Senin, 28 November 2011

Fight for Love - Part 13

Part 13: Thing is Getting Better, but...


It feels like de javu. Seperti kejadian masa lampau yang terulang kembali.

Ify, dengan baju kedodoran dan celana yang ujungnya digulung berkali-kali, berjalan pelan menuju pintu depan rumahnya. Di belakangnya, Gabriel mengikuti dengan langkah santai sembari bersiul pelan. Dalam hati Ify menggerutu. Bagaimana Gabriel bisa setenang itu pada saat genting begini? Apakah tamparan Papa beberapa waktu lalu belum juga menyadarkannya?

"Assalamualaikum!" Ify mengucap salam. Dalam hati berharap tidak ada yang menjawab salamnya.

"Waalaikumsalam!" Suara Papa terdengar menggelegar. Ify mendesah. Ternyata ia tidak berhalusinasi ketika melihat mobil kantor Papa di car port tadi.

Ify baru akan berjalan ke ruang keluarga ketika tiba-tiba papanya muncul. Sontak Ify menghentikan langkah. Gabriel ikut berhenti dan ketiganya terpaku dalam keheningan yang tidak nyaman.

"Ehem.." Gabriel berdeham. "Selamat sore, Oom!" sapa Gabriel hormat. Ia bahkan sedikit membungkukkan badan.

Rahang Papa mengeras seketika. "Lebih baik kamu pergi sebelum saya memanggil petugas keamanan untuk mengusirmu."

Gabriel tampak tak gentar. Ia tetap memamerkan senyum terbaiknya. "Baru saja saya mau pergi, Oom," katanya.

Ia tersenyum kecil pada Ify dan berpamitan pada Papa. Papa sama sekali tidak membalas sapaan apalagi membalas senyum Gabriel. Wajahnya mengeras dalam kedinginan yang kelam.

"Papa harus bilang berapa kali supaya kamu ngerti, Ify?!" sentak Papa langsung begitu derum motor Gabriel sudah tak terdengar lagi.

Ify tertunduk. Jemarinya memainkan ujung lengan baju Gabriel sembari menggigit bibir kuat-kuat sampai perih. "Tadi Ify kehujanan, terus mampir rumah Kak Gabriel dulu buat ngeringin badan, Pa," jelas Ify. Walaupun ia tidak yakin Papa butuh penjelasan.

"Siapa yang tanya?" Ify dibuat makin gugup dengan pertanyaan itu. "Papa cuma mau tahu, kenapa kamu masih saja bersama anak itu? Apa perlu papa menggunakan cara kasar agar kamu nurut sama papa? Iya?!"

Mama melangkah tergesa-gesa menuruni tangga. Ia mendengar suara ribut-ribut dari atas dan langsung tahu kalau itu suara suami dan putrinya.

"Sudah, sudah, nggak enak kalau didengar tetangga." Mama melerai dari balik bahu Papa. Ia melemparkan tatapan desperate pada Ify seakan berkata "give it up!".

Ify mengangguk dan perlahan berjalan melewati kedua orang tuanya. Papa sepertinya masih ingin meneriakinya beberapa kata lagi, tapi ditahan Mama. Mungkin setelah ini Ify akan membuatkan teh hangat untuk Mama sebagai tanda terima kasih.

Ketika sampai di ujung tangga, Ify bertemu dengan Rio yang tengah berdiri menyandar plang besi lantai atas sambil memandang ke bawah. "This drama is getting more interesting," ujarnya sambil tersenyum miring. Ify menatap Rio sejenak tapi tak mengatakan apa-apa. Ia langsung berlalu dari sana, berjalan cepat menuju kamarnya. Suasana hatinya sudah buruk tanpa harus ditambahi ocehan sok tau Rio.

Dua detik setelah Ify menutup pintu kamarnya, ponsel dalam saku celana Rio bergetar. Rio menatap sekilas layar ponselnya dan tersenyum kecil. Ia menekan tombol hijau dan membawa benda mungil itu ke telinganya.

"Halo," sapanya. Setelah itu ia hanya diam, tampak menyerap baik-baik kata apa pun yang diucapkan seseorang di seberang.

Sebelum menutup telepon, ia menyeringai puas dan berkata, "Oke. Dua hari lagi. Good luck!"

*-*-*-*

Entah keberuntungan apa yang menjatuhi Ify pagi ini ketika ia sampai di meja makan dan tak ada Papa di sana. Setengah terpekik senang, Ify bertanya pada Mama, "Papa mana, Ma?"

Mama yang sedang menyiapkan piring dan alat makan lainnya hanya menoleh sekilas. "Pagi-pagi tadi ditelepon bosnya, dapet tugas ke Medan."

"Medan? Berapa hari?"

"Katanya sih empat hari."

Ify tak bisa lagi menyembunyikan kegembiraannya. Ia langsung melompat dalam pelukan Mama. "Ify minta sesuatu boleh?"

Mama menghentikan aktivitasnya. Ia menatap Ify dengan mata menyipit penuh selidik. Ditatap seperti itu, Ify menyeringai. Mama mendesah dan menggeliat, melepaskan diri dari pelukan Ify.

"Ya udah sana telpon Gabriel, mumpung Papa nggak di rumah," kata Mama, sudah tahu akal bulus putrinya.

Ify melompat senang dan berlari menuju telepon rumah, tak sabar ingin menyampaikan kabar gembira ini pada sang kekasih.

"Halo," sapa seseorang di seberang sana setelah dua kali nada tunggu.

"Halo, Tante, ini Ify."

"Ify? Ada apa? Cari Gabriel ya?"

Ify terkikik pelan. "Iya, Tan. Ada?"

Beberapa detik kemudian, suara Gabriel sudah terdengar. "Halo!" Bahkan sapaan Gabriel pun terdengar lebih hidup dari biasanya. Mungkin ia juga sudah punya firasat tentang kabar gembira ini.

"Hey. Hari ini jemput ya. Bisa kan?" Ify sudah tahu, Gabriel menginginkan hal ini semenjak mereka jadian. Tapi tentu saja tidak langsung bisa terealisasikan mengingat betapa kerasnya Papa, Mama, dan Cakka waktu itu. Namun sekarang, Mama sudah memberi kelonggaran dan kebetulan Papa dan Cakka sedang tidak di rumah. Rio? Nggak usah dipikirin!

"Hah? Serius?" tanya Gabriel takjub. Ify berusaha membayangkan Gabriel dengan ekspresi terkejut nan bodoh, tapi gagal.

"Iya dong. Papa lagi nggak di rumah. Tadi Mama udah bilang boleh." Setelah itu mereka sibuk bercakap-cakap. Ternyata mengobrol di telepon pagi-pagi begini langsung bisa membuat mood keduanya menanjak naik.

Mereka sibuk mengobrol sampai teriakan Mama terdengar dari meja makan. "Rio, Ify, sarapan dulu!"

"Udah dipanggil Mama tuh. Sarapan dulu ya, kamu juga gih!" kata Ify.

"Sip! Tunggu aku ya, nanti. Love you."

Wajah Ify langsung memerah. Debaran itu masih ada sampai sekarang. Tanpa sadar genggamannya pada telepon mengerat. "Love you too," balasnya dengan seulas senyum yang bahkan terdengar sampai telinga Gabriel, walaupun jelas cowok itu tidak bisa melihatnya.

*-*-*-*

Shilla sedang membongkar isi tempat pensilnya yang super padat untuk mencari lipbalm-nya, ketika seseorang masuk kelas dan mengagetkannya.

"Hayo!" kata Rio sambil menggebrak pelan meja Shilla. Shilla terlonjak pelan, namun tak mau repot-repot mengindahkan Rio.

"Ngapain, Neng?"

"Ah, ketemu!" pekik Shilla riang. Rio yang merasa dicuekin hanya mencibir. Ia memutuskan untuk kembali memasang headset putih yang tadi sempat ia lepas.

Seakan baru menyadari sesuatu, Shilla menoleh cepat ke arah Rio. "Ify mana, Yo?"

Mungkin balas dendam, Rio tidak menjawab, malah menggoyang-goyangkan kepalanya seirama dengan lagu yang sedang ia dengarkan. Shilla sempat menebak-nebak mungkin Rio sedang mendengarkan lagu rock yang keras dan cadas.

Tak ingin menyerah, Shilla menjawil bahu Rio dengan ujung jarinya. "Hoy! Ify mana?" tanyanya sekali lagi.

Rio menoleh dan cepat-cepat melepas headsetnya. "Kamu tanya apa?"

"Ify mana?"

"Oh," Rio mengangguk. "Dia berangkat sama cowoknya. Siapa namanya? Galuh? Gani?"

"Gabriel," koreksi Shilla cepat. Rio mengangkat bahu tak peduli.

"Kok bisa?"

"Om lagi nggak di rumah, terus Ify minta jemput. Kayaknya sih gitu. Tadi sebenernya aku mau ikut Ify, kan aku masih punya tanggung jawab ke dia. Eh, ternyata Galuh bawa motor."

"Gabriel," sela Shilla lagi.

"Nah," Rio melanjutkan tanpa merasa terganggu dengan interupsi Shilla. "Nggak mungkin kan kita bertiga naik motor? Ya udah deh aku sama supir aja."

Shilla menggelengkan kepala, nyaris putus asa akan ketidak-tahu-dirian sepupu sahabatnya ini. Kalaupun Gabriel bawa mobil, masa iya si Rio mau nebeng juga? Dasar sinting!

"Shilla!" Seseorang berteriak memanggil namanya di pintu kelas. Anna, teman sekelasnya.

"Ada yang nyari elo, tuh!"

Shilla berjalan menuju pintu dengan bingung. Siapa ya yang pagi-pagi begini mencarinya?

Namun, begitu sampai di pintu, ia langsung menyesali perbuatannya. Ternyata yang mencarinya adalah Obiet, si culun tapi tajir minta ampun dari kelas sebelah yang mengaku tergila-gila padanya. Kalau cuma tergila-gila sih nggak apa-apa, nah ini? Tiap hari ngejar-ngejar kayak mau ngajak kawin.

Sebenernya Obiet ini nggak parah-parah amat. Wajahnya lumayan manis, dan tidak seperti kebanyakan anak culun lainnya, ia tidak memakai kaca mata. Cuma gayanya saja yang terlalu rapi dan kaku. Obiet adalah tipe anak tajir yang selalu diajarkan untuk berbagi dan bermurah hati, walaupun kadang itu membuatnya terlihat sombong dan terkesan ingin memamerkan kekayaan. Siapa yang bisa mengira, Obiet si anak mami JUGA tergila-gila oleh pesona sang kembang sekolah.

"Hai, Shill!" sapa Obiet ramah yang hanya dibalas Shilla dengan senyum tipis dan supersingkat.

"Ada apa?" tanya Shilla langsung, tak ingin berlama-lama berurusan dengan makhluk satu ini.

"Kamu cantik deh," ceplos Obiet tanpa sadar. Tapi, sedetik kemudian, ia langsung menutup mulutnya ketika Shilla mendelik galak ke arahnya.

Obiet berdeham sebelum mengutarakan maksud kedatangannya ke kelas Shilla. Ia merogoh sakunya dan mengeluarkan dua lembar kertas tebal berwarna ungu tua dari saku celananya. "Aku punya dua tiket VVIP buat pertunjukan balet di Taman Ismail Marzuki Sabtu depan. Kamu mau pergi sama aku?"

Shilla nyaris menggigit lidahnya sendiri. "Hah? Pertunjukan balet? Sama kamu?"

"Iya." Obiet mengangguk.

Shilla tertawa kecil sambil menggelengkan kepalanya. "Nggak. Nggak. Nggak bisa."

Obiet tampak kecewa. Ia menunduk, menemukan bahwa ujung sepatunya terlihat lebih menarik.

Merasa bersalah, Shilla menepuk bahu Obiet pelan, membuat cowok itu kembali mengangkat kepalanya. Ia berujar pelan, "Sorry, Biet. The answer is still no."

Obiet mengangguk pelan. Ia menyodorkan kedua tiket itu ke arah Shilla. "Sebenernya aku juga nggak begitu suka balet. Nih, aku kasih kamu aja tiketnya, siapa tau kamu mau ngajak temen kamu."

Tanpa banyak berpikir, Shilla langsung menerimanya. "Makasih, Biet. Lo baik deh."

Obiet tersenyum hambar. Ia pun segera berbalik menuju kelasnya.

Tepat ketika Obiet menghilang dari pandangan, Ify dan Gabriel muncul. Shilla nyengir kepada Gabriel dan melempar tatapan penuh arti pada Ify. Ify tersenyum lebar, menampakkan giginya yang dibehel rapi.

"Ada siapa, Shill, tadi?" tanya Gabriel. Ia sempat melihat Shilla mengobrol dengan seseorang tadi.

"Oh, itu. Si Obiet."

"Dia belum nyerah juga, Shill?" tanya Ify setengah geli. Shilla hanya tertawa pelan.

"Nanti pulang bareng apa dijemput?" tanya Gabriel pada Ify. Mereka kini sudah membuat dunia sendiri, mengabaikan Shilla begitu saja. Tapi Shilla sama sekali tak keberatan, melihat Gabriel dan Ify seperti ini entah mengapa selalu membuatnya senang.

Ify mengangkat satu tangannya untuk merapikan rambut Gabriel yang mencuat, efek memakai helm. Gabriel menyambar tangan Ify dan menurunkannya perlahan sambil tersenyum lembut. "Rambutku lebih keren kalo kayak gini, Fy," katanya polos.

Ify tidak tahan untuk menonjok bahu cowoknya pelan. Keduanya langsung larut dalam tawa.

Melihat kejadian itu, Shilla langsung teringat pada dua lembar tiket yang sedang di pegangnya. "Eh, gue punya sesuatu nih buat elo berdua."

Gabriel dan Ify menoleh serentak. "Apa?"

"Tiket VVIP pertunjukan balet di Taman Ismail Marzuki Sabtu depan. VVIP loh, you'll regret if you don't take it," kata Shilla sambil menyodorkan kedua tiket itu.

Ify menerimanya dan membaca sekilas. "Sabtu berarti lusa kan? Hmm..papa belum pulang." Ia menoleh pada Gabriel yang juga sedang mengamati tiket itu. "Gimana? Mau nggak?" tawar Ify.

"Everything's fun when I do it with you," katanya sebagai jawaban.

"Wuuu dasar tukang gombal!" ledek Shilla langsung.

*-*-*-*

Suara pantulan bola basket terdengar nyaring, memenuhi koridor-koridor yang sepi. Di lapangan, Gabriel dan Alvin berebut bola. Keduanya bersimbah keringat, namun tampak tak begitu peduli. Bermain basket adalah salah satu cara untuk menyegarkan kembali pikiran setelah dibuat ruwet oleh segala tetek bengek persiapan Ujian Nasional. Gabriel yang lebih jago di sepak bola pun tidak kewalahan mengimbangi permainan Alvin yang pernah menjadi anggota tim basket.

"Nggak nganter Ify, lo?" tanya Alvin dengan napas terengah. Ia sedikit membungkukkan badan dalam upaya menghalangi segala usaha Gabriel untuk mencetak angka.

Gabriel men-dribble bola di tangannya dan mengambil langkah cepat menuju ring. "Nganter, tapi nanti. Dia lagi ngerjain tugas di kelas," jawab Gabriel. Ia bersiap di luar garis three point dan langsung melempar bola.

"Trekk.." Bola basket itu meluncur cantik dan menjebol ring tanpa menyentuh bibirnya. Gabriel menyeringai lebar. Tiga poin sudah ia dapatkan, dan kurang dua poin lagi agar ia bisa mengimbangi Alvin. Ia melemparkan bola itu pada Alvin yang langsung ditangkap dengan tangkas olehnya.

"Tuh cewek lo," kata Alvin setelah ia melihat Ify berjalan mendekati lapangan. Gabriel melambai ringan ke arahnya, kemudian menatap Alvin penuh permohonan.

Alvin mendengus dan melemparkan bola ke pinggir lapangan. "Udah sana samperin dulu. Gue juga mau istirahat."

Gabriel nyengir dan tanpa berkata-kata ia langsung berlari menghampiri Ify. Gadis itu langsung tersenyum lebar begitu Gabriel menghampirinya. Dan senyumnya mengembang makin lebar ketika melihat keadaan Gabriel saat ini; berkeringat dan terlihat lebih tampan dari biasanya.

"Mau pulang sekarang?" tanya Gabriel lengkap dengan seulas senyum di bibir.

"Emang kamu nggak capek? Istirahat dulu aja."

Berdua mereka pun berjalan menuju pinggir lapangan, bergabung dengan Alvin dan tas-tas mereka.

"Hai, Kak Alvin!" sapa Ify ramah pada kakak kelasnya satu itu. Baru pertama kali ini ia bertatap muka langsung dengan sang mantan ketua OSIS.

"Halo!" balas Alvin tak kalah ramah.

Pandangan Ify beralih kepada Gabriel yang sedang menyeka keringatnya dengan handuk kecil. Teringat sesuatu, Ify merogoh salah satu kantung di tasnya dan mengeluarkan tisu basah yang selalu dibawanya.

"Nih," kata Ify sambil menyodorkan tisu basah itu. "Coba dilap pake ini, pasti lebih seger."

Gabriel langsung menolak mentah-mentah. "Nggak mau! Tisu basah baunya kayak bayi!"

Ify melotot. "Tapi wangi, tauk!"

"Nggak ah!" tolak Gabriel lagi. "Nggak cool banget kalo udah cakep-cakep gini tapi bau bayi!" Ify dan Alvin harus menahan diri untuk tidak melemparkan benda apa saja ke arah Gabriel.

Gabriel menyelesaikan acara membersihkan keringat dan menyangklong tasnya. Ia mengulurkan tangan pada Ify yang langsung disambut gadis itu dengan senyum manis. "Gue pulang dulu, Vin. Bisa-bisa izin gue dicabut sama nyokapnya kalo gue telat bawa anaknya pulang," pamit Gabriel pada Alvin.

Alvin mengangguk ringan. "Sip. By the way, selamat deh buat elo berdua, uda berhasil dapet izin."

"Makasih Kak Alvin!" kata Ify tulus. Alvin nyengir dan menganggukkan kepala.

"Cepetan nyusul kita, Vin! Nyari yang deket aja!" seru Gabriel sebelum ia benar-benar meninggalkan lapangan. Alvin menghentikan gerakan tangannya yang sedang menutup botol minum.

"Maksud lo?" tanya Alvin heran. Gabriel menyeringai dan melempar tatapan penuh arti pada Alvin. Alvin yang menangkap isyarat itu hanya tersenyum masam.

"Kak Sivia cocok tuh sama Kak Alvin!" tiba-tiba Ify ikut menyahut, membuat kedua cowok itu menatap heran padanya. Ditatap seperti itu, Ify mengangkat bahu.

"I'm just saying," katanya. Kemudian Ify dan Gabriel berjalan ke tempat parkir setelah sebelumnya melambai ringan ke arah Alvin yang masih terdiam di lapangan.

*-*-*-*

Perpustakaan terlihat sedikit ramai ketika Alvin memasukinya pada jam istirahat kedua. Dengan buku ekonomi di tangan, ia segera menghampiri meja petugas perpustakaan.

"Siang, Bu!" sapanya ramah. Aura ketua OSIS masih begitu menempel dalam dirinya walaupun jabatan itu sudah resmi bukan miliknya sejak empat bulan lalu.

Petugas itu membenahi letak kacamatanya sebelum menatap Alvin. "Sudah terlambat satu minggu, Alvin," kata petugas itu.

Alvin nyengir. "Maaf, Bu. Kemarin-kemarin sibuk banget. Gini deh kalo udah kelas 3."

Sang petugas perpustakaan itu mengulum senyum dan langsung memproses buku Alvin. Setelah membayar denda keterlambatannya, Alvin memutuskan untuk tidak langsung kembali ke kelas. Ia pun berjalan menuju bagian ujung perpustakaan.

"Eh, ada Kak Alvin." Sebuah suara mengagetkan Alvin yang sedang melihat-lihat koleksi komik terbaru. Ia menoleh dan mendapati Shilla bersama Ify sedang duduk di kursi paling pojok sebelah jendela.

Ify mengangguk kecil ketika Alvin menghampiri mejanya dan Shilla. "Nggak ke kantin?" tanyanya sambil menarik sebuah kursi di depan Shilla untuk diduduki.

"Nggak," jawab Shilla ringan, sementara Ify kembali pada novel yang sedari tadi dibacanya.

"Lagi diet ya pasti?" Alvin iseng menebak. Sivia sering menolak diajak ke kantin kalau ia ada jadwal pemotetran keesokan harinya. Biar nggak kelihatan gendut di kamera, katanya. Mengingat itu, Alvin tersenyum geli. Dasar Sivia!

"Ih, sok tau deh!" cela Shilla sambil tergelak. "Lagi males aja, lagian pasti kantin penuh banget jam segini."

Alvin mengangguk, membulatkan mulutnya membentuk huruf O tanpa suara. Tepat saat itu, ponsel di saku celananya bergetar. Ada satu sms dari Gabriel.

Di mana sih?!

Alvin langsung mengetikkan sms balasan.

Di perpus. Sini aja, ada Ify.

Tak berapa lama setelah smsnya terkirim, Gabriel sudah menampakkan wajahnya dari balik rak-rak buku. Senyum lebar terpulas di wajahnya yang tampan ketika melihat gadisnya sedang serius membaca ditemani Shilla dan Alvin.

"Halo!" sapanya pada ketiga orang itu. Tak lupa ia membelai sekilas puncak kepala Ify. Ify mengangkat wajahnya dan langsung melempar senyum andalannya.

Alvin menangkap dua buah buku matematika di tangan Gabriel; satu buku cetak dan satunya buku tulis. "Ngapain lo bawa buku matik segala?" tanya Alvin tak mampu menutupi rasa herannya.

"Oh, ini," kata Gabriel sambil mengambil tempat di sebelah Ify. "Gue mau les matik sama cewek gue dong." Ify tertawa kecil melihat Gabriel yang sedang menatapnya sambil menaik-turunkan kedua alisnya.

"Loh, Ify kan anak IPA. Emang sama, gitu?" tanya Shilla bingung.

"Dasarnya sama. Cuma kalo anak IPA lebih kompleks, semacam pengembangan materi dasarnya gitu deh," Gabriel menjawab. Shilla mengangguk paham. Mungkin ia terlalu masa bodoh dengan sekolahnya, sampai hal-hal seperti ini saja dia kurang tahu.

"Mau tanya apa?" Ify menutup novelnya dan mencurahkan segenap perhatiannya pada Gabriel. Shilla dan Alvin cukup bijak untuk menyibukkan diri sehingga tidak perlu menganggu Ify dan Gabriel.

"Ini. Kemarin diajarin sama Bu Winda masih aja nggak ngerti sampe sekarang," ujar Gabriel sembari telunjuknya menunjuk sebuah soal di buku cetak.

Ify membaca soal itu dan langsung berujar, "Ini sih gampang, asal tau konsepnya pasti bisa ngerjain."

"Iya deh yang ulangan matik habis dapet 9!" sahut Shilla tanpa mengalihkan pandangan dari majalah yang sedang dibacanya. Ify nyengir garing sementara Gabriel memandang Ify takjub.

"Ulangan matik dapet 9? Ya ampun, aku aja selama di SMA ini maksimal cuma dapet 8. Pinter ya kamu." Gabriel tak bisa lagi menutupi perasaan kagumnya. Di matanya, apa yang dilakukan Ify selalu luar biasa, seperti sekarang ini. Dengan tersipu, Ify sedikit menundukkan kepala dan menyelipkan beberapa helai rambutnya ke belakang telinga. Sebuah siluet yang begitu rapuh dan indah.

Tanpa mereka sadari, di balik rak yang terletak beberapa meter dari meja mereka, Rio sedang mengamati sambil menyeringai lebar. Takut kalau yang diamati akan menyadari tatapannya, ia segera mengalihkan pandangan dan menyibukkan diri dengan ponselnya. Jarinya dengan cepat menari di atas keypad, mengetikkan beberapa baris pesan singkat pada seseorang jauh di sana.

*-*-*-*

Taman Ismail Marzuki terlihat ramai setelah pertunjukan balet berjudul 'Jaka Tarub dan Tujuh Bidadari' selesai ditampilkan. Berdua, sambil bergandeng tangan, Ify dan Gabriel berdesak-desakan bersama penonton lain untuk keluar. Beberapa kali Ify sempat terdorong dan nyaris jatuh, namun Gabriel selalu bisa menempatkan diri sedemikian rupa sehingga Ify bisa tegak kembali.

"Keren banget ya tadi. Jadi pengen belajar balet deh!" komentar Ify sementara ia dan Gabriel menunggu pesanan makanan di cafe di sekitar Taman Ismail Marzuki. Sejak siang tadi keduanya belum makan, dan cacing-cacing di dalam perut mereka mulai memberontak.

"Tadinya aku nggak begitu tertarik sama balet. Tapi setelah ini kayaknya aku berubah pikiran deh," Gabriel menanggapi. Ify tersenyum simpul.

"Sini, kunci mobil, hape, sama dompet biar aku yang bawa. Kewalahan gitu," kata Ify begitu melihat tangan Gabriel yang terlihat sibuk. Gabriel memang tidak suka menyimpan barang-barang berharga di saku celana. Terlalu berisiko, katanya.

Dengan patuh diberikannya benda-benda itu pada Ify. Ify langsung memasukannya dalam tas.

Gabriel pun tak tahan untuk tidak kembali berkomentar tentang pertunjukan barusan. "Tarian yang terakhir itu sumpah keren banget!"

Ify mengangguk setuju. "Mana yang jadi bidadarinya cantik-cantik, lagi. Bikin sirik aja," timpalnya.

Gabriel mengerutkan kening, terlihat sedikit tidak setuju. "Masa sih?"

Ify mengangkat bahu. Siapa juga yang tidak iri melihat balerina dengan tubuh indah berputar-putar dengan lincah dan gemulai di atas panggung. Belum lagi wajah mereka yang mulus dan rambut berkilau yang tersanggul rapi.

"Nggak ah," kata Gabriel, masih tidak setuju. "Mungkin buat orang lain cantik, tapi kalo buat aku mah yang cantik cuma kamu."

Persis seperti prediksinya, semburat kemerahan langsung menjalari pipi Ify. Pipinya yang halus sekarang sudah semerah rok yang sedang dipakainya.

"Gombal mulu kerjaannya!" Ify menimpali sambil tertawa ringan, mencoba menutupi kegugupannya. Sial! Gabriel masih saja jago membuatnya salah tingkah begini.

Obrolan mereka harus berhenti ketika pelayan membawakan pesanan mereka. Dengan cekatan Gabriel membantu sang pelayan memindahkan piring-piring dan gelas dari nampan ke meja. Setelah mengucapkan terima kasih, keduanya berdoa dan mulai menikmati sajian masing-masing.

"Coba ini deh, Fy," kata Gabriel sambil mengambil sepotong mushroom ravioli yang dipesannya untuk diberikannya pada Ify. "Enak banget!"

Ragu-ragu karena belum pernah sekalipun ia makan dengan alat makan yang sama dengan yang dipakai orang lain, Ify mencondongkan tubuh dan membuka mulut begitu garpu Gabriel sudah mendekat. Ia mengunyah sebentar dan matanya langsung membeliak. Gabriel benar! Ini adalah mushroom ravioli terenak yang pernah dimakannya!

Berdua mereka saling mencicipi pesanan masing-masing. Ada cinta di setiap tawa yang mengiringi, ada perasaan hangat di setiap tatapan mata, dan ada kasih sayang di setiap gerak tubuh mereka berdua.

Hal seperti ini masih terasa baru bagi Ify. Baru pertama kali ini ia merasa dibutuhkan, diinginkan, dan dicintai. Tanpa sadar seulas senyum bahagia terpatri di bibirnya ketika mengamati kekasihnya yang sedang menghabiskan makanannya dengan penuh semangat. Betapa beruntungnya ia memiliki Gabriel di sisinya sekarang.

Makanan sudah tandas, dan matahari mulai tergelincir di arah barat. Ify dan Gabriel bangkit, bersiap membayar semua pesanan mereka dan langsung pulang ketika tiba-tiba Gabriel merasakan sesuatu menubruknya. Sesuatu itu hangat, mungil, dan wangi. Ify tercengang menatap seorang cewek sesusianya tiba-tiba berlari ke arah mereka dan memeluk Gabriel hangat.

"It's been a long time, Kak Gabriel."


bersambung...

*-*-*-*

Senin, 21 November 2011

11.605 VISITORS! :D

Hai hai!! :D

Udah lama nggak ngurusin blog, dan malam ini entah kenapa pengen menengok sebentar blog yang sudah lama (ada kali ya 1 bulan) aku tinggalkan. Yang pertama kali aku lakuin tiap buka blog adalah....cek statistik! Hehehe bukannya mau narsis atau apa tapi cuma ngecek aja, berapa banyak orang sih yang mengunjungi blogku? *ting ting*
Dan begitu liat statistik, aku langsung syok! Yang ngunjungi dwida-jonas hari ini ada 61, dan keseluruhan kunjungan ada...11.605! SEBELAS RIBU ENAM RATUS LIMA! WOW. Sumpah aku sama sekali NGGAK MENYANGKA kalo visitor akan tembus 10.000. Kirain paling pol juga cuma 5.000 eeehh ternyata malah 11.000 hehe. Can't say a word but thank you for those who visited this blog!
Terus aku juga ngecek traffic source gitu deh, biasa lah, iseng :D. Agak geli juga liat keywords yang diketik orang-orang di google dan akhirnya membawa mereka ke blogku ini. Ada 'dwida septanaima blogspot', ada 'cerpen ify gabriel cakka icil terbaru', ada 'kedekatan ify alvin', and soooo many more haha ternyata bukan cuma aku yang suka ngetik keywords aneh di google :)
Okay, sekali lagi makasih banyak! seneng banget deh rasanya sampai alay gini girangnya haha :D
By the way, yang masih nunggu Fight for Love, sabarnya harus dilipatgandakan ya, soalnya ini aku lagi sibuk-sibuknya mau SEMESTERAN (which is next week -,-) dan aku berusaha untuk ngepost part 13 maksimal hari minggu ini. Soalnya kalo nunggu semesteran selesai yah....kasian juga yang nunggu. Udah dapet 4 halaman kok, jadi tinggal 3 atau 4 halaman lagi insyaallah aku post :)

Muchas Gracias! :D