Sabtu, 27 Juli 2013

The Tale of You and I : Polaroid



Sudah lama Gabriel tidak berjalan-jalan sendiri. Dengan kamera Polaroid di tangannya dan headset menyumbat kedua telinganya, ia membiarkan kakinya melangkah ke manapun mereka mau. Mulai dari taman dekat rumahnya yang begitu ramai dengan anak-anak, sampai gereja tua di seberang jalan tak luput dari bidikan kameranya. Foto-foto yang tercetak kini sudah tersimpan rapi, memenuhi album foto yang selalu dibawanya. Melihat albumnya yang mulai penuh, ia tersenyum puas. How he loves capturing every memory.
Begitu asyiknya ia tenggelam dalam salah satu hobinya, sampai-sampai ia tidak menyadari sosok yang sangat familiar baginya sedang bersiap menyeberang jalan untuk menghampirinya. Di tangan gadis itu tergantung kantong plastik putih dengan logo salah satu supermarket terkenal. Matanya mengerling jenaka, memperhatikan Gabriel yang belum juga sadar akan kehadirannya.
Gabriel baru mengeringkan foto yang baru saja tercetak ketika pundaknya ditepuk dari belakang. Senyum lebar otomatis menghias wajahnya ketika dilihatnya sepasang mata cokelat yang selalu berhasil membuat hatinya berdesir.
"Hai," Ify berucap pelan, seulas senyum tipis terpatri di bibirnya. Semenjak surat ungu yang ia terima minggu lalu, ia selalu mengingatkan dirinya untuk lebih banyak tersenyum. Banyak tersenyum memang sangat bukan dirinya, tetapi entah mengapa ia menyukai dirinya yang baru.
Gabriel tersenyum makin lebar, menurunkan kameranya agar bisa memandang Ify lebih jelas. "Hai juga," sapanya balik.
"Ngapain di sini sendirian?" tanya Ify.
Gabriel mengedikkan bahu, mengangkat kembali kameranya tanpa perlu repot-repot menjelaskan pada Ify. Ify mengangguk mengerti, tanpa sadar ikut memerhatikan objek foto Gabriel selanjutnya; seorang anak kecil yang tampak begitu bahagia dengan gulali di tangan kanannya.
"Pernah makan gulali?" tiba-tiba Gabriel bertanya.
Ify sedikit terlonjak. Ia menggeleng dengan bibir mengerucut. "Nggak suka manis," jawabnya.
Mata Gabriel membeliak. Jadi, selama belasan tahun hidupnya, gadis ini tidak pernah makan gulali? Ia jadi teringat gulali yang sering dibelinya setiap akhir pekan ketika ia masih kecil, yang selalu berhasil membuatnya merasa menjadi manusia paling bahagia di planet ini. Bagaimana mungkin gadis ini bisa tidak makan gulali ketika mungkin teman-teman sebayanya sedang merengek-rengek meminta dibelikan makanan manis satu itu?
Gabriel tersadar dari lamunannya ketika tiba-tiba ia merasakan hawa dingin pada punggung tangannya. Ia menatap botol minuman dingin yang menempel di kulitnya, kemudian mengangkat kepala untuk beradu pandang dengan Ify. Cepat-cepat Ify mengalihkan pandangannya. "Lo pasti haus," katanya cepat dengan suara pelan. Gabriel bisa melihat Ify berusaha untuk terdengar tidak peduli.
Waktu berjalan begitu cepat. Tanpa sadar, matahari sudah tinggi, memancarkan sinar teriknya tanpa ampun. Gabriel mengelap keringat di dahinya, dan matanya langsung tertumbuk pada gadis yang sedang berjalan di sebelahnya. Tadi ia berhasil menyeret Ify untuk ikut bersamanya, berjalan-jalan sekaligus memotret apa saja. Sepanjang jalan, gadis itu rajin protes dan mengeluh kalau cuaca sudah semakin panas. Gabriel tidak bisa menahan tawa melihat Ify terus mengipasi wajahnya yang merah padam. Merasa kasihan karena Ify sepertinya benar-benar tidak tahan panas, Gabriel mengajaknya duduk di salah satu bangku taman yang terlindungi oleh pohon besar. Begitu sampai di sana, Ify langsung menenggak minuman dingin yang dibawanya sambil tak henti mengomel pada Gabriel.
"Sori deh," Gabriel meringis, mengulurkan tangannya untuk menyingkapkan poni lepek gadis itu dari dahinya.Ify mendengus, tetapi Gabriel tahu ia tidak benar-benar marah.
Pandangan Ify jatuh pada album foto Gabriel, dan tangannya tiba-tiba terulur untuk mengambilnya. Ify membuka-buka album itu, menelusuri satu demi satu foto yang terselip rapi. Gabriel ikut melihat dari balik bahu Ify, dalam hati merasa bangga akan hasil karyanya. Namun, pemandangan di sampingnya nyatanya lebih menarik perhatiannya.
Dengan rambut tergerai yang jatuh dengan indah menutupi sebagian wajahnya, Ify kelihatannya tidak sadar kalau Gabriel sudah mengangkat kameranya, tidak tahan untuk tidak mengabadikan momen itu. Bunyi shutter terdengar nyaring di taman yang sepi, dan Ify cepat-cepat menoleh, mengernyit tidak suka. Gabriel melempar tanda peace dengan jari tengah dan telunjuknya, keder juga melihat tatapan galak Ify.
"Ngapain barusan?" tanya Ify judes.
Gabriel hanya menunjukkan fotonya yang sudah kering sambil meringis tak berdosa. Ify menghela napas panjang, menggelengkan kepala. Tiba-tiba sebuah ide terlintas di kepala Gabriel, membuatnya tersenyum lebar, puas akan ide briliannya. Perlahan, ia menggeser tubuhnya lebih mendekat ke arah Ify, membuat kerutan di kening gadis itu makin dalam. Gabriel menatapnya jahil, tampak tidak peduli dengan wajah galak Ify dan omelan yang siap keluar dari bibir gadis itu.
Semuanya terjadi begitu cepat ketika tiba-tiba Gabriel melingkarkan tangan kanannya di bahu Ify, dan tangan kirinya memegang kamera, mengarahkannya ke wajah mereka berdua. Ify masih memandang Gabriel kaget, dengan mulut terbuka separuh dan mata membeliak, ketika Gabriel menekan tombol shutter. Sedetik kemudian, sebuah foto keluar. Gabriel mengipas-ngipasnya sebentar, lalu tersenyum ketika melihat hasilnya. Di dalam foto itu, ia tersenyum lebar, sedangkan Ify menatapnya kaget. Gabriel tidak bisa lagi menahan tawanya.
"You look cute," ujarnya gemas, satu tangannya mengacak-acak poni Ify.
Tidak suka dibilang imut, Ify mengerang jengkel, menyingkirkan tangan Gabriel yang masih nangkring di pundaknya. Gabriel tampak tidak peduli, ia sedang terlalu sibuk mengamati foto itu.
"Ini bakal jadi foto favorit gue." Ify mengerjap. Gabriep menoleh ke arahnya, tersenyum dalam hati ketika melihat pipi Ify mulai memerah. Kali ini ia yakin bukan karena sinar matahari. Gadis ini bisa tersipu juga ternyata, batinnya geli.
Ketika Ify diam membisu, Gabriel melanjutkan, "Let's make more memories from now on, shall we? Starting with this." Gabriel mengibaskan foto polaroid barusan di depan wajah Ify.
Dan Ify tidak tahu bagaimana cara menghentikan degupan sekuat kuda dari dalam dadanya.