Kamis, 06 Desember 2012

Happy 16th, Ify!



Happy birthday our lovely Alyssa Saufika Umari. All the best, dear.

ChangYoon

Okay can someone please stop me from shipping Yoona with everyone?! Hahaha as if I could help it! :p
Now, it's time to spazz about Changmin and Yoona. What I love the most about them is they're not even a famous pairing but hell, they look good together! Her height is good for him, and to know that they entered the company in the same year, I was like "AAAAAAAAAA".
Okay enough with the nonsense blabbering. Let me show you what Changmin and Yoona got for us.
"Max and Yoong, the dear old friends."






They walk....together

Selasa, 27 November 2012

Forever

 

Even a long time passes, I want to dream forever with you.
Even a long time passes, I want to dream forever with you

Read more: http://www.wonderfulgeneration.net/2010/01/snsd-forever-lyrics-englishromanization.html#ixzz2DORvCfFH
WonderfulGeneration.net
Under Creative Commons License: Attribution
Even a long time passes, I want to dream forever with you

Read more: http://www.wonderfulgeneration.net/2010/01/snsd-forever-lyrics-englishromanization.html#ixzz2DORvCfFH
WonderfulGeneration.net
Under Creative Commons License: Attribution

Rabu, 10 Oktober 2012

LuYoonKai

I start to ship Yoona with EXO-M's Luhan lately. It's all because of those ff I read! And I find that Luhan is soooo adorable. He's really really cute :)
Yoona and Luhan were both born in 1990, so yeah, they're SM's 90 Liners! They must be pretty close, right? They're in the same age after all, and regarding the fact that our Choding Yoong is playful and gets along well with everyone.
And yesterday when I had an English exam, they asked to make a short dialogue. Mine was between Yoona and Luhan. LOL I'm a really big fan :D

Luhan: Yoona, are you okay?
Yoona: Please just leave me alone.
Luhan: Hey, what's wrong? I'm here for you.
Yoona: Luhan, please. I'm so pissed off right now that I may say something I'll regret later. Don't come near me unless you want to get hurt.
Luhan: Okay. I'm sorry. Just tell me if you need something or rather someone to hold on to. I'm not your best friend for nothing.
Yoona: Thank you, Luhan.

OH OH OH LUHAN IS SO SWEET! <3 font="font">
And here's the picture of both of them! :)


Aside from LuYoon, I also ship Yoona and EXO-K's Kai. I call them The 'FACE' couple! Since they're both the face of their group. And Kai is actually 4 years younger, but who cares?! They're still adorable <3 :p=":p" br="br" just="just" lol="lol" maybe="maybe" nd="nd" ship="ship" sm="sm" them="them" too.="too.">


Okay that's enough. I don't have something to do right now and I just thought of blogging them hahaha. Please show your love to this SM's Trio! :)

Our Trio being playful during SMTOWN SEOUL ending :D




p.s. Can't wait for SNSD's Flower Power!!

Kamis, 20 September 2012

Seventeen, Alhamdulillah :)

Alhamdulillah I'm turning 17 now :)
Pagi-pagi udah dikasih kejutan nasi kuning sama Ibuk. I was overwhelmed that I was almost tearing up. Really, mom, thank you. For everything. <3 font="font">
Di angkot mau ke sekolah pun udah dikasih ucapan selamat ultah haha walaupun malu gitu orang yang lain jadi pada ngeliatin -_-
Di sekolah juga sama. Ada yg cuma "Selamat ultah yaa!" ada yg sampe ke depan kelasku nyanyiin lagu "Happy Birthday". Seneng bangeeet diperhatiin temen-temen gitu :)
Dan hari ini dikasih surprise juga sama my dear, dear best friends. Monic, Ifa, Riri, Sasa, Gigha, Icha, Maharani. Setelah dua hari sebelumnya saya diusir dan dicuekin (mereka bilang mau nyiapin kado buat aku jadi aku gak boleh ikutan, thank you very much for being so obvious) dan diaksih sms ucapan selamat ulang tahun yang pendek banget singkat banget dingin banget: "HBD. WYATB. ILY." what the.......-__-
Pertama dikasih cup cake lucu-lucu, jumlahnya 5. Enak banget itu cup cake deh gak boong :)

*maaf gambar agak blur -_-*
Ini deh versi jelasnya :)


Terus dikasih kanvas yg udah dihias-hias gini. It was so sweet of them :)

*MUKAKUUUUU!!*

Ada lagi nih, semacam kumpulan birthday wishes dari temen-temen kelas 11, banyaaaaak banget yg nulis. Gak nyangka banyak orang yg mau nyempetin nulis beginian.

Thank you for all the birthday wishes :")
Dan ini dia nih kadonya.


Isinya ada tas sama magnetic bookmark. Unik banget ini bookmark nya aku suka <3 font="font">


Pokoknya makasih banyak buat semuanya, banyak banget yg mau aku makasihin sampe gak bisa disebut satu-satu. Makasih makasih makasih :)

Bismillah, semoga tahun-tahun berikutnya lebih baik, umur lebih barokah, lebih yang baik-baik semuanya. Amin :)

Jumat, 17 Agustus 2012

67 Tahun Indonesia Merdeka

Selamat hari peringatan kemerdekaan Indonesia yang ke-67!

Kayaknya baru kemarin aku memperingati HUT kemerdekaan yang ke-63. Time does fly :)
Di twitter, di mana-mana (termasuk sekarang saya di blog) semua berlomba-lomba mengucapkan selamat untuk Indonesia. Ada yang mulai pakai avatar yang ada bendera Indonesia nya di twitter, masih banyak lagi deh pokoknya.
Ada yang bilang nasionalisme sesaat. Hahaha, ada benernya juga sih. Berharap aja semoga di tahun ini dan di tahun-tahun berikutnya, seluruh Warga Negara Indonesia (terutama remaja) tetap mencintai negeri yang nggak sempurna ini, bukan cuma nasionalisme sesaat kayak yang dibilang orang-orang. Mari kita kibarkan Merah-Putih di manapun kita berada! :)
Hmmm...menonton liputan upacara 17-an di Istana Negara kayaknya udah jadi agenda wajib tiap tahun, ya. Mantengin anak-anak keren anggota Paskibra, ngerasain harunya suasana di sana (walaupun cuma nonton dari TV di rumah). Oh ya, there's something I could be proud of. Pembawa baki di Istana tadi pagi itu namanya Mega Ayundya, temen SMP ku, SMP 1 Magelang. Anak Magelang loh dia, jangan main-main. Rame banget tadi di twitter, timeline isinya Mega Ayundya doang. Yang temen SMP nya aja bangga banget, apalagi orang tuanya, ya kan?
Temen saya yang satu ini emang udah spesial dari SMP. She's so beautiful and incredibly smart. Udah nggak kehitung prestasinya dia selama di SMP dulu. Dan sebenarnya berita dia jadi pembawa baki nggak begitu mengejutkan. It's pretty predictable, karena kita, temen-temen SMP nya, udah tau bahwa dia punya potensi gede. I'm really really proud of her!
Mega Ayundya ini sempet jadi TTWW juga loh! :)


Ini beberapa foto Mega waktu bawa baki, aku ambil di twitter. Walaupun gambarnya gak jelas tapi dia keliatan cantik, subhanallah :)


Sekali lagi, selamat 67 tahun Indonesia merdeka!!

Jumat, 27 Juli 2012

'Love Rain' Japan Press Conference

I know it's kinda late but I'm gonna post Yoona's photos (with Jang Geun Suk as well) at 'Love Rain' Japan PressCon. SHE WAS DROP DEAD GORGEOUS!! Her beauty is flawless *Gawd, I'm drooling* oh and it's good to see her with JGS together again :)

 

And let's compare it to the PressCon in Korea. Which one looks best? The red one or the white one? :)


And bonus pics~



Those are Yoona's selca hahaha she took it while watching 'Love Rain' Japan version. I wonder was it weird for her to watch herself on TV :p


credit to the owner of the pict

Jumat, 20 Juli 2012

Welcome to Pyro World, SPAO! #2

Lagi-lagi ya, SPAO bikin kita para Pyro terbang ke awan :D
Januari kemarin, official twitternya SPAO, @SPAO_KOREA ngepost foto untuk promo SPAO sale. Dan, lihatlah foto siapa ini! :D


Terus salah satu acc Pyro, @YoonHaExplosion, bales tweet itu. Intinya berterima kasih dan request buat menambah lebih banyak foto Yoonhae.
Eh, si SPAO nya bilang "OK! I will." :)


Baik banget kan si SPAO? Dia pasti tau deh kalo shipper nya Yoonhae itu banyak, makanya dia bikin foto-foto mereka berdua. Thank you, SPAO! :)
Sekarang malah si SPAO follow YoonHaExplosion wakakakak biar update tentang Yoonhae ya? lol whatever it is, yg penting...SPAO is a Pyro :D



credit to @YoonHaExplosion

Kamis, 19 Juli 2012

Welcome to Pyro World, SPAO!

I'm confident enough to say that SPAO (a brand of clothes in Korea) is INDEED a PYROTECHNIC (what they call for a Yoonhae shipper). Liat aja ya foto-foto yg mereka pilih buat promo.
Nih, yg pertama. The infamous couple hood pictures. Darn, they even put them to promote this so called COUPLE hoodies.


Yg kedua, gila ini SPAO minta dicium! No gap, a lot of skin ship. GOD, I'M TREMBLING RIGHT NOW.


Nggak cukup hanya itu, SPAO kembali membuktikan (?) dirinya bahwa dia sangat mendukung Yoonhae. Untuk foto polo shirt, SPAO menggabungkan foto Yoona, Donghae, dan Jessica. Just fyi, foto ini dipajang di web SPAO, spao.co.kr.


Aslinya emang foto YoonHaeSica, tapi liat deh foto siapa yg akhirnya dipajang di SPAO store, dan tempat-tempat perbelanjaan lain di Korea. Yup! Yoonhae. They purposely cropped Jessica. lol :D


And lastly, ini foto yg lumayan baru nih. See the sweater they wore in the picture? They're similar, aren't they? :p


Waktu di acara fansigning, mereka juga pake sweater yg SAMA. Waktu aku liat-liat foto member Suju & SNSD yg dateng di acara itu, yg pake baju samaan cuma Yoona & Donghae. Entah SPAO yg nyuruh mereka, atau mereka yg pengen, only God knows. Hahaha lebih berharap ke option yg kedua sih :p


I'm soooo gonna kiss you, SPAO!! <3 <3 Thank you for doing those things to Yoonhae :)
Bonus pict :)


credit to the owner of the pict.


Minggu, 15 Juli 2012

Yoonhae Airport Compilation

This is my edited Yoonhae picture. I just love their airport fashion, so I decided to make a compilation of them. I know I'm not that good at editing picture, please bear with it :)



Rabu, 11 Juli 2012

To 'Fight for Love' Readers, I'M SORRY!

Dwida berduka nih. Sediiih banget :"(

*anggap saja ini saya. mirip kok*

Kemarin hape ilang huhuhuhu. Pagi-pagi kan aku nungguin munyit-munyit pemalas (Ifa, Riri, Monic) di taman depan sekolah, Taman Cempaka namanya. Kita mau renang gitu ceritanya. Nah aku kan ngeluarin hape, pas udah kumpul dan mau jalan ke tempat renangnya (Hotel Puri Asri, deket sekolah) aku nggak sadar kalo naruh hape di bangku taman dan....AKU TINGGAL!
Baru sadar kalau hape ilang tuh waktu habis renang. Dicari-cari nggak ada, ditelpon juga nggak nyambung. Panik sih, tapi ya biasa aja gitu belom kerasa (?), malah temen-temenku tuh yang panik. Pas balik lagi ke sekolah, tiba-tiba Monic dapet sms dari AKU (dari seseorang tapi pake nomerku. hapeku ilang, remember?), Riri juga. Isinya minta pulsa gitu ih dari situ langsung tau kalau yang nemuin hapeku itu bukan orang baik-baik. Orang baik mana yang sms minta pulsa gitu?
Terus sama Ifa ditelpon deh orangnya. Nggak mau ngaku gitu lah malah ngibul mulu di telpon. Bilangnya lagi di Jogja lah, nggak tau SMA 1 Magelang lah, intinya orang itu nggak mau balikin hapeku. Diomelin deh tuh orang sama Ifa, dibilang nggak berpendidikan dsb dsb dsb dsb.
Bagian yang paling sedih adalah, semua kerjaanku (cerbung yang baru setengah jalan, cerpen yang belum jadi), SEMUANYA ADA DI SITU. Termasuk Fight for Love part 15 yang udah ngaret lama banget. Itu part udah hampir selesai, tinggal dikit banget. Dan sekarang....lenyap! Sedih banget kan ya, jadi molor-molor lagi ini cerbung. Aku nggak tau kapan bisa bikin ulang part 15, nggak tau kapan mood nulis bisa balik. Sumpah ini membuat frustasi :"(
Jadi, maaf ya buat pembaca Fight for Love yang udah dari kapan tau nungguin part 15. Maaf banget pokoknya. Aku usahain cerbung ini lanjut lagi, tapi nggak dalam waktu dekat ini. Maaf maaf maaf maaf 1000x. Doain semoga mood cepet balik, cepet bisa nulis lagi, cepet bisa nambah post di blog ini.
Thank you atas pengertian kalian, ya. Love you :")

Selasa, 19 Juni 2012

Our Moment


Here comes another Yoonhae one-shot! I was in the mood of writing and this idea just popped out. I made it short, very short. Happy reading! And please comment :)
YOONG & HAE #1!


"ANDWAEEEE!!" Yoona screamed from the top of her lungs. It was amazing how her phone's screen didn't break despite that high-pitched voice of hers.
She released another screamed, now followed with her shaking head. "No no no! Please...." she almost begged whoever on the phone with her.
But what she received was a boring tone coming up from her phone. Her boyfriend just hung up. She grunted, grabbed her bag and went out from her room. In the TV room, Yuri was sitting alone with a bowl of popcorn on her lap. The KBS channel was on. It was Tuesday, though. Tonight, the last episode of Love Rain would be aired, only few hours before Yoona's birthday.
"Where are you going? You're gonna miss Love Rain?" she asked as Yoona started to put on her shoes. Usually, Yoona would be with her every Monday and Tuesday to monitor their acting abilities. They would switch the channel very often that they could watch two dramas at once. Now that Fashion King was ended earlier, they could concentrate on watching that romantic drama Yoona starring.
"He shouldn't watch this episode! I'd never let that happen!" she mumbled from afar.
Yuri pursed her forehead. What did she say? 'He'? Who's thi-- OH! Suddenly she realized something.
"Don't be too long," was the only thing she said before Yoona bid goodbye and went out from their dorm.
Yoona jumped into her car and drove through a bunch of fans waiting outside the gate. It was always like that. Never-ending fans visit. It fluttered her heart, knowing that fans would always be there to support her and her band mates. But sometimes, she just needed privacy. She wanted to come to her dorm with Mr. Fishy she loved the most without everyone notice it, but it just seemed quite impossible.
It didn't took a long time for her to reach the boy's dorm. Once Eunhyuk opened the front door for her, she hurriedly rushed to the living room, only to see a way too familiar figure laying on the sofa, eyes glued on a big screen in front of him.
"Yeay! Our Hana is here!!" the boys shouted from the kitchen door, as they saw her standing there.
But she could careless. All that matter was that brown-haired guy who grinned from ear to ear, staring at her with that longing look all over his face. She sighed, went closer to him.
"Donghae-oppa, I told you not to watch it!"
Donghae shrugged, still grinning and turned her head back facing the TV. "I'm curious of this episode. Hana looked very cute!"
"Yeah, he had been sitting there like an idiot since forever, and claimed the TV that everyone should watch Love Rain tonight," a voice came up behind her back. Yoona turned around and smiled as she saw Yesung pouted.
"Hey, it's the last episode! We should watch it of course!" Donghae defended himself. Everyone rolled their eyes.
Without any single word, Donghae grabbed Yoona's arm and pulled her closer to his embrace. She saw the remote was on the table, just an arm away from her. But despite the short distance, she knew better than reaching it. Donghae was incredibly unstoppable at times like this.
Donghae and Yoona ended up watching it together. The boys were thoughtful enough to watch it upstairs. The couple barely met each other, so they understood what to do.
"I told you. You look better with that long hair," Donghae said as the scene went to the '1 year letter' scene.
Yoona scoffed. "But I'm cute when I'm short haired!"
Out of the blue, Donghae leaned closer and gave a peck on her forehead. Yoona was just too shocked to say a word. The feeling was still the same. Whatever Donghae did never failed to give her electric shock.
Donghae smiled at the scene where Seo Joon was mad at Hana because she spent her entire summer in US.
"Joon isn't patient enough, is he? He couldn't see Hana for two months and become that angry? How about me who sometimes can only see my girlfriend once in three months or more?"
Yoona didn't give any respond. Her eyes glued on the screen, heart beat faster than ever. Donghae would absolutely hate the next scene, she said to herself. But she was always ready for this. Calming the angry fishy was her specialist.
"I miss you," Seo Joon said to Hana.
Hana smiled, walked closer and hugged him. Donghae didn't feel bothered. He was used to seeing her hugging Super Junior's members or other oppas and male dongsaengs in SM. He got a ton of 'practice'.
But what happened next was the reason why Yoona warned him not to watch this episode in the first place. When he watched Joon leaned closer, placing his lips on Hana's, Donghae clenched his jaw. What even worse was the fact that Hana kissed him back, closing her eyes in pleasure.
Palms sweating, Yoona sat straight next to him. She could feel the awkward atmosphere surround them. But then she shrugged. I've warned him anyway, she thought.
She decided to go to the kitchen, looking for something to eat. But when she stood up, Donghae grab her wrist and turned her around. Yoona looked at him with the now-what look.
"You haven't been punished for this one, Missy," he said with a quite serious tone, although his voice was shaking for tempting to hold back laughter.
She rolled her eyes. "Really? Try me, then!"
Donghae put his index finger in his chin, looked like he was thinking deeply.
"Make me some ramyun. I haven't eaten anything since this morning," finally he said.
Yoona scoffed. "I thought you'd be more creative this time."
"I just can't think anything innovative when I'm with you. You kinda make me blank."
"Here comes the cheesy boyfriend~" she sang, getting a giggle from Donghae.
She then went to the kitchen to make 2 portions of ramyun. She knew she was a bit greedy, since other couple like Taeyeon and Leeteuk maybe would only make a portion of ramyun to share. But the shikshin (means: goddess of eating) part of her couldn't be helped.
“Hmmm…your ramyun is always yummy,” Donghae said as he took a sip of the sauce. It was just a ramyun, but he felt like eating fancy food every time Yoona made it to him.
“It’s been a while since the last time we eat together like this.” Yoona put her chopstick down and grabbed a bottle of water. Her eyes never left Donghae’s when doing so.
Donghae replied it with a sincere smile. “Nothing can beat our moment. Not even a million kissing scenes you had and will have with your co-star.”
Yoona grinned. “You’re not mad, are you?”
Deep down, she really hoped that Donghae could pass it this time. She knew that he knew the kissing scenes meant nothing at all. It was just for the sake of drama itself. Nothing more.
Donghae caressed her cheek with the back of his hand. “How could I mad at you if you’re giving me that expression?”
She laughed, and Donghae laughed along with the harmony. Even when she was laughing like that, let her mouth wide open, she was beautiful. And her laugh, Donghae smiled. The laugh he could never get off his head. The laugh he would recognize everywhere. The laugh which didn’t give him any choice but to laugh along with her.
Done laughing, Yoona looked at him who was smiling from ear to ear, and replied his smile with her infamous smile everyone adored.
“So, dance practice tomorrow?” he asked while holding her hands on his lap.
Yoona’s eyes widened in excitement. “Really?! You’ll teach me? You don’t have any schedule tomorrow?” she almost shouted.
Donghae laughed at the choding (means: elementary school kid) side of his girlfriend. “Yep, privately,” he answered with an obvious smile on his eyes.
Yoona looked at him in suspicion. She knew what that look was. “You pervert boyfriend!”

Rabu, 13 Juni 2012

Electric Shock

I just wanna say, HAPPY f(x)'s COMEBACK, EVERYONE! :D


After doing great (but not as great as SNSD, if I may say) on their Nu ABO, La Cha Ta, Chu~, and Hot Summer, f(x) come back with ELECTRIC SHOCK! It's their 2nd mini album. I've watched the MV. They're all beautiful, and the effect of the MV is just so cool.
Although they still can't beat their fellow families in SM Entertainment (SNSD, Super Junior, BoA), I really hope people will support their comeback so it'll be a big hit! 
f(x), fighting!

Minggu, 27 Mei 2012

Marry You


Sebuah BMW silver melejit melintasi jalanan Seoul yang lengang sore itu. Pemiliknya, merasa nyaman dengan kehangatan di dalam mobil, berdendang pelan mengikuti lagu yang mengalun dari seteronya. Ia melirik jam di dashboard, terkesiap, dan tanpa sadar menekan gas lebih dalam. Ia sudah terlambat.
"Oh, playboy itu pasti sudah hampir mati kebosanan," gumamnya ketika melihat mobil yang ia kenal baik terparkir di pelataran Cofioca, cafe langganannya yang merupakan salah satu cafe terkenal di Apgujeong. Beberapa kali Yoona melihat artis-artis Korea mengunjungi tempat itu. Bahkan, koleksi tanda tangan dan foto artis yang pernah mengunjungi tempat itu sudah mulai memenuhi salah satu dinding cafe.
Setelah memastikan mantel Burberry berwarna beige itu melekat di tubuhnya dengan sempurna, ia meraih tas di kursi penumpang dan keluar dari mobil. Langkahnya ringan, tidak terganggu oleh lapisan salju tipis yang mulai menyelimuti jalan.
Hembusan udara hangat menyambutnya begitu ia membuka pintu cafe. Lonceng yang berdentang pelan membuat seseorang di meja paling ujung menoleh, kemudian mendengus kesal. Dengan tidak sabar ia melambaikan tangan ke arah Yoona, wanita yang baru saja memasuki cafe. Menyeringai kecil, Yoona menghampiri Donghae, sahabatnya.
"Yah! Kau tidak tahu berapa lama aku menunggumu?" sentak Donghae begitu Yoona duduk di hadapannya. Beberapa helai rambut yang menutupi keningnya bergoyang pelan.
"Lee Donghae," Yoona berkata serius, menepuk punggung tangan Donghae seakan menggurui. "Kau tahu betapa sibuknya seorang designer. Si artis itu baru saja membuat heboh studio dengan permintaannya yang macam-macam." Wanita berkulit pucat itu tidak tahan untuk tidak memutar bola matanya.
Donghae mengerti siapa yang Yoona maksud. Tiffany Hwang, penyanyi sukses yang sekarang resmi bersedia menggunakan baju-baju karangan Yoona di segala acara. Yoona tidak suka dengan artis cantik bermata indah itu. Tidak pernah bisa praktis, katanya.
"Kau tahu," Donghae menyesap espressonya yang tinggal separuh, "jadilah sekretarisku dan aku tidak perlu kesulitan menemuimu. Plus, kau bisa menghabiskan sebagian besar waktumu dengan pria tampan sepertiku. It's an honour."
Yoona mengeluarkan suara seperti orang jijik. "Aku tidak mau repot-repot membantumu mencegah gadis-gadis itu masuk ke ruanganmu," ledeknya.
Donghae meringis. "Speaking of which, I met a girl."
Yoona mendesah, putus asa sekaligus memohon. "Tolong jangan katakan kau mengencani gadis SMA lagi," keluhnya, memijit pangkal hidungnya. Masih terekam jelas di kepala ketika rombongan anak SMA yang berisik itu tiba-tiba menyerang butiknya. Dan, Donghae belum membayar kekaucauan yang satu itu.
"Ah, kau masih kesal rupanya," kata Donghae sambil mengulum senyum.
Lalu ia merogoh kantung celananya, dan mengeluarkan kotak kecil berwarna biru dengan pita merah jambu dan menaruhnya di atas meja. "Untuk itulah aku mengajakmu bertemu. Maafkan aku, oke?" Perlahan, Donghae mendorong kotak itu mendekat ke arah Yoona.
Yoona tersenyum kecil. Ia membuka kotak tersebut. Ternyata isinya memang seperti yang sudah ia duga, charm untuk gelangnya. Sejak mereka kuliah sampai sekarang dan ditambah charm barusan, Yoona sudah memiliki 7 charm. Tangannya mulai mengeluarkan bunyi heboh ketika digerakkan.
"Lain kali kau harus memberiku sesuatu yang lain, Hae," ujar Yoona sembari memasang charm yang baru ke gelangnya.
"Jadi, siapa wanita ini?" lanjutnya.
Donghae tidak tahan untuk tidak tersenyum. Teringat kembali olehnya kepala pirang yang seksi itu. "Jessica. Aku bertemu dengannya ketika bermain golf kemarin." 
Tanpa sadar, Yoona mengerjapkan matanya. "Aku tidak pernah tahu kalau kau tertarik dengan gadis penyuka olahraga," katanya.
Donghae tertawa kecil melihat kepolosan sahabatnya itu. Di balik tubuh langsingnya yang terbentuk sempurna, Yoona tetaplah Yoona. Yoona yang ia kenal bukanlah Yoona si perancang busana, atau Yoona yang cantiknya membutakan teman-teman lelakinya. Yoona yang ia kenal adalah Yoona yang ceria, polos, dan tidak menyadari dampak yang bisa ditimbulkan senyumnya terhadap orang lain.
"Jessica tidak menyukai olahraga. Ia hanya menemani ayahnya. Kau tau Mr. Jung?"
Ketika Yoona menggeleng, Donghae melanjutkan ceritanya.
"Mr. Jung adalah pemilik perusahaan real estate Royal, yang merupakan partner baru Lee Group. Ketika mengadakan meeting kecil-kecilan sambil bermain golf, Mr. Jung mengajak putrinya yang cantik," Donghae menyempatkan diri untuk tersenyum, "Setelah mengobrol sebentar-"
"Kau berhasil mendapatkan nomornya dan mengajaknya keluar," Yoona menyelesaikan cerita Donghae.
Donghae tersenyum, tidak merasa tersinggung. Mungkin Yoona hanya terlalu hafal dengan tabiatnya. Tidak heran, Yoona adalah orang terdekatnya setelah ayah, ibu, dan adik perempuannya.
Setelah terdiam cukup lama untuk menikmati kehangatan minuman masing-masing, Yoona kembali angkat bicara.
"Kemarin Amber meneleponku. Sebenarnya aku tidak pernah mengharapkan pesanan gaun dari gadis tomboy sepertinya," Yoona bercerita.
Kening Donghae berkerut mendengar nama adik perempuannya. Amber memesan gaun? Pada Yoona? Yang benar saja! Gadis itu bahkan tidak pernah menyentuh rok sejak lahir.
"Kau mungkin heran," kata Yoona setelah melihat kerutan di kening Donghae. "Tapi percayalah, dia memang memesan gaun."
Donghae menggelengkan kepala. "Mungkin aku terlalu banyak menghabiskan waktu di kantor. Aku tertinggal banyak sekali berita tentang Amber."
Yoona menyeringai. Sepertinya Donghae melewatkan satu detail penting.
"Oh, dia tidak membutuhkanmu. Dia selalu berkata betapa bahagia dan tentramnya dirinya jika kau tidak di rumah," godanya.
Seperti yang Yoona harapkan, Donghae memberengut. Yoona tergelak. Betapa pria yang mengaku penakluk wanita di depannya ini bisa bertingkah seperti balita. Entah apa yang akan dikatakan penggemarnya di luar sana.  


Salju masih gencar turun, menimbulkan titik putih yang melayang-layang indah di udara. Semakin mendekati tahun baru, gundukan salju semakin tebal, seiring dengan makin tebalnya mantel dan jaket yang dipakai orang-orang.
Yoona sedikit tidak rela ketika ia harus keluar dari mobil, meninggalkan jok empuk dan udara hangat di mobilnya. Ia merapatkan mantelnya, lalu berjalan menuju pintu depan kediaman keluarga Lee. Donghae menyusul tak lama kemudian, juga baru saja keluar dari mobilnya.
"Cepatlah sedikit, Yoong!" kata Donghae tidak sabar ketika Yoona berjalan dengan langkah-langkah kecil karena terganggu salju.
Donghae mengulurkan tangannya dan langsung menarik Yoona untuk berlari bersamanya. Udara di luar begitu dingin, dan ia tidak mau berlama-lama berada di luar gara-gara kelambatan Yoona.
Keduanya langsung disambut pelayan Donghae yang menawarkan untuk membawakan tas serta mantel mereka. Yoona menyempatkan untuk berbasa-basi sebentar. Sudah lama sekali sejak terakhir kali ia mengobrol dengan gadis-gadis yang sebagian besar lebih muda darinya itu.
"Noona!" seseorang berseru dari tangga.
Yoona dan Donghae berbarengan mendongak, kemudian tersenyum lebar. Setengah berlari, Yoona menghampiri orang itu dan langsung memeluknya. Tawa kecil keluar dari kepala berambut pendek itu ketika tubuhnya ditabrak tubuh ramping Yoona.
"Amber!" Yoona mengecup kedua pipi Amber bergantian. "Kau tahu betapa aku merindukanmu?" tanyanya gemas.
Amber tertawa lagi, menampilkan sepasang lesung pipinya. Sudah bertahun-tahun mengenal gadis tomboy itu, Yoona masih takjub dengan kemiripan Amber dan Donghae. Mereka hampir tidak bisa dibedakan.
"Bukankah aku sering meneleponmu, Noona?"
Belum sempat Yoona menjawab, sebuah suara yang datangnya dari dapur menyelanya. "Berhentilah memanggilnya 'Noona', Amber. Kau ini perempuan!"
Yoona membalikkan badan, kemudian membungkuk berkali-kali. "Annyeonghaseyo, Mrs. Lee!" sapanya sopan.
Mrs. Lee alias ibu Donghae dan Amber, tersenyum kecil. "Panggil saja Eomma, Sayang. Kau sudah kuanggap anakku."
Yoona membungkuk sekali lagi. "Ah, kamsahamnida, Eomma."
Amber, Yoona, dan Mrs. Lee kemudian duduk di sofa ruang keluarga, menyusul Donghae yang entah sejak kapan sudah berganti pakaian. Melihat ketiga wanita penting dalam hidupnya berjalan mendekat, Donghae bergeser, menepuk-nepuk tempat di sampingnya sambil melirik Yoona, memberi gestur padanya untuk duduk di sampingnya.
"Ah, Eomma," kata Yoona tiba-tiba. Donghae mengangkat sebelah alis, tetapi Yoona mengabaikannya. "Donghae baru saja menemukan target baru."
Amber nyaris melonjak di kursinya. Matanya melebar, wajahnya menampilkan antusiasme berlebihan. Cenderung sarkastis, sebenarnya. "Jinja?! Seberapa besar otaknya kali ini?"
"Amber," tegur Mrs. Lee, menatap tajam putri satu-satunya. Kemudian ia berpaling pada Donghae. "Kuharap ini yang terakhir, Hae. Eomma tidak pernah mengaturmu dalam masalah ini, tetapi Eomma ingin kau segera menjalani hubungan yang serius. Eomma dan Appa sudah tua, tentu kami ingin melihat anak kami segera memiliki keluarga sendiri," jelasnya.
"Whoa, whoa, Eomma," Donghae mengangkat kedua tangannya. "Jujurlah padaku, kau mulai gemar menonton drama di TV lagi, kan?"
"Yah! Donghae! Dengarkan eomma mu!" Yoona memukul kepala Donghae, membuat laki-laki itu mengerang.
"Sampai kapan kau terus memukul kepalaku, Yoong?!" sebuah protes kecil yang sia-sia meluncur dari bibir Donghae.
Amber terkikik di tempatnya. "Lihatlah, cara kalian bertengkar saja sudah seperti suami-istri. Kenapa tidak menikah saja?"
Donghae memelototi adiknya, sementara Yoona mendengus kemudian memasang wajah memelas yang dibuat-buat.
"Apakah kau tega melihat unnie-mu menikah dengan lelaki setengah-setengah ini? Dia bahkan belum mengikuti Wajib Militer," Yoona mengeluh, mengusap air mata imaji di pipinya.
Amber tergelak, begitu pula Mrs. Lee. Di usianya yang sudah menginjak 27 tahun, Donghae belum juga bergabung dengan militer. Sedang mempersiapkan mental, katanya. Akibatnya, ia harus rela dijadikan bahan olokan Yoona dan adik satu-satunya yang paling ia sayangi itu.  


"Good morning, Miss Im," salah satu staf di butik Yoona, Eun Ri, menyapanya yang baru saja memasuki pintu butik.
Yoona tersenyum manis. "Good morning. Tidak ada yang sakit, kan, pagi ini?" Yoona bertanya sambil memeriksa beberapa pakaian karyanya yang dipajang di etalase.
Eun Ri menggeleng. "Semua sehat, Miss Im."
"Bagus," Yoona mengangguk puas. "Hari ini kita harus bekerja keras untuk fashion show tiga bulan lagi."
Eun Ri membungkukkan badan, kemudian berlalu dan melanjutkan pekerjaannya. Sementara itu, Yoona melangkahkan kaki jenjangnya menapaki tangga menuju studionya di lantai atas. Tangannya sudah gatal ingin memvisualkan ide-ide dalam kepalanya.
Baru ia akan menyelesaikan gambar keduanya, pintu studio diketuk dan kepala Jang Min, stafnya yang lain, muncul di pintu.
"Ada customer yang ingin memesan gaun dan ingin langsung bertemu dengan Anda," kata Jang Min.
Yoona menghela napas. Ia sebenarnya sangat berharap bahwa para pelanggannya bisa memercayai stafnya seperti halnya mereka memercayai dirinya. Tapi tetap saja masih banyak yang tidak mau jika tidak bertemu dengan Yoona secara langsung.
"Annyeonghaseyo, ada yang bisa saya bantu?" Yoona menyapa customernya ramah.
Wanita berambut pirang yang tengah sibuk melihat koleksi butik Yoona berbalik, kemudian tersenyum. "Kau pasti Im Yoona. Benar, kan?" tebak wanita itu.
"Benar sekali," Yoona menjawab ramah.
Customer harus dilayani sebaik-baiknya, meskipun customer paling bawel sekalipun. Itu adalah prinsip yang selalu ia pegang sejak dulu.
"Aku ingin memesan gaun untuk pesta pernikahan temanku. Aku belum tahu gaun apa yang harus kupakai. Kau bisa membantuku?"
Yoona baru akan menjawab ketika seseorang muncul dari balik pakaian yang berjejer. "Ini sudah jam makan siang. Bagaimana kalau masalah ini kalian bicarakan di luar saja?"
Sang perancang busana membelalakkan mata. "Yah! Lee Donghae!" teriaknya, mampu membuat staf-staf dan pelanggan menyempatkan diri untuk melihat ke arahnya. Tapi Yoona tidak peduli.
"Mengapa kau tidak memberitahuku kau akan datang?" protesnya kesal.
Donghae terkekeh. Ia maju beberapa langkah, lalu merangkulkan lengannya ke bahu wanita berambut pirang itu. Mata mirip rusa milik Yoona makin melebar.
"Omo! Jadi wanita ini yang bernama Jessica?" ia nyaris memekik, tak mampu menyembunyikan keterkejutannya.
Kali ini bukan hanya Donghae yang tertawa, Jessica pun ikut terkekeh. "Annyeong, Yoona-ssi!"
Setelah itu, mereka bertiga keluar untuk makan siang bersama. Yoona memilih untuk tidak membawa mobil dan ikut bersama Donghae dan Jessica. Yoona cukup yakin untuk tahu bahwa Donghae dan Jessica belum resmi sepasang kekasih, jadi tidak ada salahnya mengganggu mereka sedikit.
Bagi Yoona yang belum begitu mengenal Jessica, Jessica adalah wanita yang menarik. Kekurangannya dalam hal tinggi badan seolah tertutup wajahnya yang berkarisma. Oh, jangan lupa rambut pirang panjang yang memesona itu. Pantas Donghae langsung terpikat olehnya, batin Yoona sambil terkikik geli.
Donghae senang mengetahui bahwa Yoona dan Jessica membaur dengan mudah. Tidak ada sesi-sesi canggung seperti yang biasa Yoona alami dengan wanita-wanita Donghae dulu. Setelah beberapa kali pergi bersama Jessica, Donghae langsung tahu bahwa wanita seperti Jessica lebih nyaman dijadikan teman dekat. Terlebih ia juga tidak ada rencana apapun dengan Jessica semenjak pertama kali bertemu.
Toh ia sudah menemukan wanita paling tepat dalam hidupnya. Wanita yang suatu hari nanti akan ia lihat berjalan dengan gaun putih yang memesona, sementara ia menunggu dengan hati berdebar di altar. Wanita itulah yang akan pertama kali ia lihat di pagi hari. Wanita itulah yang akan menciumnya sebelum dan sesudah ia bekerja. Dan, wanita itulah yang akan menjadi ibu dari anak-anaknya.
Kupu-kupu seakan memenuhi dada dan perutnya, seperti setiap kali ia memikirkan hal yang ia yakini akan membuatnya bahagia itu. Seulas senyum menghiasi bibirnya, tanpa sadar membuat dua wanita di depannya mengerutkan kening.


Yoona merapatkan jaket tebalnya, sebisa mungkin menjaga tubuhnya agar tetap hangat. Hidungnya sudah memerah, dan ia bisa merasakan telinganya mulai membeku. Yoona mengerang, merutuki dirinya yang ceroboh tidak membawa earpuff di saat musim dingin yang parah ini.
Dengan gusar, Yoona memeriksa ponselnya. Tetap tidak ada balasan sms dari Donghae. Ia tidak membawa mobil hari ini sementara malam semakin larut. Di saat-saat seperti inilah kehadiran playboy itu sangat ia butuhkan. Tetapi, Donghae belum juga membalas smsnya. Ditelepon juga tidak diangkat.
Tidak ingin menyerah, Yoona menekan tombol 3 pada ponsel layar sentuhnya. Ia menunggu dengan sabar, berdoa dalam hati Donghae akan mengangkat teleponnya kali ini.
"Yeoboseo...?" Akhirnya Donghae mengangkat telepon.
Yoona mengeryitkan kening mendengar suara sengau Donghae. Ia juga yakin sempat mendengar suara batuk dari seberang sana.
"Are you okay?" tanya Yoona khawatir. Dingin yang menyelimutinya seakan tidak ia rasakan lagi.
Tedengar suara seseorang mengulap ingus. Kerutan di dahi Yoona makin banyak. "Donghae?"
"Aku...uhuk!!"
Dengan itu, Yoona langsung berkata, "Aku segera ke tempatmu."
Ia menyegat taksi yang pertama kali ia lihat. Dengan tergesa ia menyuruh supir taksi untuk mengebut, yang langsung ditolak mentah-mentah karena jalan sedang licin tertutup salju. Gelisah, Yoona menatap jalanan di luar jendela, berharap perjalanan ini tidak akan memakan waktu lama. Donghae jarang sekali sakit, dan membayangkan sahabatnya itu terbaring lemas di tempat tidur adalah hal terakhir yang diinginkannya. 


Yoona sering melakukannya, namun kali ini ia benar-benar mengutuk Donghae karena pindah ke apartemen yang baru disewanya beberapa hari lalu. Dengan begitu ia harus hidup sendiri, mengurusi semuanya sendiri. Dan, di saat ia terbaring tak berdaya dengan bekas tisu di sekelilingnya, tidak akan ada yang membantunya. Tidak ada Mrs. Lee yang bersedia mengompresnya dan menungguinya semalaman.
Donghae tersenyum lega ketika pintu kamarnya menjeblak terbuka, dan Yoona, dengan wajah khawatir, langsung menyerbu ke arahnya. Ia juga hanya diam sambil mengamati wanita itu membersihkan tisu yang berserakan di tempat tidurnya.
"Kau akan mendapatkan balasan karena telah membuatku khawatir, Fishy," desis Yoona sambil membenarkan selimutnya, memastikan bahwa selimut tebal itu menutup rapat tubuh Donghae kecuali kepala.
"Berbaik hatilah pada pasienmu, Suster."
Yoona menggerundel pelan. Ia beranjak ke dapur, menyiapkan air es dan handuk kecil untuk mengompres Donghae. Ia juga menyempatkan diri untuk mengambil sebutir obat penurun panas yang untungnya tersedia di kotak obat apartemen si playboy.
Donghae memejamkan mata ketika Yoona duduk di samping tempat tidurnya. Namun Yoona tahu Donghae tidak tidur. Dengan lembut, Yoona mulai menempelkan handuk basah ke kening Donghae. Panas tubuh Donghae membuat handuk itu cepat menghangat.
"Kau ini kenapa? Terlalu banyak pekerjaan di kantor?" Yoona bertanya, masih mempertahankan kelembutannya.
Perlahan Donghae membuka mata, walau ia sudah setengah terlelelap. Ia tidak akan melewatkan Yoona yang seperti ini, yang khawatir dan lembut dengan sisi keibuan yang jarang ia perlihatkan.
"Mungkin aku merindukan rumah," kata Donghae mencoba bercanda. Tapi Yoona tidak tertawa. Ia menatap Donghae sebentar, kemudian memalingkan wajah.
"Minumlah obat ini." Yoona menyodorkan segelas air putih dan sebutir obat. "Kau tidak perlu makan. Aku juga tahu kau tidak mau makan apapun jika sedang sakit."
Setelah setengah duduk untuk meminum obat, Donghae berbaring lagi. Ia baru akan terlelap ketika merasakan tangan Yoona menggenggam tangan kirinya.
"Aku ada di sini, Hae-yah," kata Yoona sambil tersenyum. Lama berteman dengan Donghae membuatnya tahu bahwa Donghae tidak akan bisa beristirahat ketika tidak ada yang menggenggam tangannya ketika ia sakit.
Donghae ikut tersenyum, menggumamkan terima kasih lirih, kemudian terlelap dengan tenang. 


Mungkin Donghae harus menandai kalender. Hari ini adalah hari bersejarah baginya. Untuk pertama kalinya selama hampir dua minggu ini, akhirnya ada yang menggunakan dapur di apartemennya. Selama ini ia selalu makan di luar. Kemudahan mendapatkan makanan cepat saji membuatnya tidak perlu repot-repot mengotori dapurnya yang bernuansa karamel itu.
Tersaruk-saruk keluar dari kamarnya, Donghae bisa merasakan bau lezat sup kimchi di udara. Ia menghirupnya dalam-dalam. Air liurnya hampir menitik.
Di dapur, Yoona tengah berdiri membelakanginya, menghadap kompor. Rambutnya ia ikat asal-asalan, menampakkan bagian belakang leher jenjangnya yang dihias tali celemek. Donghae tidak tahan untuk tidak tersenyum. Mengabaikan hatinya yang menghangat, Donghae menghampiri Yoona.
"Kau sudah sehat?" Yoona bertanya tanpa membalikkan badan. Donghae bahkan belum sempat mengagetkan wanita itu.
"Ugh. You're no fun!" Donghae menggerutu, menjatuhkan pantat di kursi di depan counter.
Terdengar tawa kecil Yoona. Ia mematikan kompor, lalu membawa panci kecil berisi sup ke meja makan. Asap yang mengepul dari sup itu mengenai wajah Yoona, membuat kulit mulus itu sedikit berminyak. Dan, Donghae, seakan terpaku di tempatnya, merasa bahwa pemandangan itu adalah pemandangan terindah dalam hidupnya.
"Kau akan tetap duduk di sana dan melihatku makan?" tanya Yoona sambil melepas celemeknya. Mangkuk, sumpit, dan sendok sudah tertata dengan rapi di meja makan Donghae yang harus ia bersihkan dulu sebelum dipasangi taplak meja.
Donghae mengerjapkan mata, tersadar dari lamunannya. Setelah itu, keduanya makan pagi bersama.
Donghae menyerutup kuah sup dan langsung mendesah puas. "Yaaah, sering-seringlah memasak untukku, Yoong," katanya sambil menyiduk sup ke mangkuknya sendiri.
Yoona mencibir. "Aku ini orang sibuk. Lagian kau bisa minta gadis-gadismu memasakkan apa saja untukmu," balas Yoona pedas.
Donghae menyeringai. Ia menurunkan sumpitnya, memajukan badannya mendekat ke arah Yoona. "Kau...cemburu?" Memiliki pikiran bahwa Yoona mungkin cemburu membuatnya senang mendadak.
"Pfff.." Yoona mendengus. "Dream on, playboy!" bentak Yoona yang berhasil membuat Donghae tergelak.
Selesai menyantap habis sarapannya, Donghae menyandarkan tubuhnya sambil mengelus perut yang sekarang telah penuh. Ia menatap Yoona yang tengah menandaskan jus jeruknya. Donghae terkekeh melihat cara Yoona menghapus sisa-sisa jus di bibirnya, mengingatkannya pada salah satu keponakannya yang masih balita. Cute.
"Kau tahu?" Donghae membuka suara, membuat Yoona mendongak menatapnya.
Donghae pun melanjutkan. "Hidup akan lebih mudah kalau kau jadi istriku."
Tak ada yang berbicara setelah itu. Keduanya saling tatap, dengan pancaran mata yang berbeda. Yoona menatap Donghae tajam, sementara mata Donghae memancarkan senyum yang tidak terpatri pada bibirnya.
Yoona-lah yang pertama kali memalingkan wajah. Ia bangkit dari kursinya. "Kau sudah sehat kan? Cucilah semua ini," ia berkata tanpa menatap ke arah Donghae.
Yoona beranjak dari meja makan, meninggalkan Donghae yang menghembuskan napas berat dan panjang.


"Ternyata kau tampan dengan rambut pendek seperti ini." Yoona tersenyum geli, mengelus rambut Donghae yang masih asing untuknya.
Donghae bergumam tidak jelas, kembali memakai topi tentara miliknya, menutup kemungkinan Yoona dan Amber untuk meledeknya lagi. Yoona, masih mau menjaga perasaan Donghae, hanya tersenyum untuk menutupi tawanya. Sementara Amber malah sudah tergelak hingga jatuh terduduk di sampingnya. Donghae sampai harus mengetuk kepala adiknya itu agar segera menghentikan tawanya sebelum mereka menjadi pusat perhatian.
"Kalau seperti ini, masih adakah gadis yang terpikat olehmu, Hyung?" ledek Amber tak henti.
Kali ini Yoona menyikut tulang rusuk Amber, menatap galak adik Donghae, menyuruhnya untuk berhenti. Amber langsung berdiri tegak, membungkukkan tubuhnya berkali-kali.
"Maafkan aku, kakak ipar," katanya hormat. Yoona dan Donghae mendengus bersamaan.
"Eomma, Appa, doakan aku," Donghae berpamitan pada kedua orang tuanya yang menatapnya haru.
Mrs. Lee memakaikan ransel tentara pada bahu Donghae, mendadak ingin menitikkan air mata. "Sampai ketemu dua tahun lagi, anakku," kata Mrs. Lee.
Ia memang terharu, tetapi lebih merasa haru lagi ketika Donghae datang menemuinya dan mengatakan bahwa ia akan mengikuti Wajib Militer tahun ini, lalu langsung menikah setelah ia kembali nanti. Dengan Yoona. Ya, dengan Yoona. Wanita yang diam-diam memang diinginkannya untuk menjadi menantunya. Hanya saja Yoona belum tahu rencana ini.
Selesai berpamitan dengan keluarganya dan harus kembali mendapatkan ledekan dari Amber, Donghae menghampiri Yoona yang sengaja berdiri menjauh. Diraihnya kedua tangan Yoona, dan digenggamnya hangat. Ia menggenggam tangannya lama sekali, seakan berharap agar genggaman itu cukup untuk membuatnya bertahan selama dua tahun tanpa kehadiran wanita impiannya.
Ditelusurinya wajah Yoona. Disentuhnya kening cantiknya yang sangat Donghae sukai, matanya yang seperti mata rusa, hidungnya yang mudah memerah jika kedinginan, pipinya yang putih mulus bak pualam, dan terakhir bibirnya. Bibir tipis yang membentuk lengkung khas saat ia tersenyum. Bibir yang sering meluncurkan serentetan makian ketika Donghae membuatnya kesal. Donghae akan sangat merindukan semua ini.
Donghae merogoh sakunya untuk mengambil sesuatu, namun tidak melepaskan genggaman tangannya. Ketika kotak beludru merah kecil berada di genggamannya, Yoona terkesiap. Jari-jari lentiknya menutupi mulutnya yang terbuka lebar.
"Harusnya kau tidak terkejut lagi, Yoong. Aku tahu kau sudah tahu hal ini akan terjadi sejak lama," Donghae berkata ringan, membuka kotak itu yang berisi cincin dengan berlian mungil yang berpendar indah.
"Kau akan menjadi Mrs. Lee Yoona dua tahun lagi. Kau sudah siap, kan?" tanya Donghae tenang, walaupun hatinya berdebar kencang. Bagaimana kalau Yoona menolak lamarannya?
Dan ketika Yoona mengangguk, itu adalah saat terindah dalam hidupnya, menyingkirkan adegan memasak di dapurnya beberapa waktu lalu dari posisi pertama. Dengan perasaan membuncah, ia memasangkan cincin di jari Yoona, lega ketika cincin itu terpasang dengan pas.
Direngkuhnya tubuh gadis itu ke dalam pelukannya. Ia bisa merasakan sekelilingnya berputar, menampilkan gambar blur yang tidak jelas. Di belakangnya, kembang api bermunculan dengan indah.
"Kau ingat pesanku selama ini, kan?"
Yoona mengangguk, melepaskan pelukan Donghae, kemudian menghapus air mata bahagianya. "Never date anyone, safe yourself for me," katanya, menirukan pesan yang selalu Donghae berikan padanya selama ini. Pesan yang ia anggap tidak serius, tapi entah mengapa ia patuhi.
Donghae menghapus sisa air mata di pipi Yoona, mendekatkan wajahnya untuk mencium kedua mata indah itu. "I love you."
Yoona menempelkan dahinya pada dahi Donghae, membuat keduanya bertatapan. Tersenyum, ia menjawab, "I love you too."

-END-

So, this is my new YoonHae fanfict. I ship them hard kekeke :D Too bad Yoona couldn't attend SMTown Live in LA, which means no YoonHae moment at all :( I really hope they will secretly show their love again in public, like stealing glance etc :)
And for those who are longing for Fight for Love, I'm truly sorry I can't continue it as fast as you want. I don't read Icil FF recently, so I think the feeling is gone. But don't worry, I'm still gonna continue it. I'm trying hard to work on it now. Just give me some support, okay? And I hope I'll get my feeling back.
What do you guys think about this? :) I already made a YoonHae FF before, and it was in English. I wanted to make another one in English too but I was not really into it. So I decided to post this one. Give me some comment, okay?

Saranghae! <3