Kamis, 19 Desember 2013

Yoona and Wedding Dresses


Seriously, guys, what is it with Yoona and wedding dresses? She's married 3 times (in 'You Are My Destiny', 'Love Rain', and lately 'Prime Minister and I') within 5 years. She wore wedding dress in her first solo performance for GG Asia Tour ('Introduce Me a Good Person'). Oh, and in Acebed CF too! LOL. She sure has a thing for wedding dresses, no? She always looks stunning in any wedding dresses anyway, making me wonder what will she look like in her own wedding wearing her own wedding dress :)
Oh and have you watch 'Prime Minister and I'? You have to watch it! It's good, hilarious, and it's seriously a breath of fresh air. Despite the 20 years age gap, Yoona and Lee Bum Soo still manage to have a good chemistry. And don't forget Yoon Si Yoon! That guy is gonna make it on my list of favorite Korean actors. He's sooooo handsome and lovely ooohh I think I have a little crush over here <3 i="">
Make sure to watch it every Monday and Tuesday, okay? You won't regret it! :D

Senin, 18 November 2013

Watercolor Nail Art

Dari dulu udah pengen banget nail art. Akhirnya cari-cari video tutorial nail art dan berhasil mempraktikkan! Yay! Tapi, berhubung gak boleh pake kuteks (kan sholat :D), akhirnya aku pake cat air aja. Hahahaha kalo kata temen aku sih dibilang kurang kerjaan tapi lumayan kan siapa tau bisa buka usaha nail art beneran suatu hari :P
Nah, alat-alat yang aku pake ini nih:


1. Cat air
2. Kuas ukuran 1
3. Palet
4. Air secukupnya
5. Dotting tools (alat buat bikin polkadot. Berhubung aku gak punya, aku pakenya tusuk gigi, jarum pentul, dan bagian pangkal kuas, dipake sesuai kebutuhan.)
6. Cutton bud (buat membersihkan kalo ada cat yang keluar dari kuku)

Kalo udah lengkap, let's begin! Hari ini aku udah bikin 3 varian (?) nail art nih :)

1. Starwberry



2. Strawberry ice cream with chocolate sauce and sprinkles (ini kok rada-rada failed ya -_-)



3. Catching Fire
Salah warna dasar, btw. Harusnya kuning, biar kerasa efek terbakarnya. Lupaaaa tadi malah pake putih -__-



Ohiya btw aku belajar nail art ini dari channel cutepolish di youtube. Bagus-bagus dan gak susah deh, dijamin!
Ayo belajar nail art dari sekarang buat pecinta nail art, biar gak usah bayar orang buat mempercantik kuku :p

See you!

Senin, 11 November 2013

Cinta yang Lebih Besar

Ini cerpen bikinan aku belum lama ini, buat tugas bahasa Indonesia hahahaha I thought, kenapa nggak post di blog aja? Enjoy! :)

*****



Suara tawa tidak terdengar lagi. Kaki-kaki kecil yang digunakan untuk berlari seharian tadi sudah tersembunyi dengan aman di bawah selimut. Matahari sudah kembali ke pelukan cakrawala dua jam yang lalu, dan kini saatnya Kania mengantarkan malaikat kecilnya ke alam mimpi. Si sulung, Alika, masih tersenyum mengingat cerita putri dan pangeran katak yang baru saja dibacakan sang bunda. Sebelah tangannya memeluk Alki, adiknya, yang sudah terlelap sejak tadi. Setelah membimbing si kecil Alika berdoa, Kania mengecup dahi kedua anaknya. Kecupan kali ini lebih lama dari biasanya. Ia berusaha sekuat tenaga menahan rasa sesak yang tiba-tiba menyergap ketika bibirnya bersentuhan dengan kulit lembut anak-anaknya. Ya Allah, batinnya, bagaimana hamba bisa bertahan tanpa mereka?
Kania berjalan menuju ruangan di sebelah kamarnya dan mendapati Bara masih terjaga dengan sketsa bangunannya. Ada proyek besar menanti di depan mata suaminya itu, dan ia menjadi lebih sibuk beberapa hari ini. Sebagian besar waktunya di rumah ia habiskan di ruangan ini, bahkan anak-anak pun tadi diajaknya menggambar di sini. Kania menatap punggung suaminya sedih. Ia tahu, menyibukkan diri adalah salah satu cara Bara untuk lari dari segala penat barang sejenak.
Kania ingat betul sejak kapan suasana rumahnya menjadi biru, walaupun ia dan Bara tak pernah lupa meyediakan suasana yang lebih ceria untuk kedua anaknya. Pagi dan siang hari mereka habiskan seperti sebuah keluarga bahagia; Bara mengajari Alki menyusun balok warna-warni, Alika membantu Kania membuat cup cake di dapur dan wajahnya akan berlumuran tepung beberapa jam kemudian. Namun, ketika pintu kamar anak mereka sudah tertutup, hanya kesunyian yang menemani mereka. Saling memandang dalam diam, saling memeluk tanpa suara. Begitu banyak yang ingin disampaikan tetapi tidak ada satupun yang keluar dari bibir mereka. Hanya dengan menatap mata masing-masing, mereka tahu mereka sedang berbagi kesedihan yang sama.
"Sudah bertemu pengacaramu?" tanya Bara tanpa membalikkan tubuh. Kania sama sekali tidak bersuara, tetapi Bara bisa merasakan kehadirannya. Hal itu adalah salah satu alasan mengapa Kania mencintainya.
Kania tidak menjawab. Ia berjalan mendekat, melingkarkan kedua tangannya di leher sang suami dari belakang. Bara menghela napas panjang, luluh dalam kehangatan Kania. Percakapan tanpa suara kembali terjadi. Kania mengeratkan pelukannya, merasakan betapa kurusnya suaminya sekarang. Pria itu kehilangan beberapa kilo semenjak kedatangan kakak perempuan Kania, Kayla.
Ya, kedatangan kakak perempuannya yang berujung pada kesedihan mereka saat ini. Kayla yang sangat ditunggu-tunggu kehadirannya karena tidak sempat menghadiri pernikahan mereka lima tahun lalu, justru malah membawa petir pada kehidupan rumah tangganya hanya dua hari setelah ia menginjakkan kaki di rumah mereka. Kayla sendiri sebenarnya sudah merasakan kesedihan yang mendalalam bahkan sebelum ia menyampaikan berita itu pada adiknya. Wajah Bara yang menyambutnya dengan ramah justru malah menghancurkan hatinya saat itu.
"Kalian adalah saudara sesusu." Kania masih ingat mata kakaknya yang mulai berkaca-kaca ketika ia harus mengungkapkan kenyataan pahit itu.
Kayla kemudian bercerita bagaimana ia mengumpulkan informasi selama ia berada di sana, memastikan dugaannya. Benar saja, ibu Kayla pun menceritakan semuanya. Dulu, setelah Bara lahir, ibunya tidak sanggup untuk menyusui. Akhirnya, karena tidak tega, ibu Kayla dan Kania memutuskan untuk menyusui anak itu. Ketika Bara datang ke rumah mereka untuk melamar Kania, orang tua Kania sebenarnya sudah tahu bahwa Bara adalah saudara sesusu dari anak-anaknya. Namun, tidak ada yang tahu bahwa dalam agama Islam, saudara sesusu diharamkan menikah.
Kania mengurung dirinya di kamar setelah mendapatkan berita itu. Ia menyesali semuanya. Menyesali kedua orang tuanya yang tidak memiliki fondasi agama yang cukup kuat, menyesali semua kebenaran yang datang terlambat, tetapi ia sama sekali tidak menyesali pertemuannya dengan Bara yang membawa mereka sampai di sini. Ia tidak menyesali telah melahirkan dua malaikat kecil yang kini selalu mewarnai harinya. Dan kini, ketika perpisahan sudah membayang di hadapan mereka, Kania dan Bara memutuskan untuk tetap saling menguatkan.
Bara masih tenggelam dalam kehangatan yang diberikan istrinya ketika ekor matanya menangkap sebuah amplop di meja kerjanya. Ia mengangkat benda segi empat itu, menimbang-nimbangnya dengan heran. Kayla mengulurkan tangan, dengan lembut merebut amplop itu dan membuka isinya.
“Ini adalah surat yang aku tulis untuk Alika dan Alki,” jelasnya. Jarinya yang lentik mulai membuka lipatan kertas di dalam amplop, tahu bahwa suaminya juga ingin mengetahui isinya.
“Untuk Alika dan Alki, malaikat hidup Ayah dan Bunda,” Kania mulai membaca. Belum apa-apa, kristal-kristal sudah terbentuk di kedua bola matanya yang indah.
“Ketika kalian membaca ini, kalian pasti sudah dewasa, dan kita tidak bisa berkumpul bersama-sama untuk melihat perkembangan kalian. Ayah mungkin sedang berada di suatu tempat di belahan bumi lainnya, merindukan kalian, merindukan Bunda. Sementara Bunda mungkin sedang sibuk mencuci, memilah-milah kaus kaki kalian yang bau dan kumal, sambil memikirkan menu makan malam untuk kita bertiga.”
Bara menggenggam sebelah tangan Kania, menguatkan wanita itu dan member gestur padanya untuk lanjut membaca.
“Anak-anakku, maafkan Ayah dan Bunda. Kalian pasti masih menyimpan luka akibat perpisahan kami berdua bertahun-tahun yang lalu. Hati kalian pasti menyimpan berjuta tanya, mengapa Ayah harus pergi dan mengapa kita hanya tinggal bertiga setelah itu. Kami tidak pernah bisa member penjelasan saat itu, tetapi, kini, saat kalian sudah dewasa, Bunda yakin kalian akan mengerti.
Dulu, Ayah dan Bunda tidak pernah tahu bahwa kami adalah saudara sesusu, sampai bibi kalian datang dan memberi tahu kami. Dalam Islam, pernikahan antara saudara sesusu adalah haram. Nenek dan kakek kalian tidak pernah tahu ini, Sayang. Mereka tidak melarang kami untuk menikah waktu itu. Karena itulah, ketika kami akhirnya tahu, satu-satunya jalan terbaik untuk kami adalah berpisah.
Jangan pernah berpikir bahwa Ayah dan Bunda tidak menyayangi kalian, Anakku. Kami sangat menyayangi kalian, lebih dari hidup kami sendiri. Namun, cinta kami pada Tuhan ternyata lebih besar. Kami harus berpisah, demi cinta kami pada Tuhan.
Anakku, Ayah dan Bunda tidak pernah menyesal melahirkan kalian. Malah, kalian adalah anugrah terindah yang Tuhan pernah berikan pada kami. Bunda sangat mencintai Alika dan Alki, begitu juga dengan Ayah yang saat ini tidak berada di tengah-tengah kita. Cinta kami pada kalian tidak akan pernah berkurang, walaupun kita tidak bisa selamanya bersama.
Bunda harap kalian mau memaafkan kami, berdamai dengan luka di masa lalu, dan mulai menerima keadaan dengan hati yang lapang mulai sekarang. Maafkan Ayah dan Bunda, Sayang.
Dari orang yang paling mencintai kalian, Ayah dan Bunda.”
Bara tidak menyadari tetes demi tetes air mata telah mengalir di kedua pipinya. Kania sendiri terduduk lemas dengan napas tercekat dan hati yang terluka. Isakan keduanya terdengar samar-samar, tidak mampu menutup luka yang menganga lebar. Setiap tetes air mata yang jatuh ke bumi adalah kekecewaan, dan setiap isakan adalah sayatan panjang dalam hati mereka.
       Dengan lengan gemetar, Bara menarik Kania ke dalam pelukannya. Kania menyerah, membiarkan semua yang telah dipendamnya tumpah malam ini. Ia bisa merasakan pelukan suaminya yang mengerat, seakan-akan tidak pernah sanggup melepaskannya. Mereka tahu, setelah mereka sama-sama melepaskan dekapan, keduanya tidak akan lagi bisa menjangkau satu sama lain.

Selasa, 29 Oktober 2013

Yoona and Sehun being All Adorable

Thumbs up for Yoonhun moments in SMTOWN Tokyo! You can see in these picture and gif here that Sehun was dragging Yoona into the water fountain everyone was running away from. Naughty Sehun is just naughty :p And he didn't just grab her by the wrist but then ENCIRCLED HIS HAND AROUND HER UPPER ARM.



AND LOOK AT THE LAST PICTURE! Yoona was tapping Sehun's back and he was whispering something to her awwwwwwwwww I have no idea where his right arm was, though. Could it possibly in Yoona's waist? :)))
They are so cute together, and definitely very close to one another. Enuff said.

Rabu, 09 Oktober 2013

Taecyoon

Great, Taecyeon-Yoona (Taecyoon) mess my OTP list with this.

  

Damn. They look like they're in their own world, speaking in their own language with no words are said. 


p.s Yoonhae is still number 1, though :)

Senin, 30 September 2013

Pindahan!

Okeeee tiba-tiba pengen bikin blog baru hihi. Blog baru ini khusus buat FF Korea ya, dan namanya pake nama pena aku (gaya sekarang udah pake nama pena). Jadi, yang nyari FF Yoonhae atau Changyoon dll di sini udah gak ada, udah aku pindahin ke blog baru aku. Monggo, silakan berkunjung.
Love you guys! :)

Pen Name

I never really considered some possibilities to have a pen name. I mean, I thought I could always use dwidasept. But yeah, having a pen name would be great, right? It would be so cool when people recognize you by your pen name. So, this is what I came up with:
Hime Lee
I didn't have much thought about getting this name. Why Hime? Because it means princess in Japanese (all thanks to Jess for the Japanese references). And why Lee? I don't really know. Is it because Lee is Donghae's surname? LOL I sound so shallow. But seriously, who don't want to have Donghae's surname? :)
A pen name is actually a secret wish you carry in your writing, right? So, with Hime Lee, I wish I could be....Donghae's princess? *fangirling* Or maybe I want to be the one who bring him to his princess, although she hates that 'princess' and 'prince' affectionate nickname *cough cough* (You know who I mean, don't you? Watch SNSD's Romantic Fantasy to find out! :p)
See you on my next writing! :D

Senin, 09 September 2013

Yoonhae Deprived

It's been a long time since the last time I posted something here. Feel the sudden need to go blogging tonight. School has been crazy with stressful daily tests and everything. (Okay, the last part is irrelevant, lol)
Soooooooooooo I just watched Yoonhae moments on Youtube and I feel like gaaaaaahh I miss this couple, I miss their moments. I just miss them so much that I want to cry. This sounds ridiculous, I know, but I can't help it!!! Okay I will share what I just watched. It was Yoonha moments in SMTOWN Jakarta, last year. You can watch it on youtube through Oleracea's channel or you can just read this. So, in the video, Yoona and Donghae were being all adorable. When I say adorable it means sooooo freaking adorable. They splashed water at each other's face, Donghae chasing Yoona around and when he caught her, he PUT HIS ARMS AROUND HER SHOULDER. I can say that is the most affectionate Yoonhae moments (that was caught on camera) I've ever seen so far. I'm crying rainbow.
Oh, and have you seen this? Identical shoes, oh my God!


Just when I thought it was enough, Donghae updated his instagram! The capture said "Nice shoes :)" YES DONGHAE YESSSS THOSE ARE VERY NICE SHOES :"))


Enough for tonight. I'm just tired of understanding physics. Daily test tomorrow wooooooooo what can be worse.
Bye!


Sabtu, 27 Juli 2013

The Tale of You and I : Polaroid



Sudah lama Gabriel tidak berjalan-jalan sendiri. Dengan kamera Polaroid di tangannya dan headset menyumbat kedua telinganya, ia membiarkan kakinya melangkah ke manapun mereka mau. Mulai dari taman dekat rumahnya yang begitu ramai dengan anak-anak, sampai gereja tua di seberang jalan tak luput dari bidikan kameranya. Foto-foto yang tercetak kini sudah tersimpan rapi, memenuhi album foto yang selalu dibawanya. Melihat albumnya yang mulai penuh, ia tersenyum puas. How he loves capturing every memory.
Begitu asyiknya ia tenggelam dalam salah satu hobinya, sampai-sampai ia tidak menyadari sosok yang sangat familiar baginya sedang bersiap menyeberang jalan untuk menghampirinya. Di tangan gadis itu tergantung kantong plastik putih dengan logo salah satu supermarket terkenal. Matanya mengerling jenaka, memperhatikan Gabriel yang belum juga sadar akan kehadirannya.
Gabriel baru mengeringkan foto yang baru saja tercetak ketika pundaknya ditepuk dari belakang. Senyum lebar otomatis menghias wajahnya ketika dilihatnya sepasang mata cokelat yang selalu berhasil membuat hatinya berdesir.
"Hai," Ify berucap pelan, seulas senyum tipis terpatri di bibirnya. Semenjak surat ungu yang ia terima minggu lalu, ia selalu mengingatkan dirinya untuk lebih banyak tersenyum. Banyak tersenyum memang sangat bukan dirinya, tetapi entah mengapa ia menyukai dirinya yang baru.
Gabriel tersenyum makin lebar, menurunkan kameranya agar bisa memandang Ify lebih jelas. "Hai juga," sapanya balik.
"Ngapain di sini sendirian?" tanya Ify.
Gabriel mengedikkan bahu, mengangkat kembali kameranya tanpa perlu repot-repot menjelaskan pada Ify. Ify mengangguk mengerti, tanpa sadar ikut memerhatikan objek foto Gabriel selanjutnya; seorang anak kecil yang tampak begitu bahagia dengan gulali di tangan kanannya.
"Pernah makan gulali?" tiba-tiba Gabriel bertanya.
Ify sedikit terlonjak. Ia menggeleng dengan bibir mengerucut. "Nggak suka manis," jawabnya.
Mata Gabriel membeliak. Jadi, selama belasan tahun hidupnya, gadis ini tidak pernah makan gulali? Ia jadi teringat gulali yang sering dibelinya setiap akhir pekan ketika ia masih kecil, yang selalu berhasil membuatnya merasa menjadi manusia paling bahagia di planet ini. Bagaimana mungkin gadis ini bisa tidak makan gulali ketika mungkin teman-teman sebayanya sedang merengek-rengek meminta dibelikan makanan manis satu itu?
Gabriel tersadar dari lamunannya ketika tiba-tiba ia merasakan hawa dingin pada punggung tangannya. Ia menatap botol minuman dingin yang menempel di kulitnya, kemudian mengangkat kepala untuk beradu pandang dengan Ify. Cepat-cepat Ify mengalihkan pandangannya. "Lo pasti haus," katanya cepat dengan suara pelan. Gabriel bisa melihat Ify berusaha untuk terdengar tidak peduli.
Waktu berjalan begitu cepat. Tanpa sadar, matahari sudah tinggi, memancarkan sinar teriknya tanpa ampun. Gabriel mengelap keringat di dahinya, dan matanya langsung tertumbuk pada gadis yang sedang berjalan di sebelahnya. Tadi ia berhasil menyeret Ify untuk ikut bersamanya, berjalan-jalan sekaligus memotret apa saja. Sepanjang jalan, gadis itu rajin protes dan mengeluh kalau cuaca sudah semakin panas. Gabriel tidak bisa menahan tawa melihat Ify terus mengipasi wajahnya yang merah padam. Merasa kasihan karena Ify sepertinya benar-benar tidak tahan panas, Gabriel mengajaknya duduk di salah satu bangku taman yang terlindungi oleh pohon besar. Begitu sampai di sana, Ify langsung menenggak minuman dingin yang dibawanya sambil tak henti mengomel pada Gabriel.
"Sori deh," Gabriel meringis, mengulurkan tangannya untuk menyingkapkan poni lepek gadis itu dari dahinya.Ify mendengus, tetapi Gabriel tahu ia tidak benar-benar marah.
Pandangan Ify jatuh pada album foto Gabriel, dan tangannya tiba-tiba terulur untuk mengambilnya. Ify membuka-buka album itu, menelusuri satu demi satu foto yang terselip rapi. Gabriel ikut melihat dari balik bahu Ify, dalam hati merasa bangga akan hasil karyanya. Namun, pemandangan di sampingnya nyatanya lebih menarik perhatiannya.
Dengan rambut tergerai yang jatuh dengan indah menutupi sebagian wajahnya, Ify kelihatannya tidak sadar kalau Gabriel sudah mengangkat kameranya, tidak tahan untuk tidak mengabadikan momen itu. Bunyi shutter terdengar nyaring di taman yang sepi, dan Ify cepat-cepat menoleh, mengernyit tidak suka. Gabriel melempar tanda peace dengan jari tengah dan telunjuknya, keder juga melihat tatapan galak Ify.
"Ngapain barusan?" tanya Ify judes.
Gabriel hanya menunjukkan fotonya yang sudah kering sambil meringis tak berdosa. Ify menghela napas panjang, menggelengkan kepala. Tiba-tiba sebuah ide terlintas di kepala Gabriel, membuatnya tersenyum lebar, puas akan ide briliannya. Perlahan, ia menggeser tubuhnya lebih mendekat ke arah Ify, membuat kerutan di kening gadis itu makin dalam. Gabriel menatapnya jahil, tampak tidak peduli dengan wajah galak Ify dan omelan yang siap keluar dari bibir gadis itu.
Semuanya terjadi begitu cepat ketika tiba-tiba Gabriel melingkarkan tangan kanannya di bahu Ify, dan tangan kirinya memegang kamera, mengarahkannya ke wajah mereka berdua. Ify masih memandang Gabriel kaget, dengan mulut terbuka separuh dan mata membeliak, ketika Gabriel menekan tombol shutter. Sedetik kemudian, sebuah foto keluar. Gabriel mengipas-ngipasnya sebentar, lalu tersenyum ketika melihat hasilnya. Di dalam foto itu, ia tersenyum lebar, sedangkan Ify menatapnya kaget. Gabriel tidak bisa lagi menahan tawanya.
"You look cute," ujarnya gemas, satu tangannya mengacak-acak poni Ify.
Tidak suka dibilang imut, Ify mengerang jengkel, menyingkirkan tangan Gabriel yang masih nangkring di pundaknya. Gabriel tampak tidak peduli, ia sedang terlalu sibuk mengamati foto itu.
"Ini bakal jadi foto favorit gue." Ify mengerjap. Gabriep menoleh ke arahnya, tersenyum dalam hati ketika melihat pipi Ify mulai memerah. Kali ini ia yakin bukan karena sinar matahari. Gadis ini bisa tersipu juga ternyata, batinnya geli.
Ketika Ify diam membisu, Gabriel melanjutkan, "Let's make more memories from now on, shall we? Starting with this." Gabriel mengibaskan foto polaroid barusan di depan wajah Ify.
Dan Ify tidak tahu bagaimana cara menghentikan degupan sekuat kuda dari dalam dadanya.

Rabu, 05 Juni 2013

Almost



What happened to us? We were almost there.

Mereka berdua seperti bulan dan bumi. Saling mengawasi, bergerak dengan sinkron, tetapi sebesar apapun gravitasi di antara mereka, keduanya tidak pernah saling bersinggungan. Ketika Ify berada di salah satu sudut kantin, duduk menikmati makan siangnya di tengah-tengah teman-temannya, Alvin berada di sudut lain, menganggurkan siomaynya untuk mengagumi pemandangan favoritnya. Dan ketika Ify akhirnya mengangkat kepala dan mata mereka bertemu, Alvin langsung berpura-pura asyik dalam pembicaraan bersama rekan tim basketnya. Ify mendesah, melanjutkan makan, sementara Alvin hanya bisa tersenyum pahit di ujung sana. There are always too many things they want to say but they just can’t.
Kebekuan di antara mereka bermula tiga bulan yang lalu, ketika Ify mendapati lukisan dirinya di salah satu lemari Alvin tempat ia biasa meletakkan karya-karyanya. Ify tercengang menatap Alvin, tetapi tidak ada satu kata pun yang terucap dari bibir cowok itu. Alvin harus menahan diri untuk tidak menimpuk kepalanya dengan batu setiap kali ia mengingat kilatan penuh pengharapan di mata Ify. Ia sebenarnya tahu apa yang seharusnya ia katakan saat itu, saat Ify menunggunya dengan tatapannya yang hangat. Namun, bibirnya memutuskan untuk bertindak bodoh.
“Jangan salah paham, Fy, lukisan itu cuma buat tugas akhir kita,” adalah kalimat yang ia ucapkan saat itu.  Dapat ia ingat dengan jelas bagaimana cahaya di mata Ify meredup, dan senyum hangatnya tergantikan oleh seulas senyum maklum. Tipis sekali. Yang ia sesali sampai saat ini adalah fakta bahwa ia tidak bisa mencegah Ify pergi hari itu. Ia hanya memandangi punggung gadis itu perlahan menghilang dari pandangannya. Dan sekarang, ketika mereka semakin menjauh, Alvin menjalani harinya dengan penyesalan yang mengintainya, memenuhi dadanya hingga sesak.
“Vin.”
Alvin tersentak ketika dirasakannya seseorang menepuk bahunya. Ia membalikkan badan dan langsung disambut senyum manis Sivia. Gadis itu mengeluarkan selembar kertas dari map yang dipeluknya, mengulurkannya ke arah Alvin.
“Ini jadwal praktikum biologi untuk minggu depan,” katanya.
Alvin menerima kertas itu dengan penuh terima kasih. “Thanks, Vi.”
Sivia mengangguk riang, bersiap pergi, tetapi sebuah ingatan yang baru saja muncul di kepalanya mendadak menghentikannya. Alvin menatapnya heran, yang dibalas Sivia dengan cengiran jahil. “Satu info, Vin. Pasangan lo Ify.”
Semua oksigen seolah-olah tersedot begitu saja dari paru-paru Alvin. Genggaman tangannya pada kertas itu semakin mengerat, tetapi akhirnya ia bisa menguasai diri setelah beberapa kali menghirup napas. Dipandanganya gadis yang sedang tertawa di ujung kantin dengan beberapa helai rambut yang jatuh menutupi sebagian wajahnya. Lo nggak bisa selamanya menghindar, Vin, ucapnya pada diri sendiri.

Praktikum Biologi – Day 1
Alvin berlari sekuat tenaga menuju laboratorium biologi yang hanya berjarak beberapa meter di depannya. Dengan satu tangan memeluk buku-buku biologi dan tangan yang lain mencoba menghapus tetes peluh di dahinya, ia terlihat berantakan. Jas labnya belum terkancing dengan rapi, dan rambutnya mencuat ke segala arah. Bagus, Vin, ia mengutuk diri sendiri, hari pertama dan lo udah telat.
Begitu sampai di lab, matanya dengan gesit menangkap mata Ify yang juga sedang menatapnya. Mengangguk meminta maaf pada guru biologinya, ia mengambil langkah panjang menuju mejanya dan Ify. Gadis itu sudah siap dengan mikroskop, cawan petri, dan perlengkapan praktikum lain di hadapannya. Rambutnya yang biasa tergerai kali ini ia ikat ke atas membentuk ekor kuda. Alvin hanya bisa menelan ludah memandang wajah gadis itu dari samping.
“Sori,” begitu katanya.
Ify tersenyum tipis. Tanpa berkata-kata, ia mendorong mikroskop ke arah Alvin. “Gue tau lo lebih jago pake mikroskop dari pada gue,” ujar Ify ketika Alvin menatapnya bingung.
Waktu berlalu begitu lambat untuk mereka berdua. Alvin harus menahan diri untuk tidak tersipu ketika punggung tangan mereka tidak sengaja bersentuhan. Cowok itu juga bisa merasakan betapa kakunya Ify duduk di sebelahnya, dan ia sadar betul akan jarak yang diciptakan gadis itu.
Hingga praktikum berakhir, sama sekali tidak ada yang mereka bicarakan kecuali hal-hal mengenai praktikum hari itu. Ify terlalu keras kepala untuk mengajak Alvin berbicara, dan Alvin terlalu pengecut untuk menanyakan kabar gadis di sampingnya.

Praktikum Biologi – Day 2
“Fy, lo bawa hand sanitizer gak?” adalah hal pertama yang Alvin tanyakan di luar hal-hal tentang praktikum setelah mereka mengakhiri pengamatan mereka tentang pernapasan hewan dan tumbuhan siang itu.
Tanpa merasa perlu menjawab, Ify segera menggeledah isi tasnya. Ia mengernyit ketika tidak ia temukan hand sanitizer yang selama ini tidak pernah lupa ia bawa ke sekolah. Melihat Ify kelabakan, Alvin terkekeh kecil, membuat Ify langsung menatap tajam ke arahnya.
“Makanya jangan begadang, Fy. Jadinya ada yang kelupaan, kan?”
Dia ingat, Ify membatin. Ia tersenyum.
Alvin balas tersenyum.
Dan mungkin, es di antara mereka mulai mencair. Even just a bit.

Praktikum Biologi – Day 3
Ify tidak pernah menyukai katak dan Alvin tahu itu. Cowok itu harus menahan tawa ketika Ify berusaha untuk tidak mengenyit mengamati katak yang sudah berhasil mereka bedah itu.
“Nggak usah dipaksain, Fy. Sini buar gue aja,” Alvin merebut buku catatan Ify begitu saja. Ify sama sekali tidak protes, dalam hati bersyukur ia tidak perlu menatap katak itu lebih lama.
“Masih aja jijik sama katak lo?” tanya Alvin tanpa mengalihkan pandangan dari katak dan buku catatan. Ify, yang saat itu tengah membereskan peralatan praktik yang lain, bergidik. Suara tawa renyah keluar dari bibir Alvin, kali ini lebih bebas, lebih lepas.
“Gue pikir begitu gue naik kelas 12 gue nggak akan berurusan sama katak lagi. Eh, ternyata masih,” makinya pelan, membuat tawa Alvin semakin keras.
Alvin sudah selesai mencatat dan langsung ia kembalikan buku catatan Ify kepada pemiliknya. Ify tersenyum penuh terima kasih, memasukkan bukunya ke dalam tas. Begitu barang-barang di meja praktikum mereka sudah bersih dan rapi kembali, Ify mulai melipat jasnya. Dari ekor matanya, Ify bisa melihat Alvin tampak ragu-ragu. Setelah yakin jasnya terlipat rapi, Ify mengulurkan tangan kanannya di depan Alvin.
“Gue bantu lipetin jas lo,” tawarnya. Alvin tertawa malu, menggaruk tengkuknya, tetapi akhirnya ia lepas juga jasnya. Dengan piawai Ify segera melipat jas itu dan menyerahkannya kembali pada Alvin.
“Makasih,” kata Alvin.
Ify tersenyum. “Makasih juga udah bikin gue nggak harus berurusan sama katak lebih lama.”

Praktikum Biologi – Day 4
“Laporannya udah semua, kan?” Alvin bertanya sambil melepas jas labnya. Seperti kemarin, Ify langsung melipatkannya untuknya.
Ify mengangguk, menyelesaikan lipatan terakhir. “Kata Bu Rima tadi ada bagian yang salah, tapi udah gue benerin.”
“Oh, ya? Bagian mana?”
“Cuma salah di penghitungan jumlah napas per menitnya kok. Selain itu udah bener.”
Setelah menyelesaikan rangkaian praktikum biologi untuk persiapan ujian praktik semester depan, Alvin dan Ify keluar dari laboratorium berdampingan, dan tanpa sadar keduanya sudah berjalan berdua sampai gerbang sekolah.
“Lo naik apa?” tanya Alvin sambil melirik jam tangan di pergelangan tangan kirinya. Mereka masih bisa naik bus terakhir jurusan daerah rumah mereka.
“Bus. Lo juga kan?”
“Yap.”
Alvin sudah lupa kapan terakhir kali mereka pulang sekolah bersama seperti sore itu. Mungkin baru sekitar tiga bulan yang lalu, tetapi ia mereasa sudah lama sekali. Dan ketika ia duduk di samping Ify menunggu bus datang, ia baru sadar betapa ia merindukan saat-saat seperti ini. Duduk bersama di halte bus tanpa ada orang lain. Hanya mereka berdua.
Ketika akhirnya bus mereka datang, Alvin memastikan Ify duduk di dekat jendela sebelum ia menjatuhkan pantatnya di jok sebelahnya. Ify paling suka menatap pemandangan luar, dan Alvin tidak akan pernah lupa fakta kecil itu. Mungkin karena lelah atau karena angin yang bertiup sepoi-sepoi sore itu, Alvin bisa melihat mata Ify mulai terpejam. Kepalanya tertunduk. Gadis itu benar-benar sudah tertidur. Berhati-hati agar tidak membangunkan gadis itu, Alvin menyentuh kepala Ify dan membuatnya bersandar di bahunya. Cowok itu tidak bisa menampik perasaan hangat yang mengalir hingga ujung jarinya.
Seperti sebelum-sebelumnya ketika hubungan mereka masih baik-baik saja, Alvin menemani Ify berjalan menuju kompleks rumahnya. Tidak ada kata yang terucap, hanya berjalan berdua di tengah-tengah kesunyian senja. Ify melirik ke sebelah kirinya, tempat Alvin berjalan di sampingnya. Ia menyadari bahwa cowok itu tidak pernah berjalan di depan atau di belakangnya, melainkan selalu di sampingnya dengan kecepatan dan jarak langkah yang sama dengannya.
Tak terasa, pintu gerbang rumah Ify sudah di depan mata. Ify berhenti, membalikkan tubuh untuk menatap Alvin yang kali ini menyunggingkan senyum lembut di wajahnya. Senyum yang diam-diam Ify inginkan untuk menyapanya setiap kali ia memasuki kelasnya.
Keduanya bertukar senyum selama semenit penuh, sebelum akhirnya Alvin memecahkan hening di antara mereka. “Makasih untuk 4 hari ini ya, Fy. Lo partner yang tepat buat gue.”
Alvin tidak tahu bahwa Ify menangkap arti lain di balik ucapannya barusan. Atau sebenarnya ia tahu, tetapi ia sadar bahwa menghiraukannya sama saja menorah luka baru di hatinya.
“Sama-sama, Alvin,” balas Ify.
Ketika Alvin tidak juga beranjak, Ify tetap menunggunya. Seulas senyum manis dan sabar menghiasi wajahnya. “Ada lagi yang mau lo sampein?”
Tatapan itu. Tatapan yang sama seperti tiga bulan lalu, dengan kilatan pengharapan yang persis sama. Tidak ada yang berubah. Alvin menggertakkan gigi untuk menenangkan tubuhnya yang mulai bergetar.
“Gue…”
Gue sayang lo, Fy. Betapa ingin hatinya mengungkapkan kalimat itu, namun bibirnya tetap membisu. Ify masih menunggu, dan Alvin bisa melihat kilau matanya mulai meredup. Seperti tiga bulan yang lalu. Gadis itu lelah berharap, dan Alvin terlalu takut untuk melakukan apa yang seharusnya sudah ia lakukan sejak dulu.
Good night, Ify. Istirahat yang cukup, ya.”
Ketika dilihatnya kekecewaan membayangi kedua bola mata Ify, Alvin tahu betul bahwa perasaan yang sama ikut membayangi matanya.
Pintu depan tertutup rapat dan Alvin menyandarkan tubuh pada dinding besar di sampingnya. Maaf, Fy. Some people are meant to fall in love but they aren’t meant to be together.