Kamis, 26 Januari 2012

Indonesian Boy Band and Girl Band

This is the era of Boy Band and Girl Band. Again. Started by the debuting of some Boy Bands and Girl Bands from Korea, such as Super Junior, Girls' Generation (my fav!! :D), SHINee, Wonder Girls, 2NE1, and others (now called K-Pop). Indonesia also created some. I didn't even care about them until I found this. BLINK.


These weeks, every Saturday, I have a show to watch at 8.30 pm. It's Cinta Cenat-Cenut, a drama where a Boy Band named SM*SH is the main character. There are 7 of them, and Rafael is the 'main' main character (my words are confusing, aren't they? -_-). I didn't even like them....ah, I hated them. But I don't know, right now I just....love them. Remember this line? "Only a thin line separates love and hatred." HAHA :D


Some Boy Bands and Girl Bands in Indonesia are still developing, and need more training. I hope they can be better in everything: dancing, singing, acting (maybe?), and behaving. Majulah permusikan Indonesia! :D

Senin, 16 Januari 2012

Does Love Need Status?

Bukit belakang sekolah selalu menjadi tempat favorit Ify. Dikelilingi berbagai tanaman hijau membuatnya nyaman. Terlebih beberapa waktu ini ia tengah menggilai fotografi. Otomatis tempat itulah yang sering menjadi objek fotonya.

Ify membidikkan kameranya, baru akan menekan tombol shutter ketika sahabatnya berseru dari balik punggungnya. "Gimana bisa sih lo suka fotografi?"

Ify tersenyum. Ia menurunkan kameranya, berbalik menatap Cakka, sahabatnya itu. "Gue nggak tau, Kka. Habis baca novel 'Antologi Rasa' tiba-tiba gue jadi pengen motret, dan sekarang malah jadi suka," jawabnya sembari berjalan mendekat.

Sahabatnya yang lain, Gabriel, ikut mendekat dan berdiri persis di sebelah Ify. Ia melingkarkan tangannya di pinggang gadis itu dan menyeringai. "Mungkin ini pencerahan buat Ify, biar yang dia pikirin nggak cuma makan dan nonton tivi," ledeknya.

Ify mencibir dan memukul perut Gabriel pelan. Setidaknya menurutnya, karena satu detik kemudian Gabriel langsung mengaduh.

Keduanya lantas mengambil tempat di samping Cakka, dengan Ify di tengah cowok-cowok itu. Tangan Gabriel otomatis dirangkulkan ke pundak Ify begitu mereka duduk bersebelahan. "Sunsetnya bagus deh," gumam Ify.

Ia langsung mengangkat kameranya, mengabadikan momen indah yang jarang sekali ia lihat. Sunset terakhir yang dilihatnya yaitu ketika ia berlibur ke Bali dan mengunjungi pantai Kuta, satu tahun lalu. Cakka dan Gabriel bergeming, membiarkan sahabat mereka tenggelam dalam dunianya sendiri sekaligus menikmati detik-detik kembalinya sang matahari ke pelukan cakrawala.

Begitu berkas-berkas jingga itu lenyap tak berbekas, ketiganya bangkit. Hari sudah gelap dan mereka harus pulang. Seragam sekolah yang mereka pakai mulai lengket, harus diganti segera dengan kaus oblong yang nyaman. Ify membereskan kameranya, dibantu Gabriel. Gadis itu bahkan sempat tersenyum kecil ketika Gabriel, tanpa kata-kata, merebut tas kamera Ify dari tangannya dan langsung membawanya.

Cakka menggenggam tangan kanan Ify, sementara Gabriel menggamit bahunya dari sisi yang lain. Bertiga mereka berlari-lari kecil menuruni bukit sampai akhirnya masuk ke mobil Cakka dan pulang ke rumah.


Dengan MacBook Air dalam pelukannya, Ify berjalan cepat menuju beberapa teman ceweknya yang sedang bergerombol di sudut kelas. Mereka tengah asyik bergosip sampai akhirnya kedatangan Ify menarik perhatian mereka. "Hey, ladies!" sapa Ify sambil mengambil tempat duduk di tengah-tengah. Otomatis Agni dan Shilla bergeser memberi ruang untuk gadis itu.

"Gosipin apa hayo?" tanya Ify, namun matanya tak lepas dari layar macbooknya.

Agni, Shilla, dan Sivia saling lirik cepat seperti menimbang-nimbang apakah Ify perlu diberi tahu atau tidak. Namun akhirnya Sivia mendesah dan balik bertanya, "Lo pacaran nggak sih sama Gabriel?"

Ify menghentikan gerakan jarinya di atas keyboard. Ditatapnya satu persatu wajah teman-temannya yang menyiratkan keingintahuan yang sama. Ia mendengus. "Pertanyaan macam apa itu?" Tangannya terlipat di depan dada.

"Udah, jawab aja napa?" sahut Agni gemas.

Ify mencondongkan tubuhnya. "Listen carefully. Gue dan Gabriel sahabatan. Jelas?"

Wajah ketiga temannya masih belum berubah, tetap penasaran. Shilla memiringkan kepala, menatap Ify dengan mata menyipit. "Sahabat jadi cinta, mungkin?" tanyanya polos. Agni dan Sivia langsung menutupi tawa mereka dengan batuk-batuk kecil.

Ify memutar bola matanya. Perhatiannya kembali tercurah pada apapun yang sedang ia kerjakan dengan MacBook-nya. "Lo terlalu banyak baca novel, Shil," oloknya.

"Tapi," Agni menyela, "kalian saling cinta." Itu bukan pertanyaan, Ify tahu itu. Teman-teman dekatnya ini terlalu mengenalnya. Sebagai jawaban, Ify hanya mengangkat bahu. "So?"

Sivia terlihat putus asa dan ingin sekali rasanya mengetuk kepala Ify dengan batu. Sekali saja, untuk mengembalikan jalan pikiran temannya itu ke track yang benar.

Tidak ada semenit kemudian, orang yang sedang mereka bicarakan sudah berdiri di belakang Ify, melempar senyum seadanya pada Agni, Shilla, dan Sivia. Ia menepuk kepala Ify sekilas. "Nanti temenin gue latihan, ya," ujarnya ringan.

Ify tersenyum, tahu bahwa Gabriel-lah yang sedang berdiri di balik punggungnya. Ia berbalik. "Sambil motret nggak papa kan?" tanyanya.

"Nggak papa. Motret gue juga boleh," Gabriel bercanda. Ify tertawa sementara Agni, Shilla, dan Sivia saling melempar pandang penuh konspirasi.

Sepeninggal Gabriel, Ify kembali mendapat tatapan penuh tuduhan dari teman-temannya. "Seems like you both are playing a game," kata Sivia tepat sasaran.

Ify tersenyum miring. "Can't we?"


"Bagus kan hasil jepretan gue?" Ify menyodorkan kameranya pada Cakka, menunjukkan deretan gambar di layar Canon 1100D-nya.

Cakka melirik sekilas. "Lebih bagus lagi kalo gue yang jadi objeknya," komentarnya cuek. Tangannya sibuk menyibakkan poninya yang mulai menutupi mata. Ia tahu, sebentar lagi Ify pasti mengomelinya, menuntutnya agar segera potong rambut.

Ify mencibir tapi tidak mengatakan apa-apa. Ia kembali membidikkan lensanya ke panggung besar di hadapannya. Seperti janjinya pada Gabriel, ia sedang menunggui cowok itu latihan drama untuk pensi terakhir sebelum akhirnya meninggalkan almamater mereka. Melihat kehebohan di panggung itu, Ify tak bisa tinggal diam. Ia segera mengambil kameranya dan mencari objek menarik untuk diabadikan.

"..dibawa ke mana hubungan kita? Jika kau terus menunda-nunda dan tak pernah nyatakan cinta...mau diba-" Belum sempat Cakka menyelesaikan dendangannya, kaki kanannya berdenyut. Ify baru saja menginjaknya.

"Shut up! Lagunya jleb banget!" sungut Ify. Kameranya sudah tersimpan rapi dalam ransel, dan sekarang ia sibuk mengumpat pada Cakka yang tega menyanyikan lagu semacam itu di hadapan Ify.

Cakka tergelak. "Makanya, buru noh nyatain! Keburu diembat orang lain nyaho lo," kata Cakka sambil mengerling ke arah Gabriel yang sedang melambaikan tangan ke arah mereka. Ify membalasnya dengan antusias, dan Gabriel tertawa di atas panggung.

"Dia cuma buat gue, Kka," ujar Ify. Cakka mendengus. Sahabatnya ini memang overpede.

"Nggak ada yang jamin, Fy. Bisa aja besok tiba-tiba dia ke sekolah bawa gandengan." Cakka menahan diri untuk tidak tertawa melihat wajah Ify sekarang. Matanya membulat sementara bibirnya membentuk satu garis tipis. Kalau tidak ingat bahwa Cakka sahabatnya, mungkin Ify sudah menerkam cowok itu sejak tadi. Cowok itu memang harus diberi pelajaran tentang bagaimana cara menggunakan mulutnya dengan baik dan benar, agar tidak asal menyeletuk seperti itu.

"Haha..nggak kok, gue cuma bercanda. Dia emang cuma buat lo, Fy," Cakka menghibur Ify yang sedang ngambek berat itu. Tangannya telulur untuk mencubit pipi Ify, hal yang sudah menjadi rutinitasnya selama dua tahun menjadi sahabat gadis itu.

Kalau sudah begitu, Ify kembali mengumpat tapi hilang sudah kemarahannya. Ditepisnya tangan Cakka. "Lain kali cari bahan candaan yang lebih lucu ya, Kka."

Ify kembali memasang senyumnya, menyambut Gabriel yang tengah menuruni panggung dan berjalan ke arahnya di bangku penonton. Cakka juga mengulum senyum, menunggu drama roman picisan yang akan kembali terjadi tepat di depan matanya.

"You did great!" Ify memuji performa Gabriel tadi. Gabriel nyengir. "Selalu," balasnya.

Cakka memutar bola matanya. Ia merangkul kedua sahabatnya. "Flirting-flirtingnya nanti lagi ya, gue laper."

"Perut lo tuh ya nagih mulu kerjaannya!" olok Ify. Ketiganya tertawa, lalu berjalan keluar dari gedung auditorium. Formasi masih seperti biasa; Gabriel merangkul Ify dari sebelah kiri sementara Cakka menggamit lengan kanan Ify.


Hari Sabtu selalu dimanfaatkan Ify untuk bermalas-malasan di kamarnya. Ia tidak pernah bangun sebelum jam 8 di Sabtu pagi yang cerah. Dan kalau belum masuk jam makan siang, ia tidak akan keluar kamar. Makanya pagi itu Ify dibuat senewen ketika Gabriel tiba-tiba datang ke rumahnya, jam setengah delapan pagi. Ify masih terlelap, dan dengan ogah-ogahan akhirnya bangun, menyerah pada teriakan adiknya di luar kamar.

Ia hanya sempat menggosok gigi dan mencuci muka asal-asalan. Rambutnya bahkan belum sempat ia sisir. Masih mengantuk, Ify menuruni tangga sambil dalam hati menyumpahi Gabriel yang telah menghancurkan Sabtu paginya.

"Hina banget gue bangun jam segini," kata Ify begitu pantatnya mendarat di sofa di depan tv. Adiknya yang masih SD, Ray, sedang asyik menonton kartun favoritnya.

"Lo kenapa nggak bilang aja kalo gue masih tidur sih?" semprot Ify pada adiknya. Ray menjulurkan lidahnya dan kembali fokus pada layar televisi.

Gabriel tergelak. "Kali-kali lo bangun pagi kek, masa molor mulu kerjaannya kalo Sabtu."

"Bosen dong kalo tiap hari bangun pagi," kilahnya tengil. Ify mengerjapkan matanya, berusaha keras agar tidak tertidur lagi. Ia baru sadar kalo Gabriel datang ke rumahnya sendirian, tidak bersama Cakka seperti biasa.

"Gembul ke mana?" Gembul adalah panggilan kesayangan Ify untuk Cakka. Walau Cakka sekarang sudah tidak segendut waktu masih SD dulu, Ify merasa panggilan itu tetap cocok untuknya. Toh pipi Cakka belum sepenuhnya terbebas dari baby fat, dan cowok itu masih hobi makan sampai sekarang.

"Lagi nganterin nyokapnya. Belanja kali," jawab Gabriel.

Ify baru akan menyahut lagi ketika tiba-tiba telepon rumah berdering. Ia menggerutu pelan. "Heh, Nyet!" Ify menjawil punggung Ray dengan jari kakinya, mengabaikan teguran Gabriel. "Angkat sono! Lo kan deket," perintahnya. Walaupun dongkol, Ray akhirnya menghampiri telepon dan mengangkatnya.

Tak lama kemudian, ia kembali ke depan tv dengan telepon wireless di tangan, menyodorkan benda itu pada Ify. "Buat lo nih." Ify mengerutkan kening. "Halo?" sapanya pada siapapun di seberang sana. Detik berikutnya ia terkesiap. "Rio? Ya ampuuuun apa kabar, Bro? Gila sombong amat lo!"

Menit-menit berikutnya seperti neraka bagi Gabriel. Gerah rasanya melihat Ify asyik mengobrol dengan Rio entah siapa itu, mungkin teman dekat Ify dulu. Pandangannya tak lepas dari gadis itu, ekspresi excited gadis itu, dan bibir mungilnya yang mengeluarkan tawa renyah favoritnya. Tiba-tiba ia ingin merebut paksa telepon itu dan membantingnya ke lantai.

Setelah lima menit yang sangat menyiksa untuk Gabriel, akhirnya Ify menutup telepon. Senyum senang masih menghiasi wajahnya ketika ia menoleh, dan mendapati Gabriel tengah menatapnya tajam. Ify mengerutkan kening, bingung. "Kenapa lo?"

Bukannya menjawab pertanyaan Ify, Gabriel malah balik bertanya, "Tadi siapa?"

"Ooh," wajah Ify kembali berbinar. "Itu Rio, temen gue waktu SMP, sekarang di Surabaya, ikut orang tuanya. Dia itu dulu..." cerita-cerita tentang Rio mengalir begitu saja dari bibir mungil Ify. Gabriel memaksakan senyum di tengah usahanya untuk tidak meledak sekarang. Butuh usaha keras untuk mencegah tangannya agar tidak menyumpali mulut Ify dengan kotak tisu di dekatnya. Demi Tuhan! Apakah ia perlu tahu bahwa Rio pintar matematika?

"...nah, gue sama dia-"

"Stop, Fy!" sela Gabriel tiba-tiba. Tangan Ify yang bergerak-gerak demi mendukung ceritanya, berhenti di udara. Ia membuka mulut, ingin protes. "Kok gitu sih?" Wajahnya mulai menunjukkan ekspresi annoyed.

Gabriel menghembuskan napas keras-keras. Ditatapnya Ify dengan tajam. "Lo pikir gue perlu tau siapa Rio itu?" Pertanyaannya terdengar sinis.

Ify mengernyitkan kening, tidak suka. "Apaan sih lo? Gue kan cuma cerita!"

"Gue nggak butuh cerita lo!" Ify terkesiap. Gabriel juga sedikit terkejut. Baru pertama kali ini ia membentak Ify.

Ify memalingkan wajah. Baru ia sadari kalau Ray masih di dekatnya. Memang matanya terpaku pada televisi, tetapi Ify berani bertaruh telinga anak itu terbuka lebar, menyimak pembicaraan dua orang di belakangnya.

"Nyet!" panggilnya. Ray hanya bergumam sebagai jawaban. "Lo nonton di kamar gue aja sono!" Ray baru akan membantah ketika melihat Ify melotot ke arahnya.

Tak ingin mengambil risiko dilahap habis-habisan oleh kakaknya, ia hengkang dari depan televisi dan berjalan menuju kamar Ify di lantai dua. Jarang sekali Ify membolehkan Ray memasuki kamarnya. Kalau kakaknya sampai menyuruhnya menonton televisi di kamar yang serba cewek itu, pasti sudah terjadi sesuatu.

Begitu Ray menghilang dari depan keduanya, Gabriel langsung meraih tangan Ify dan mengenggamnya di antara kedua tangannya yang besar dan hangat.

"Fy, maaf, gue cuma...gue cuma..." kata Gabriel terbata-bata, tidak bisa menemukan kata yang tepat untuk menggambarkan perasaannya saat ini.

Ify diam saja, juga tidak melepaskan tangannya dari genggaman Gabriel. Ia selalu suka ketika tangannya berada dalam genggaman cowok itu, karena tangan Gabriel selalu hangat. Meskipun begitu, kehangatan itu tidak bisa sepenuhnya menghapus ingatannya akan bentakan sahabatnya tadi.

Gabriel menghela napas berkali-kali. "Serius, Fy, gue nggak bermaksud ngebentak lo. Gue cuma...cemburu. Iya, Fy, gue cemburu. Cemburu denger lo nyeritain cowok lain di depan gue."

Ify mengulum senyum tipis. Sangat tipis, bahkan Gabriel pun tidak yakin Ify benar-benar tersenyum barusan. "Thanks udah cemburu, tapi," Ify menghela napas berat, seakan apa yang akan dikatakannya adalah hal terberat yang harus ia lakukan. "Kalo aja lo lupa, status kita cuma sahabatan. So..." Ify membiarkan kalimatnya menggantung.

Gabriel mendengus. "Kayaknya mending gue pulang aja deh, Fy," ujarnya, memilih untuk tidak menanggapi ucapan Ify barusan.

Ify mengangkat bahu. Ia sudah terbiasa dengan reaksi Gabriel setiap kali ia mulai menyinggung status mereka. "Sure," jawabnya kasual.

Gabriel berdiri, tak lupa mengecup puncak kepala Ify sekilas sebelum keluar dari rumah gadis itu. Ify melorot di sofa, menatap langit-langit rumahnya dengan pandangan kosong. Sampai kapan lo mau siksa gue kayak gini, Gab, batinnya berbicara.


"Lo berdua emang demen menyiksa diri sendiri, ya?" komentar Cakka malam itu, ketika Gabriel memutuskan untuk menginap di rumah sobatnya itu dan menceritakan kejadian pagi tadi. Cakka tak habis pikir. Apalagi yang ditunggu kedua sahabatnya?

Gabriel mengangkat bahu, menjelajah kamar Cakka dan berhenti di depan komputer yang masih menyala. Dengan gesit ia menggerakkan mouse dan hanya dalam waktu beberapa detik, jarinya sudah sibuk memainkan keyboard dengan suara berisik. Ia sudah tenggelam dalam salah satu game perang di komputer Cakka.

"Ify ngambek sama lo?" tanya Cakka, seakan belum puas pada penjelasan Gabriel tadi.

Tanpa menoleh, Gabriel mengangguk. "Absolutely," jawabnya datar.

Cakka tidak mengatakan apa-apa lagi. Ia sudah sibuk dengan BlackBerry-nya, dan matanya langsung membeliak melihat salah satu tweet di timeline ubersocial-nya. "Gab..." panggilnya tanpa mengalihkan pandangan dari layar ponselnya.

Gabriel hanya menjawab dengan satu silabel, "Hmm?"

"Problem lo berdua kayaknya makin parah." Ingin tau apa yang sebenarnya terjadi, Gabriel menghentikan game-nya dan berbalik menghadap Cakka.

"Maksud lo?" tanyanya tak mengerti.

Cakka menyodorkan BlackBerry-nya yang diterima Gabriel dengan kening berkerut. Gabriel menatap layar ponsel canggih itu, kemudian mendesah. Dikembalikannya ponsel Cakka.

"Gue goblok." Gabriel mulai meracau. Untuk sesaat, ia merasa menjadi cowok paling idiot sedunia. Bagaimana bisa ia membuat masalah baru dengan Ify padahal gadis itu belum selesai ngambek? Itu sama saja dengan menyiram cuka di atas luka yang masih menganga. Bego!

Cakka mengangguk, mengiyakan. "Elo emang goblok, Gab."

Sepulang dari rumah Ify, Gabriel mendapat sms untuk segera ke sekolah, latihan drama untuk pensi yang akan diadakan kurang dari dua minggu lagi. Persiapan mereka baru enam puluh persen, untuk itu mereka memerlukan latihan yang lebih intensif lagi.

Gabriel mendapatkan peran utama bersama Angel, lawan mainnya yang sekaligus menjadi pasangannya di drama itu. Angel mempunyai kemampuan akting yang tidak bisa diremehkan. Hal itu dirasakan Gabriel setelah hampir setahun bekerja sama dalam ekskul drama di sekolah. Tak tahan untuk tidak memuji kemampuan akting gadis itu, Gabriel pun me-mention Angel di twitter, dengan pujian yang menurutnya tidak berlebihan. Tapi, mungkin bagi Ify yang masih ngambek dengan Gabriel, tweet tersebut bisa mengobarkan api kemarahan yang belum sepenuhnya padam. Terbukti dengan tweet Ify yang begitu menarik perhatian dengan capslock yang menyala-nyala.

Prihatin dengan keadaan Gabriel, Cakka menepuk pundak Gabriel pelan. "Biarin Ify sendiri dulu, bakalan susah ngajak dia ngobrol kalo lagi ngambek gini. Lo tau, kan?"

Gabriel mengangguk pasrah. "Bakalan lama nih ngambeknya."

Cakka tertawa. Ia pun melanjutkan menyetem gitarnya yang tadi sempat terhentikan. Sambil mengatur tegangan senar gitar agar menghasilkan nada yang sempurna, ia berdendang, "Hari ini ku akan menyatakan cinta, nyatakan cintaaa...aku tak akan menunggu ter-"

Cakka hanya meringis melihat Gabriel melotot padanya. Tanpa takut akan pelototan itu, ia melanjutkan lagunya. Biar tau rasa lo! katanya dalam hati.


Tirai merah itu tertutup, diiringi applause meriah dari tribun penonton. Cakka langsung menggiring Ify ke backstage, menghampiri Gabriel yang baru saja selesai mempertunjukkan dramanya. Ify menggerutu pelan sambil berusaha mengikuti langkah Cakka. Heels 10 senti dan gaun satin selutut tentu bukan outfit yang cocok untuk berlari-lari kecil seperti ini.

"Bro!" seru Cakka pada Gabriel yang tengah berjalan menuju ruang make up. Gabriel membalikkan tubuh dan nyengir lebar.

Cakka menjabat tangan Gabriel, dan keduanya pun melakukan tos ala mereka berdua. "Hebat banget lo tadi!" pujinya tulus. Gabriel hanya tertawa. Ia mengalihkan pandangan pada Ify yang bergerak gelisah di tempatnya, seperti kompilasi antara salah tingkah dan tidak nyaman.

Keduanya bertatapan cukup lama, sebelum akhirnya Ify mengulurkan tangan. "Selamat, ya!"

Alih-alih menyambut uluran tangan Ify, Gabriel malah mengambil beberapa langkah maju, dan tanpa berpikir langsung menarik Ify ke dalam pelukannya. Ify terpekik pelan. Dengan ragu, diangkatnya kedua tangannya, membalas pelukan Gabriel. Merasakan Ify membalas pelukannya, Gabriel tersenyum lega dan semakin menyurukkan wajahnya di bahu mungil Ify. Tak ayal Ify pun ikut tersenyum.

"Ehem..ehem.." Cakka berdeham. Gabriel dan Ify langsung melepas pelukan mereka berdua, berdiri kikuk tanpa berani menatap mata masing-masing.

Cakka tergelak. "Udah ah. Fy, balik ke tribun lagi, yuk. Gabriel kayaknya mau bersihin make up dulu tuh."

Ify mengangguk. Sebelum mengikuti langkah Cakka menuju tribun penonton, Ify menoleh dan menyempatkan diri untuk melambai ke arah Gabriel.

Pensi belum selesai, namun Ify memilih untuk menyepi di tempat favoritnya, bukit belakang sekolah. Sepatu hak tingginya sudah ia lepas, dan kini tergolek lemas di samping kakinya yang bersila. Ia melemaskan otot-ototnya. Kemudian tangannya mulai asyik mengutak-atik kameranya, melihat beberapa foto yang sempat ia ambil di dalam tadi. Bibirnya menyunggingkan senyum tiap kali melihat sosok Gabriel pada layar kameranya.

"Ngapain di luar?" sebuah suara bariton yang terdengar akrab mengagetkannya. Ify tidak menoleh atau pun menjawab, hanya terdiam sambil kembali melihat hasil jepretannya.

Gabriel menghela napas dan ikut duduk bersila di samping Ify. Ify melirik cowok itu sekilas. "Nggak nonton pensi, lo?" tanya Ify basa-basi.

Gabriel mengangkat bahu. "Lo sendiri?"

Senyum Ify mengembang. "Show is not my thing," jawabnya cuek.

"Tapi lo nonton drama gue."

"Bukannya gue selalu gitu ya?"

Kemudian hening. Gabriel dan Ify sama-sama tak punya sesuatu untuk dikatakan. Atau mungkin...mereka tak bisa menemukan kata yang tepat untuk mengungkapkan apa yang sedang berputar di benak keduanya.

"Fy.." panggil Gabriel lirih.

"Ya?" kali ini Ify benar-benar menoleh dan mendapati Gabriel tengah menatapnya.

"Buat yang kemarin-kemarin, maaf ya."

Ify tersenyum. Sebenarnya ia nyaris lupa kalau ia seharusnya sedang marah pada cowok di sampingnya. "Nggak papa, Gab. It's not a big deal. Lagian gue juga salah kok."

Gabriel ikut tersenyum. Ia merebut kamera Ify dan mulai membidikkannya ke segala arah. Untuk urusan potret-memotret memang Ify jagonya, tapi ia juga suka hal-hal seperti ini. Ify diam saja melihat kameranya sudah berpindah tangan. Ia tak perlu merasa khawatir Gabriel akan merusakkan kameranya. Ia selalu percaya pada Gabriel.

"Menurut lo, status itu penting nggak sih?" tiba-tiba Gabriel bertanya. Ify mengerutkan kening, memikirkan jawaban yang dirasanya pas.

"Kalo menurut gue sih penting, Gab, buat menentukan kedudukan kita di masyarakat. I mean, kita nggak bisa seenaknya masuk dapur restoran kalo kita bukan chef kan?"

Gabriel tersenyum simpul mendengar jawaban Ify. "Nah, kalo status pacaran gimana? Penting nggak?"

Ify tersentak. Kaget tiba-tiba Gabriel menanyakan hal ini padanya, padahal ia selalu menghindar setiap kali Ify menyinggung status. "Mmmm..." Ify bergumam, bingung menjawab. "Kalo bagi gue tetep penting, Gab, walaupun rasa cinta itu sendiri yang paling penting."

Gabriel menurunkan kamera Ify dan mengalungkan talinya ke lehernya. Dengan lembut, ditariknya kedua tangan Ify dan digenggamnya. Ify tak mampu berkata apa-apa. Ia hanya terpaku menatap bola mata Gabriel yang menatapnya penuh perasaan.

"Kalo gitu, let's make a deal. Gue cinta lo, dan gue tau lo cinta gue. Jadi, mulai sekarang kita resmi pacaran."

Mata Ify membeliak. Bibirnya terbuka separuh. Gabriel ini! Nggak bisa lebih romantis dikit, apa?

Gabriel meringis ketika satu tonjokan kecil mendarat di lengan kirinya. Ia hanya menggaruk tengkuknya dengan kikuk.

"Jelek banget sih lo!" gerutu Ify. Ia kembali menghadap depan dengan tangan yang disilangkan di depan dada. "Nggak romantis ah!"

Tawa pelan meluncur dari bibir Gabriel. Ia merangkulkan tangannya ke bahu Ify, mencondongkan tubuhnya, lalu mendekatkan bibirnya ke telinga Ify. "I love you and that's all I really know," bisiknya.

Ify bergidik, geli merasakan hembusan napas Gabriel di telinganya. "Udah nggak romantis, nggak kreatif juga, lagi! Itu kan lirik lagunya Taylor Swift!"

Gabriel terkekeh. Kembali ia mencondongkan tubuhnya ke arah Ify. "Yang penting kamu tetap cinta, kan?" Kemudian...cup! Sebuah kecupan ringan mendarat di pipi kanan Ify.

Ify terkesiap, refleks menyentuh pipinya dengan jemari lentiknya. Pipi itu masih hangat. Masih terasa bekas bibir Gabriel di sana. Dengan wajah memerah sampai telinga, ia memukuli tubuh Gabriel. "Jahat ih! Curi-curi kesempatan!"

Gabriel menangkap kedua tangan Ify dan mengalungkannya ke atas pundak. Didekatkannya wajahnya ke wajah Ify hingga hidung mereka nyaris bersentuhan. Muka Ify kembali memerah. "That's cute." Gabriel mengecup ujung hidung Ify dan menarik wajahnya menjauh. Ify hanya melotot kesal namun tidak melakukan apa-apa.

"Foto aja, yuk!" Gabriel melepaskan kalungan kamera Ify di lehernya dan memasangnya terbalik di depan mereka. Dengan satu tangan ia menarik tubuh Ify mendekat.

"Udah di-auto-focus-in belom?" tanya Ify dengan nada menuduh.

"Udah," jawab Gabriel sambil lalu.

Ify mendekatkan tubuhnya dan ikut tersenyum di sebelah Gabriel. Ckreeekk! Satu foto pun terambil. Foto yang akan terus menjadi kenangan manis, bersama foto-foto lain di masa depan.



TAMAT

*-*-*-*


Kritik dan saran masih selalu ditunggu. Bisa di sini atau via twitter (@dwidasept).


MUCHAS GRACIAS!

Minggu, 08 Januari 2012

Creative with Clay

Lagi ngerasa kreatif nih, tangan lagi gatel-gatelnya pengen buat sesuatu. Yap! Ini dia, beberapa hasil karyaku berkreasi dengan clay hehe. Aku tau bentuknya nggak begitu bagus, tapi nggak ada salahnya pamer di sini, kan? :p

The first one: Mini Mercedes Birthday Cake. unyu kan? :D


Yang kedua: cup cake! haha aku pernah bikin kayak gini waktu kelas 9, dan sayangnya lebih bagus dari ini u,u

#3: hot dog! gimana? :D

Terakhir nih, nasi + ayam hahaha I know, bentuk ayamnya sangat awkward -_-

Yap! that's all haha kurang kerjaan banget nggak sih? ah nggak deh, itung-itung melatih kreativitas *halah* :D

MUCHAS GRACIAS!