Sabtu, 26 Januari 2013

Beautiful Face, Beautiful Heart: Im Yoona


Some people mistook us, Yoona's fans, for adoring her because of her pretty face. At first, it was indeed her face that attracted me. But when I got to know her better, I started to love her personalities and everything about her that made her her. Should I list all the things I love about her? :)

1. Her face. (Her small face, her beautiful doe-like eyes, her kissable forehead. Okay I sound like Donghae now. LOL)
2. The way she laughs like there's no tomorrow, with her head thrown back and her mouth wide open.
3. Her dance move. I know she can't beat Hyoyeon in dancing but I think her move is sharp and powerful, and she's sexy without her even trying.
4. The way she pulls pranks to her members.
5. The way she always makes Yuri and Taeyeon laugh whenever she's with them.
6. Her big appetite. She's a big eater but never gains weight. It's not fair, I know.
7. Her acting. The way she portraits the calm and lady-like Kim Yoonhee and bubbly Jung Hana. Love Rain daebak!
8.She always looks good to be paired with every guy (Donghae, Changmin, Minho, Luhan, Kyuhyun, Kai, you name it).
9. Yoona is very supportive. She came to watch Onew's and Jessica's musical, always supports TaeTiSeo, hugged Hyoyeon when she didn't win Dancing with the Stars, never missed Super Junior's Super Show, and supports other groups too like Wonder Girls and Kara etc.
10. The way she takes care of everyone around her (the Love Rain's crew, her members, her fans). It's touching how she always tells the fans to take care of their health.

The list will still go longer, I tell you. But maybe they're enough to convince people that Yoona isn't just a pretty face. Her personality is adorable and she has a beautiful heart too. :)

Minggu, 13 Januari 2013

Look at Me


"You've got everyone's attention, Fy. Dari dulu."

"No, Vin. Not everyone. I never get his."


She gets everything a girl could ask. She devotes herself to him, loving him with all her heart. The thing is, he never cares.


Suasana masih sepi ketika Ify melangkahkan kakinya menyusuri koridor-koridor panjang lantai 2 sekolahnya. Tidak biasanya ia datang pagi begini, apalagi schedule-nya kemarin berakhir hanya beberapa menit setelah tengah malam, which is the main reason why she can skip school today. Tapi Ify tetap bangun pagi seperti biasanya, bersiap sekolah seperti biasanya. Akhir-akhir ini ia selalu memiliki alasan untuk mandi pagi, mengenakan seragam sekolahnya dengan rapi, mengesampingkan rasa lelahnya, dan menuntut ilmu di sekolah bersama teman-teman yang lain.

Seperti yang sudah ia duga, bangku pojok paling depan sudah berpenghuni. Merapikan rok seragamnya sekali lagi, Ify berjalan penuh semangat mendekati orang itu.

"Pagi, Gabriel," sapa Ify, tak lupa melemparkan senyum manis andalannya.

Yang disapa mengangkat kepala, tersenyum simpul sebelum akhirnya mengangguk singkat, dan kembali pada apa yang ia lakukan sebelumnya. That is Gabriel, everyone. And that's just the way he responses to a greeting.

Mengabaikan keengganan Gabriel membalas sapaannya, Ify melemparkan tasnya di bangku belakang Gabriel dan langsung menduduki kursi di sebelah cowok itu.

"Ada PR, ya?" ia mencoba sekali lagi, tidak terlalu berharap akan mendapatkan jawaban lebih dari satu kata.

"Ada," cowok itu mengangguk tanpa menatap Ify.

Ify menghela napas panjang, tetapi sedetik kemudian senyum manisnya kembali terpasang di wajahnya. Ia baru akan meletakkan pantatnya di kursinya sendiri ketika seseorang menyerukan namanya dari pintu kelas.

"Woy, Fy! Tumben lo dateng pagi!" And that's Alvin, her best friend since birth. Cowok riang yang banyak tingkah tapi paling Ify sayangi.
Gadis cantik itu melambaikan tangan, memberi tanda pada cowok bermata sipit itu untuk duduk di sampingnya. Alvin nyengir lebar, tapi detik berikutnya seringaian itu tergantikan dengan bibirnya yang mengatup membentuk garis tipis dan matanya yang menyipit skeptis. "Jangan bilang lo..."

Ify mengangkat bahu ringan. "Nggak ada salahnya mencoba, kan?"

Mengalihkan tatapannya pada Gabriel yang tengah serius membaca, Alvin mendengus. "Buang-buang tenaga lo."

Sahabatnya ganti menatap Alvin dengan pandangan memohon, dan Alvin mendesah kalah. Sudah merupakan tugas tak tertulis bagi Alvin untuk menjaga Ify tetap pada sisi innocent-nya, dan hanya memperlihatkan apa yang seharusnya Ify lihat. Tetapi, semenjak Gabriel hadir, tugas itu terasa lebih berat dari biasanya, dan menolak permintaan Ify juga jauh lebih berat.
"Fine. Ini yang terakhir kali."

Ketika Ify melemparkan senyum penuh terima kasih, Alvin hanya bisa menggelengkan kepala. Ditepuknya pundak Gabriel pelan, membuat cowok itu terlonjak kaget dan berbalik, menatapnya tajam.

"Bisa tukeran tempat duduk gak, Yel? Gue ngeliatnya agak gak jelas gitu kalo dari sini."

Melotot galak karena merasa waktunya terganggu, Gabriel menunjuk bangku deretan depan dengan dagunya. "Barisan depan masih banyak yang kosong."

Ketika Gabriel kembali ke posisinya semula, Alvin memutar bola matanya, menggumamkan "Belagu!" tanpa suara. Ify terkekeh di sampingnya, tetapi bahkan suara tawanya yang lembut tak bisa menutupi nada kecewa yang terselip di antaranya.




"Kak Ify, boleh minta tanda tangan?"

"Aku juga dong, Kak!"

"Aku udah nonton video klip lagu baru Kak Ify loh, bagus banget!"

Menggumamkan terima kasih berkali-kali dengan pelan, Ify mencoretkan tanda tangannya dengan cepat di setiap kertas yang disodorkan kepadanya. Sesekali ia menjawab beberapa pertanyaan yang terlontar dari junior-juniornya. Bahkan di sekolahnya sendiri, Ify masih saja dikejar penggemar. Setiap kali bel istirahat berbunyi, ada saja siswa yang mengerumuni depan kelasnya. Kebanyakan siswa kelas 10, tapi tak jarang kakak kelasnya ikut dalam gerombolan itu. Belum lagi hadiah-hadiah kecil dengan bungkusan merah jambu yang selalu mampir di loker atau laci mejanya. Ify bahkan tidak bisa lagi menghitung sudah berapa kali ia menemukan surat penuh rayuan gombal dari kakak kelasnya.

"Makin laris aja lo," Alvin menyeringai, berdiri beberapa meter dari Ify, mengamati sahabatnya yang tengah melayani penggemarnya.

"Shut up," balas Ify begitu gerombolan itu menghilang dari pandangan.

Alvin tergelak, mengacak rambut Ify dengan gemas. "Gue ikut seneng kalo sahabat gue disukai banyak orang."

"Tapi kadang perhatian mereka terlalu berlebihan, Vin."

"Hah," Alvin mendengus. "Jangan bercanda, Fy. You're the apple of everyone's eyes. You're the center of everyone's attention."

"Gitu ya?" tanpa sadar, pandangan Ify menerawang. Alvin mengikuti arah pandangnya dan mendengus jijik begitu ia melihat siapa yang sedang diperhatikan sahabatnya itu.

"He's just an idiot. Forget him," katanya penuh penekanan.

Tapi Ify mengabaikannya. "Apa yang dimiliki Shilla yang nggak gue punyai, Vin?"

"Udah gue bilang Gabriel itu idiot," ia mengerang kesal.

"Shilla pasti sempurna banget ya, Vin, sampai Gabriel aja terpikat sama dia," Ify kembali melantur.

Habis sudah kesabarannya. Dengan kasar, tetapi tidak cukup untuk melukainya, Alvin meraih wajah Ify dan membuatnya berhadapan dengan wajahnya sendiri. Butuh beberapa detik bagi Ify untuk membalas menatap Alvin tepat di kedua bola mata hitamnya.

"Dengerin gue." Ketika Ify tidak mengatakan apa-apa, Alvin melanjutkan. "He's not worth it. Masih banyak cowok di luar sana yang bisa melihat pesona dalam diri lo, dan menerima semua kekurangan lo. Nggak semua cowok buta kayak dia, Fy."

Ify terdiam selama semenit penuh. Dan dalam satu menit itu, tak sedetikpun keduanya mengalihkan pandangan mereka.

"Tapi mereka bukan Gabriel," adalah kalimat terakhir yang Ify ucapkan sebelum tempat sampah di sampingnya berguling dengan suara gaduh. Alvin baru saja menendangnya.




Perpustakaan bukanlah tempat favorit Ify. Ia lebih suka dikelilingi tembok kedap suara tempat karya-karyanya terlahir. Kalau bukan karena Alvin membatalkan janji mengerjakan tugas di detik-detik terakhir, ia tidak akan menginjakkan kaki di tempat penuh rak-rak tinggi dan buku-buku kusam ini untuk mencari referensi. Di hari-hari biasa, she always has Alvin to do it for her.

Menenteng buku yang ia cari, Ify hendak melapor ke penjaga perpustakaan ketika sekilas bayangan Gabriel menghentikannya. Tersembunyi di balik rak, ia menjulurkan lehernya panjang-panjang untuk mengintip bayangan di pojok sana. Dan ternyata benar, Gabriel sedang duduk di sana, membaca buku dengan khusyuk, sendirian. Senyum Ify terkembang lebar.

"Sendirian aja, Gab," Ify berkata sambil menarik kursi di sebelah cowok itu.

Gabriel menoleh kaget, matanya mengerjap sekali melihat Ify begitu dekat duduk di sisinya. Buru-buru ia mengalihkan pandangan.

"Gue nggak tau lo suka ke perpustakaan juga," itulah jawaban Gabriel.

Mengangkat bahu, Ify terkekeh. "Surprising, isn't it?"

"Untuk ukuran cewek seperti lo, it is."

Ify mengangkat kedua alisnya, heran sekaligus senang Gabriel akhirnya menanggapinya. "Jadi menurut lo gue ini cewek seperti apa?"

Gabriel memandang Ify tepat di matanya. "Lo tau lah. Cewek kayak lo kan biasanya nongkrong di kantin, haha-hihi sama grombolan lo."

Cewek di sampingnya tersenyum tipis, namun tidak matanya. "Lo judgemental juga ya ternyata," katanya lirih, nyaris seperti bisikan.

Mengangkat bahu tak acuh, Gabriel kembali memuasatkan perhatian pada bacaannya. Ify tersenyum lagi. Walaupun kata-kata Gabriel membuatnya sedih karena ternyata Gabriel tidak tahu apa-apa tentang dirinya, kenyataan bahwa Gabriel baru saja mengobrol dengannya sedikit mengurangi rasa sedih itu.

"Gabriel udah makan?" Pertanyaan itu diucapkan Ify dengan lembut. Kilat cemas di matanya menunjukkan bahwa ia benar-benar bertanya, tidak basa-basi belaka.

"Udah." And....he's back to the Gabriel she knows.

Ify mengangguk paham. Melemparkan senyum sekali lagi, ia menepuk pundak Gabriel dua kali dan beranjak menuju penjaga perpustakaan. Sepeninggal Ify, Gabriel menoleh selama beberapa detik untuk memastikan bahwa Ify tidak akan kembali. Barulah ia kemudian mengambil sebuah amplop yang baru saja ditinggalkan Ify.

Ia membuka amplop ungu itu dan terkesiap. Undangan pesta ulang tahun, dari Ify.




"Hey hey hey! Why isn't the birthday girl coming out?"

Tiba-tiba kepala Alvin menyelip di pintu kamar Ify yang terbuka sedikit. Ify, yang sedang berdiri menghadap jendela, melihat tamunya berdatangan, membalikkan badan dan tersenyum lebar. Kali ini Alvin sudah berdiri tepat di belakangnya.

"Hey! Ganteng juga lo," candanya, menunjuk pada penampilan Alvin malam ini.

Alvin mengamati penampilannya sendiri. Ia menyulap dirinya seperti Jack Sparrow, minus wig panjang tentunya. Merayakan ulang tahunnya yang ke-17, Ify mengadakan pesta kostum dengan tema movie festival. Tamunya yang hadir harus memakai kostum sesuai dengan salah satu karakter film. Ify sendiri tampil cantik dengan kostum Cleopatra-nya.

"Orang-orang di bawah juga bilang gitu," Alvin menyeringai bangga. "Lo harus liat Cakka! Dia dengan bangganya dandan ala Hagrid!!"

Ify melotot, setengah tidak percaya. "What the...."

Alvin menggelengkan kepala, tidak habis pikir dengan teman sekelasnya itu. Kemudian, matanya mengerling ke arah pintu. "Turun, yuk! Tamunya udah banyak yang dateng."

"Gabriel udah?"

Alvin sempat bengong beberapa detik. Detik berikutnya matanya menyipit curiga, sementara Ify memainkan gaunnya dengan jarinya, cemas tertangkap basah.

"Jadi lo di sini dari tadi tuh nungguin Iyel?"

Mendadak Ify menemukan bahwa ujung sepatunya terlihat lebih menarik. Alvin ingin berkomentar lagi, tetapi ia menahannya. Hari ini ulang tahun Ify, rasanya ia tidak perlu merusak hari bahagianya dengan komentar-komentar pedas tentang...her first love. Ugh, screw that! batinnya geram.

Setelah berjuang memaksa Ify untuk turun, akhirnya mereka berdua keluar dari kamar Ify dan mulai menyapa satu-persatu temannya. Tetapi, di tengah ucapan selamat ulang tahun yang ia terima setiap detik, pikirannya melayang-layang ke satu orang, yang sampai saat ini belum datang juga.

Acara berjalan dengan lancar. Ify baru saja meniup lilin di kue ulang tahunnya yang berjumlah 17. Semua tamu, dari teman sekolah sampai teman-teman sesama artis dan beberapa wartawan, merasa puas dengan makanan yang dihidangkan dan hiburan-hiburan yang telah dipersiapkan secara pribadi oleh Ify. Tetapi di setiap senyum yang ia berikan pada temannya atau ia lemparkan ke kamera, Alvin bisa menangkap kilatan berbeda di mata sahabatnya itu. It's like she's gonna break down anytime soon.

"Hati-hati di jalan!" Ify melambaikan tangan pada Sivia, satu-satunya tamu yang tersisa malam itu. Alvin yang berdiri di sampingnya ikut melambaikan tangan sembari menyerukan ucapan terima kasih.

Setelah mobil Sivia menghilang di tikungan, Ify dan Alvin berbalik, beranjak kembali ke rumah. Belum sampai tiga langkah, deru mesin mobil mengagetkan mereka. Ketika membalikkan badan, Ify tidak bisa menahan pekikan kebahagiaannya mendapati Gabriel turun dari mobilnya. Alih-alih langsung menghampirinya, Gabriel berjalan memutar menuju pintu penumpang, membukakan pintu untuk entah siapapun yang datang bersamanya.

Napas Ify tercekat di tenggorokan. Alvin dengan sigap menggenggam erat tangannya. Detik-detik berlalu begitu lambat ketika Gabriel, dengan tangannya menggenggam erat tangan Shilla, berjalan menghampiri Ify dan Alvin yang berdiri terpaku.

"Maaf telat, kami juga nggak mematuhi dress code." Bahkan Shilla yang meminta maaf, sementara Gabriel hanya berdiri diam.

"Ini kado buat kamu, Fy, dari kita berdua."

Tangan Ify begitu kaku ketika menerima kado yang diulurkan Shilla. Alvin sampai harus membantunya menerima bungkusan berhias pita biru itu.

"Selamat ulang tahun, Fy," Gabriel menganggukkan kepala singkat.

Gabriel mengangkat kepalanya dan langsung bersitatap dengan mata hitam Alvin. Alvin menatapnya tajam, tetapi kemudian ia menghela napas. Ia mengerti apa yang Gabriel coba sampaikan dengan datang terlambat, tidak mematuhi dress code, dan mengajak Shilla. Entah mengapa jantungnya serasa diremas. Ify mungkin akan membutuhkan waktu lama untuk mencerna ini semua, dan hanya memikirkannya saja sudah membuat hatinya tercerai-berai.

You're not that important to him like he is to you, Fy. The fact itself hurts.

Mata Ify berkaca-kaca, tetapi ia menahan sekuat tenaga agar tidak meneteskan air mata. Setidaknya tidak di depan Gabriel dan Shilla.

"Makasih," jawab Ify dengan napas tertahan.

Tidak ada dua menit kemudian, mobil Gabriel sudah melaju meninggalkan jalanan depan rumah Ify. Alvin ikut termenung, tanpa melepaskan genggamannya.

"At least he came," Alvin berkata lembut, mencoba menenangkan gemuruh dalam hati sahabatnya, juga dalam hatinya.

Setetes air mata jatuh ke tanah. "But it hurts more than anything."

-END-

Selasa, 01 Januari 2013

New Year, New SNSD


This is a good way to start a year. The queens are back, babyyyyy! It's been 15 months since The Boys, and finally SNSD make a comeback. I can't describe how excited I am :)
Their first single, I Got a Boy, was released this afternoon at 3 PM (Indonesian time). When I clicked the link, I was like "Oh my God, I can't wait any longer!" I was so nervous, my hands were trembling, and I was tearing up. My heart was gonna explode soon!
Okay let's talk about the song itself. I enjoyed listening to the song in the trailer which was released earlier, and I couldn't wait to hear the whole song. SNSD would try a whole new concept this time, Hip Hop, so I really anticipated it. But when I heard it at the first time, it sounded like a remix or a mash-up, you name it. But after few times of replaying, the whole song started to make sense, and I like it. Everyone gets a fair singing line, the dancers do the rap again this time! The ooh o o e ooo part sticks in my head. And the dance, wooooowww it's unique and powerful and....I'm lost of words. So the point is, I love the choreography.
The music video is great, it's different from The Boys, which is good. Yoona and Jessica look stunning here, I'm drooling. LOL. I love the music video, except the part when the girls wear orange wig. Everyone wars the exact same wig so it's kinda...EWW. BIG NO.
I know people need time to get used to this new SNSD. I read some comments about it and some people prefer their former style than this. It's a huge change after all, not everyone is ready.
With the spirit of starting a new year, let's keep supporting our girls! 2013 is ours! :D


Happy New Year!!