Senin, 13 Mei 2013

The Tale of You and I : Sepucuk Surat Ungu



Things just get more complicated…and rough.
Ify memejamkan mata, membiarkan tubuhnya merosot di balik daun pintu kamarnya. Dari luar masih terdengar suara gaduh benda yang dilempar dan makian di sana-sini. Ia menekuk lututnya, memeluknya sembari menutup kedua telinganya dengan tangan. Keributan di luar memang bukan yang pertama kali, tetapi bukan berarti ia sudah terbiasa dengan keadaan ini. Sekuat apapun ia terlihat dari luar, di dalam ia tetaplah gadis kecil yang rapuh dan butuh perlindungan.
Seketika benaknya teringat pada sepucuk amplop ungu yang mampir di kotak posnya tadi pagi. Di atas amplop itu tertulis dengan rapi kepada siapa surat itu ditujukan. “Untuk: Ify,” begitu bunyi tulisan itu. Ify meraba setiap huruf yang terukir, menyukai lekukan pada huruf ‘y’ yang ditulis dengan ketulusan oleh pengirimnya. Dengan hati-hati, ia membuka amplop itu, menyukai aroma yang menguar begitu amplop itu sudah terbuka. Selembar kertas dengan warna yang sama sudah berada di tangannya, terlipat dengan rapi.
 
Hai, Ify yang benci banyak hal.

Ify tersenyum membaca baris pertama surat itu. Belum melihat namanya pun ia sudah tau siapa pengirimnya.

Udah lama kita nggak ketemu. Apa kabar lo? Sibuk sekolah? Sibuk belajar? Nggak ngelupain makan kan lo?

Banyak sekali pertanyaan yang dilontarkan, Ify terkekeh. Sangat khas Gabriel.

Gue tiap hari lewat rumah lo, tiap hari lewat depan toko kaset tempat kita ketemu dulu, tapi nggak pernah sekalipun gue liat lo. Padahal jamnya udah gue pasin kayak waktu dulu, tapi lo nggak pernah ada di sana. Sayang banget, Fy, beberapa hari ini toko itu muter lagu-lagunya Richard Marx, satu-satunya penyanyi cowok yang lo suka, ya kan? Selasa sore gue denger Right Here Waiting, Rabu waktu gue mau ke sekolah gue denger Now and Forever. Gue inget banget lo pernah nggak sengaja bilang kangen banget sama lagu-lagu itu. Sekarang begitu lagu itu akhirnya diputer, lo malah nggak ada di sana buat dengerin sama gue.

Ternyata Gabriel tidak hanya cerewet ketika bersamanya. Dalam tulisannya pun ia masih banyak bicara. Ify menggelengkan kepala, setengah geli setengah heran dengan makhluk satu itu. Gabriel sangat berkebalikan dengannya yang cenderung pendiam.

Ngomong-ngomong soal lagu, gue udah nemuin lagu yang waktu itu. Lagu yang kita pake dansa (if we can call moving back and forth dancing ya) setelah Through the Rain-nya Mariah Carey. Gue udah download, udah hafal liriknya, dan nggak sabar buat ngedengerin ini sama lo lagi. Bener kata lo, lagu itu bagus banget.
Ngomong-ngomong lo sekolah di mana sih? Seragam kita jelas beda, dan gue sama sekali belum pernah liat seragam lo itu. Jauh ya sekolah lo? Daerah mana sih kok gue nggak pernah liat?

Masih dengan seulas senyum di wajahnya, Ify melanjutkan perjalanannya menuju halte bus di jalan raya yang jaraknya tidak ada satu kilometer dari tempat ia berdiri sekarang. Isi surat Gabriel sebagian besar sangat predictable; pertanyaan tentang keadaan Ify sekarang, lagu apa yang terakhir Ify dengarkan dari iPod-nya, atau cerita-cerita tentang kejadian lucu yang dialami cowok itu. Ify bisa membayangkan Gabriel pasti akan melakukan hal yang sama jika mereka sedang bertatap muka sekarang. Mulutnya akan terus mengeluarkan kata-kata yang hanya akan dibalas Ify dengan senyum tipis atau anggukan ringan.
Namun, bagian terakhir dari surat Gabriel mampu membuatnya terhenti dari langkahnya, hanya untuk berkonsentrasi membaca barisan kalimat itu.

Fy, gue nggak tau gimana rasanya kalo gue ada di posisi lo sekarang. Yang gue tau cuma bahwa lo lagi ngalamin hal yang berat dan sulit. Gue mohon sama lo ya, Fy, jangan tutup diri lo dari dunia luar. Masih banyak yang sayang sama lo, masih banyak yang khawatir kalo lo makan nggak teratur dan akhirnya kehilangan beberapa kilo, masih banyak yang pengen liat highlight cokelat di rambut lo itu tiap hari.
Mungkin ini aneh. Kita baru kenal bentar banget tapi gue udah nasihatin macem-macem. Tapi, satu yang lo harus tau, gue nggak pernah nggak tulus kalau itu menyangkut lo.

Tanpa sadar genggaman Ify pada surat itu mengerat, membuat ujungnya kusut karena diremas terlalu kuat. 

Oh iya, I really love it when you smile. Bukan cuma senyum tipis yang selalu lo kasih ke gue, tetapi senyum lebar yang bener-bener dari hati. Banyak senyum mulai sekarang, ya, Ify.

Ketika bel pulang sekolah berbunyi, Ify menyadari bahwa hari ini ia lebih banyak tersenyum dari biasanya.

Kamis, 09 Mei 2013

The Tale of You and I : Dance with Me



Memutuskan untuk mengganti judul dan membuat mini series. Setiap chapter akan pendek banget, gak ada 800 kata. Konfliknya beda-beda dan selesai di akhir chapter itu juga, jadi kalau suatu saat aku gak bisa ngelanjutin juga gak masalah. Hehehe. Insyallah tiap hari bakal ngepost. Please support and enjoy! :)
 
*-*-*-*

"PRANG!!!"
Gabriel menghentikan langkahnya, menatap heran sebuah rumah besar yang baru saja ia lewati. Suara benda yang pecah terdengar nyaring berkali-kali, membuat cowok itu bertanya-tanya dalam diam. Baru ia akan beranjak, terdengar suara langkah kaki yang tergesa-gesa, lama-lama semakin mendekat. Gabriel menunggu, dan pandangannya langsung bertumbukan dengan sepasang mata cokelat yang sangat familiar. Mata cokelat hangat yang mengunci banyak misteri di dalamnya.
Ify mendadak berhenti, matanya lebar menatap Gabriel. "Lo denger?" desisnya, mengambil beberapa langkah mendekat.
Gabriel mengangkat bahu. "Sedikit."
Tanpa sadar Ify menghembuskan napas lega. Mereka berdua diam beberapa saat sebelum akhirnya Gabriel menatapnya, senyumnya yang khas ia lemparkan pada gadis di depannya.
"Hai," katanya.
Sudut-sudut bibir Ify tertarik ke atas, membentuk lengkungan senyum yang jarang sekali ia tunjukkan pada orang lain. "Gue nggak pernah nyangka bakal ketemu lo di depan rumah gue."
Gabriel terkekeh. Ketika akhirnya ia bisa menatap Ify dengan jelas, ia menyadari bahwa gadis itu terlihat lebih kurus dibanding ketika mereka bertemu pertama kali dulu. Rambutnya juga terlihat lebih pendek, kali ini diikat menyerupai ekor kuda.
"Fy, lo nggak papa?" tanyanya khawatir. Tangannya ia ulurkan untuk menyentuh pipinya, tetapi urung ia lakukan.
"Yang barusan itu udah biasa buat gue. Gue nggak papa."
Gabriel masih menatapnya khawatir. Namun, ketika Ify melangkahkan kaki menjauh dari halaman rumahnya, Gabriel tak punya pilihan lain. Ia mengikuti langkah gadis itu, berdua berjalan berdampingan. Gabriel mencoba mengabaikan kupu-kupu dalam perutnya ketika punggung tangan mereka saling bersentuhan.
"Bonyok gue mulai ribut dua tahun lalu," tanpa disangka, Ify membuka suara. "Gue nggak tau masalahnya apa, tapi mereka mulai meributkan masalah-masalah kecil yang nggak penting. Makin lama, pertengkaran mereka nggak cuma sebatas adu mulut. Gue udah nggak inget lagi berapa piring yang pernah gue buang setelah mereka ribut."
"Fy, lo nggak perlu cerita kalau lo nggak mau," Gabriel menatapnya dengan pandangan memohon, tidak tega kalau harus mendengarkan Ify bercerita tentang masalah keluarganya.
Seakan-akan mengabaikan ucapan Gabriel barusan, Ify terus bercerita. "Gue nggak yakin kalau bangunan itu pantes gue sebut rumah setelah semua yang terjadi. Gue pulang karena gue nggak punya tempat lain untuk tinggal."
Langkah-langkah mereka makin melambat. Keduanya tidak sadar kalau rumah Ify sudah tidak terlihat lagi. Ify mengangkat kepala dan sedikit terkejut ketika melihat toko kaset yang setiap hari ia lewati. Ternyata kakinya memutuskan untuk membawanya ke sini, ke tempat ia pertama kali bertemu dengan Gabriel.
Sayup-sayup ia dapat mendengar lagu Through The Rain yang diputar di dalam toko kaset. Terhipnotis oleh liriknya, Ify tidak menyadari kalau Gabriel sudah berada tepat di hadapannya, tubuh mereka hanya berjarak beberapa sentimeter.
Ify mengangkat sebelah alisnya. Tersenyum malu, Gabriel dengan ragu mengulurkan tangan kanannya. "Dance with me," katanya lirih, nyaris seperti bisikan. Tetapi Ify masih bisa mendegar ketulusan dalam suaranya.
Gadis di depannya menggertakkan gigi, menatapnya tajam. "Gue nggak suka dansa."
"Just dance with me, sekali ini aja," desak Gabriel, memohon dengan tatapan mata.
Menatap Gabriel skeptis yang dibalas cowok itu dengan senyum menenangkan, Ify meraih tangan Gabriel, membiarkannya menggenggam tangannya. Ia menyerah atas kehangatan yang ditawarkan Gabriel, tanpa sadar meremas tangan cowok itu dengan lembut.
Dengan satu tangan menggenggam tangan Ify dan tangan yang lainnya ia letakkan di pinggang gadis itu, Gabriel membawanya bergerak-gerak pelan mengikuti lagu. Bukan gerakan yang rumit, hanya bergerak ke kanan dan ke kiri. Ify menggigit bibir bawahnya, berusaha untuk menahan tawa. Ia tidak menyangka bahwa Gabriel sama buruknya dengan dirinya soal dansa.
Merasakan bahu gadis itu bergetar karena menahan tawa, Gabriel mengerang pelan. Wajahnya memerah sampai ke telinga. Tetapi ketika akhirnya suara tawa yang sangat ia sukai itu terdengar, seulas senyum menghias wajahnya.
Gabriel mendekatkan bibirnya ke telinga Ify, membisikkan beberapa baris lirik lagu Mariah Carey itu. "You are strong enough to mend," bisiknya lembut.
Kalau saja Gabriel bisa menatapnya sekarang, pasti ia tidak akan melewatkan seulas senyum lembut yang terukir di bibir Ify.

The Tale of You and I : Senja Kala Itu


Gabriel selalu menyukai senja. Ia menyukai setiap garis-garis warna yang membentang di langit sore. Ia menyukai hiruk-pikuk jalanan setiap kali matahari mulai menghilang di pelukan cakrawala. Dengan langkah pelan, Gabriel menelusuri jalanan kecil menuju rumahnya. Seragam sekolah masih menempel di tubuhnya, bagian atas seragamnya mencuat ke mana-mana.
Ia baru berhenti ketika sebuah toko kaset lama berada tepat di hadapannya. Toko kaset itu selalu memutar lagu-lagu lama yang indah, yang setiap alunan nadanya selalu bisa membawa pergi kelelahan dalam dirinya. Gabriel berjalan menuju sebuah batu besar, mendudukkan dirinya di sana sambil menikmati lagu One Summer Night yang mengalun lembut dari toko kaset itu. Seulas senyum terbit di wajahnya.
Tiba-tiba matanya menangkap sebuah bayangan tak jauh di sampingnya. Ia menoleh, mengerjapkan mata melihat seorang gadis seusianya tengah duduk di batu besar yang lain, sepasang headset menyumpal di telinganya. Ia tampak anggun dengan senja sebagai latar belakangnya. Rambutnya hitam panjangnya yang di-highlight cokelat berkibar lembut menutupi sebagian wajahnya. Gabriel harus menahan napas ketika gadis itu menoleh, menatapnya dengan sepasang mata cokelat yang tajam.
"Hai," katanya setelah berhasil menguasai diri. Tak sekalipun ia melepaskan pandangannya dari mata gadis itu, begitu pula sebaliknya.
Gadis itu terlihat terkejut, tetapi memilih untuk membuang muka. Dengan senyum yang semakin lebar, Gabriel tidak tahan untuk memanggil gadis itu sekali lagi.
"Hey. Suka ke tempat ini juga?" tanyanya lebih keras. Gadis itu tak sekalipun memberikan tanda-tanda akan menoleh, apalagi menjawab pertanyaannya.
"Gue sering banget ke sini," Gabriel mulai bercerita, walaupun dalam hati ia tidak yakin gadis itu mau mendengarkan. Ia hanya merasa ia ingin berbagi cerita dengan gadis yang tidak pernah ia temui sebelumnya itu. "Setiap pulang sekolah, gue nggak pernah sekalipun melewati tempat ini tanpa berhenti sebentar untuk dengerin musik dari dalem toko."
Teman-teman Gabriel selalu menyebutnya aneh, duduk diam di pinggir jalan seperti orang hilang hanya untuk mendengarkan lagu. Ia hanya menanggapinya dengan senyuman setiap kali teman-temannya di sekolah mulai meledek kebiasan anehnya itu.
Gadis itu tetap bergeming. Ia bahkan tidak merasa perlu menyingkirkan beberapa helai rambutnya yang menutupi wajahnya karena angin yang bertiup sedikit kencang sore itu. Ia hanya menatap langit dengan mata tertutup, mengabaikan Gabriel yang bercerita tak jauh di sampingnya. Melihat ini, Gabriel ikut menengadahkan kepala, menikmati indahnya langit senja.
"Langit kelihatan bagus kalau senja," Gabriel membiarkan kata-kata itu menggantung di kesunyian yang menyelimuti mereka berdua.
"Gue benci senja," tiba-tiba gadis itu menimpali. Suaranya mengalun merdu. Gabriel menoleh terkejut, sebelah alisnya terangkat. Ia terdiam, menanti kalimat selanjutnya yang akan diucapkan gadis itu.
"Tapi gue lebih benci rumah gue."
Gabriel bisa melihat kilatan di kedua bola matanya. Garis-garis wajahnya pun terlihat mengeras, tetapi tidak sedikitpun menghapus kecantikannya.
"Kenapa?"Belum sempat gadis itu menjawab, lagu tiba-tiba berganti. As Long As You Love Me, salah satu lagu kesukaan Gabriel.
"Ah, gue suka banget sama lagu ini." Gabriel memejamkan mata, tanpa sadar bersenandung mengikuti lagu itu. Suara tawa kecil terdengar di sampingnya, dan Gabriel langsung berhenti bernyanyi. Ia menoleh, tersenyum melihat gadis itu tertawa sendiri. Gabriel membuat catatan pada diri sendiri untuk menyimpan suara tawa itu di salah satu sudut ingatannya.
"Lo suka banyak hal ya," kata gadis itu. Matanya lembut menatap Gabriel, tidak seperti beberapa menit yang lalu.
Gabriel terkekeh pelan. "Dan lo benci banyak hal."
Gadis itu menyeringai, memperjelas lesung pipinya. "Ify," katanya.
"Hmm?"
"Ify. Itu nama gue."
Gabriel mengangguk. "Ify," ulangnya. Nama itu terdengar indah di telinganya. "Gue Gabriel," katanya lagi.
"Gabriel," Ify bergumam. Gabriel bisa merasakan hatinya menghangat mendengar namanya terucap dari bibir mungil itu. Cara gadis itu mengucap namanya terdengar sedikit berbeda, dan Gabriel menyukainya.
Di bawah langit senja kala itu, Gabriel telah menemukan tambatan hatinya.