Senin, 26 Desember 2011

Ketika Perubahan Mulai Datang

I'm tired of everything..

-Cakka Nuraga, 17 tahun

Beberapa waktu ini, gue ngerasa capek. Bukan, bukan capek yang seperti itu. Pikiran dan batin gue yang capek.

You know, ada beberapa hal yang nggak gue ngerti dari cewek gue. Dan hal-hal itu sering bikin gue frustasi. Misalnya aja, gue disuruh nginget tanggal-tanggal yang menurut dia penting. Dari yang umum seperti tanggal jadian, sampai yang mulai aneh-aneh kayak tanggal pertama kali gue ngapel, tanggal pertama kali gue kasih bunga, tanggal pertama kali kita ngedate, dan masih banyak 'tanggal pertama kali' lainnya.

Dan, kalo gue nggak inget satu tanggal di antara tanggal-tanggal itu, dia bakal ngambek. Kayak sekarang.

"Masa kamu lupa sih sekarang hari apa?" Mukanya udah mulai nggak ngenakin, bibirnya dimajuin beberapa senti. Lebih mirip bebek kalo kata gue. Oops...

Dan dengan begonya gue menjawab, "Hari Rabu kan?" Iya kan? Hari ini hari Rabu kan?

Bibirnya makin maju. "Hari ini tepat dua bulan sejak kita pertama kali ngedate, Sayang."

Oh, itu. Ngomong-ngomong, buat apa sih nginget-nginget begituan? Dan kenapa juga gue nggak boleh lupa? "Ooh, udah dua bulan ya?" Lagi-lagi, gue bertingkah bego.

Sekarang, nggak cuma bibir monyong. Matanya udah berkaca-kaca. Hidungnya merah kayak tomat. Hahh..gue benci kalo dia udah mulai melancarkan jurus terakhirnya, nangis.

Kalo udah gini, yang gue lakuin cuma ngebujuk dia, ngeluarin serentetan kata-kata gombal, dan alibi, itu pasti. "Sayang, buat aku tanggal-tanggal itu nggak penting. Yang penting kan cinta aku ke kamu," gue membujuk sambil mengelus rambut panjangnya. Gue hapus itu air mata, biar sweet dan dia nggak nuntut macem-macem lagi.

Bener kan? Dia berhenti nangis dan malah meluk gue sekarang. Saking seringnya gue bikin alibi, makin jago aja gue meyakinkan dia. Dan dia percaya gitu aja.

Andainya gue bisa teriak sekarang. Gue capek. I need to take a break. I need some space.


*-*-*-*-*

Dia berubah, dan aku takut.

-Ashilla Zahrantiara, 17 tahun

Aku paling benci perubahan. Aku adalah tipe orang yang ingin segala sesuatunya stay still seperti sekarang. Mungkin karena sebenarnya aku takut. Takut jika semuanya berubah dan aku harus kehilangan kesempurnaan itu.

Di antara perubahan-perubahan itu, aku paling takut kalau Cakka berubah. Dan, dia memang berubah.

Oke, dia masih romantis, masih perhatian padaku, masih suka memberiku kejutan-kejutan kecil. Tapi, bukan itu perubahannya. Mungkin perasaannya padaku yang berubah, aku tak tahu.

Sering kali aku mendapati Cakka melamun ketika bersamaku, seolah-olah hanya raganya saja yang di sini. Tak jarang pula aku melihatnya seperti tertekan, seolah-olah bersamaku bukan lagi hal yang menenangkan.

Tuhan, jangan biarkan dia berubah. Terlebih, jangan biarkan perasaannya berubah. Tetaplah seperti ini. Aku takut, Cakka. Aku takut kamu tidak menyayangiku lagi.

*-*-*-*-*


Kutemukan kedamaian dalam matanya.

-Cakka

Taman di samping lapangan basket adalah tempat favorit gue sejak gue masuk sekolah ini. Alvin, sobat gue, yang menunjukkannya. Tempat ini asyik kok, teduh dan elo bisa lihat seluruh penjuru sekolah dari sini. Kecuali kantin yang emang letaknya di belakang.

Gue biasa duduk di bangku panjang di bawah pohon. Tiap habis latihan basket gue pasti menyepi ke situ. Juga kalo gue lagi bete sama pelajaran, atau bete sama....Shilla.

Ya, ya, ya. Nggak tau kenapa gue jadi makin males sama Shilla. Oke, semua orang berpendapat kalo gue beruntung, bisa dapetin Shilla yang luar biasa cantik itu. Emang iya, sih. Buat dapetin dia itu nggak gampang, lho. Saingannya sebajek! Dan gue bangga punya pacar kayak dia.

Itu dulu, sebelum gue bener-bener tahu Shilla luar dalam. Gue sayang dia, sayaaaang banget. Tapi, makin lama gue makin gerah sama sikap manjanya, sikap ingin selalu diperhatikannya, dan sikap-sikap lain yang bikin gue enek. Kayak yang gue bilang sebelumnya, I need some space.

Oke, balik lagi ke taman samping lapangan basket. Latihan udah selesai, dan gue pengen ngadem dulu di sini, mumpung Shilla lagi pergi sama temen-temennya.

Tapi, pas gue sampe di bangku kesukaan gue, ternyata udah ada orang lain. Cewek. Rambutnya panjang, bagian samping rambutnya dijepit ke belakang. Kayaknya gue pernah liat, tapi lupa juga namanya.

"Misi," kata gue, mencoba untuk bersikap sopan.

Cewek itu menoleh cepat. Kayaknya dia kaget tiba-tiba ada yang nyapa. Oh iya! Gue inget sekarang. Dia Ify, temen sekelas gue waktu kelas 10 dulu.

"Eh elo, Kka," ujarnya setelah berhasil menguasai diri. Gue tersenyum simpul dan tanpa basa-basi langsung duduk di sebelahnya. Dia juga kayaknya fine-fine aja tuh gue di sini, nggak keberatan sama sekali.

"Kok belum pulang, Fy?"

Ify menggeleng sambil tersenyum tipis. Gue baru sadar kalo senyumnya manis. Banget. Ke mana aja gue selama ini?

"Lagi pengen di sekolah," jawabnya.

"Oh," respon gue datar. Setelah itu, kami berdua sama-sama diem. Nggak tau kenapa, keheningan ini bukan keheningan awkward yang sering gue alami sama orang-orang yang nggak begitu gue kenal. Justru keheningan ini terasa...apa ya? Mmm..menenangkan? Ah tauk deh yang penting gue nyaman-nyaman aja diem-dieman gini.

Tapi kemudian Ify menyeletuk, "Elo lagi ada masalah ya sama Shilla?"

Gue terkesiap. Kaget kenapa Ify bisa tahu. Dari mana coba? Kayaknya, phisically, gue sama Shilla baik-baik aja, dan itu yang dilihat orang-orang. Cuma hati gue aja yang lagi bermasalah sama dia.

Seolah-olah bisa baca pikiran gue, Ify tersenyum miring, terkesan mengejek sebenarnya. "Elo kelihatan nggak nyaman kalo di deket Shilla. I can see it clearly."

Oh? Masa sih? Emang kelihatan ya, kok Ify sampe bisa tahu? Ah, hampir aja gue lupa. Ini Ify, temen gue yang emang dari dulu nggak tahu kenapa lebih peka dari kami semua. Dia cocok jadi psikolog, kayaknya.

"Semoga elo cepet dapet jawaban, ya." Dia berkata seperti itu sambil tersenyum, begitu pula matanya. Gue begitu terpana dengan senyum itu, tatapan itu, sampai-sampai gue melupakan kata-katanya yang membingungkan barusan. Kayaknya ada yang aneh sama gue. Waktu gue ngelihat matanya, gue ngerasa...damai, dan pengen terus seperti ini.

*-*-*-*-*


Ternyata dia belum juga dewasa.

- Alyssa Saufika, 16 tahun

Hari ini gue ketemu lagi sama Cakka di taman dekat lapangan basket. Padahal selama ini gue nggak pernah tuh, ketemu dia di sini. Kalo lihat sih sering.

Cakka yang lagi duduk di samping gue masih Cakka yang dulu. Cakka yang belum bisa sepenuhnya dewasa, selalu kabur dari masalahnya. Entah itu masalah pelajaran, masalah dengan tim basketnya, atau masalah sama ceweknya. Haha, pengen ketawa gue rasanya kalo lihat muka tertekannya tiap sama Shilla.

Gue ngerti gimana perasaannya sekarang. Tapi, harusnya dia nggak seperti ini, diam aja seolah-olah nggak terjadi apa-apa. Harusnya dia ngomong, ngeluarin semua unek-uneknya selama ini. Berkali-kali gue bilang gini ke dia, tapi jawabannya masih sama. Sampai sekarang.

"Gue nggak bisa, Fy. Tiap kali gue bahas ini, pasti dia langsung berkaca-kaca gitu, meluk lengan gue sambil bilang, 'Aku sayang kamu, Cakka. Jangan berubah.'. Dan setelah itu gue cuma bisa nenangin dia," jelasnya panjang lebar.

Gue sih cuma bisa nepuk-nepuk pundaknya. Lha, emang gue harus ngapain lagi? Bantu dia ngomong ke Shilla? No, no. Gue bukan tipe orang yang suka ikut campur urusan rumah tangga orang lain. Terlebih gue sama Cakka nggak begitu deket, cuma sebatas kenal aja.

"Doain gue deh, Fy."

Gue menyeringai jail. "Nggak janji, ya. Wishlist gue udah panjang tanpa perlu lo tambahin lagi."

Dan setelah itu, sebuah tepukan keras mendarat di lengan gue. Seakan itu nggak cukup, dia nyentuh ujung rambut gue dan menariknya. Sialan! Sakit banget gila!

Yah, setidaknya dia udah bisa ketawa lepas sekarang. Setidaknya saat ini. Karena gue yakin, begitu dia sama Shilla lagi, wajah tertekan itu bakalan terpajang di mukanya.

Cakka, semoga elo bisa cepet dewasa untuk menghadapi ini semua. Elo harus berani, Kka!

*-*-*-*-*


Jealous much, Baby?

-Cakka

Jujur, gue sangat menikmati waktu-waktu yang gue habisin sama Ify. Lima belas menit yang gue curi setelah latihan basket, ngobrol tentang apa saja, ketawa karena joke gue yang kadang jayus, bahkan pernah cuma duduk diem berdua. Dan saat itu, gue nggak pengen apa-apa lagi. Gue cuma pengen duduk di sana, berdua, lebih lama lagi.

Gue tau, lo semua pasti mikir kalo gue ini jerk yang hobinya cheating on banyak cewek. Gue bukan kayak gitu. Gue hanya menyepi -kalau kata Ify, menghindari kenyataan- barang sejenak. Siapa yang bisa ngatur kalo akhirnya gue tertarik sama cewek ini.

This girl is so unpredictable. Bisa suatu saat dia kalem, dengan kata-katanya yang bijak itu. Di lain hari, gue nemuin dia lagi nangis, for some reason yang dia nggak mau bilang. Pernah juga gue dibikin sakit perut sampe pengen ngompol gara-gara tingkah konyolnya.

Tapi, di antara perubahan-perubahan mood-nya yang nggak menentu, gue nemuin satu hal. Satu hal yang nggak akan pernah terhapus apapun. Dia cantik. That's it.

Dan sekarang dia di sini. Duduk dengan anggun seperti biasa. Dia terlihat sedang menulis sesuatu di bukunya, membuat rambutnya berjatuhan menutupi sebagian wajahnya. Anjiiisss kenapa dia harus secantik itu? Parahnya lagi, sekarang otak gue lagi muter Hello Beautiful-nya Jonas Brothers. Crap! Sejak kapan gue tau lagunya JB?!

"Ngapain lo, Fy?" gue bertanya basa-basi sambil duduk di sebelahnya. Dia cuma noleh, senyum, terus balik nulis lagi.

Gue ikut diem sambil menikmati wajahnya dari samping. Gila, ya, kenapa objek semenarik ini bisa luput dari mata gue? Kenapa nggak gue pacarin aja ini cewek dari dulu?

"Cakka? Ngapain kamu di sini?" Ah, that voice. Gue kenal banget sama nada manja satu itu.

Berat hati, gue berbalik. "Eh, hai, Shill!" Nggak lupa gue melempar fake smile yang udah sering banget gue praktikkan. "Lagi duduk-duduk aja nih, nunggu kamu selesai ekskul."

Shilla tersenyum tipis. Gue tahu, senyum itu cuma ada di bibir dan nggak ada di matanya. "Elo Ify, kan?"

Praktis Ify langsung mendongak, dan gue langsung ngeliatin Ify. Senyum cantik bak bidadarinya muncul. "Iya. Elo Shilla?"

Shilla mengangguk angkuh. "Ayo, sayang, kita pulang." Dia narik tangan gue dan mau nggak mau gue ngikutin dia. Gue noleh ke belakang. Ify melambaikan tangan ke arah gue.

Sampai di parkiran, Shilla berhenti dan berbalik menatap gue. Here we go, dia lagi ngambek kayaknya.

"Ngapain kamu duduk-duduk sama Ify?" Gue sekuat tenaga menahan diri untuk nggak membekap mulutnya.

"Temen-temen aku udah pulang. Ya udah aku duduk aja di sana, lumayan ada temennya."

"Tapi nggak harus sama Ify kan?" Nada suaranya jauh lebih tinggi daripada tadi. Dalam hati gue ketawa. Jealous much, baby?

"Orang di sana cuma ada Ify kok."

"Besok-besok, kamu nggak boleh duduk di sana."

Sekarang apalagi yang mau lo ambil dari gue, Shill? Gue udah hampir nggak punya waktu untuk diri sendiri demi nurutin semua kemauan lo. Sekarang lo mau ambil kebebasan gue juga?

"Apa salahnya sih duduk berdua? Lagian aku sama Ify juga nggak ngapa-ngapain."

"Tapi aku cemburu, Cakka!"

*-*-*-*-*


Ini adalah pelukan yang aku kenal.

-Shilla

Barusan aku berteriak tepat di depan wajah Cakka. Aku nggak tahan lagi. Bukan kali ini saja aku memergoki dia sedang duduk berdua di taman samping lapangan. Obrolan mereka terlihat private, dan aku nggak suka itu.

Cakka mengulurkan tangannya, menyentuh pipi kananku lembut. "Nggak ada yang harus kamu cemburuin, sayang. Aku sama Ify nggak ngapa-ngapain."

Nggak ngapa-ngapain tapi ada apa-apa? Iya kan? Ingin rasanya aku meneriakkan semua pertanyaan yang berkecamuk di benakku akhir-akhir ini. Kenapa kamu terlihat bahagia dengannya, Cakka? Kenapa kamu bisa tertawa lepas di sampingnya, tapi tidak disampingku?

"Stay, Cakka. Stay." Aku nggak tahu harus ngapain lagi. Perubahan dalam diri Cakka lama-lama begitu terasa. Udah sering banget teman-temanku bertanya, "Lo lagi ada masalah ya sama Cakka?". Dan ketika ditanya begitu, aku bingung harus jawab apa. Aku bahkan nggak tahu hubungan kita udah kayak apa sekarang.

Mataku memanas, dan pandanganku mulai kabur. Tenggorokanku tercekat. Aku nggak kuat lagi, Cakka. Aku nggak kuat.

Dengan sigap Cakka memelukku. Pelukan pertama dalam seminggu ini, ketika sikapnya mulai berubah. Pelukan yang begitu kurindukan.

Kubalas pelukannya, dan ku tumpahkan semuanya di dadanya yang bidang. Ketakutanku selama ini, perasaan kehilangan Cakka dalam seminggu ini, kubiarkan terungkap. Agar dia tahu, betapa tak inginnya aku melihat dia berubah.

Seperti setiap kali dia memelukku dulu, tangannya membelai rambutku dengan lembut. Sementara tangannya yang lain menepuk-nepuk punggungku pelan.

Yang ingin aku lakukan saat ini adalah menghentikan waktu. Aku ingin seterusnya seperti ini. Aku ingin Cakka seterusnya seperti ini.

*-*-*-*-*


What does this mean?

-Cakka

Andai dia nggak nangis, mungkin gue sekarang udah di mobil, sendirian. Andai dia terus berteriak, mungkin gue udah putus sama dia sekarang.

"Stay, Cakka. Stay." Suaranya yang lirih dengan nada penuh permohonan benar-benar menampar gue. Matanya yang mencembung, dipenuhi kristal-kristal yang pasti luruh sekali kejap, benar-benar seperti cambukan buat gue. What have you done, Cakka?

Tanpa berpikir lagi, gue bawa dia ke dalam pelukan gue. Gue belai rambutnya, gue tepuk punggungnya. Dan dia tergugu di pelukan gue. Bahunya berguncang. Gue bahkan bisa merasakan seragam gue mulai basah.

Pengen rasanya gue gali sumur sekarang, dan terjun ke sana, nggak keluar sampai kapanpun. Biar gue mati di sana. Biar gue dapet balesan atas semua yang gue lakuin terhadap gadis dalam pelukan gue ini.

Merasakan Shilla terisak dalam pelukan gue, dada gue nyeri. Sejahat itukah gue, sampai membuat cewek gue rapuh seperti ini? Tampar gue sekarang, Shill, tampar! Jangan peluk gue seperti ini. Gue nggak pantes.

Sampai Shilla meluk gue, gue hampir lupa kalau gue pernah mencintai dia. Dan gue masih mencintai dia. Gue masih sayang sama dia, masih ingin terus bersama dia. Hilang sudah semua perasaan tertekan, bosan, dan muak yang gue rasain akhir-akhir ini. Yang gue rasain sekarang cuma satu. Gue kangen gadis dalam pelukan gue. Gue kangen senyumnya, tawanya, semua tingkah manjanya.

"Aku nggak mau kamu berubah." Dan dia meluk gue lebih erat lagi.

Gue cuma bisa mengeratkan pelukan gue, memejamkan mata, membenamkan wajah gue dalam pundaknya. Ketika aroma Shilla menguasai indera penciuman gue, ada satu wajah yang berkelebat di benak gue. Ify. Bayangannya menari-nari di pelupuk mata gue, padahal yang gue peluk bukan dia. Padahal yang gue cintai bukan dia.

Shill, tell me, what does this mean?


TAMAT

*-*-*-*-*


The shortest story I've ever made, hehe. Niat semula, aku pengen bikin cerita yang menyentuh, yaaahh pokoknya yang rada-rada sedih gitu deh. Tapi kayaknya nggak berhasil, ya? Kayaknya feelingnya nggak nyampe deh. *nangis di pojokan*

The story ends here. Nggak ada lanjutan, nggak ada sekuel. Pokoknya ini udah titik, udah tamat. Emang sengaja kok aku bikin gantung gini :p

So, let me tell you what you think. Komen, kritik, saran, semuanya bakal aku terima. Bisa di sini, bisa juga lewat twitter (@dwidasept)


MUCHAS GRACIAS!

Rabu, 21 Desember 2011

Fight for Love - Part 14

<!--[if gte mso 9]> Normal 0 false false false IN X-NONE X-NONE

Part 14: Cewek Itu Bernama....


Masih di hari yang sama..

Shilla tersenyum kecil sambil sesekali melarikan jari-jarinya ke atas keypad BlackBerry-nya. Seperti kegiatan rutinnya setiap sore selama beberapa minggu ini, ia sedang BBMan dengan Cakka. Banyak sekali yang mereka bicarakan, seolah-olah tidak ada topik yang tidak bisa mereka ubah menjadi obrolan hangat seperti ini.


Cakka: Makanya belajar, masa anak IPA tp sering remed kimia haha :p

Shilla: Biarin woo namanya jg anak SMA.

Cakka: Ngeles aja lo. Eh adek gw apa kabar?

Shilla: So far so good. Dia makin akrab sm Kak Gabriel :D

Cakka: WHAT?! Dia msh sm cowok itu?!

Shilla: Iya :D knp? Mau protes?

Cakka: YES! I OBJECT! :@

Shilla: Percuma, org nyokap lo uda ngasih ijin kok :p

Cakka: Tp bokap gw kan blm!

Shilla: So what? Yg penting Ify hepi, that's what really matters.

Cakka: Hepi ga cm lewat pacaran kan? Suruh putus sana!


Shilla mengerucutkan bibirnya. Dasar Cakka! Sayang sih sayang, tapi nggak gini juga caranya! Kasihan Ify dong kalau harus terus-terusan dengan terpaksa mengikuti perkataan kakaknya.


Shilla: NGGAK. Mereka sweet bgt, Kka. Klo liat gmn Ify klo lagi sama Kak Gab, pasti lo mikir ulang waktu mau ngomong kayak gt. They're just....in love.

Cakka: Terserah. Tp klo sampe cowok itu nyakitin Ify, gue plg ke jkt! Mau gue hajar dia!

Shilla: Mau ngehajar dia apa mau ketemuan sm gue? :p


Butuh waktu lebih lama bagi Cakka untuk membalas pertanyaan ini. Shilla sampai gemas dibuatnya.


Cakka: Mmm..yg mana ajadeh :D

Shilla: Hahaha :D kangen kan lo sm gue?

Cakka: Menurut lo? :D

Shilla: Iya.

Cakka: 100 deh buat lo :p

Shilla: Ciyeee haha gue jg kangen lo qaqaa :p

Cakka: :D

Shilla: :D


*-*-*-*


Ify dan Gabriel mengurungkan niat untuk pulang. Keduanya masih syok dengan kedatangan seorang cewek yang begitu tiba-tiba. Pake meluk, lagi! Dan kini ketiganya duduk saling berhadapan di meja yang tadi ditempati Ify dan Gabriel.

Gadis di depan Ify ini tidak bisa dibilang cantik, tapi wajahnya menarik. Sorot matanya tajam dan cerdas, menampilkan pribadi yang kuat dan berkarisma.

Gabriel menatap gadis itu dengan kening berkerut. Ia masih bingung mencerna ini semua. "Sekali lagi gue tanya, elo siapa sih? Kenal sama gue?"

Gadis itu tersenyum lebar. "Sekali lagi gue jawab," balas gadis itu, "gue Zahra, adik kelas lo waktu SMP. Kita pernah deket."

Gabriel mendesah, mengurut-urut pangkal hidungnya dengan ibu jari dan telunjuk kanannya. Otaknya berusaha mengobrak-abrik kembali ingatan-ingatan lama, tapi nama Zahra tak kunjung ditemukan. Ia sama sekali tidak ingat kalau pernah kenal bahkan dekat dengan adik kelas bernama Zahra. Bukankah kalau mereka pernah dekat, seharusnya Gabriel masih mengingatnya?

Ada yang aneh, pasti ada yang aneh, pikir Gabriel. Tidak mungkin ia melupakan seseorang yang pernah dekat dengannya. Walaupun ia memiliki ingatan jangka pendek, tetapi ia yakin tidak akan lupa pada hal semacam ini.

"Gue nggak ngerasa punya adek kelas namanya Zahra, apalagi deket. Buktiin kalo lo emang kenal sama gue!" tantang Gabriel. Ify ikut menatap Zahra dengan curiga. Sebenarnya sedari tadi ia sudah menaruh kecurigaan pada gadis ini, namun ia sendiri masih gamang antara harus percaya atau tidak.

Masih dengan senyuman di wajahnya, Zahra merogoh tasnya dan mengeluarkan selembar foto dari sana. Di foto itu ada Zahra yang sedang tertawa menatap kamera dengan seragam identitas SMP Bina Bangsa, SMP Gabriel dulu, membalut tubuhnya.

Gabriel mengamati foto itu dan menggeleng, masih meragukan. "Foto bisa diedit. Lagian elo bisa aja pinjem seragam terus foto."

Zahra memutar bola matanya, namun bibirnya masih menyunggingkan senyum. Ia merogoh kembali tasnya, dan kali ini sebuah surat ijazah SMP keluar dari dalam sana. "Nih, gue emang lulusan Bina Bangsa, kok," kata Zahra santai, seolah-olah ia sudah mempersiapkan hal-hal seperti ini sebelumnya.

Sementara Gabriel dan Ify masih menyelidiki surat ijazah tersebut, Zahra kembali menyerocos, "Kita ketemu di ekskul paduan suara, elo tenor sedangkan gue sopran. Yah, walaupun beda tingkatan, kita cukup deket, kok. Sering ngobrol-ngobrol nggak jelas, jalan sama temen-temen, ngelakuin hal-hal gila di sekolah, dan sebenernya masih banyak lagi."

Gabriel memejamkan mata. Ia memang sempat dekat dengan beberapa anak sesama anggota ekskul paduan suara, namun ia tidak ingat kalau salah satu di antara mereka ada yang bernama Zahra. Lagipula, itu sudah lama sekali, sekitar 4 tahun yang lalu. Waktu 4 tahun cukup lama bagi seseorang untuk melupakan hal-hal tertentu, kan?

"Jujur, gue lupa siapa aja anak padus yang deket sama gue waktu SMP," kata Gabriel sedikit frustasi. Ia benci merasa seperti ini; lupa pada hal-hal penting yang seharusnya tidak dilupakan.

Zahra mengangguk. "Oke, gue bisa ngerti. Tapi gue harap elo bisa inget lagi." Kemudian gadis itu berdiri sambil memasukkan lagi barang-barangnya. Mau tak mau Ify dan Gabriel mendongak menatapnya.

"Gue duluan, ya. It's really nice to see you again, Kak Gabriel," kata Zahra sebelum ia benar-benar berlalu dari sana, meninggalkan Ify dan Gabriel yang masih tercenung di bangku masing-masing.

Gabriel menghela napas lelah. "Kadang aku benci sama ingatan jangka pendekku," keluhnya sembari menyandarkan punggung pada sandaran kursi.

Bibir Ify tertarik, membentuk sebuah senyuman tipis. Diulurkannya sebelah tangannya untuk menepuk-nepuk punggung tangan Gabriel. "Udah, nggak usah terlalu memaksakan diri, kasihan di kamunya entar."

Gabriel menatap Ify lembut. Sedikit bersalah juga tadi ia hanya mendiamkan Ify dan terlalu berusaha keras untuk mengingat sosok Zahra yang tiba-tiba menghampirinya. Luar biasa, kan, gadisnya ini? Tidak sekalipun ia merajuk, bahkan tidak ketika ada yang seenaknya memeluk kekasihnya.

Diliriknya jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. "Yah, kamu jadi pulang kemaleman deh. Maaf ya," ujar Gabriel tulus.

Lagi-lagi Ify hanya bisa tersenyum. "Nggak papa, aku udah sms Mama barusan, dan dia ngerti."

Gabriel mendesah. "Hhh..bener-bener hari yang melelahkan." Ia menatap Ify, melempar senyum miring andalannya sambil melanjutkan, "Tapi menyenangkan. Apalagi kalo dilewatin sama kamu, bener-bener bikin lebih dari sekadar seneng."

Tawa Ify yang seperti lonceng berderai, melemaskan syaraf-syarat Gabriel yang baru saja dipaksa untuk bekerja keras. Tawa dan senyum Ify adalah obat termanjur yang ia punya sekarang. Biarkan gadis itu tinggal di sisinya, dan ia akan benar-benar merasakan bagaimana rasanya menikmati hidup.


*-*-*-*

Keberuntunganlah yang menyelamatkan Ify hari ini. Untung mamanya mau mengerti, dan untung Papa sedang tidak di rumah. Begitu ia sampai di rumah tadi, Mama sama sekali tidak ngomel apalagi menghukumnya.

Tapi, Mama tetaplah Mama. Jam delapan tepat, Ify harus belajar. Ify sih oke-oke aja, toh hari ini dia sudah senang bisa pergi bersama Gabriel.

"Drrt..drrt.." Ponsel di atas meja belajar bergetar. Ify meletakkan pensilnya, meilirk sekilas layar ponselnya. Incoming call: Kak Gabriel.

Tersenyum lebar, Ify menekan tombol hijau dan langsung membawa benda itu ke telinganya.

"Hey!" sapa Ify hangat. Tidak ada sahutan. Dengan kening berkerut, Ify memeriksa layar ponselnya kembali, siapa tahu Gabriel sudah memutuskan sambungan. Masih nyambung, kok, pikirnya bingung.

"Halo.." sapa Ify lagi, lebih pelan. Kali ini ada sedikit respon. Gabriel sepertinya sedang mendengus di seberang sana.

"Zahra bener-bener bikin aku pusing!" katanya tiba-tiba. Ify mengangguk, langsung tahu mengapa Gabriel tidak menyahut sapaannya tadi. Cowok itu ingin mendengar suaranya dulu untuk menenangkan diri. Itu pasti. Gabriel sudah sering melakukannya.

"Kamu masih mikirin itu?"

"Iya. Tadi sampe rumah aku tanya Mama, dan dia sama nggak taunya sama aku. Emang sih waktu aku SMP dulu Mama lagi sibuk-sibuknya sampe nggak pernah ketemu temen-temen aku kalo lagi main ke rumah," cerita Gabriel panjang lebar. Ify hanya mendengarkan, terkadang memberi respon kecil berupa gumaman dan kata-kata seperti "Oh, gitu", "Masa sih?", dan "Terus?". Sejenak ia lupakan soal-soal matematika yang tengah ia kerjakan sebelum Gabriel meneleponnya.

"Tauk deh, Fy, makin pusing kalo dipikirin."

Ify terkekeh. "Siapa juga yang nyuruh kamu mikirin itu."

"Ih, jahat deh," gerutu Gabriel. "Eh, kamu lagi belajar ya?"

Sebelum Gabriel mengungkit hal ini, ia sudah sepenuhnya lupa pada soal-soal di hadapannya. "Hehe..iya."

"Ciyee yang anak rajin. Udahan dulu yuk, ntar aku ganggu, lagi."

"Nggak ganggu sama sekali kok, paling ntar diomelin Mama."

Terdengar tawa kecil di seberang sana. "Udah ah, bisa berabe kalo mamamu nyabut ijinnya."

"Oke, kamu juga belajar gih, udah kelas 3 juga."

"Loh aku kan tiap hari belajar 7 jam di sekolah. Nggak cukup apa?" kilah Gabriel, membuat Ify menggerutu tidak jelas.

"Ya udah, aku juga ikut belajar deh. Dadah, Sayang. Love you." Akhirnya Gabriel mau menutup telepon juga.

"Iya, love you too," balas Ify. Diletakkannya ponselnya kembali, kemudian ia tersenyum sendiri menatap dinding kamarnya. Dasar Gabriel! Masih saja jago membuatnya seperti orang gila begini.


*-*-*-*


Gue sm Ify otw jemput lo. Cpt siap2!


Sivia menyisir rambutnya dengan kening berkerut. Sms dari Gabriel barusan membuatnya bingung. Tumben Gabriel menjemputnya. Sama Ify, pula.

"Tin..tiin!!" Terdengar bunyi klakson dari bawah. Sivia berani bertaruh kalau itu Gabriel. Ia menyisir rambutnya dengan cepat, meraih tas di meja belajar dan langsung turun ke ruang makan.

"Udah dijemput Gabriel tuh. Sivia pergi dulu ya, Mah," pamit Sivia pada mamanya yang sedang menyiapkan sarapan.

"Nggak sarapan dulu?"

Tanpa repot-repot menjawab, Sivia meneguk susunya separuh sebelum mengambil selembar roti. Ia melambaikan tangannya pada Mama yang menggelengkan kepala melihat kelakuan anaknya.

Sivia membuka pintu belakang mobil. Setelah dilihatnya salah satu sahabatnya sudah duduk dengan nyaman, Gabriel pun menjalankan mobilnya meninggalkan pelataran rumah Sivia.

"Ada apa nih, tumben jemput gue?" tanya Sivia heran.

"Tunggu bentar. Habis jemput Alvin, baru deh gue cerita," Gabriel menjawab tanpa mengalihkan pandangannya dari jalanan depan. Ify yang duduk di sampingnya hanya tersenyum menatap Sivia dari spion dalam.

Tidak ada lima belas menit kemudian, Alvin sudah duduk di jok belakang. Ia sama herannya dengan Sivia. Heran tiba-tiba Gabriel melarangnya untuk membawa kendaraan sendiri ke sekolah.

Setelah semua sahabatnya berkumpul, Gabriel menarik napas dalam-dalam, bersiap untuk bercerita. "Kemarin waktu gue makan sama Ify, ada cewek yang tiba-tiba dateng meluk gue," Gabriel memulai ceritanya.

Sivia dan Alvin kompak melongo. "Siapa?" tanya mereka serentak. Refleks Sivia dan Alvin menoleh bersamaan, saling tatap. Hal itu entah mengapa membuat pipi mereka yang sama-sama putih langsung memerah.

"Namanya Zahra. Katanya, dia adek kelas gue waktu SMP dan sempet deket sama gue. Masalahnya, gue lupa pernah deket sama cewek namanya Zahra," lanjut Gabriel.

Sivia mengerutkan kening. "Masa lo lupa sih sama orang-orang yang pernah deket sama lo?"

Tak ada respon dari Gabriel. "Ah," kata Sivia langsung, seolah baru menyadari satu hal. "Ingatan jangka pendek. Hampir aja lupa." Gabriel tersenyum tipis.

Alvin menelengkan kepala, ingin menanyakan asumsi yang tengah berkecamuk dalam kepalanya. "Awal kita kelas 10 kayaknya elo nggak pernah cerita-cerita soal Zahra deh. I mean, kalo emang kalian pernah deket, pasti sedikit banyak sadar atopun nggak kan pasti lo cerita sama gue, Gab."

Gabriel menjentikkan jari. "Nah! Maka dari itu, Vin! Gue mikirnya juga gitu. Masa iya gue lupa gitu aja sama seseorang yang pernah deket? Yah, gue tau, gue punya ingatan jangka pendek. Tapi nggak mungkin separah itu, kan?"

Keempat orang di dalam mobil itu mengangguk. Benar juga apa yang dikatakan Gabriel dan Alvin barusan.

"Tapi," Ify menyela, suaranya terdengar ragu-ragu. "bisa aja Zahra bener. 4 tahun itu lama loh. Gue aja yang baru kelas 11 uda nggak begitu inget temen-temen SMP gue."

"Iya, apalagi kalo nggak pernah berhubungan lagi habis pisah. Pasti lupanya cepet," sambung Sivia sependapat.

Mau tak mau Gabriel dan Alvin membenarkan pendapat Ify dan Sivia. Pendapatnya tadi tidak salah, dan pendapat kedua gadis itu juga ada benarnya. Jadi, untuk saat ini kemungkinannya masih fifty-fifty. Tinggal tunggu otaknya saja bekerja dan akhirnya bisa menentukan benar atau salah.

"Kalo gue inget-inget lagi, wajahnya Zahra emang kinda familiar sih."

"Nah, berarti sekarang pendapat Ify kayaknya lebih mungkin," ujar Alvin. Gabriel, Ify, dan Sivia hanya mengangkat bahu. Pusing juga lama-lama mikir ginian.

"Jadi, lo jemput gue hari ini cuma mau ngomongin ini?" tanya Sivia setengah geli setelah semua orang terdiam cukup lama.

Gabriel meringis. "Hehe..abisnya ntar pasti kita pada sibuk sendiri-sendiri, belom tentu bisa ngumpul kayak gini."

Jawaban Gabriel membuat Alvin mencibir. "Maksudnya ELO yang sibuk pacaran?"

Keempatnya langsung tertawa, hingga tanpa sadar mereka sudah sampai sekolah. Alvin dan Sivia langsung cabut ke kelas mereka di lantai 3, sementara Gabriel mengantar Ify sampai ke pintu kelasnya dulu.

Gabriel mengelus puncak kepala Ify dengan lembut. "Belajar yang bener ya!"

Ify tertawa kecil. "Kamu harusnya ngomong kayak gitu ke diri kamu sendiri!" ledek Ify, tak lupa menjulurkan lidahnya di depan Gabriel.

Gabriel tak tahan untuk tidak mengacak-acak poni Ify. "Kamu tuh ya...!" ujarnya gemas.

"Ciyeeeehh!" sorakan dari dalam kelas langsung mengagetkan mereka berdua. Ify dan Gabriel sontak tersenyum kikuk, malu pada seisi kelas yang ternyata memerhatikan sejak tadi.

Setelah Gabriel beranjak pergi ke kelasnya sendiri, Shilla langsung menghampiri sobatnya itu. "Ceilah, makin mesra aja deh kalian berdua!"

Ify tersipu malu. Ditepuknya lengan Shilla pelan. "Apaan sih lo!" Shilla tertawa lepas. Lucu sekali melihat Ify, si gadis polos nan lurus, tersipu malu seperti ini.

Puas tertawa, Shilla langsung melaksanakan kegiatan rutin paginya bersama Ify, bergosip. Sepertinya kebiasaan bergosip sudah begitu mendarah daging di setiap diri perempuan. Di mana pun, kapan pun, dalam suasana apa pun, perempuan selalu memiliki bahan gosip untuk digosipkan. Iya, kan?

"Ada anak baru loh. Anak IPS. Baru masuk hari ini," kata Shilla begitu Ify duduk di bangkunya setelah melempar senyum basa-basi pada Rio. Agak kurang sopan rasanya kalau bersikap seolah-olah saling tidak mengenal pada sepupu sendiri.

"Oh, ya?" tanya Ify sambil lalu. "Cowok apa cewek?"

Shilla memeriksa BlackBerry-nya. Ify sampai menebak-nebak mungkin Shilla mendapat informasi seperti ini dari grup teman-teman seangkatan di BBM. Ify memang bukan pengguna BlackBerry seperti kebanyakan teman-temannya. Takut jadi autis, begitu katanya.

"Cewek. Pindahan dari Globalic International School," Shilla berkata sambil membaca sesuatu dari ponsel canggihnya.

Ify tersedak ludahnya sendiri. "Globalic International School? Gila! Ngapain pindah ke sini? Kalo gue mah mending sekolah di sana!"

Shilla mengangguk antusias. "Di sana cowoknya keren-keren, pula. Nggak kayak di sini," katanya setengah menerawang.

Sadar bahwa Ify menatapnya galak, Shilla meringis. "Kak Gabriel keren kok, Fy. Sumpah deh!"

"Namanya siapa?" tanya Ify, memilih untuk kembali ke pembicaraan awal.

Sekali lagi, Shilla mengecek BlackBerry-nya. "Zahra Damariva," katanya tanpa emosi.

Ify tersentak. Nama itu! Ia yakin nama itu adalah nama yang sama dengan nama di surat ijazah yang ia lihat kemarin sore. Tidak salah lagi! Jadi...anak baru itu...Zahra?

Ify memijit keningnya sendiri. Frustasi dengan hal-hal tak terduga yang terjadi secara tiba-tiba dan bersamaan. Baru kemarin ia dikejutkan oleh seorang cewek yang tiba-tiba memeluk Gabriel. Dan hari ini ia mendengar kabar bahwa Zahra, cewek yang memeluk Gabriel kemarin sore, pindah sekolah ke sini. Astaga, untung jantungnya masih kuat menahan serangan informasi ini.

Melihat perubahan reaksi Ify, Shilla mengerutkan kening, heran. "Kenapa lo?" Dan, mengalirlah cerita itu dari bibir Ify. Tak satupun detail yang terlewat. Ify menceritakan semuanya.

"Ya ampun." Shilla mengangkat tangan, menutupi bibirnya yang terbuka separuh. "Semoga aja itu anak nggak ngibul."

Ify menghela napas. "Semoga."


*-*-*-*

"Bu, siomay satu ya!" Gabriel berseru dari mejanya di kantin. Suasana kantin yang tidak begitu ramai memudahkannya untuk memesan makanan dari jarak cukup jauh seperti ini.

Di sampingnya, Ify sedang serius mengutak-atik soal. Katanya nanti akan ada kuis mendadak. Di sebelah Ify ada Shilla yang tampak tak peduli dengan issue kuis itu. Ia malah sibuk merapikan kuku jarinya.

Tepat di seberang Gabriel, Ify, dan Shilla, duduklah Alvin dan Sivia yang sedang berdebat kecil, entah mendebatkan apa. Gabriel sempat menangkap kata-kata seperti 'Angelina Jolie' dan 'stunt man'. Mungkin mereka sedang mendebatkan apakah benar si artis seksi itu jarang menggunakan stunt man dalam film-filmnya.

Entah sejak kapan kebiasaan 'duduk bersama dalam satu meja' ini dimulai. Mungkin sejak Gabriel memutuskan untuk berbagi meja dengan Ify di kantin setelah mereka jadian. Otomatis Sivia dan Alvin mengikuti, juga Shilla yang sudah seperti kembar siam dengan Ify.

"Nggak makan lo semua?" tanya Gabriel yang sudah mati gaya, tak punya kesibukan sendiri.

"Diet," jawab Shilla tanpa mengalihkan perhatian dari kukunya.

"Me too," Sivia menjawab seraya mengangkat tangan.

Gabriel ganti menatap Alvin. "Elo nggak lagi diet juga kan?"

Alvin mengangkat bahu, cuek. "Lagi males makan aja."

Tahu bahwa tinggal dirinya yang belum ditanyai Gabriel, Ify langsung mengangkat bukunya, menyodorkannya tepat di depan wajah Gabriel. "Lagi belajar," katanya.

Gabriel mendengus frustasi. Namun, tidak ada sepuluh menit kemudian, ia sudah disibukkan dengan siomaynya yang baru saja datang. Semua masih asyik dengan urusan masing-masing ketika tiba-tiba seorang cewek ikut bergabung.

"Halo, Kak Gabriel! Nggak nyangka bakal ketemu di kantin!" seru cewek itu ceria.

Gabriel tersedak siomaynya sendiri, Ify membeku di tempatnya, sementara Shilla, Alvin, dan Sivia memandang pendatang baru itu bingung.

Tiba-tiba cewek itu mengulurkan tangannya pada Sivia. "Gue Zahra, adek kelas Kak Gabriel waktu SMP." Ragu, Sivia membalas uluran tangan tersebut.

Shilla melotot menatap Ify seolah-olah berkata, 'Jadi ini yang namanya Zahra?'. Ify mengangguk samar.

"Elo..kok bisa di sini?" tanya Gabriel terbata.

Zahra tersenyum lebar. "Gue pindah sekolah. Bosen aja di Globalic," jawabnya cuek. Alvin dan Sivia bertukar pandang cepat.

"Emm..itu Tiffany ya?" celetuk Zahra tiba-tiba, memecahkan keheningan yang terjadi setelah ucapannya tadi.

Sivia bergerak kaku. Jari Zahra jelas tertuju pada hair band yang sedang dipakainya, tidak salah lagi. "I-iya. Kok tau?"

Zahra mengangkat bahu. "Cuma nebak aja."

Detik berikutnya, Zahra dan Sivia sudah asyik mengobrol. Dari Tiffany hair band, merambat ke hal-hal lain. Sivia menemukan bahwa Zahra dan dirinya memiliki banyak kesamaan, dan ternyata Zahra cukup seru untuk diajak ngobrol seperti ini. Shilla yang tertarik dengan obrolan dua cewek itu pun juga ikut bergabung.

Ketiganya melupakan satu tokoh lain yang sama-sama memakai rok; Ify. Ify menggelengkan kepalanya samar. Wajahnya menunduk. "Well oh well..." gumamnya pelan.


bersambung...

*-*-*-*


Tadaaa!! Itu dia part 14! huahahaha gimana? JANGAN BILANG KURANG PANJANG! *bawa golok* Tapi emang kayaknya kurang panjang ya :|

Sudah jelas kalo cerita ini belum mau tamat, lah itu malah ketambahan tokoh. kayak sinetron gitu nggak sih? ketambahan tokoh terus, nggak tamat-tamat -__-

oke, segala jenis masukan dan komentar masih selalu ditunggu via apapun. my twitter: @dwidasept :)


MUCHAS GRACIAS!