Rabu, 05 Juni 2013

Almost



What happened to us? We were almost there.

Mereka berdua seperti bulan dan bumi. Saling mengawasi, bergerak dengan sinkron, tetapi sebesar apapun gravitasi di antara mereka, keduanya tidak pernah saling bersinggungan. Ketika Ify berada di salah satu sudut kantin, duduk menikmati makan siangnya di tengah-tengah teman-temannya, Alvin berada di sudut lain, menganggurkan siomaynya untuk mengagumi pemandangan favoritnya. Dan ketika Ify akhirnya mengangkat kepala dan mata mereka bertemu, Alvin langsung berpura-pura asyik dalam pembicaraan bersama rekan tim basketnya. Ify mendesah, melanjutkan makan, sementara Alvin hanya bisa tersenyum pahit di ujung sana. There are always too many things they want to say but they just can’t.
Kebekuan di antara mereka bermula tiga bulan yang lalu, ketika Ify mendapati lukisan dirinya di salah satu lemari Alvin tempat ia biasa meletakkan karya-karyanya. Ify tercengang menatap Alvin, tetapi tidak ada satu kata pun yang terucap dari bibir cowok itu. Alvin harus menahan diri untuk tidak menimpuk kepalanya dengan batu setiap kali ia mengingat kilatan penuh pengharapan di mata Ify. Ia sebenarnya tahu apa yang seharusnya ia katakan saat itu, saat Ify menunggunya dengan tatapannya yang hangat. Namun, bibirnya memutuskan untuk bertindak bodoh.
“Jangan salah paham, Fy, lukisan itu cuma buat tugas akhir kita,” adalah kalimat yang ia ucapkan saat itu.  Dapat ia ingat dengan jelas bagaimana cahaya di mata Ify meredup, dan senyum hangatnya tergantikan oleh seulas senyum maklum. Tipis sekali. Yang ia sesali sampai saat ini adalah fakta bahwa ia tidak bisa mencegah Ify pergi hari itu. Ia hanya memandangi punggung gadis itu perlahan menghilang dari pandangannya. Dan sekarang, ketika mereka semakin menjauh, Alvin menjalani harinya dengan penyesalan yang mengintainya, memenuhi dadanya hingga sesak.
“Vin.”
Alvin tersentak ketika dirasakannya seseorang menepuk bahunya. Ia membalikkan badan dan langsung disambut senyum manis Sivia. Gadis itu mengeluarkan selembar kertas dari map yang dipeluknya, mengulurkannya ke arah Alvin.
“Ini jadwal praktikum biologi untuk minggu depan,” katanya.
Alvin menerima kertas itu dengan penuh terima kasih. “Thanks, Vi.”
Sivia mengangguk riang, bersiap pergi, tetapi sebuah ingatan yang baru saja muncul di kepalanya mendadak menghentikannya. Alvin menatapnya heran, yang dibalas Sivia dengan cengiran jahil. “Satu info, Vin. Pasangan lo Ify.”
Semua oksigen seolah-olah tersedot begitu saja dari paru-paru Alvin. Genggaman tangannya pada kertas itu semakin mengerat, tetapi akhirnya ia bisa menguasai diri setelah beberapa kali menghirup napas. Dipandanganya gadis yang sedang tertawa di ujung kantin dengan beberapa helai rambut yang jatuh menutupi sebagian wajahnya. Lo nggak bisa selamanya menghindar, Vin, ucapnya pada diri sendiri.

Praktikum Biologi – Day 1
Alvin berlari sekuat tenaga menuju laboratorium biologi yang hanya berjarak beberapa meter di depannya. Dengan satu tangan memeluk buku-buku biologi dan tangan yang lain mencoba menghapus tetes peluh di dahinya, ia terlihat berantakan. Jas labnya belum terkancing dengan rapi, dan rambutnya mencuat ke segala arah. Bagus, Vin, ia mengutuk diri sendiri, hari pertama dan lo udah telat.
Begitu sampai di lab, matanya dengan gesit menangkap mata Ify yang juga sedang menatapnya. Mengangguk meminta maaf pada guru biologinya, ia mengambil langkah panjang menuju mejanya dan Ify. Gadis itu sudah siap dengan mikroskop, cawan petri, dan perlengkapan praktikum lain di hadapannya. Rambutnya yang biasa tergerai kali ini ia ikat ke atas membentuk ekor kuda. Alvin hanya bisa menelan ludah memandang wajah gadis itu dari samping.
“Sori,” begitu katanya.
Ify tersenyum tipis. Tanpa berkata-kata, ia mendorong mikroskop ke arah Alvin. “Gue tau lo lebih jago pake mikroskop dari pada gue,” ujar Ify ketika Alvin menatapnya bingung.
Waktu berlalu begitu lambat untuk mereka berdua. Alvin harus menahan diri untuk tidak tersipu ketika punggung tangan mereka tidak sengaja bersentuhan. Cowok itu juga bisa merasakan betapa kakunya Ify duduk di sebelahnya, dan ia sadar betul akan jarak yang diciptakan gadis itu.
Hingga praktikum berakhir, sama sekali tidak ada yang mereka bicarakan kecuali hal-hal mengenai praktikum hari itu. Ify terlalu keras kepala untuk mengajak Alvin berbicara, dan Alvin terlalu pengecut untuk menanyakan kabar gadis di sampingnya.

Praktikum Biologi – Day 2
“Fy, lo bawa hand sanitizer gak?” adalah hal pertama yang Alvin tanyakan di luar hal-hal tentang praktikum setelah mereka mengakhiri pengamatan mereka tentang pernapasan hewan dan tumbuhan siang itu.
Tanpa merasa perlu menjawab, Ify segera menggeledah isi tasnya. Ia mengernyit ketika tidak ia temukan hand sanitizer yang selama ini tidak pernah lupa ia bawa ke sekolah. Melihat Ify kelabakan, Alvin terkekeh kecil, membuat Ify langsung menatap tajam ke arahnya.
“Makanya jangan begadang, Fy. Jadinya ada yang kelupaan, kan?”
Dia ingat, Ify membatin. Ia tersenyum.
Alvin balas tersenyum.
Dan mungkin, es di antara mereka mulai mencair. Even just a bit.

Praktikum Biologi – Day 3
Ify tidak pernah menyukai katak dan Alvin tahu itu. Cowok itu harus menahan tawa ketika Ify berusaha untuk tidak mengenyit mengamati katak yang sudah berhasil mereka bedah itu.
“Nggak usah dipaksain, Fy. Sini buar gue aja,” Alvin merebut buku catatan Ify begitu saja. Ify sama sekali tidak protes, dalam hati bersyukur ia tidak perlu menatap katak itu lebih lama.
“Masih aja jijik sama katak lo?” tanya Alvin tanpa mengalihkan pandangan dari katak dan buku catatan. Ify, yang saat itu tengah membereskan peralatan praktik yang lain, bergidik. Suara tawa renyah keluar dari bibir Alvin, kali ini lebih bebas, lebih lepas.
“Gue pikir begitu gue naik kelas 12 gue nggak akan berurusan sama katak lagi. Eh, ternyata masih,” makinya pelan, membuat tawa Alvin semakin keras.
Alvin sudah selesai mencatat dan langsung ia kembalikan buku catatan Ify kepada pemiliknya. Ify tersenyum penuh terima kasih, memasukkan bukunya ke dalam tas. Begitu barang-barang di meja praktikum mereka sudah bersih dan rapi kembali, Ify mulai melipat jasnya. Dari ekor matanya, Ify bisa melihat Alvin tampak ragu-ragu. Setelah yakin jasnya terlipat rapi, Ify mengulurkan tangan kanannya di depan Alvin.
“Gue bantu lipetin jas lo,” tawarnya. Alvin tertawa malu, menggaruk tengkuknya, tetapi akhirnya ia lepas juga jasnya. Dengan piawai Ify segera melipat jas itu dan menyerahkannya kembali pada Alvin.
“Makasih,” kata Alvin.
Ify tersenyum. “Makasih juga udah bikin gue nggak harus berurusan sama katak lebih lama.”

Praktikum Biologi – Day 4
“Laporannya udah semua, kan?” Alvin bertanya sambil melepas jas labnya. Seperti kemarin, Ify langsung melipatkannya untuknya.
Ify mengangguk, menyelesaikan lipatan terakhir. “Kata Bu Rima tadi ada bagian yang salah, tapi udah gue benerin.”
“Oh, ya? Bagian mana?”
“Cuma salah di penghitungan jumlah napas per menitnya kok. Selain itu udah bener.”
Setelah menyelesaikan rangkaian praktikum biologi untuk persiapan ujian praktik semester depan, Alvin dan Ify keluar dari laboratorium berdampingan, dan tanpa sadar keduanya sudah berjalan berdua sampai gerbang sekolah.
“Lo naik apa?” tanya Alvin sambil melirik jam tangan di pergelangan tangan kirinya. Mereka masih bisa naik bus terakhir jurusan daerah rumah mereka.
“Bus. Lo juga kan?”
“Yap.”
Alvin sudah lupa kapan terakhir kali mereka pulang sekolah bersama seperti sore itu. Mungkin baru sekitar tiga bulan yang lalu, tetapi ia mereasa sudah lama sekali. Dan ketika ia duduk di samping Ify menunggu bus datang, ia baru sadar betapa ia merindukan saat-saat seperti ini. Duduk bersama di halte bus tanpa ada orang lain. Hanya mereka berdua.
Ketika akhirnya bus mereka datang, Alvin memastikan Ify duduk di dekat jendela sebelum ia menjatuhkan pantatnya di jok sebelahnya. Ify paling suka menatap pemandangan luar, dan Alvin tidak akan pernah lupa fakta kecil itu. Mungkin karena lelah atau karena angin yang bertiup sepoi-sepoi sore itu, Alvin bisa melihat mata Ify mulai terpejam. Kepalanya tertunduk. Gadis itu benar-benar sudah tertidur. Berhati-hati agar tidak membangunkan gadis itu, Alvin menyentuh kepala Ify dan membuatnya bersandar di bahunya. Cowok itu tidak bisa menampik perasaan hangat yang mengalir hingga ujung jarinya.
Seperti sebelum-sebelumnya ketika hubungan mereka masih baik-baik saja, Alvin menemani Ify berjalan menuju kompleks rumahnya. Tidak ada kata yang terucap, hanya berjalan berdua di tengah-tengah kesunyian senja. Ify melirik ke sebelah kirinya, tempat Alvin berjalan di sampingnya. Ia menyadari bahwa cowok itu tidak pernah berjalan di depan atau di belakangnya, melainkan selalu di sampingnya dengan kecepatan dan jarak langkah yang sama dengannya.
Tak terasa, pintu gerbang rumah Ify sudah di depan mata. Ify berhenti, membalikkan tubuh untuk menatap Alvin yang kali ini menyunggingkan senyum lembut di wajahnya. Senyum yang diam-diam Ify inginkan untuk menyapanya setiap kali ia memasuki kelasnya.
Keduanya bertukar senyum selama semenit penuh, sebelum akhirnya Alvin memecahkan hening di antara mereka. “Makasih untuk 4 hari ini ya, Fy. Lo partner yang tepat buat gue.”
Alvin tidak tahu bahwa Ify menangkap arti lain di balik ucapannya barusan. Atau sebenarnya ia tahu, tetapi ia sadar bahwa menghiraukannya sama saja menorah luka baru di hatinya.
“Sama-sama, Alvin,” balas Ify.
Ketika Alvin tidak juga beranjak, Ify tetap menunggunya. Seulas senyum manis dan sabar menghiasi wajahnya. “Ada lagi yang mau lo sampein?”
Tatapan itu. Tatapan yang sama seperti tiga bulan lalu, dengan kilatan pengharapan yang persis sama. Tidak ada yang berubah. Alvin menggertakkan gigi untuk menenangkan tubuhnya yang mulai bergetar.
“Gue…”
Gue sayang lo, Fy. Betapa ingin hatinya mengungkapkan kalimat itu, namun bibirnya tetap membisu. Ify masih menunggu, dan Alvin bisa melihat kilau matanya mulai meredup. Seperti tiga bulan yang lalu. Gadis itu lelah berharap, dan Alvin terlalu takut untuk melakukan apa yang seharusnya sudah ia lakukan sejak dulu.
Good night, Ify. Istirahat yang cukup, ya.”
Ketika dilihatnya kekecewaan membayangi kedua bola mata Ify, Alvin tahu betul bahwa perasaan yang sama ikut membayangi matanya.
Pintu depan tertutup rapat dan Alvin menyandarkan tubuh pada dinding besar di sampingnya. Maaf, Fy. Some people are meant to fall in love but they aren’t meant to be together.