Kamis, 21 Februari 2013

Alhamdulillah, I Have OMNIFOUR :)


They say high school friends are friends for a lifetime. I can't even describe how thankful I always am to meet such great people like them. OMNIFOUR was, still is, and always will be a family who cherishes and loves and supports each other.

Minggu, 03 Februari 2013

We Know It's Wrong but We Can't Stop



There were times like this---
Ketika Alvin tanpa sengaja menangkap bayangan Ify dan seseorang dari kaca spion mobilnya, ia segera turun dari mobilnya dengan Shilla mengekor di belakangnya. He will say hi dan Ify akan membalasnya dengan senyuman. Tak lupa ia lemparkan juga sebuah senyum sopan untuk seseorang di samping Ify.
"Habis nonton juga lo?" Ify bertanya, sama sekali tidak melepaskan tangannya yang melingkar di lengan Gabriel.
"Iya nih, mumpung Shilla lagi di Indonesia." Gadis yang disebut namanya tersenyum bersahabat pada Ify.
Kemudian Gabriel akan menyela, mengingatkan Ify bahwa hari sudah malam dan besok ia harus sekolah. Dengan sedikit cemberut, Ify memukul pelan bahu Gabriel.
"Gue duluan ya, Vin. Sampe ketemu besok di sekolah," Ify melambaikan tangannya, berjalan mengikuti Gabriel menuju mobilnya di ujung parkiran.
Alvin dan Shilla menatap kepergian sepasang kekasih itu, masih dengan senyuman di bibir mereka. Ketika sosok Ify dan Gabriel hilang dari pandangan, Shilla menoleh menatap Alvin.
"Ify punya pacar?"
Alvin balas menatapnya, mengangguk sambil menyeringai.

There were times like this---
Ketika Gabriel lagi-lagi harus tersita dengan kesibukan kuliahnya. Ify hanya bisa berguling-guling di kasur, menantikan sebuah ring tone familiar yang ia pasang khusus untuk Gabriel. Tapi, hingga jam hampir menunjukkan pukul setengah 12 pun masih belum ada tanda Gabriel akan menghubunginya. Mendengus kesal, Ify meraih ponselnya dengan kasar, berniat mematikan benda kecil itu ketika layar ponselnya berkedip-kedip.
"Halo?" sapanya tak bersemangat pada orang di seberang sana. Hanya satu orang yang akan menelepon Ify di jam-jam tidak lazim seperti ini.
"Loyo amat lo. Seneng dikit kek ditelpon pangeran Alvin."
Ify memutar bola matanya. "Mending lo tutup telponnya deh, Vin. Gue lagi males nanggepin."
Terdengar tawa Alvin dari telepon. "PMS, Bu? Atau...belum ditelpon Gabriel?"
Tawa Alvin kembali terdengar ketika Ify tidak menjawab. Gadis itu benci sekali dengan kenyataan bahwa Alvin selalu tahu dan ia selalu benar.
"Daripada lo galau nggak jelas gitu, mending bantuin gue kerjain matematika."
Hampir setengah jam mereka ngobrol di telepon. PR matematika pun terlupakan begitu saja ketika Alvin mulai menceritakan kejadian-kejadian lucu yang dialaminya hari ini.
"Thanks ya, Vin," kata Ify sebelum menutup telepon.
"Iya, tujuan gue nelpon lo sebenernya juga buat ini kok. Disabar-sabarin aja ya, Fy. Kita sama-sama tau kalo mahasiswa tugasnya bejibun kan?"
"Sip. Makasih banget pokoknya."
"Oke. Good night, Ify."

There were times like this---
Kerinduannya pada Shilla sudah tidak terbendung lagi. Sudah hampir dua tahun ia menjalani long distance relationship; dia di Indonesia sedangkan Shilla di Singapura. Memang, setiap empat bulan sekali dipastikan Shilla akan pulang sebelum ia kembali lagi ke negara kecil itu tiga hati setelahnya, namun semua itu tidak akan pernah cukup untuk memadamkan api kerinduan di hatinya.
Alvin tidak pernah absen mengirim email setiap harinya, tidak pernah mampir ke twitter tanpa meninggalkan mention dan DM untuk gadis tercintanya itu, hanya untuk mengetahui bahwa tidak ada satupun yang mendapatkan balasan. Alvin mengerti betapa Shilla tidak akan pernah membuka laptopnya sebelum weekend. Tapi ia selalu bertanya-tanya, seberapa sulitkah meluangkan waktu selama beberapa detik saja untuk membalas email-email itu. Namun pada akhirnya, Alvin akan tetap mengiriminya email, hanya untuk mengingatkannya agar tidak terlalu memforsir dirinya dan selalu menjaga kesehatan.
Tepat ketika Alvin menutup laptopnya, bel rumahnya berbunyi. Ia segera berlari keluar kamar untuk membuka pintu depan, dan langsung mendapati sosok mungil Ify tersenyum lebar dengan kantong plastik di tangannya.
"Tumben lo dateng sore," kata Alvin begitu mereka sudah di dapur.
Alvin langsung membuatkan gadis itu segelas jus jeruk kesukaannya, sementara Ify mulai membongkar plastik belanjanya. Dari ekor matanya, Avin bisa melihat susu, es krim, buah-buahan, dan beberapa batang cokelat menyembul dari plastik putih itu. Alvin diam saja ketika temannya itu mulai menata ulang seluruh isi kulkas, tak lupa meletakkan apa saja yang dibelinya tadi.
"You know, gue heran nyokap nggak pernah ngomel liat banyak cokelat di kulkas," Alvin menyodorkan gelas tinggi berisi jus jeruk pada Ify yang sudah duduk dengan nyaman di kursi makan.
"Karena dia tau gue yang naruh itu semua, Baby. Nyokap lo cinta banget sama gue sih ya."
Sebuah serbet melayang dan jatuh tepat di muka Ify. "Ngomong noh sama serbet."
Ify hanya tertawa. Ia menatap Alvin lama, membuat Alvin yang semula sibuk dengan ponselnya mengangkat kepala dan balas menatapnya dengan bingung.
"Ada apa?" tanya Alvin heran, alis kanannya terangkat.
Ify menggeleng, tak melepaskan pandangannya dari Alvin. "Hari ini biarkan gue yang mengingatkan lo untuk bersabar," ujarnya lembut, diikuti dengen sebuah senyum tulus dari bibirnya.
Kehangatan menjalar di dada Alvin, menggerakkan bibirnya untuk balas tersenyum. Tanpa sadar, tangannya terjulur di atas meja, meraih tangan Ify dalam genggamannya.

There were times like this---
Mereka akan selalu berlari ke pelukan satu sama lain, meninggalkan semua kegalauan dan menikmati detik-detik kebersamaan mereka. Jika hari ini Alvin membutuhkan Ify untuk melupakan kegundahannya, hari berikutnya Ify akan menemuinya untuk mencari ketenangan.
"Sumpah gue nggak akan pernah bosan sama film ini," Ify bergerak-gerak riang di sofa ketika theme song Mission Impossible yang khas menggema memenuhi sudut-sudut ruangan.
Hanya butuh sedikit tenaga bagi Alvin untuk menahan bahu kecil itu dan membuat Ify duduk dengan tenang. "Gue tau lo excited banget nonton sama gue, tapi plis, jangan bikin gue diusir sama nyokap lo dengan tuduhan bikin jebol sofa orang."
Mungkin karena terlalu bersemangat untuk menonton aksi Tom Cruise di film itu, Ify langsung menurut. Memeluk boneka hello kitty kesayangannya, Ify menyandarkan kepalanya di lengan Alvin yang terbuka. Alvin hanya menggelengkan kepala sambil terkekeh pelan. Perlahan, ia menarik Ify lebih dekat, hanya untuk meletakkan dagunya di puncak kepala gadis itu.
Ketika film berakhir, posisi mereka tidak berubah, malah Alvin semakin mengeratkan pelukannya. Ify menghirup napas panjang, tersenyum puas ketika aroma Alvin memenuhi indera penciumannya. Alvin membawa jari-jarinya untuk bermain-main dengan rambut Ify.
"Kak Gabriel kemarin ke rumah," Ify berkata tiba-tiba.
Alvin mengernyit, gerakan jari-jarinya terhenti. Bingung terhadap sentilan kecil yang menganggunya, ia menggelengkan kepala, mengenyahkan semua pikiran aneh dari kepalanya. Jarinya kembali memainkan rambut Ify.
"So why are we here now?"
Senyum cerah Ify memudar, digantikan sebuah senyum lemah dan mata yang meneriakkan kegundahannya. Ify diam-diam merasa lega karena Alvin tak bisa melihatnya.
"Dia ngajak gue dinner di rumahnya."
Alvin membisu. Detik-detik berlalu begitu lama. Ify baru akan melepaskan diri dari pelukan Alvin, tidak tahan dengan keheningan yang membuatnya tidak nyaman ini, ketika akhirnya Alvin membuka suara.
"Lusa Shilla ke Indonesia, dan baru balik bulan depan."
Tidak ada yang bersuara setelah itu. Ketika Rio, kakak Ify yang tertua, masuk ke rumah dengan suara gaduh, Alvin akhirnya melepaskan pelukannya. Ia berpamitan dengan kaku, membuat Rio mengernyitkan kening.
"Alvin kenapa tuh?"
Mengabaikan pertanyaan Rio, Ify langsung berlari ke kamarnya sendiri tanpa menoleh ke belakang. Rio hanya menggelengkan kepala. "Dasar ABG jaman sekarang," gumamnya diselingi decakan.

There were times like this---
Gabriel mengajaknya berkeliling, membawa Ify mencoba hal-hal baru yang tak pernah terpikirkan oleh Ify. Ify menemukan dirinya tersenyum lebar ketika Gabriel menariknya ke booth makanan Jepang di festival kuliner sore itu.
"Bukannya kamu nggak doyan ikan mentah?" Ify bertanya heran ketika Gabriel mengambil sushi.
Gabriel hanya tertawa. "Aku selalu pengen nyobain."
Ify tidak bisa lagi menahan tawanya ketika tak ada satu menit kemudian Gabriel sudah memuntahkan semua isi perutnya. Memegangi perutnya yang sakit karena terlalu keras tertawa, Ify memijat tengkuk Gabriel dengan tangannya yang bebas. Cowok itu cemberut, tetapi tak lama karena ia kembali merasakan dorongan dari perutnya.
Gabriel bisa bernapas lega saat akhirnya Ify mengajaknya ke cafe di dekat festival itu. Kafein yang ia konsumsi berhasil menenangkan saraf-srafnya kembali, perlahan menghilangkan rasa mual yang menganggunya.
"Makanya, kalau udah tau nggak suka, nggak usah sok-sok nyobain deh. Kenapa sih tadi beli sushi segala?"
"Karena kamu suka sushi."
Ify memandangnya heran. "Cuma karena itu?"
"Aku selalu pengen pake kacamata yang sama dengan kamu, Fy, pengen tau gimana cara kamu memandang dunia ini. Begitu juga dengan selera kamu yang beda banget sama aku, aku pengen tau kenapa kamu suka sama hal-hal itu. Karena buat aku, nggak ada satu pun yang nggak pengen aku ngerti dari diri kamu."
Gadis itu merasakan pandangannya mulai mengabur. Napasnya tercekat di tenggorokan, tangannya gemetar dalan genggaman hangat Gabriel.
"Loh, kenapa nangis?" dengan lembut, Gabriel mengusap tetes demi tetes air mata yang mengalir dari mata Ify.
Bukannya berhenti, air mata Ify malah semakin deras. Gabriel langsung merengkuh gadis itu dalam pelukannya, membiarkannya menumpahkan tangis di dadanya. Tagannya membelai punggung Ify dengan lembut, bibirnya membisikkan kata-kata penenang dengan caranya sendiri.
Jauh di dalam hatinya, Ify merasakan rasa bersalah itu menyergapnya, menyerang tanpa ampun. You deserve someone better, Yel, seseorang yang nggak pernah sekalipun meragukan cintamu.

There were times like this---
Ketika kenyataan akhirnya menampar mereka berdua, bahwa apa yang mereka lakukan adalah sebuah kesalahan. Tapi batin Ify tak kuasa bertanya-tanya, how can something be so wrong but feels so right?
Ia dan Alvin, duduk diam di dalam ruang kelas yang sepi, dengan pikiran melayang jauh dari tempat mereka berada. Ify berusaha sekuat tenaga untuk menjaga jarak yang memisahkan mereka, sejauh yang mampu ditahan hatinya.
"Kita harus hentikan ini semua, Vin," Ify mulai terisak. "Gue nggak bisa terus nyakitin Gabriel."
"Gue juga nggak bisa ngelepas Shilla gitu aja, Fy," Alvin berkata pelan. Ia tidak mampu kehilangan Shilla, tetapi mengapa hatinya sakit membayangkan perpisahannya dengan gadis di sampinya ini?
"Kita harus berhenti," ujar Ify dengan suara bergetar.
Alvin memejamkan matanya, menghela napas panjang. "Can we?" tanyanya lirih.
Ify melonjak berdiri. "Kita harus bisa, Vin! Semua yang kita lakuin ini salah! Salah!!" ia mulai meracau. Air mata semakin deras mengalir di pipinya, membuat hati Alvin teriris setiap kali kristal bening itu menetes menyentuh daratan.
Ketika Ify jatuh terduduk, tidak ada lagi yang bisa menahan Alvin. Dengan langkah-langkah lebar ia menghampiri Ify, menarik gadis itu untuk berdiri dan melingkarkan kedua lengannya untuk memeluknya. Ditenggelamkannya wajahnya di bahu Ify. Ify meronta, namun pelukan Alvin semakin erat.
"Let me hold you like this, before I let you go," bisiknya. Karena setelah ia melepas Ify nanti, ia tahu, ia tak akan bisa meraihnya kembali.

-END-