Senin, 11 November 2013

Cinta yang Lebih Besar

Ini cerpen bikinan aku belum lama ini, buat tugas bahasa Indonesia hahahaha I thought, kenapa nggak post di blog aja? Enjoy! :)

*****



Suara tawa tidak terdengar lagi. Kaki-kaki kecil yang digunakan untuk berlari seharian tadi sudah tersembunyi dengan aman di bawah selimut. Matahari sudah kembali ke pelukan cakrawala dua jam yang lalu, dan kini saatnya Kania mengantarkan malaikat kecilnya ke alam mimpi. Si sulung, Alika, masih tersenyum mengingat cerita putri dan pangeran katak yang baru saja dibacakan sang bunda. Sebelah tangannya memeluk Alki, adiknya, yang sudah terlelap sejak tadi. Setelah membimbing si kecil Alika berdoa, Kania mengecup dahi kedua anaknya. Kecupan kali ini lebih lama dari biasanya. Ia berusaha sekuat tenaga menahan rasa sesak yang tiba-tiba menyergap ketika bibirnya bersentuhan dengan kulit lembut anak-anaknya. Ya Allah, batinnya, bagaimana hamba bisa bertahan tanpa mereka?
Kania berjalan menuju ruangan di sebelah kamarnya dan mendapati Bara masih terjaga dengan sketsa bangunannya. Ada proyek besar menanti di depan mata suaminya itu, dan ia menjadi lebih sibuk beberapa hari ini. Sebagian besar waktunya di rumah ia habiskan di ruangan ini, bahkan anak-anak pun tadi diajaknya menggambar di sini. Kania menatap punggung suaminya sedih. Ia tahu, menyibukkan diri adalah salah satu cara Bara untuk lari dari segala penat barang sejenak.
Kania ingat betul sejak kapan suasana rumahnya menjadi biru, walaupun ia dan Bara tak pernah lupa meyediakan suasana yang lebih ceria untuk kedua anaknya. Pagi dan siang hari mereka habiskan seperti sebuah keluarga bahagia; Bara mengajari Alki menyusun balok warna-warni, Alika membantu Kania membuat cup cake di dapur dan wajahnya akan berlumuran tepung beberapa jam kemudian. Namun, ketika pintu kamar anak mereka sudah tertutup, hanya kesunyian yang menemani mereka. Saling memandang dalam diam, saling memeluk tanpa suara. Begitu banyak yang ingin disampaikan tetapi tidak ada satupun yang keluar dari bibir mereka. Hanya dengan menatap mata masing-masing, mereka tahu mereka sedang berbagi kesedihan yang sama.
"Sudah bertemu pengacaramu?" tanya Bara tanpa membalikkan tubuh. Kania sama sekali tidak bersuara, tetapi Bara bisa merasakan kehadirannya. Hal itu adalah salah satu alasan mengapa Kania mencintainya.
Kania tidak menjawab. Ia berjalan mendekat, melingkarkan kedua tangannya di leher sang suami dari belakang. Bara menghela napas panjang, luluh dalam kehangatan Kania. Percakapan tanpa suara kembali terjadi. Kania mengeratkan pelukannya, merasakan betapa kurusnya suaminya sekarang. Pria itu kehilangan beberapa kilo semenjak kedatangan kakak perempuan Kania, Kayla.
Ya, kedatangan kakak perempuannya yang berujung pada kesedihan mereka saat ini. Kayla yang sangat ditunggu-tunggu kehadirannya karena tidak sempat menghadiri pernikahan mereka lima tahun lalu, justru malah membawa petir pada kehidupan rumah tangganya hanya dua hari setelah ia menginjakkan kaki di rumah mereka. Kayla sendiri sebenarnya sudah merasakan kesedihan yang mendalalam bahkan sebelum ia menyampaikan berita itu pada adiknya. Wajah Bara yang menyambutnya dengan ramah justru malah menghancurkan hatinya saat itu.
"Kalian adalah saudara sesusu." Kania masih ingat mata kakaknya yang mulai berkaca-kaca ketika ia harus mengungkapkan kenyataan pahit itu.
Kayla kemudian bercerita bagaimana ia mengumpulkan informasi selama ia berada di sana, memastikan dugaannya. Benar saja, ibu Kayla pun menceritakan semuanya. Dulu, setelah Bara lahir, ibunya tidak sanggup untuk menyusui. Akhirnya, karena tidak tega, ibu Kayla dan Kania memutuskan untuk menyusui anak itu. Ketika Bara datang ke rumah mereka untuk melamar Kania, orang tua Kania sebenarnya sudah tahu bahwa Bara adalah saudara sesusu dari anak-anaknya. Namun, tidak ada yang tahu bahwa dalam agama Islam, saudara sesusu diharamkan menikah.
Kania mengurung dirinya di kamar setelah mendapatkan berita itu. Ia menyesali semuanya. Menyesali kedua orang tuanya yang tidak memiliki fondasi agama yang cukup kuat, menyesali semua kebenaran yang datang terlambat, tetapi ia sama sekali tidak menyesali pertemuannya dengan Bara yang membawa mereka sampai di sini. Ia tidak menyesali telah melahirkan dua malaikat kecil yang kini selalu mewarnai harinya. Dan kini, ketika perpisahan sudah membayang di hadapan mereka, Kania dan Bara memutuskan untuk tetap saling menguatkan.
Bara masih tenggelam dalam kehangatan yang diberikan istrinya ketika ekor matanya menangkap sebuah amplop di meja kerjanya. Ia mengangkat benda segi empat itu, menimbang-nimbangnya dengan heran. Kayla mengulurkan tangan, dengan lembut merebut amplop itu dan membuka isinya.
“Ini adalah surat yang aku tulis untuk Alika dan Alki,” jelasnya. Jarinya yang lentik mulai membuka lipatan kertas di dalam amplop, tahu bahwa suaminya juga ingin mengetahui isinya.
“Untuk Alika dan Alki, malaikat hidup Ayah dan Bunda,” Kania mulai membaca. Belum apa-apa, kristal-kristal sudah terbentuk di kedua bola matanya yang indah.
“Ketika kalian membaca ini, kalian pasti sudah dewasa, dan kita tidak bisa berkumpul bersama-sama untuk melihat perkembangan kalian. Ayah mungkin sedang berada di suatu tempat di belahan bumi lainnya, merindukan kalian, merindukan Bunda. Sementara Bunda mungkin sedang sibuk mencuci, memilah-milah kaus kaki kalian yang bau dan kumal, sambil memikirkan menu makan malam untuk kita bertiga.”
Bara menggenggam sebelah tangan Kania, menguatkan wanita itu dan member gestur padanya untuk lanjut membaca.
“Anak-anakku, maafkan Ayah dan Bunda. Kalian pasti masih menyimpan luka akibat perpisahan kami berdua bertahun-tahun yang lalu. Hati kalian pasti menyimpan berjuta tanya, mengapa Ayah harus pergi dan mengapa kita hanya tinggal bertiga setelah itu. Kami tidak pernah bisa member penjelasan saat itu, tetapi, kini, saat kalian sudah dewasa, Bunda yakin kalian akan mengerti.
Dulu, Ayah dan Bunda tidak pernah tahu bahwa kami adalah saudara sesusu, sampai bibi kalian datang dan memberi tahu kami. Dalam Islam, pernikahan antara saudara sesusu adalah haram. Nenek dan kakek kalian tidak pernah tahu ini, Sayang. Mereka tidak melarang kami untuk menikah waktu itu. Karena itulah, ketika kami akhirnya tahu, satu-satunya jalan terbaik untuk kami adalah berpisah.
Jangan pernah berpikir bahwa Ayah dan Bunda tidak menyayangi kalian, Anakku. Kami sangat menyayangi kalian, lebih dari hidup kami sendiri. Namun, cinta kami pada Tuhan ternyata lebih besar. Kami harus berpisah, demi cinta kami pada Tuhan.
Anakku, Ayah dan Bunda tidak pernah menyesal melahirkan kalian. Malah, kalian adalah anugrah terindah yang Tuhan pernah berikan pada kami. Bunda sangat mencintai Alika dan Alki, begitu juga dengan Ayah yang saat ini tidak berada di tengah-tengah kita. Cinta kami pada kalian tidak akan pernah berkurang, walaupun kita tidak bisa selamanya bersama.
Bunda harap kalian mau memaafkan kami, berdamai dengan luka di masa lalu, dan mulai menerima keadaan dengan hati yang lapang mulai sekarang. Maafkan Ayah dan Bunda, Sayang.
Dari orang yang paling mencintai kalian, Ayah dan Bunda.”
Bara tidak menyadari tetes demi tetes air mata telah mengalir di kedua pipinya. Kania sendiri terduduk lemas dengan napas tercekat dan hati yang terluka. Isakan keduanya terdengar samar-samar, tidak mampu menutup luka yang menganga lebar. Setiap tetes air mata yang jatuh ke bumi adalah kekecewaan, dan setiap isakan adalah sayatan panjang dalam hati mereka.
       Dengan lengan gemetar, Bara menarik Kania ke dalam pelukannya. Kania menyerah, membiarkan semua yang telah dipendamnya tumpah malam ini. Ia bisa merasakan pelukan suaminya yang mengerat, seakan-akan tidak pernah sanggup melepaskannya. Mereka tahu, setelah mereka sama-sama melepaskan dekapan, keduanya tidak akan lagi bisa menjangkau satu sama lain.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar