapan."

Sivia hanya mengangguk saja. Sejak Gabriel meminta mereka berdua untuk membantunya, mereka jadi lebih sibuk dari biasanya. Tapi toh itu nggak jadi masalah. Mereka sama sekali nggak keberatan membantu sahabat mereka.

Alvin memerhatikan Sivia yang sibuk menyikat bulu matanya yang lentik. "Elo lagi ngapain, sih? Keramas bulu mata?" tanya Alvin polos.

Sivia menghentikan aktivitasnya dan melempar tatapan mengejek pada Alvin. Ditunjukkannya maskara yang sedang ia gunakan tepat di depan wajah Alvin. "Ini namanya maskara, biar bulu mata keliatan tebel dan lentik."

Alvin membulatkan bibirnya. Lalu matanya tertumbuk pada bulu mata kiri Sivia yang masih polos. "Kayaknya elo nggak perlu pake beginian, deh. Udah bagus kok bulu mata lo," komentar Alvin ringan.

Hampir saja Sivia menyolok matanya dengan maskara yang dipegangnya. Ia mengerjap-ngerjap beberapa kali, menatap Alvin tak percaya. "Lo..bilang apa?"

"Bulu mata lo udah bagus tanpa maskara, Siv."

Sivia merasakan pipinya memanas. Napasnya terhenti melihat tatapan Alvin. Begitu dalam dan sungguh-sungguh. Dengan kikuk ia menjawab, "Eh..udah terlanjur nih, masa gue cuma pake sebelah."

Sivia melanjutkan acara dandannya di bawah pengawasan mata tajam Alvin. Sivia berusaha sekuat tenaga untuk tidak kelihatan gugup, padahal tangannya sudah gemetar. Untung maskaranya tidak berantakan.

Alvin melirik jam tangan hitamnya. "Udah setengah tujuh, Siv. Berangkat yuk!"

"Bentar," jawab Sivia sambil merapikan rambutnya.

"Udah cantik, kok. Ayok!"

Dalam hati Sivia mengutuk tangan Alvin yang sedang menggenggam erat tangannya, menimbulkan getaran-getaran berbeda dari biasanya. Bukan pertama kali ini tangannya digenggam cowok, dan bukan pertama kali ini saja ada cowok yang memuji dirinya cantik. Tapi, ketika Alvin yang melakukannya, semua terasa berbeda.

*-*-*-*

Halaman depan sekolah masih lengang, namun Gabriel sudah berdiri menyandar gerbang. Tangannya ia masukkan ke dalam saku celananya. Matanya menatap tajam jalanan di depan sekolah yang selalu ramai setiap pagi. Ketika dilihatnya sebuah innova merah yang sangat dikenalnya menepi, Gabriel menegakkan tubuhnya, menyunggingkan seulas senyum maskulin khasnya.

Ify keluar dari mobil itu diikuti Rio. Gabriel merasakan kelegaan tak terkira ketika dilihatnya sebuah mawar merah dan putih dalam genggaman tangan Ify.

"Selamat pagi!" sapa Gabriel lembut, masih tetap tersenyum. Ify menghentikan langkah, membalas senyum khas itu dengan senyum yang tak kalah manis.

"Pagi!" jawabnya riang. Rio memutar bola mata. Baru saja ia akan menginterupsi adegan itu, tiba-tiba saja dari arah selatan ada yang menyambar lengan kanannya.

"Hai, Rio! Ke kelas bareng yuk!!" ajak Dea diiringi tawa cekikikan centil dari bibir antek-anteknya. Rio meronta, tapi Zeva dengan cepat memeluk lengan kirinya yang bebas.

"Gue bawain kue buat elo hari ini. Dicoba ya!" katanya tak mau kalah.

"Iya, Rio! Ayo gabung sama kita aja!" ujar 3 pengikut Dea dan Zeva di belakang. Rio pun pasrah dibawa pergi oleh kelima anggota geng centil itu.

Ify dan Gabriel terkikik jauh di belakang Rio. "Serius, deh. Gue sangat mensyukuri hari kelahiran Dea. Asli!" kata Gabriel di tengah-tengah tawanya.

Lalu mereka berdua pun berjalan beriringan menuju kelas Ify. Gabriel menatap mawar di tangan Ify, dan berujar dengan sedikit menerawang, "Gue harap nyokap lo nggak nganggep kiriman bunga tadi sebagai sogokan."

Ify tersenyum dan menghentikan langkah, membuat Gabriel ikut berhenti. "Nggak, kok. Mama pasti tau kalo Kak Gabriel tulus ngirim bunga," kata Ify menenangkan. "Eh, tapi, beneran bukan sogokan, kan?" tanyanya memastikan.

Gabriel terkekeh dan mengacak-acak poni Ify gemas. "Ya bukan lah, bunga-bunga itu sebagai ucapan terima kasih gue, karena nyokap lo udah mau ngasih gue kesempatan." Ify merapikan poninya yang berantakan. "Mama gue juga bilang terima kasih. Dia suka bunganya. Tau dari mana lo bunga kesukaan mama?"

Gabriel nyengir kuda, memamerkan sederet gigi putihnya yang rapi. "Ada deeehhh, suatu saat juga lo tau," jawabnya misterius.

Ify mencibir. Baru beberapa langkah ia berjalan kembali, Shilla tiba-tiba memanggilnya. "Ify!!!" Teriakan gadis cantik itu menggema di sepanjang koridor yang belum begitu ramai pagi-pagi begini.

Ify kembali berhenti, menunggu sampai Shilla berdiri di depannya.

"Gue galaauuuu," ucap Shilla memelas. Ify dan Gabriel kompak mengangkat alis melihat ekspresi yang jarang ditunjukkan Shilla.

"Galau kenapa?" tanya Ify heran.

Bukannya menjawab, Shilla malah menggelengkan kepala, mengusap-usap wajahnya, dan langsung berlalu begitu saja. Ify dan Gabriel saling tatap bingung.

"Udah, yuk, ke kelas," kata Gabriel pelan, menyadarkan Ify dari keheranannya. Ify mengangguk dan mengikuti langkah-langkah panjang Gabriel.

*-*-*-*

Lo beneran harus balik ke Jogja besok ya? :(

Iya lah, kan gue kuliah.

Yaahh, kok cepet bgt sih liburnya :|

Lho emg jatahnya cuma 1stgh bulan. Lo knp sih? Ga biasanya deh.

Gatau nihh masa gue sedih coba lo balik :'(((

Hah?? Tumbeeenn hehehe gausah sedih lah. Lo suka gue ya? :p

Gausah gr deh lo-__- eh tapi gue sendiri bingung, kka.

Tuh kaaann mungkin lo suka gue hahaha :D tenang aja, Say, jaman uda modern ini wkwk :p

Apasiiiihh say say say emg gue sayur?? -__-

Sayang, dong. Masa cantik2 dibilang sayur :D

Plis gausah gombal. Uda sana pulang jogja aja :@

Jangan marah dong Shill, gaasik lo ah -,-

Siapa yg marah

Elo :(

Ga. Ih sok tau.

Jutek banget gitu :(

Tauk deh. Uda mau bel. Dah.

Hmmm jangan marah, gue plg besok nih, gaasik kan kalo gue pergi pas kita ada masalah :(

Delivered.

Read.

*-*-*-*

Cakka mengehela napas panjang, menatap layar BlackBerry-nya dengan sendu. Sungguh ia tidak ada maksud untuk membuat gadis yang baru saja BBM-an dengannya marah apalagi sedih, namun ia besok harus tetap kembali ke Jogja untuk kuliah.

Sejak insiden pengakuan Gabriel ke rumahnya, Cakka menjadi lebih sering berkomunikasi dengan Shilla untuk memantau adiknya, baik lewat sms, telepon, atau BBM-an. Ia cukup puas bisa berkomunikasi dengan gadis itu walaupun Shilla tentu saja tidak sudi membagi rahasia Ify yang hanya dibeberkan pada Shilla. She is a very good friend, indeed.

Hingga beberapa hari ini, topik yang mereka bahas mulai berbeda. Sudah jarang bahkan tidak pernah nama Ify tercantum dalam setiap komunikasi mereka. Kini mereka lebih sering membicarakan diri masing-masing, hingga keduanya merasa nyaman satu sama lain.

Cakka sendiri tidak tahu pasti perasaannya pada Shilla, tapi sejauh yang ia tahu, ia nyaman bersama Shilla, mereka selalu nyambung, dan Cakka sama sekali tidak ingin berada terlalu jauh dengan gadis itu. Entah perasaan apa yang ia punya, tapi kembali ke Jogja terasa berat untuk dilakukan sekarang. Cakka memandangi layar BlackBerry-nya sekali lagi. Shilla hanya membaca BBM-nya yang terakhir, tidak membalasnya. Pasrah, Cakka merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, bergabung dengan beberapa potong pakaian yang baru akan ia masukkan koper.

Shill, please don't make it any harder..

*-*-*-*

Ify duduk gelisah di sofa cafe. Tangannya yang berkeringat dingin meremas-remas tissue sebagai pelampiasan kegelisahannya. Dengan lembut Gabriel menggenggam tangan mungil Ify dengan kedua telapak tangannya yang hangat, sebuah gerakan kecil untuk mengurangi kegelisahan Ify.

"Calm down, Ify. Nanti malah nyokap lo ngira gue ngapa-ngapain elo, lagi," kata Gabriel setengah bercanda, ingin memperbaiki suasana. Ify nyengir garing lalu kembali memusatkan perhatiannya ke arah pintu masuk, siapa tahu mamanya tiba-tiba datang.

Benar saja, belum ada dua menit ia menatap pintu, mamanya sudah terlihat berjalan dari arah parkiran. Ify menahan napas, sementara tubuh Gabriel menegang di sampingnya. Ia tahu, Gabriel sama tegangnya dengan dirinya. Tangan mungil itu ganti menggenggam erat tangan Gabriel, sebisa mungkin menguatkan. Gabriel tersenyum kecil penuh terima kasih.

Mama berjalan anggun menuju meja Ify dan Gabriel. Seulas senyum ia lemparkan pada kedua anak muda itu. "Sudah pesan?" tanya Mama ramah, sadar bahwa kedua wajah di depannya begitu tegang.

Ify menggeleng kaku sebagai jawaban. Mama pun memanggil pelayan dan memesan minum untuknya, untuk Ify, dan untuk Gabriel. Setelah pelayan itu pergi, perhatiannya kembali terpusat pada Ify dan Gabriel.

"Terima kasih atas kiriman bunganya, Gabriel. Tante suka." Kalimat pembuka yang diucapkan mama mampu melemaskan bahu Gabriel yang semula tegak karena tegang. Ia tersenyum kecil.

"Sama-sama, Tante," jawabnya.

Mendadak suasana menjadi canggung kembali. Ify terdiam sambil memainkan tissue yang sudah tak berbentuk, Gabriel diam mengamati pola-pola meja cafe, sementara mata mama langsung melakukan proses scanning terhadap Gabriel.

Diam-diam mama merasa lega melihat penampilan Gabriel yang begitu rapi, jauh dari kesan berandalan. Kulitnya bersih walaupun tidak putih. Bibirnya merah, tidak ada tanda-tanda jejak rokok di sana. Sepertinya Gabriel anak baik, katanya dalam hati.

"Jadi..." kata Mama setelah lama terdiam. Gabriel dan Ify terdiam, menunggu kata-kata lanjutan yang keluar dari bibir mama. "Sudah sampai tahap apa?"

Gabriel dan Ify melongo, menunjukkan totally-blank-expression. "Tahap apa?" tanya mereka serentak.

"Hubungan kalian sudah sampai tahap apa?" Mama mengulangi dengan jelas pertanyannya.

Dengan kompak Gabriel dan Ify mengatupkan bibir mereka. Mama tertawa kecil melihatnya. "Dari tadi kompakan terus deh," godanya, membuat Gabriel dan Ify saling pandang dan meringis garing.

"Yang jelas kami belum sampai tahap di mana saya siap menikahi Ify, Tante," kilah Gabriel, enggan menjelaskan dengan detail hubungannya dengan Ify sejauh ini. Dia ngeri membayangkan reaksi Mama Ify kalau beliau sampai tahu putrinya sering bersandar di bahunya, menumpahkan tangis di dadanya, atau membiarkan tangan cantiknya terlindungi dengan aman oleh tangan besar Gabriel. Hal-hal itu masih terlalu pribadi untuk diceritakan.

Mama tersenyum tipis sambil mengangkat cangkir teh hijau panasnya yang baru saja diantarkan pelayan. Pelayan itu sempat mengernyit ketika menangkap bagian terakhir kalimat Gabriel. Seorang remaja ingusan menyebut-nyebut pernikahan jelas menimbulkan tanda tanya besar.

"Kalian yakin mau meneruskan hubungan ini? Kamu tau gimana papa kamu, Fy."

"Ify nggak pernah seyakin ini," jawab Ify tegas.

Mama menatap Ify dan Gabriel bergantian. "Mama ingin buat perjanjian dengan kalian."

Ify dan Gabriel saling lirik cemas. Apalagi ini?!

"Berjanjilah bahwa kalian nggak akan mengecewakan kami." Gabriel memejamkan mata, mematri janji itu dalam hati dan pikirannya.

"Saya janji akan menyayangi dan melindungi Ify semampu saya, selama saya masih bisa," ujar Gabriel mantab. Matanya nyalang menatap kedua manik mata mama Ify. Mama tersenyum singkat melihat kesungguhan pada kedua mata Gabriel. Tatapannya beralih pada Ify yang masih terdiam.

"Ify?"

Ify menarik napas dalam-dalam dan mengeluarkannya perlahan. Ia menatap Gabriel yang dibalas dengan anggukan kecil. Tatapannya kembali pada mama yang masih menanti ucapannya.

"Ify janji, nggak bakalan ngecewain papa dan mama lagi. Mungkin Ify akan berubah, tapi perubahan ini tetap nggak bakal ngecewain kalian."

Mama menatap Ify dan Gabriel bergantian. Setelah terdiam cukup lama, akhirnya ia mengangguk. "Oke. Mama pegang janji kalian. Dan Ify, kamu sendiri yang harus meyakinkan papa. Mama nggak bisa bantu apa-apa."

Setelah menahan napas cukup lama karena tegang, bahu Ify dan Gabriel langsung terkulai. Lega rasanya mendengar perkataan mama barusan. Dengan tenang Gabriel menyesap cappuccino hangatnya.

"Makasih, Ma," kata Ify lirih. Matanya sudah berkaca-kaca saking senangnya.

Mama tersenyum lembut dan mengusap kepala Ify dengan penuh kasih sayang. Tak sepatah kata pun keluar dari bibirnya. Tapi Ify mengerti arti tatapan mamanya itu.

Lonceng di jam besar yang berada di sudut kafe berdentang. Mama reflek melirik arlojinya, dan kembali menatap Ify. "Udah jam setengah 4, Fy. Kamu harus ke dokter gigi habis ini."

Ify mengangguk, meraih tasnya, dan berdiri. Tangan kanannya mengusap pipi Gabriel sekilas. "Pulang dulu, ya. Hati-hati bawa motornya."

Gabriel mengangguk. Ia ikut bangkit dan menyalami mama Ify. "Terima kasih, Tante," katanya hormat.

Mama mengangguk singkat sambil tersenyum tipis. "Kami duluan ya, Gabriel."

*-*-*-*

Shill..

Tak ada jawaban. Cakka melarikan jari-jarinya di keypad, menyapa gadis itu, tapi tetap tak ada jawaban. Dengan gusar dilemparkannya BlackBerry itu ke atas tempat tidur.

"Weits, sinetron banget lo, Bro!"

Cakka menoleh dan mendapati Ify sedang berdiri di ambang pintu sambil mengerutkan kening.

"Ngapain lo di situ?"

Ify tersenyum. "Hai juga, kakakku," sindir Ify. Cakka melengos dan membanting tubuhnya di tempat tidur.

Sembari menatap langit-langit kamarnya, Cakka mendesah pasrah. "Gue stres, Fy."

"Shilla ya?"

Cakka tersentak lalu menoleh cepat, menatap Ify yang sudah ikut berbaring di sampingnya. "Lo..kok.."

"She called me," potong Ify cepat. Senyum jahil tersungging di bibirnya. Agak kaget juga sih ketika tiba-tiba Shilla meneleponnya dan curhat soal Cakka. Shilla dan Cakka memang cukup dekat sejak lama, tapi Ify sama sekali tidak mengira kalau kedekatan mereka sampai sejauh ini.

"Kalo saran gue, ya. Elo nggak usah terlalu mikirin hal ini. Kalian kan masih bisa berhubungan, toh selama ini kalian juga jarang ketemuan. Komunikasi selalu lewat hape, kan?"

Cakka mengangguk. "Iya, sih. Tapi rasanya beda, Fy," kata Cakka tak mau menyerah.

Ify menepuk-nepuk bahu kakaknya pelan. "Udah, fokus dulu sama kuliah lo. Untuk urusan Shilla, serahin aja ke gue. Dia kan sahabat gue juga, nggak bakal gue biarin dia kenapa-napa. Oke?"

Cakka terkekeh mendengar kalimat Ify. Adiknya ini, gayanya udah kayak apa aja. "Mentang-mentang udah dikasih restu sama mama, jadi sok tau lo!" ledeknya. Bukannya cemberut, Ify malah ikut terkekeh, menertawai kesotoyannya.

Puas tertawa, Cakka kembali menatap Ify dalam-dalam. Besok ia harus kembali ke Jogja, meninggalkan adik satu-satunya ini untuk sementara. "I'm gonna miss you, Fy."

Ify langsung tergelak. "Jijay banget sih lo! Ih, orang galau emang suka aneh ya?" Dan tawanya kembali berderai. Tapi, melihat wajah Cakka yang begitu serius, Ify lantas berujar, "Iya, gue juga bakal kangen sama lo, Kak."

Cakka nyengir puas. "No goodbye kiss, eh?" tanyanya jail.

Ify melotot dan langsung melempari wajah Cakka dengan bantal. "Not in a million years!"

*-*-*-*

Hujan deras mengguyur daerah Jakarta sore ini. Ify tercenung menatap tetes-tetes air yang menahannya di sini, di sebuah halte sepi yang kumuh. Di sampingnya, Gabriel berdiri dengan tangan tersembunyi di saku celana, ikut tercenung menatap hujan.

Ify habis menemani Gabriel menyervis ponselnya yang mendadak mati tiga hari lalu. Dalam perjalanan pulang tiba-tiba hujan deras mengguyur, dan mereka terpaksa berhenti untuk berteduh di halte kumuh ini.

Mata Gabriel melirik Ify yang memeluk tubuhnya sendiri dengan kedua tangan. Rambut dan sebagian seragamnya basah, bibirnya pun mulai membiru. Dalam hati Gabriel merasa tidak tega juga. Ia melepas jaket hitamnya dan menyerahkannya pada Ify. "Dingin, kan? Nih pake ini aja."

Ify menatap jaket itu dan Gabriel bergantian. "Terus Kak Gabriel pake apa?" Matanya menelusuri seragam Gabriel yang juga basah.

Gabriel mengangkat bahu, cuek. "Aku kan cowok, udah biasa kalo kehujanan gini. Bibir kamu udah mulai biru tuh, masuk angin entar."

Tubuh Ify menghangat mendengar kata ganti yang kini digunakan Gabriel. Membuat mereka berdua terasa lebih...dekat.

"Makasih, ya." Ify mengambil jaket di tangan Gabriel dan memakainya. Jaket Gabriel begitu besar sampai-sampai Ify harus menarik lengan jaket itu agar tangannya kelihatan. Aroma khas Gabriel menguar dari jaket itu, membuat tubuh Ify kembali menghangat.

Kini ia ganti menatap Gabriel yang masih bertahan dengan bajunya yang basah. Pasti dingin sekali. Pelan, setengah ragu, ia mendekatkan diri ke arah Gabriel dan memeluk lengan kirinya.

Gabriel tersentak merasakan pelukan Ify di lengan kirinya. Ia menoleh menatap Ify, tapi Ify malah menenggelamkan wajahnya di bahu kokoh Gabriel. "Biar nggak kedinginan," katanya tanpa sekalipun mengangkat wajah.

Gabriel tersenyum tipis, mengusap puncak kepala Ify, dan mengecupnya sekilas. "Aku nggak akan kedinginan selama kamu di sini."

Selama beberapa saat mereka terdiam dalam posisi itu, hingga akhirnya hujan mulai reda, hanya menyisakan titik gerimis sebagai pemanis. Ify mengangkat kepalanya dan menoleh menatap Gabriel. "Pulang sekarang?"

Ify melepaskan pelukannya. Sebagai gantinya, ia menggenggam tangan Gabriel dan berjalan menuju motor.

Bukannya mengantar Ify ke rumah, Gabriel malah membawa gadis itu ke rumahnya. Melihat keadaan Ify yang setengah basah membuatnya tidak tega kalau harus membiarkan gadis itu kedingingan lebih lama. Jarak halte kumuh tadi ke rumahnya memang lebih dekat dibanding jarak ke rumah Ify.

Ify tidak protes, tapi mau tak mau ia jadi gugup. Kalau ia ke rumah Gabriel, kemungkinan besar ia akan bertemu dengan orang tuanya. Astaga, memikirkan ia harus berkenalan dan beramah-tamah dengan kedua orang tua Gabriel membuatnya mulas.

Keadaan rumah Gabriel begitu sepi. Mungkin papa dan mama Gabriel belum pulang. Diam-diam Ify menghela napas lega.

Pembantu Gabriel pontang-panting menyambut majikannya pulang. Hidungnya mengernyit melihat Gabriel membawa seorang gadis ke rumahnya, dalam keadaan basah pula. Gabriel hanya meringis dan langsung menyuruh pembantunya itu agar memberi handuk dan meminjamkan pakaian pada Ify.

"Maaf, Mas, kamar nyonya dikunci. Ada, sih, baju-baju nyonya yang lain di ruang cuci, tapi belum disetrika," kata pembantu Gabriel setelah mengambilkan handuk dan mengantarkan dua gelas susu cokelat hangat yang tadi dipesan Gabriel.

Gabriel menoleh menatap Ify yang sedang menggenggam erat-erat gelas susu hangat, kemudian berbalik menatap pembantunya lagi. "Ya udah, nggak apa-apa. Biar Ify pake baju saya aja." Pembantu Gabriel mengangguk dan kembali ke dapur.

"Habis ini kamu keringin badan kamu. Bisa masuk angin kalo nggak cepet-cepet ganti baju. Nanti aku pinjemin baju aku. Nggak papa, kan?"

Ify tersenyum. "Nggak apa-apa, kok. Kamar mandinya di mana?"

Gabriel menunjukkan kamar mandi tamu di dekat ruang tengah. Sebelum Ify masuk kamar mandi, ia mengambil bajunya dan menyerahkannya pada Ify. Ia sendiri lantas kembali ke kamar dan membersihkan badannya.

Alis Gabriel terangkat melihat Ify keluar dari kamar mandi. Rambutnya basah sehabis keramas. Tapi bukan itu intinya. Ify mengenakan kaus lengan panjang miliknya yang tentu saja kebesaran di badan Ify, dan celana panjang yang ujungnya harus dilipat beberapa kali.

"Jangan ketawa," tukas Ify, tahu apa yang akan dikatakan Gabriel. Gabriel terbatuk-batuk kecil untuk melampiaskan tawanya.

"Ternyata kamu kecil ya," goda Gabriel jahil. Ify melotot dan menahan diri untuk tidak melempari Gabriel dengan kotak tisu di meja.

Suara mesin mobil terdengar dari halaman depan. Gabriel mengangkat kepala dan menjulurkan leher, melihat siapa gerangan yang datang. "Ah, papa sama mama pulang. Hmm..tumben barengan."

Ia segera ke luar menyongsong kehadiran orang tuanya. Gabriel bahkan tidak sempat melihat ekspresi Ify yang seperti tercekik itu. Selama beberapa detik Ify menahan napas. "Gue harus ngapain, nih?" desis Ify panik.

Belum sempat memikirkan apa yang harus dilakukan, Gabriel beserta kedua orang tuanya sudah lebih dulu masuk dan berjalan beringan menuju tempat Ify duduk sekarang.

"Pa, Ma, kenalin, ini Ify, pacar Gabriel."

Ify berdiri dan membungkukkan badan sambil tersenyum kaku. "Hai Oom, Tante," sapanya pelan. Tapi, tunggu..bukankah wanita yang ada di hadapannya ini adalah wanita yang bersama mamanya di dekat kantor kepala sekolah beberapa waktu lalu?

"Halo, Ify! Inget sama Tante, kan?" tanya mama Gabriel ramah.

Ify meringis. "Ingat, kok, Tante."

Papa Gabriel maju dan menyalami Ify. Ify berdiri seperti orang linglung, bingung harus berkata apa. "Anggap saja rumah sendiri, ya," kata papa Gabriel sebelum berlalu menuju kamarnya. Ify menatap Gabriel bingung yang hanya dibalas Gabriel dengan senyum tipis. "Papa emang suka gitu."

Ify menganggukkan kepala mengerti. "Tante apa kabar?"

"Baik, kamu?"

"Baik juga."

Kemudian kedua perempuan dari generasi berbeda itu asyik bercakap-cakap seolah sudah saling mengenal lama. Jarak usia bahkan tidak mampu mengurangi keakraban mereka. Gabriel pun memilih untuk menyingkir ke pantry, memberikan dua wanita penting dalam hidupnya sedikit privasi.

Dari tempatnya, Gabriel tersenyum mengamati Ify yang sedang menganggukkan kepala mendengar apa yang dikatakan mamanya. Ketika Ify menoleh sekilas dan tatapan mereka bertemu, senyum Ify ikut terkembang. Kemudian ia memalingkan wajah dan kembali tenggelam dalam percakapannya bersama mama Gabriel.


bersambung..

*-*-*-*

Eaaakk gimana? udah aku panjangin loh itu, nggak kurang panjang kan? oh iya di part ini hampir nggak ada konflik gabriel-ify. sebagai gantinya aku munculin alvin-sivia dan cakka-shilla. semoga nggak ngebosenin deh hehe :D

hmm..mungkin 2 atau 3 part lagi cerbung ini bakal tamat (amin!!). terus kayaknya part selanjutnya juga agak lama (kayak ini nggak aja-,-) soalnya aku lagi mid test. fisika susah bangettt doakan semoga nggak remed ya :((

komen, kritik, saran selalu ditunggu. bisa langsung di sini atau mensyen di twitter (@dwidamn)


Muchas Gracias!