Minggu, 27 Mei 2012

Marry You


Sebuah BMW silver melejit melintasi jalanan Seoul yang lengang sore itu. Pemiliknya, merasa nyaman dengan kehangatan di dalam mobil, berdendang pelan mengikuti lagu yang mengalun dari seteronya. Ia melirik jam di dashboard, terkesiap, dan tanpa sadar menekan gas lebih dalam. Ia sudah terlambat.
"Oh, playboy itu pasti sudah hampir mati kebosanan," gumamnya ketika melihat mobil yang ia kenal baik terparkir di pelataran Cofioca, cafe langganannya yang merupakan salah satu cafe terkenal di Apgujeong. Beberapa kali Yoona melihat artis-artis Korea mengunjungi tempat itu. Bahkan, koleksi tanda tangan dan foto artis yang pernah mengunjungi tempat itu sudah mulai memenuhi salah satu dinding cafe.
Setelah memastikan mantel Burberry berwarna beige itu melekat di tubuhnya dengan sempurna, ia meraih tas di kursi penumpang dan keluar dari mobil. Langkahnya ringan, tidak terganggu oleh lapisan salju tipis yang mulai menyelimuti jalan.
Hembusan udara hangat menyambutnya begitu ia membuka pintu cafe. Lonceng yang berdentang pelan membuat seseorang di meja paling ujung menoleh, kemudian mendengus kesal. Dengan tidak sabar ia melambaikan tangan ke arah Yoona, wanita yang baru saja memasuki cafe. Menyeringai kecil, Yoona menghampiri Donghae, sahabatnya.
"Yah! Kau tidak tahu berapa lama aku menunggumu?" sentak Donghae begitu Yoona duduk di hadapannya. Beberapa helai rambut yang menutupi keningnya bergoyang pelan.
"Lee Donghae," Yoona berkata serius, menepuk punggung tangan Donghae seakan menggurui. "Kau tahu betapa sibuknya seorang designer. Si artis itu baru saja membuat heboh studio dengan permintaannya yang macam-macam." Wanita berkulit pucat itu tidak tahan untuk tidak memutar bola matanya.
Donghae mengerti siapa yang Yoona maksud. Tiffany Hwang, penyanyi sukses yang sekarang resmi bersedia menggunakan baju-baju karangan Yoona di segala acara. Yoona tidak suka dengan artis cantik bermata indah itu. Tidak pernah bisa praktis, katanya.
"Kau tahu," Donghae menyesap espressonya yang tinggal separuh, "jadilah sekretarisku dan aku tidak perlu kesulitan menemuimu. Plus, kau bisa menghabiskan sebagian besar waktumu dengan pria tampan sepertiku. It's an honour."
Yoona mengeluarkan suara seperti orang jijik. "Aku tidak mau repot-repot membantumu mencegah gadis-gadis itu masuk ke ruanganmu," ledeknya.
Donghae meringis. "Speaking of which, I met a girl."
Yoona mendesah, putus asa sekaligus memohon. "Tolong jangan katakan kau mengencani gadis SMA lagi," keluhnya, memijit pangkal hidungnya. Masih terekam jelas di kepala ketika rombongan anak SMA yang berisik itu tiba-tiba menyerang butiknya. Dan, Donghae belum membayar kekaucauan yang satu itu.
"Ah, kau masih kesal rupanya," kata Donghae sambil mengulum senyum.
Lalu ia merogoh kantung celananya, dan mengeluarkan kotak kecil berwarna biru dengan pita merah jambu dan menaruhnya di atas meja. "Untuk itulah aku mengajakmu bertemu. Maafkan aku, oke?" Perlahan, Donghae mendorong kotak itu mendekat ke arah Yoona.
Yoona tersenyum kecil. Ia membuka kotak tersebut. Ternyata isinya memang seperti yang sudah ia duga, charm untuk gelangnya. Sejak mereka kuliah sampai sekarang dan ditambah charm barusan, Yoona sudah memiliki 7 charm. Tangannya mulai mengeluarkan bunyi heboh ketika digerakkan.
"Lain kali kau harus memberiku sesuatu yang lain, Hae," ujar Yoona sembari memasang charm yang baru ke gelangnya.
"Jadi, siapa wanita ini?" lanjutnya.
Donghae tidak tahan untuk tidak tersenyum. Teringat kembali olehnya kepala pirang yang seksi itu. "Jessica. Aku bertemu dengannya ketika bermain golf kemarin." 
Tanpa sadar, Yoona mengerjapkan matanya. "Aku tidak pernah tahu kalau kau tertarik dengan gadis penyuka olahraga," katanya.
Donghae tertawa kecil melihat kepolosan sahabatnya itu. Di balik tubuh langsingnya yang terbentuk sempurna, Yoona tetaplah Yoona. Yoona yang ia kenal bukanlah Yoona si perancang busana, atau Yoona yang cantiknya membutakan teman-teman lelakinya. Yoona yang ia kenal adalah Yoona yang ceria, polos, dan tidak menyadari dampak yang bisa ditimbulkan senyumnya terhadap orang lain.
"Jessica tidak menyukai olahraga. Ia hanya menemani ayahnya. Kau tau Mr. Jung?"
Ketika Yoona menggeleng, Donghae melanjutkan ceritanya.
"Mr. Jung adalah pemilik perusahaan real estate Royal, yang merupakan partner baru Lee Group. Ketika mengadakan meeting kecil-kecilan sambil bermain golf, Mr. Jung mengajak putrinya yang cantik," Donghae menyempatkan diri untuk tersenyum, "Setelah mengobrol sebentar-"
"Kau berhasil mendapatkan nomornya dan mengajaknya keluar," Yoona menyelesaikan cerita Donghae.
Donghae tersenyum, tidak merasa tersinggung. Mungkin Yoona hanya terlalu hafal dengan tabiatnya. Tidak heran, Yoona adalah orang terdekatnya setelah ayah, ibu, dan adik perempuannya.
Setelah terdiam cukup lama untuk menikmati kehangatan minuman masing-masing, Yoona kembali angkat bicara.
"Kemarin Amber meneleponku. Sebenarnya aku tidak pernah mengharapkan pesanan gaun dari gadis tomboy sepertinya," Yoona bercerita.
Kening Donghae berkerut mendengar nama adik perempuannya. Amber memesan gaun? Pada Yoona? Yang benar saja! Gadis itu bahkan tidak pernah menyentuh rok sejak lahir.
"Kau mungkin heran," kata Yoona setelah melihat kerutan di kening Donghae. "Tapi percayalah, dia memang memesan gaun."
Donghae menggelengkan kepala. "Mungkin aku terlalu banyak menghabiskan waktu di kantor. Aku tertinggal banyak sekali berita tentang Amber."
Yoona menyeringai. Sepertinya Donghae melewatkan satu detail penting.
"Oh, dia tidak membutuhkanmu. Dia selalu berkata betapa bahagia dan tentramnya dirinya jika kau tidak di rumah," godanya.
Seperti yang Yoona harapkan, Donghae memberengut. Yoona tergelak. Betapa pria yang mengaku penakluk wanita di depannya ini bisa bertingkah seperti balita. Entah apa yang akan dikatakan penggemarnya di luar sana.  


Salju masih gencar turun, menimbulkan titik putih yang melayang-layang indah di udara. Semakin mendekati tahun baru, gundukan salju semakin tebal, seiring dengan makin tebalnya mantel dan jaket yang dipakai orang-orang.
Yoona sedikit tidak rela ketika ia harus keluar dari mobil, meninggalkan jok empuk dan udara hangat di mobilnya. Ia merapatkan mantelnya, lalu berjalan menuju pintu depan kediaman keluarga Lee. Donghae menyusul tak lama kemudian, juga baru saja keluar dari mobilnya.
"Cepatlah sedikit, Yoong!" kata Donghae tidak sabar ketika Yoona berjalan dengan langkah-langkah kecil karena terganggu salju.
Donghae mengulurkan tangannya dan langsung menarik Yoona untuk berlari bersamanya. Udara di luar begitu dingin, dan ia tidak mau berlama-lama berada di luar gara-gara kelambatan Yoona.
Keduanya langsung disambut pelayan Donghae yang menawarkan untuk membawakan tas serta mantel mereka. Yoona menyempatkan untuk berbasa-basi sebentar. Sudah lama sekali sejak terakhir kali ia mengobrol dengan gadis-gadis yang sebagian besar lebih muda darinya itu.
"Noona!" seseorang berseru dari tangga.
Yoona dan Donghae berbarengan mendongak, kemudian tersenyum lebar. Setengah berlari, Yoona menghampiri orang itu dan langsung memeluknya. Tawa kecil keluar dari kepala berambut pendek itu ketika tubuhnya ditabrak tubuh ramping Yoona.
"Amber!" Yoona mengecup kedua pipi Amber bergantian. "Kau tahu betapa aku merindukanmu?" tanyanya gemas.
Amber tertawa lagi, menampilkan sepasang lesung pipinya. Sudah bertahun-tahun mengenal gadis tomboy itu, Yoona masih takjub dengan kemiripan Amber dan Donghae. Mereka hampir tidak bisa dibedakan.
"Bukankah aku sering meneleponmu, Noona?"
Belum sempat Yoona menjawab, sebuah suara yang datangnya dari dapur menyelanya. "Berhentilah memanggilnya 'Noona', Amber. Kau ini perempuan!"
Yoona membalikkan badan, kemudian membungkuk berkali-kali. "Annyeonghaseyo, Mrs. Lee!" sapanya sopan.
Mrs. Lee alias ibu Donghae dan Amber, tersenyum kecil. "Panggil saja Eomma, Sayang. Kau sudah kuanggap anakku."
Yoona membungkuk sekali lagi. "Ah, kamsahamnida, Eomma."
Amber, Yoona, dan Mrs. Lee kemudian duduk di sofa ruang keluarga, menyusul Donghae yang entah sejak kapan sudah berganti pakaian. Melihat ketiga wanita penting dalam hidupnya berjalan mendekat, Donghae bergeser, menepuk-nepuk tempat di sampingnya sambil melirik Yoona, memberi gestur padanya untuk duduk di sampingnya.
"Ah, Eomma," kata Yoona tiba-tiba. Donghae mengangkat sebelah alis, tetapi Yoona mengabaikannya. "Donghae baru saja menemukan target baru."
Amber nyaris melonjak di kursinya. Matanya melebar, wajahnya menampilkan antusiasme berlebihan. Cenderung sarkastis, sebenarnya. "Jinja?! Seberapa besar otaknya kali ini?"
"Amber," tegur Mrs. Lee, menatap tajam putri satu-satunya. Kemudian ia berpaling pada Donghae. "Kuharap ini yang terakhir, Hae. Eomma tidak pernah mengaturmu dalam masalah ini, tetapi Eomma ingin kau segera menjalani hubungan yang serius. Eomma dan Appa sudah tua, tentu kami ingin melihat anak kami segera memiliki keluarga sendiri," jelasnya.
"Whoa, whoa, Eomma," Donghae mengangkat kedua tangannya. "Jujurlah padaku, kau mulai gemar menonton drama di TV lagi, kan?"
"Yah! Donghae! Dengarkan eomma mu!" Yoona memukul kepala Donghae, membuat laki-laki itu mengerang.
"Sampai kapan kau terus memukul kepalaku, Yoong?!" sebuah protes kecil yang sia-sia meluncur dari bibir Donghae.
Amber terkikik di tempatnya. "Lihatlah, cara kalian bertengkar saja sudah seperti suami-istri. Kenapa tidak menikah saja?"
Donghae memelototi adiknya, sementara Yoona mendengus kemudian memasang wajah memelas yang dibuat-buat.
"Apakah kau tega melihat unnie-mu menikah dengan lelaki setengah-setengah ini? Dia bahkan belum mengikuti Wajib Militer," Yoona mengeluh, mengusap air mata imaji di pipinya.
Amber tergelak, begitu pula Mrs. Lee. Di usianya yang sudah menginjak 27 tahun, Donghae belum juga bergabung dengan militer. Sedang mempersiapkan mental, katanya. Akibatnya, ia harus rela dijadikan bahan olokan Yoona dan adik satu-satunya yang paling ia sayangi itu.  


"Good morning, Miss Im," salah satu staf di butik Yoona, Eun Ri, menyapanya yang baru saja memasuki pintu butik.
Yoona tersenyum manis. "Good morning. Tidak ada yang sakit, kan, pagi ini?" Yoona bertanya sambil memeriksa beberapa pakaian karyanya yang dipajang di etalase.
Eun Ri menggeleng. "Semua sehat, Miss Im."
"Bagus," Yoona mengangguk puas. "Hari ini kita harus bekerja keras untuk fashion show tiga bulan lagi."
Eun Ri membungkukkan badan, kemudian berlalu dan melanjutkan pekerjaannya. Sementara itu, Yoona melangkahkan kaki jenjangnya menapaki tangga menuju studionya di lantai atas. Tangannya sudah gatal ingin memvisualkan ide-ide dalam kepalanya.
Baru ia akan menyelesaikan gambar keduanya, pintu studio diketuk dan kepala Jang Min, stafnya yang lain, muncul di pintu.
"Ada customer yang ingin memesan gaun dan ingin langsung bertemu dengan Anda," kata Jang Min.
Yoona menghela napas. Ia sebenarnya sangat berharap bahwa para pelanggannya bisa memercayai stafnya seperti halnya mereka memercayai dirinya. Tapi tetap saja masih banyak yang tidak mau jika tidak bertemu dengan Yoona secara langsung.
"Annyeonghaseyo, ada yang bisa saya bantu?" Yoona menyapa customernya ramah.
Wanita berambut pirang yang tengah sibuk melihat koleksi butik Yoona berbalik, kemudian tersenyum. "Kau pasti Im Yoona. Benar, kan?" tebak wanita itu.
"Benar sekali," Yoona menjawab ramah.
Customer harus dilayani sebaik-baiknya, meskipun customer paling bawel sekalipun. Itu adalah prinsip yang selalu ia pegang sejak dulu.
"Aku ingin memesan gaun untuk pesta pernikahan temanku. Aku belum tahu gaun apa yang harus kupakai. Kau bisa membantuku?"
Yoona baru akan menjawab ketika seseorang muncul dari balik pakaian yang berjejer. "Ini sudah jam makan siang. Bagaimana kalau masalah ini kalian bicarakan di luar saja?"
Sang perancang busana membelalakkan mata. "Yah! Lee Donghae!" teriaknya, mampu membuat staf-staf dan pelanggan menyempatkan diri untuk melihat ke arahnya. Tapi Yoona tidak peduli.
"Mengapa kau tidak memberitahuku kau akan datang?" protesnya kesal.
Donghae terkekeh. Ia maju beberapa langkah, lalu merangkulkan lengannya ke bahu wanita berambut pirang itu. Mata mirip rusa milik Yoona makin melebar.
"Omo! Jadi wanita ini yang bernama Jessica?" ia nyaris memekik, tak mampu menyembunyikan keterkejutannya.
Kali ini bukan hanya Donghae yang tertawa, Jessica pun ikut terkekeh. "Annyeong, Yoona-ssi!"
Setelah itu, mereka bertiga keluar untuk makan siang bersama. Yoona memilih untuk tidak membawa mobil dan ikut bersama Donghae dan Jessica. Yoona cukup yakin untuk tahu bahwa Donghae dan Jessica belum resmi sepasang kekasih, jadi tidak ada salahnya mengganggu mereka sedikit.
Bagi Yoona yang belum begitu mengenal Jessica, Jessica adalah wanita yang menarik. Kekurangannya dalam hal tinggi badan seolah tertutup wajahnya yang berkarisma. Oh, jangan lupa rambut pirang panjang yang memesona itu. Pantas Donghae langsung terpikat olehnya, batin Yoona sambil terkikik geli.
Donghae senang mengetahui bahwa Yoona dan Jessica membaur dengan mudah. Tidak ada sesi-sesi canggung seperti yang biasa Yoona alami dengan wanita-wanita Donghae dulu. Setelah beberapa kali pergi bersama Jessica, Donghae langsung tahu bahwa wanita seperti Jessica lebih nyaman dijadikan teman dekat. Terlebih ia juga tidak ada rencana apapun dengan Jessica semenjak pertama kali bertemu.
Toh ia sudah menemukan wanita paling tepat dalam hidupnya. Wanita yang suatu hari nanti akan ia lihat berjalan dengan gaun putih yang memesona, sementara ia menunggu dengan hati berdebar di altar. Wanita itulah yang akan pertama kali ia lihat di pagi hari. Wanita itulah yang akan menciumnya sebelum dan sesudah ia bekerja. Dan, wanita itulah yang akan menjadi ibu dari anak-anaknya.
Kupu-kupu seakan memenuhi dada dan perutnya, seperti setiap kali ia memikirkan hal yang ia yakini akan membuatnya bahagia itu. Seulas senyum menghiasi bibirnya, tanpa sadar membuat dua wanita di depannya mengerutkan kening.


Yoona merapatkan jaket tebalnya, sebisa mungkin menjaga tubuhnya agar tetap hangat. Hidungnya sudah memerah, dan ia bisa merasakan telinganya mulai membeku. Yoona mengerang, merutuki dirinya yang ceroboh tidak membawa earpuff di saat musim dingin yang parah ini.
Dengan gusar, Yoona memeriksa ponselnya. Tetap tidak ada balasan sms dari Donghae. Ia tidak membawa mobil hari ini sementara malam semakin larut. Di saat-saat seperti inilah kehadiran playboy itu sangat ia butuhkan. Tetapi, Donghae belum juga membalas smsnya. Ditelepon juga tidak diangkat.
Tidak ingin menyerah, Yoona menekan tombol 3 pada ponsel layar sentuhnya. Ia menunggu dengan sabar, berdoa dalam hati Donghae akan mengangkat teleponnya kali ini.
"Yeoboseo...?" Akhirnya Donghae mengangkat telepon.
Yoona mengeryitkan kening mendengar suara sengau Donghae. Ia juga yakin sempat mendengar suara batuk dari seberang sana.
"Are you okay?" tanya Yoona khawatir. Dingin yang menyelimutinya seakan tidak ia rasakan lagi.
Tedengar suara seseorang mengulap ingus. Kerutan di dahi Yoona makin banyak. "Donghae?"
"Aku...uhuk!!"
Dengan itu, Yoona langsung berkata, "Aku segera ke tempatmu."
Ia menyegat taksi yang pertama kali ia lihat. Dengan tergesa ia menyuruh supir taksi untuk mengebut, yang langsung ditolak mentah-mentah karena jalan sedang licin tertutup salju. Gelisah, Yoona menatap jalanan di luar jendela, berharap perjalanan ini tidak akan memakan waktu lama. Donghae jarang sekali sakit, dan membayangkan sahabatnya itu terbaring lemas di tempat tidur adalah hal terakhir yang diinginkannya. 


Yoona sering melakukannya, namun kali ini ia benar-benar mengutuk Donghae karena pindah ke apartemen yang baru disewanya beberapa hari lalu. Dengan begitu ia harus hidup sendiri, mengurusi semuanya sendiri. Dan, di saat ia terbaring tak berdaya dengan bekas tisu di sekelilingnya, tidak akan ada yang membantunya. Tidak ada Mrs. Lee yang bersedia mengompresnya dan menungguinya semalaman.
Donghae tersenyum lega ketika pintu kamarnya menjeblak terbuka, dan Yoona, dengan wajah khawatir, langsung menyerbu ke arahnya. Ia juga hanya diam sambil mengamati wanita itu membersihkan tisu yang berserakan di tempat tidurnya.
"Kau akan mendapatkan balasan karena telah membuatku khawatir, Fishy," desis Yoona sambil membenarkan selimutnya, memastikan bahwa selimut tebal itu menutup rapat tubuh Donghae kecuali kepala.
"Berbaik hatilah pada pasienmu, Suster."
Yoona menggerundel pelan. Ia beranjak ke dapur, menyiapkan air es dan handuk kecil untuk mengompres Donghae. Ia juga menyempatkan diri untuk mengambil sebutir obat penurun panas yang untungnya tersedia di kotak obat apartemen si playboy.
Donghae memejamkan mata ketika Yoona duduk di samping tempat tidurnya. Namun Yoona tahu Donghae tidak tidur. Dengan lembut, Yoona mulai menempelkan handuk basah ke kening Donghae. Panas tubuh Donghae membuat handuk itu cepat menghangat.
"Kau ini kenapa? Terlalu banyak pekerjaan di kantor?" Yoona bertanya, masih mempertahankan kelembutannya.
Perlahan Donghae membuka mata, walau ia sudah setengah terlelelap. Ia tidak akan melewatkan Yoona yang seperti ini, yang khawatir dan lembut dengan sisi keibuan yang jarang ia perlihatkan.
"Mungkin aku merindukan rumah," kata Donghae mencoba bercanda. Tapi Yoona tidak tertawa. Ia menatap Donghae sebentar, kemudian memalingkan wajah.
"Minumlah obat ini." Yoona menyodorkan segelas air putih dan sebutir obat. "Kau tidak perlu makan. Aku juga tahu kau tidak mau makan apapun jika sedang sakit."
Setelah setengah duduk untuk meminum obat, Donghae berbaring lagi. Ia baru akan terlelap ketika merasakan tangan Yoona menggenggam tangan kirinya.
"Aku ada di sini, Hae-yah," kata Yoona sambil tersenyum. Lama berteman dengan Donghae membuatnya tahu bahwa Donghae tidak akan bisa beristirahat ketika tidak ada yang menggenggam tangannya ketika ia sakit.
Donghae ikut tersenyum, menggumamkan terima kasih lirih, kemudian terlelap dengan tenang. 


Mungkin Donghae harus menandai kalender. Hari ini adalah hari bersejarah baginya. Untuk pertama kalinya selama hampir dua minggu ini, akhirnya ada yang menggunakan dapur di apartemennya. Selama ini ia selalu makan di luar. Kemudahan mendapatkan makanan cepat saji membuatnya tidak perlu repot-repot mengotori dapurnya yang bernuansa karamel itu.
Tersaruk-saruk keluar dari kamarnya, Donghae bisa merasakan bau lezat sup kimchi di udara. Ia menghirupnya dalam-dalam. Air liurnya hampir menitik.
Di dapur, Yoona tengah berdiri membelakanginya, menghadap kompor. Rambutnya ia ikat asal-asalan, menampakkan bagian belakang leher jenjangnya yang dihias tali celemek. Donghae tidak tahan untuk tidak tersenyum. Mengabaikan hatinya yang menghangat, Donghae menghampiri Yoona.
"Kau sudah sehat?" Yoona bertanya tanpa membalikkan badan. Donghae bahkan belum sempat mengagetkan wanita itu.
"Ugh. You're no fun!" Donghae menggerutu, menjatuhkan pantat di kursi di depan counter.
Terdengar tawa kecil Yoona. Ia mematikan kompor, lalu membawa panci kecil berisi sup ke meja makan. Asap yang mengepul dari sup itu mengenai wajah Yoona, membuat kulit mulus itu sedikit berminyak. Dan, Donghae, seakan terpaku di tempatnya, merasa bahwa pemandangan itu adalah pemandangan terindah dalam hidupnya.
"Kau akan tetap duduk di sana dan melihatku makan?" tanya Yoona sambil melepas celemeknya. Mangkuk, sumpit, dan sendok sudah tertata dengan rapi di meja makan Donghae yang harus ia bersihkan dulu sebelum dipasangi taplak meja.
Donghae mengerjapkan mata, tersadar dari lamunannya. Setelah itu, keduanya makan pagi bersama.
Donghae menyerutup kuah sup dan langsung mendesah puas. "Yaaah, sering-seringlah memasak untukku, Yoong," katanya sambil menyiduk sup ke mangkuknya sendiri.
Yoona mencibir. "Aku ini orang sibuk. Lagian kau bisa minta gadis-gadismu memasakkan apa saja untukmu," balas Yoona pedas.
Donghae menyeringai. Ia menurunkan sumpitnya, memajukan badannya mendekat ke arah Yoona. "Kau...cemburu?" Memiliki pikiran bahwa Yoona mungkin cemburu membuatnya senang mendadak.
"Pfff.." Yoona mendengus. "Dream on, playboy!" bentak Yoona yang berhasil membuat Donghae tergelak.
Selesai menyantap habis sarapannya, Donghae menyandarkan tubuhnya sambil mengelus perut yang sekarang telah penuh. Ia menatap Yoona yang tengah menandaskan jus jeruknya. Donghae terkekeh melihat cara Yoona menghapus sisa-sisa jus di bibirnya, mengingatkannya pada salah satu keponakannya yang masih balita. Cute.
"Kau tahu?" Donghae membuka suara, membuat Yoona mendongak menatapnya.
Donghae pun melanjutkan. "Hidup akan lebih mudah kalau kau jadi istriku."
Tak ada yang berbicara setelah itu. Keduanya saling tatap, dengan pancaran mata yang berbeda. Yoona menatap Donghae tajam, sementara mata Donghae memancarkan senyum yang tidak terpatri pada bibirnya.
Yoona-lah yang pertama kali memalingkan wajah. Ia bangkit dari kursinya. "Kau sudah sehat kan? Cucilah semua ini," ia berkata tanpa menatap ke arah Donghae.
Yoona beranjak dari meja makan, meninggalkan Donghae yang menghembuskan napas berat dan panjang.


"Ternyata kau tampan dengan rambut pendek seperti ini." Yoona tersenyum geli, mengelus rambut Donghae yang masih asing untuknya.
Donghae bergumam tidak jelas, kembali memakai topi tentara miliknya, menutup kemungkinan Yoona dan Amber untuk meledeknya lagi. Yoona, masih mau menjaga perasaan Donghae, hanya tersenyum untuk menutupi tawanya. Sementara Amber malah sudah tergelak hingga jatuh terduduk di sampingnya. Donghae sampai harus mengetuk kepala adiknya itu agar segera menghentikan tawanya sebelum mereka menjadi pusat perhatian.
"Kalau seperti ini, masih adakah gadis yang terpikat olehmu, Hyung?" ledek Amber tak henti.
Kali ini Yoona menyikut tulang rusuk Amber, menatap galak adik Donghae, menyuruhnya untuk berhenti. Amber langsung berdiri tegak, membungkukkan tubuhnya berkali-kali.
"Maafkan aku, kakak ipar," katanya hormat. Yoona dan Donghae mendengus bersamaan.
"Eomma, Appa, doakan aku," Donghae berpamitan pada kedua orang tuanya yang menatapnya haru.
Mrs. Lee memakaikan ransel tentara pada bahu Donghae, mendadak ingin menitikkan air mata. "Sampai ketemu dua tahun lagi, anakku," kata Mrs. Lee.
Ia memang terharu, tetapi lebih merasa haru lagi ketika Donghae datang menemuinya dan mengatakan bahwa ia akan mengikuti Wajib Militer tahun ini, lalu langsung menikah setelah ia kembali nanti. Dengan Yoona. Ya, dengan Yoona. Wanita yang diam-diam memang diinginkannya untuk menjadi menantunya. Hanya saja Yoona belum tahu rencana ini.
Selesai berpamitan dengan keluarganya dan harus kembali mendapatkan ledekan dari Amber, Donghae menghampiri Yoona yang sengaja berdiri menjauh. Diraihnya kedua tangan Yoona, dan digenggamnya hangat. Ia menggenggam tangannya lama sekali, seakan berharap agar genggaman itu cukup untuk membuatnya bertahan selama dua tahun tanpa kehadiran wanita impiannya.
Ditelusurinya wajah Yoona. Disentuhnya kening cantiknya yang sangat Donghae sukai, matanya yang seperti mata rusa, hidungnya yang mudah memerah jika kedinginan, pipinya yang putih mulus bak pualam, dan terakhir bibirnya. Bibir tipis yang membentuk lengkung khas saat ia tersenyum. Bibir yang sering meluncurkan serentetan makian ketika Donghae membuatnya kesal. Donghae akan sangat merindukan semua ini.
Donghae merogoh sakunya untuk mengambil sesuatu, namun tidak melepaskan genggaman tangannya. Ketika kotak beludru merah kecil berada di genggamannya, Yoona terkesiap. Jari-jari lentiknya menutupi mulutnya yang terbuka lebar.
"Harusnya kau tidak terkejut lagi, Yoong. Aku tahu kau sudah tahu hal ini akan terjadi sejak lama," Donghae berkata ringan, membuka kotak itu yang berisi cincin dengan berlian mungil yang berpendar indah.
"Kau akan menjadi Mrs. Lee Yoona dua tahun lagi. Kau sudah siap, kan?" tanya Donghae tenang, walaupun hatinya berdebar kencang. Bagaimana kalau Yoona menolak lamarannya?
Dan ketika Yoona mengangguk, itu adalah saat terindah dalam hidupnya, menyingkirkan adegan memasak di dapurnya beberapa waktu lalu dari posisi pertama. Dengan perasaan membuncah, ia memasangkan cincin di jari Yoona, lega ketika cincin itu terpasang dengan pas.
Direngkuhnya tubuh gadis itu ke dalam pelukannya. Ia bisa merasakan sekelilingnya berputar, menampilkan gambar blur yang tidak jelas. Di belakangnya, kembang api bermunculan dengan indah.
"Kau ingat pesanku selama ini, kan?"
Yoona mengangguk, melepaskan pelukan Donghae, kemudian menghapus air mata bahagianya. "Never date anyone, safe yourself for me," katanya, menirukan pesan yang selalu Donghae berikan padanya selama ini. Pesan yang ia anggap tidak serius, tapi entah mengapa ia patuhi.
Donghae menghapus sisa air mata di pipi Yoona, mendekatkan wajahnya untuk mencium kedua mata indah itu. "I love you."
Yoona menempelkan dahinya pada dahi Donghae, membuat keduanya bertatapan. Tersenyum, ia menjawab, "I love you too."

-END-

So, this is my new YoonHae fanfict. I ship them hard kekeke :D Too bad Yoona couldn't attend SMTown Live in LA, which means no YoonHae moment at all :( I really hope they will secretly show their love again in public, like stealing glance etc :)
And for those who are longing for Fight for Love, I'm truly sorry I can't continue it as fast as you want. I don't read Icil FF recently, so I think the feeling is gone. But don't worry, I'm still gonna continue it. I'm trying hard to work on it now. Just give me some support, okay? And I hope I'll get my feeling back.
What do you guys think about this? :) I already made a YoonHae FF before, and it was in English. I wanted to make another one in English too but I was not really into it. So I decided to post this one. Give me some comment, okay?

Saranghae! <3